Twins Boy

Twins Boy
Season 2 - Garis dua


__ADS_3

Dua bulan kemudian....


Mentari pagi sudah muncul dari balik peraduannya. Sinarnya menembus ke setiap sudut ibu kota memberi kehangatan pasca semalam di guyur hujan deras. Meski pagi sudah menyapa, tetapi pengantin baru yang sudah tidak baru lagi masih enggan beranjak dari atas kasur. Selimut tebal masih membungkus tubuh polos mereka, setelah semalam berjibaku dengan peluh dan keringat di tengah hujan yang mengguyur deras.


Beruntung hari ini adalah hari minggu sehingga mereka tidak perlu bangun pagi untuk berangkat ke kantor. Menjalani hari-hari sebagai suami istri Jupiter dan Theolla lakoni dengan penuh suka cita. Mereka begitu bahagia bisa saling melengkapi satu sama lain. Meskipun belum ada anak di antara mereka, tapi setiap malam mereka terus berusaha agar segera di beri keturunan.


Theolla juga masih aktif bekerja membantu perusahaan papahnya, dia datang ke kantor yang di Surabaya hanya seminggu sekali. Selebihnya dia bekerja di rumah atau ikut bersama Jupiter ke perusahaannya, karena Theolla masih terikat kontrak dengan perusahaan Jupiter.


Menggeliat menggerakan badannya, Jupiter tatap wajah sang istri yang tertidur pulas di pelukannya. Jupiter menarik hidung Theolla dengan usil, membuat si empunya langsung membuka matanya.


"Pagi sayang...!!" kecupan selamat pagi mendarat di bibir Theolla. Kali ini Jupiter tidak hanya mengecupnya tapi melum*at bibir Theolla dengan lembut. Satu tangannya masuk kedalam selimut meraba dua gundukan yang tidak berpenghalang. Jupiter meremas dan memilin si pucuk dengan sensual membuat Theolla menggelinjang keenakan.


Sesaat Jupiter melepas pertautan bibirnya, dia menatap Theolla penuh birahi "boleh ya...dingin yank!!"


Seperti biasa Theolla tidak bisa menolak keinginan Jupiter, anggukan kepalanya menandakan Theolla siap dengan permainan panas mereka pagi ini.


Mendapat lampu hijau Jupiter tidak melewatkan kesempatan itu, dia langsung mencium Theolla dengan terburu-buru. Badannya kini sudah mengungkung tubuh Theolla, mereka berciuman dengan penuh nafsu. Satu tangan Jupiter sudah menjelajah entah kemana, dari atas turun kebawah naik lagi keatas turun lagi kebawah menuju pangkal paha Theolla yang menjadi candu bagi Jupiter. Dia Membelainya memberi sensasi luar biasa bagi Theolla.


Saat puncak birahi itu sudah berada di atas angin, saat Jupiter hendak melesatkan senjatanya tiba-tiba Theolla mendorong tubuh Jupiter dengan keras. Ciuman mereka terlepas begitu saja, sementara Jupiter terjengkang kebelakang. Theolla menutup mulutnya, dia buru-buru turun dari kasur menuju kamar mandi dengan tubuh polos.


"Shiit...!!" ucapnya kesal. Senjatanya yang sudah berdiri kokoh terpaksa harus menunda pertempuran pagi ini. Jupiter menyusul Theolla masuk kedalam kamar mandi karena mendengar Theolla muntah-muntah di dalam sana.


"Hoekk...hoekk!!" Theolla mengeluarkan semua cairan yang terasa asam di mulutnya. Jupiter yang baru tiba langsung membantu Theolla memijit tengkuknya. Setelah perutnya agak mendingan Jupiter memapah Theolla keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe yang menutupi tubuh polos mereka.


"Kamu kenapa yank?" Jupiter mendudukan Theolla di atas sofa yang ada di dalam kamar mereka. Sementara Theolla hanya memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri.


"Gak tahu perut aku tiba-tiba rasanya gak enak banget,masuk angin kali ya gara-gara kemaren kecapean abis dari Surabaya."


"Yakin karena masuk angin? bukan karena hamil." ucap Jupiter menerka-nerka.


"Hamil?" Theolla berpikir dirinya memang belum mendapatkan tamu bulanannya, tapi apa iya dia hamil karena baru telat seminggu ini.


"Bulan ini kamu belum mendapatkan tamu bulanan kan?"


"Tapi baru telat seminggu yank, aku takut buat kamu kecewa lagi." Theolla teringat bulan lalu saat dirinya telat datang bulan tapi saat di periksa ternyata hasilnya negatif. Dan kali ini Theolla tidak ingin berharap terlalu banyak.


Jupiter merengkuh bahu Theolla penuh kasih melupakan segala birahi yang tadi sempat datang, dan kini sudah menguap begitu saja saat tahu Theolla telat datang bulan.


"Kita periksa saja dulu!!"


"Tapi sayang?" ragu masih bergelayut dalam diri Theolla.

__ADS_1


Jupiter mengelus rambut Theolla yang tergerai indah "aku mandi dulu, setelah itu aku beli testpack ke apotek mumpung ini masih pagi."


Theolla hanya menatap punggung Jupiter yang kembali masuk ke kamar mandi.


*****


Jupiter yang sudah selesai dengan ritual mandinya segera bersiap untuk membeli alat test kehamilan. Penantiannya selama dua bulan ini semoga segera terkabul, karena baik Jupiter atau Theolla sama-sama mengharapkan agar segera di beri momongan.


"Aku pergi ya sayang, sekalian ada yang kamu pengen gak mumpung aku keluar."


Theolla yang masih duduk malas hanya menatap Jupiter yang sudah rapih dengan atasan t-shirt warna hitam di padu padankan dengan celana levis selutut.


"Beliin aku gado-gado yang ada di ujung jalan sana ya...kayaknya enak yank makan itu."


"Hmmm ngidam nih ceritanya."


"Belum pasti yank, aku gak mau buat kamu kecewa."


"Iya sayang nanti aku beliin...aku berangkat ya !!"


"Jangan lama-lama!!"


Jupiter mengangguk sebelum berlalu dia kecup puncak kepala Theolla terlebih dulu.


"Semoga kali ini aku benar-benar hamil, mamah dan papah sudah berharap banget." ucap Theolla sambil menatap dirinya di depan cermin. Setelah itu Theolla masuk kedalam bathtube untuk berendam merilekskan pikirannya.


Setengah jam kemudian Jupiter sudah kembali ke apartemen. Saat pintu di buka di lihatnya Theolla yang tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi. Jupiter menyimpan bungkusan plastik di atas meja, dan langsung melingkarkan tangannya pada bahu Theolla.


"Udah wangi aja istri aku." Jupiter kecup pipi Theolla sekilas, membuat Theolla mendelik kesal.


"Mana pesananku ada gak?"


"Ada donk...periksa dulu ya nanti baru kita sarapan!!" Jupiter menyerahkan bungkusan plastik kecil berisi dua testpack dari merek yang berbeda Akur*at dan Sens*tip.


"Makan dulu yank baru periksa." Theolla hendak membuka bungkusan gado-gado tapi di tahan oleh Jupiter.


"Periksa dulu sayang, mumpung belum makan apapun jadi air seni kamu masih bagus."


"Tapi aku gak pengen pip*is yank."


"Sedikit pun?"

__ADS_1


Theolla mengangguk "iya...aku baru selesai mandi."


Jupiter menghela nafasnya "di coba ya...nanti pasti keluar meski sedikit."


Theolla yang melihat wajah penuh harap dari Jupiter tidak bisa menolak keinginannya "baiklah, tapi jika hasilnya negatif kamu jangan kecewa ya."


"Iya sayang kita bisa coba lagi nanti."


Theolla pun berlalu masuk ke kamar mandi yang di bawah dengan membawa bungkusan plastik. Beberapa menit kemudian Theolla sudah keluar dengan wajah yang tertunduk lesu.


"Hei sayang kenapa?" Jupiter lalu menghampiri Theolla, yang berdiri mematung. Air mata nampak menetes dari kedua bola matanya.


"Kenapa nangis? hasilnya positif ya?"


Theolla menggeleng lemah.


"Negatif ya?" kembali Theolla menggeleng dengan wajah bercucuran air mata.


"Lalu?" Jupiter semakin tidak paham dengan Theolla, harusnya dia tidak memaksa Theolla untuk mengetest kehamilan.


Theolla menyerahkan dua testpack yang sedari tadi di pegangnya, Jupiter membelalakan matanya melihat dua testpack yang bergaris dua sangat jelas. Dia langsung menangkup pipi Theolla bersorak girang.


"Kamu hamil??"


Theolla menganggukan kepalanya, dan detik itu juga Jupiter langsung membawa Theolla kedalam pelukannya. Haru, bahagia mereka rasakan saat ini, penantiannya untuk mendapat momongan akhirnya terjawab sudah. Jupiter dan Theolla tiada henti mengucap syukur pada sang ilahi.


.


.


.


.


Season 2- The End


.


.


Masih ada bonus chapternya di tunggu ya genk tapi mungkin gak akan banyak, kalau kepanjangan nanti malah jadi mirip sinetron lagi😁 kisah Mario-Clara, Dimas-Kanaya dan Bella-Darel akan hadir di bonus chapter...πŸ™‹πŸ™‹

__ADS_1


Like, Vote, Koment dan rate 5πŸ™πŸ˜


__ADS_2