
Mengapa tidak ada satu hari pun yang membuat hidupku akhir-akhir ini menjadi lebih berbeda? Setiap hari harus berjibaku dengan kertas membosankan membuat serasa mati. Ya, terkadang aku masih melupakan tentang rasa bersyukur. Tokoh utama macam apa diriku ini? Apalagi hari ini masih saja menjadi hari yang penuh pekerjaan tentang bisnis. Membuat otakku serasa ingin meledak.
Seperti hari-hari sebelumnya, meninggalkan ruang kerja dalam satu menit saja, bisa membuat tumpukan kertas semakin meninggi. Seolah diri ini sedang dikerjai. Kuakui harga yang dibayarkan oleh perusahaan untuk tenaga kami memang kuar biasa. Namun tidak begini juga kale! Ini benar-benar gila, bahkan melebihi batas kesanggupan otakku.
Bruk!
"Hah?" Aku terkejut pada saat tumpukan map berisi tugas ditaruh di atas mejaku. Untuk apa? Yang jelas untuk aku selesaikan.
"Sorry, disuruh sama Elena," ujar Linseyld sang pelaku.
"Loe sengaja ya?"
Linseyld mengangkat satu alisnya sembari melipat kedua lengannya tepat didepan. "Gue nggak ada waktu buat menyegajakan sesuatu semacam ini. Kerjain sampai kelar. Toh, gue denger loe jago dalam bidang ini. Jadi, Elena suruh gue ngasih ke loe."
Aku menggenggam telapak tanganku sendiri. Sebisa mungkin kutahan segala gejolak emosi didalam hati ini. "Oke, gue kelarin, Kakak."
"Bagus! Dan satu lagi, jangan minta bantuan siapapun. Karena Elena nggak suka, tugas yang buat satu orang tidak boleh dikerjakan banyak orang. Ngerti?"
"Iyaaaaaa."
"Oke, semangat ya? Emm ... gue juga mau melakukan cek ke gudang bareng Andrew."
Seketika itu juga, aku langsung menatap Linseyld dengan tajam. Sengaja sekali ia melakukan ini semua. Pasti ia telah merencanakan sesuatu dibalik ini. Kalau bukan karena diawasi oleh Elena, aku pasti sudah mendorongnya. Atau bahkan kujambak rambut panjangnya sampai putus.
Ia berlalu, berlenggak-lenggok seenaknya saja. Bahkan laju langkahnya terlihat seperti sedang mengejek diriku. Sedang meja Andrew tampak kosong, entah kemana dirinya. Pantas saja Linseyld berani mengatakan itu semua. Oh ... aku adalah pacar Andrew, namun kenapa diriku diperlakukan seperti orang ketiga? Sialan!
Loe salah main-main sama Navya yang udah berkali-kali mengalami masalah, Linseyld. Gue pastiin loe mundur secepatnya, bahkan membungkam bibir loe seketika.
Aku menghela napas panjang dan mengembuskannya kembali. Kemudian aku menilik jam dinding yang ada di ruangan ini. Sialnya, setengah jam lagi waktu makan siang. Dan apa ini? Tumpukan map, beberapa berkas yang masih tersisa memenuhi meja kerjaku. Hari ini, bahkan mulai dari tadi pagi, nasibku sangat tidak beruntung. Tidak ada pilihan kecuali mengerjakan.
"Ck! Sial ...!" gumamku pelan. Jika aku sedang bercermin, kemungkinan besar wajahku terlihat sangat masam. Aku sedikit menyesal lantaran pagi tadi telah menghapus make up di wajahku. Namun akan terlihat aneh dengan pakaianku jika aku tetap menggunakannya. Oh ... saat ini aku ingin sekali kembali pada diriku dimasa lalu. Setidaknya aku bisa membuktikan bahwa diriku bisa lebih baik daripada wanita-wanita ular itu.
Aku menarik kursiku lebih maju. Memposisikan diri senyaman mungkin. Lalu kubuka satu persatu berkas yang tersisa dan mulai mengadukan jari dengan papan keyboard komputer. Helaan napasku terdengar beberapa kali, tercampur rasa kesal, emosi, khawatir dan sangat tidak ikhlas. Seharusnya tidak boleh, bukan? Namun aku tetap manusia biasa, sangat sulit untuk menghilangkan semua perasaan buruk itu.
"Sssstttt ... Sayang ...?" Suara Andrew terdengar sedang memanggilku dibeberapa saat kemudian.
Aku mengintip sedikit ke arah tempat kerjanya. "Apa ...?" tanyaku sama pelannya.
"Rindu ...."
"Paan sih ...! Jangan ganggu, aku sibuk ... buuuh!"
"Semangat ...."
"Semangat gundulmu itu."
Andrew kembali menarik kepalanya lagi. Tepatnya saat Elena mendekati kami. Seolah tatapan si bule satu itu sedang menaruh curiga terhadap kami. Aku sampai menelan ludah lantaran khawatir. Bahkan ia mengawasi kinerja kami seperti seorang manager. Seketika itu juga, benakku tergambar wajah Linseyld. Ah ... jangan-jangan wanita itu juga membicarakan hubungan kami. Tak mengapa jika sekedar soal hubungan, yang lebih menakutkan adalah tambahan bumbu-bumbunya.
Deg! Deg! Deg! Itulah yang terjadi pada jantungku. Ya, berdebar tidak menentu. Dalam beberapa menit, Elena masih tetap disini. Tanpa bicara, tanpa bertanya ataupun memerintah. Sial! Ini semua gara-gara Andrew yang menggodaku. Sepertinya meja kami benar-benar akan dipisah. Ah ... terserah!
"Hay, Navya."
"Ya, El. What's wrong?"
"Your work is very good and i like it a lot. Nice!"
"Oh ... emm, thanks."
Elena tersenyum, lalu ia berbalik dan pergi. Aku terdiam menatap komputerku dengan heran. Sepertinya aku salah menduga alias berprasangka buruk sebelum memastikannya. Aku pikir ia akan memarahiku dan Andrew. Namun kenyataannya tidak. Aku harus mengubah jalan pikiranku ini. Baiklah, akan kuselesaikan tugas yang dipercayakan padaku ini.
Mendengar pujian dari ketua tim--Elena membuat semangatku tiba-tiba membara. Ya, seseorang yang memiliki posisi lebih diatas seharusnya seperti itu. Atasan yang super galak malah akan membuat malas. Sedangkan yang bijak akan berbeda penilaiannya, namun bukan berarti tidak tegas. Ketegasan harus selalu ada didalam diri setiap pemimpin.
Jari-jariku terus bekerja. Melupak semua masalah yang ada. Hanya berfokus pada tugas-tugas yang banyak. Mungkin aku harus mengambil setengah jam waktu istirahatku, atau bahkam full untuk menyelesaikannya. Daripada lembur sore, lebih baik seperti ini. Untuk makan siang, aku berencana untuk menitip roti pada orang lain yang hendak makan siang. Dan sore nanti aku akan makan enak didalam kediamanku sekarang.
****
Selang waktu berjalan, setengah jam telah berlalu. Orang lain berebut pintu keluar, sedangkan diriku masih menatap layar komputerku sesuai dengan rencanaku. Baiklah, tidak apa-apa. Lebih baik bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Walau hati merintih, namun aku yakin aku bisa.
"Sayang, makan yuk," ajak Andrew padaku.
"Andrew!" Seruan dari Linseyld sungguh memekikkan telinga. "Kita harus ke gudang lho. Tenang aja nanti langsung makan siang kita."
"Sorry, duluan aja. Nanti saya nyusul."
"Ta-tapi, ini pekerjaan kita. Harus selesai sebe-"
"Tolong! Duluan saja, nanti saya nyusul. Kamu tidak dengar?"
"O-oke, a-aku tunggu."
Lindseyld berwajah masam. Aku menjulurkan lidahku untuk mengejeknya. Biar saja ia tahu rasa. Andrew pacarku, justru diriku lah yang ia utamakan. Wanita itu berlalu pergi. Sedangkan Andrew mendekatkan kursinya disampingku. Tentunya ditarik dari dalam biliknya.
"Kenapa nggak ikut, Ndrew?"
"Males, pengen disini bantuin kamu, Sayang."
__ADS_1
"Males kenapa? Nanti diomelin lho."
"Males deket dia, risih aku. Entar alesan ke toilet dulu gitu."
"Ah ... masa' risih? Yang bener?"
"Dibilangin. Yang bikin nggak risih kan kamu doang, Sayang. Emm ... banyak ya kerjaan kamu?"
"Iya, banyak banget. Makanya aku ambil lembur sekarang daripada nanti sore. Bisa pulang telat aku."
"Tapi harus makan siang lho, Sayang. Keluar yuk, makan siang dulu. Biar Linseyld yang urus masalah gudang."
"Aku udah nitip roti ke temen kok tadi. Enggak mau kalau keluar, banyak, Ndrew. Nanti kamu malah kena omel, kena SP gimana coba? Udah sana nyusul tuh si uler. Tapi awas ya? Jangan aneh-aneh. Habis kamu, kalau aneh-aneh!"
"Hmm ... iya, Sayang. Susah kalau diutamain kamu mah."
Aku tersenyum sembari mendesak Andrew untuk berlalu. Ya, aku tidak boleh egois untuk itu. Andrew masih memerlukan pekerjaan ini. Tak apa, ini memang sudah tugasku. Lagipula Andrew mendapatkan tugas sendiri sebelum berangkat makan siang. Kami sama-sama harus bekerja keras. Dan aku percaya padanya, ia tidak mungkin mengkhianati diriku setelah semua yang ia usahakan untuk diriku. Meski berat dan rasa cemburu terkadang muncul.
Lalu aku mulai bekerja lagi. Ditemani detik jam yang berdenting. Bukan hanya diriku, masih ada beberapa rekanku yang lain. Menjadi karyawan memang harus siap sedia seperti ini. Mengeluh hanya sebagai pengobat kesal, meski begitu tenaga dan otak masih tetap berjalan. Hingga tiba saatnya kami menyelesaikan semuanya dan mendapatkan predikat sebagai karyawan teladan.
Tuk! Sebuah kaleng diletakkan di atas mejaku. Kaleng dingin yang berisi kopi. Seketika itu juga aku menghentikan gerak tanganku dan menatap sang pelaku. Dahiku berkerut tatkala menatap sosok Affandy yang tengah berdiri disampingku.
"Selamat siang, Pak," sapaku untuk sekedar basa-basi biasa.
"Selamat siang juga, Vya. Ini minum, kayaknya kamu ambil lembur siang. Nanti aku panggilkan OB untuk membelikan makanan."
Aku menggelengkan kepala berusaha menolak niatnya. Apalagu masih ada beberapa karyawan disini. Bisa-bisa mereka menaruh iri padaku. "Nggak perlu, Pak. Saya nggak lapar."
"Jangan gitu, kamu di negeri orang. Bahaya kalau sampai jatuh sakit gegara lemburan dan nggak makan."
"Maaf, tapi nggak perlu."
"Kenapa? Takut sama Andrew?"
Aku menghela napas dan mengembuskannya kembali. Kurasakan tekanan berat dari pancaran mata Affandy. Lalu, bagaimana ia bisa datang ke sini? Darimana ia mendapatkan kaleng kopi tersebut? Yah, mungkin seorang petinggi memiliki fasilitas yang lebih memadahi.
Namun kehadiran Affandy benar-benar membuatku tidak nyaman. Apalagi rekanku yang mengambil lembur siang sama sepertiku pasti tengah menatap kami. Sedangkan aku tiada daya untuk mengusir Affandy dari tempat ini. Oh ... selalu saja diriku dilibatkan dalam masalah seperti ini. Padahal aku hanya ingin bekerja bukan cari perhatian.
"Permisi, Pak." Suara itu sungguh mengejutkan diriku. Bagaiman tidak, pemiliknya adalah kekasihku. Bagaimana bisa ia kembali ke tempat ini sebelum jam makan siang habis? Bukankah ia sedang melakukan pengecekan beberapa saat yang lalu?
"Ya, silahkan. Maaf, saya permisi dulu," jawab Affandy kemudian. Namun sorot matanya sama sekali tidak bersahabat tertuju pada Andrew. Aku sampai menelan ludah dibuatnya. Selepas itu ia tersenyum padaku dan berlalu pergi kemudian. Jujur, aku merasa lega.
Andrew menarik kursi kerjanya dan mendekat ke arahku. Di jam istirahat seperti ini kami tidak terikat akan aturan dalam kebebasan berbincang. Jadi, tidak perlu khawatir. "Ngapain dia tadi, Sayang?" tanyanya padaku.
Aku mengangkat bahuku, memberikan isyarat tidak tahu. "Mampir mungkin," jawabku.
"Aku nggak tahu, Andrew. Kamu sendiri ngapain disini? Bukannya harus ke sana sama dia?!"
"Aku kabur. Udah selesai juga kok, cuma nyatetin doang. Makanya jam istirahat gini."
"Bukannya kamu tadi diajakin makan siang?"
"Mana bisa aku makan siang. Kalau kamu disini sedang lembur dan kelaperan. Makan yuk, keluar. Bentar aja, lima belas menit. Nanti aku bantuin."
Aku menggeleng mantap. Ya, aku teringat akan ucapan Linseyld jika pekerjaan yang dilimpahkan padaku tidak boleh ada campur tangan orang lain. Daripada aku mengulang dua kali, lebih baik aku mengatasinya sendiri saat ini juga.
Kuakui, aku memang merasa lapar. Namun tidak begitu menyulitkanku. Tinggal menunggu sebungkus roti dari temanku dan lapar itu akan sirna setelah aku memakannya. Hanya saja, Andrew bagaimana? Bahkan ia rela tidak bersedia mengikuti ajakan Linseyld demi menemaniku. Ah ... mungkin aku akan membagi rotiku untuknya. Kami juga tidak membawa bekal sama sekali. Mungkin diesok hari, aku akan membawa sendiri. Sehingga disaat sibuk seperti ini, aku tidak akan bingung.
"Emangnya harus selesai hari ini juga, Vya?"
"Nggak tahu. Elena nggak bilang sih. Tapi si uler bilang gitu."
"Nanti kamu cuma dibohongin lho, Sayang. Coba tanyain dulu, bisa dibawa pulang nggak? Ada tenggat waktunya nggak? Masa' iya sih perusahaan besar biarin karyawannya nggak makan siang."
Benar juga kata Andrew. Herannya, mengapa Linseyld yang menyerahkan pekerjaan ini padaku? Padahal Elena sempat datang memastikan pekerjaanku beberapa saat yang lalu. Seharusnya sebagai ketua tim dalam satu lingkup ruang kerja, bukan masalah baginya untuk memberikannya secara langsung.
"Ck!" Aku meneliti lagi map-map yang belum sempat aku buka. Mataku terbelalak lebar tatkala memastikannya. Sialnya, ucapan Andrew menyadarkan diriku bahwa aku sedang dikerjai. Wanita itu benar-benar kurang ajar. Ia mencari kesempatan untuk memisahkanku dengan Andrew. "Sialan tuh orang!" umpatku.
"Kenapa, Sayang?"
"Ini kerjaan bulan kemarin, Ndrew. Bisa-bisanya ditaruh disini."
"Parah! Emang kamu nggak cek tadi?"
Aku menggeleng. "Belum, aku masih nyelesain yang sebelum ini. Yang dari dia belum aku buka sama sekali."
Andrew menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku rasa ia sangat tidak menyangka bahwa fans fanatiknya berbuat se-demikian rupa. "Ya udah, untung belum dikerjain. Udah yuk, tinggalin semua. Kita makan siang dulu."
"Aku heran, gimana bisa dia dapetin semua map ini dan ngasih ke aku."
"Udah, Sayang. Nanti aku yang kasih pelajaran. Kamu jangan marah-marah, semua terjadi karna aku yang kurang tegas sama dia. Maaf."
Mengapa Andrew yang harus minta maaf? Aku tidak percaya ini, demi wanita ular itu? Atau demi menenangkan diriku? Apapun itu, aku benar-benar dibuat kesal sekali. Beruntung aku belum sempat mengerjakannya. Tampaknya aku sudah tidak bisa tinggal diam lagi. Aku harus membalasnya, tidak hanya itu, aku ingin membuatnya jera sampai ia merasa malu. Ya, tinggal mengatur rencana saja.
Sampai akhirnya, aku mengikuti anjuran Andrew untuk pergi mengisi perut. Kutinggalkan semua berkas yang masih berantakan di mejaku. Disela langkahku, aku masih sering menggerutu kesal. Semoga saja, aku tidak bertemu Linseyld sekarang. Aku khawatir emosiku meledak, walau hanya melihat wajahnya itu.
__ADS_1
Sesampainya di kantin perusahaan, aku dan Andrew menukar kupon makan yang telah kami dapatkan. Setelah itu, kami mencari meja makan yang nyaman dan tentunya kosong. Sedangkan bola mataku berputar ke segala penjuru ruangan untuk memastikan keberadaan ketiga wanita ular itu. Beruntung tidak ada, setidaknya aku masih bisa bersantap dengan tenang.
"Raya dan Sinta mana ya? Nggak kelihatan," ujar Andrew.
"Lembur juga mungkin. Divisi keuangan emang luar biasa," jawabku.
"Tanggung jawabnya juga gede, Sayang."
"Ya, untuk orang-orang yang pintar seperti mereka juga."
"Ya udah, kita makan dulu. Biar nggak sakit, terus fokus sama pekerjaan aja. Semua masalah bakalan aku atasi."
"Yang bener? Ngusir aja nggak bisa lho kamu."
"Ya, karna aku masih menghormati mereka sebagai senior kita disini, Sayang."
"Halah! Orang kayak gitu kok dihormati."
"Udah, udah, aku minta maaf. Pokoknya bakalan aku beresin. Kamu tenang aja."
"Awas aja kalau belum."
"Hmm ...."
Aku mulai menyendok makanan di piring. Betapa hambarnya lidahku dalam bersantap ketika bercampur dengan kekesalan seperti ini. Bayangan wajah Linseyld terus hadir didalam benakku. Aku gemas dan sudah tidak sabar untuk membalas perbuatannya. Aku tidak bisa mengabaikan wanita itu begitu saja seperti usulan dari Andrew. Entahlah, rasanya aku belum bisa percaya padanya bahwa ia akan membereskan mereka semua. Pria lembut ini kurang pandai menghadapi wanita, bahkan pada diriku. Ia hanya bisa mengalah dan mengalah, pada Lusi pun begitu. Ia hanya bisa bertahan karena tidak tega memutuskan hubungan yang telah rusak pada saat itu.
Didalam lingkup perusahaan seperti ini, ada saja tingkah manusia yang bak anak SMA. Aku benar-benar benci pada Linseyld. Mungkin aku bisa saja langsung melabraknya. Namun akan sangat memalukan jika berkenaan dengan seorang pria. Soal tugas tadi, aku rasa Linseyld sudah mempersiapkan alasan jikalau aku protes atau mengadukannya pada Elena. Tidak mungkin tidak. Aku juga enggan untuk meminta bantuan Affandy atau Kak Kate. Yang ada malah mundul gosip bahwa aku masuk ke dalam perusahaan atas koneksi dari mereka berdua. Ah ... semua benar-benar serba salah.
"Sial!" ujarku tegas.
Andrew tampak menghela napas. "Jangan dipikirin," katanya.
"Nggak bisa, pokoknya aku nggak terima! Tadi dia berusaha masuk ke dalam hubungan kita, Ndrew. Mencari kesempatan untuk menjauhkan aku dari kamu."
"Aku tahu kok, aku paham. Tapi juga jangan gegabah kalau mau membalas. Jangan sampai Navya ngelabrak dia. Yang ada kamu malu sendiri."
"Kamu punya rencana?"
"Nanti kita rundingkan di rumah, jangan disini. Banyak telinga disini."
"Oke, aku tunggu. Tapi harus masuk akal ya? Jangan sampao merugikan diri kita sendiri."
"Iya, Sayang. Aku ngerti."
Tidak ada cara lain lagi kecuali menunggu rencana dari Andrew. Biarlah jika kami dinilai sebagai orang jahat. Toh, apa yang Linseyld benar-benar meresahkan. Kalau dibiarkan malah semakin menjadi-jadi. Apalagi pelakor zaman sekarang sungguh mengerikan. Para tokoh utama bisa dilibas begitu saja. Namun aku tidak ingin berakhir seperti itu. Sudah cukup aku menderita atas semua masalah dimasa lalu. Aku ingin menunjukkan bahwa diriku lebih kuat.
Walaupun aku tidak tahu posisiku dijuluki dengan nama apa setelah mendapatkan Andrew dari tangan Lusi. Namun Andrew yang terus mengejarku, aku tidak kuasa menahan diri untuk menerimanya. Lagipula aku malah terkesan kurang ajar jika masih berusaha menampik semua usaha yang dilakukan Andrew, bahkan sampai mengikuti diriku ke Singapura. Jelas aku sangat berbeda dengan Linseyld. Dan aku berencana akan meminta maaf pada Lusi suatu saat nanti.
Dan beberapa saat kemudian, akhirnya selesai sudah aktivitas bersantap siangku yang diiringi banyaknya pemikiran ini. Aku dan Andrew memutuskan untuk kembalinke ruang kerja meski waktu masih lumayan lama. Namun sebelum itu, aku mampir ke toilet sebentar. Mungkin Andrew akan melakukan hal yang sama.
Ya, setelah kami sampai di toilet, kami pun berpisah. Tentunya ke masing-masing toilet sesuai gender. Aku masuk ke dalam salah satu bilik didalamnya dan membuang panggilan alam. Setelah itu, aku keluar lagi. Kutengok sebentar cermin besar yang memantulkan diriku didalamnya. Aku menekan kran air di wastafel dan mencuci wajahku.
"Gue harus lebih tenang ...," gumamku pelan.
"Hai, Nav?" Seseorang dari belakang memberikan sapaan padaku.
"Hai juga, Rose."
"Aku dengar kamu adalah kekasih dari teman negaramu itu ya?" Pertanyaan Rose yang diberikan dengan logat bule-nya itu lumayan mengejutkanku.
"Ya, kamu tahu dari siapa?"
"Aku cukup pintar, Navya. Keakraban kalian telah menjelaskan semuanya. Emm ... kalian cukup unik dan cocok hehe."
"Haha."
"Tapi hati-hati, Navya. Banyak yang menyukai kekasihmu itu."
"Siapa? Dirimu?"
"Nooooo! He is not my type. He is too weak and not manly."
"Yeah. But, i love him. Emm ... I will not give him to anyone."
"Waoow! So sweet."
Rose tersenyum. Tanpa kata pamit ia melangkah untuk keluar dari toilet ini. Sedangkan aku mencerna kalimat yang sempat ia ucapkan. Kalimat yang mengatakan bahwa banyak yang menyukai kekasihku. Seolah rasa kesalku sedang diberi pupuk supaya tumbuh semakin subur. Apa ini karma untukku? Lalu siapa lagi yang menyukai Andrew selain Linseyld? Jahatkah orang itu?
Meski aku sudah mengatakan tidak akan menyerahkan dirinya pada siapapun. Namun sampai sekarang aku masih bingung harus berbuat apa. Perlahan rasa takut kehilang muncul didalam diriku. Menorehkm perasaan khawatir yang teramat besar. Rose bukan pesaingku, namun mulut si bule satu itu memang sangat pedas. Atau mungkin ia gemar mem-provokatori emosi orang lain. Dan pada akhirnya emosiku berhasil ia pengaruhi.
Lalu, aku menatap wajahku yang masih basah didalam pantulan cermin. Mata, bibir dan hidung yang polos tanpa riasan apapun. Kulitku memang putih halus namun terkesan sangat pucat. Beralih pada rambut yang selalu aku potong sependek mungkin. Pakaian yang terkesan maskulin. Apa Andrew benar-benar menerima diriku yang seperti ini? Dikalangan perusahaan besar ini, tentunya banyak sekali orang-orang yang lebih cantik dariku. Saat ini aku benar-benar takut kehilangannya. Sangat takut jika ia tergoda gadis lain yang lebih baik.
"Sial! Kenapa gue selalu dihadapkan pada masalah seperti ini?!" Aku sampai geram sendiri. Tidak ada air mata yang menetes di pipi, hanya saja jantungku seakan dipacu kencang dan hendak meledak.
Aku hanya ingin hidup bahagia dan tenang. Membebaskan papa, pulang lalu menikah dengan kekasihku itu. Namun, rasanya hidupku masih diuji dengan adanya penggemar dari kekasihku. Aku mengerti, paras Andrew sangat tampan seperti idol Korea Selatan. Tidak bisa menepis kemungkinan, jika ia sangat digilai wanita walaupun hanya orang biasa dengan status karyawan bawah.
__ADS_1
Namun aku disini, aku adalah kekasihnya. Aku berharap wanita-wanita itu masih menghargai keberadaanku. Terutama Linseyld, hanya itu keinginanku.
Bersambung ...