
"Aku bakal jelasin sama kamu Vya." Ujar Andrew, sampai saat ini ia masih tidak mau melepaskanku. Entah apa yang ada di dalam otaknya. Entah siapa yang sebenarnya yang ia cintai. Aku benar-benar tidak mengerti.
"Dari tadi juga gueee nungguin!!!"
"Vya kamu tau kan hubungan yang sudah terjalin selama empat tahun itu pasti susah lepas gitu aja? terlebih orang tua kami sudah saling kenal."
"Ohh..."
"Aku udah ngomong sama dia kalo sekarang aku udah jatuh cinta sama kamu. Tapi ibunya lagi sakit-sakitan pengen aku sama dia lebih ke jenjang serius."
"Yaudah lanjut!!!"
Andrew menelan ludah mendengar jawabanku. Aku ingin beranjak meninggalkannya. Bukan untuk pulang namun kearah dapur untuk mengambil minuman. Aku sudah tidak kuat menahan tenggorokan yang semakin kering.
"Kamu mau kemana?" Sergah Andrew.
"Minum!!! Parnoan amat sih." Jawabku sinis.
Andrew melepaskanku kembali. Lalu aku beranjak ke dapur. Membuka kulkas dan mengambil sebotol besar air minum dingin beserta gelasnya.
Sebenarnya aku bisa saja melesat pergi sekarang juga. Namun aku masih takut rengekan Andrew semakin parah. Belum lagi jika ia masih bersimpuh padaku di luar nanti. Aku harus bagaimana?
Aku berjalan kembali ke sofa dan menghampirinya. Beruntung perasaanku mulai tenang. Tidak ada air mata lagi saat ini. Aku masih sanggup mendengar penjelasan Andrew. Entahlah saat malam nanti. Akankah aku menangis lagi?
"Nih. Sorry kalo lancang." Ujarku padanya.
"Makasih Vya, kamu gak lancang Vya aku seneng kamu masih mau kayak gini." Jawabnya.
"Lalu?"
"Yah, aku udah ngomong ke dia kalo aku udah jatuh cinta sama kamu. Awalnya dia gak terima dan nyuruh kita udahan, sampai akhirnya dia bisa ngerti tapi dia minta hubungan kami diperbaiki. Tapi, pas aku pulang kemaren ternyata dia pulang juga malah dateng ke acara."
"Hmmm."
"Dia diundang nenekku, mau gak mau aku sama dia berlaku seperti yang keluarga kami tau. Sampai akhirnya membahas soal pernikahan."
"Baguslah!"
"Tunggu dulu Vya, aku sebenernya pengen jujur. Tapi ibu dia baru aja keluarga rumah sakit seminggu yang lalu karena sakit jantung. Aku gak setega itu."
Begitulah penjelasan demi penjelasan yang Andrew katakan padaku. Otakku semakin berputar tidak karuan. Seandainya benar begitu apa yang aku harus aku lakukan? Mau bagaimanapun hubungan kami sudah salah.
Andrew merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Lalu ia menyerahkannya padaku. Ada sebuah kontak bernama Lusi terpampang didepan mataku.
"Apa maksudnya?" Tanyaku.
"Coba kamu baca biar lebih jelas lagi." Jawab Andrew.
"Apaan sih gak perlu lagi."
"Vya tolong."
__ADS_1
Aku hembuskan nafas panjang. Mau tidak mau aku membuka pesan tersebut. Aku mulai membacanya satu persatu dari urutan paling atas. Yeah, aku menjadi sangat penasaran.
Memang benar, apa yang di jelaskan Andrew. Ia telah menjelaskan tentang perasaannya padaku. Jika ia tidak bisa melanjutkan hubungan yang sudah terputus hampir setengah tahun. Awalnya Lusi bersikeras ingin kembali dan meminta maaf. Dan itu berselang sampai berminggu-minggu Lusi membujuk Andrew. Apalagi banyak sekali pesan yang tidak dibalas Andrew.
Kemudian, sepertinya Lusi menyerah dan hanya meminta hubungan mereka tetap diperbaiki walau hanya menjadi teman. Aku terus scroll ke bawah. Entah sengaja atau memang merasa iba. Andrew mulai membalas pesan-pesan darinya. Meskipun terkesan cuek.
Percakapan online ini masih berlanjut. Adakalanya Lusi mengatakan gombalan dan memori ketika mereka masih bersama. Sampai Andrew mulai terpengaruh dan menanggapinya. Lusi semakin berani, ia semakin menunjukkan rasa sayangnya. Rasa rindunya akan kebersamaan.
Aku akui Andrew memang masih membalas dalam batas kewajaran. Meskipun, masih terus membalas pesan tersebut.
Sampai hampir di akhir percakapan Lusi kembali mengatakan keinginannya untuk bersama lagi. Kini membawa nama ibunya yang sakit-sakitan dan mengharap ia harus segera menikah dengan Andrew.
Andrew mengatakan maaf dan berkata "Sebuah hubungan yang terjalin selama empat tahunan memang sangat disayangkan untuk diakhiri, namun jika kita terus menjalani hubungan rusak ini kita tidak akan berhenti bertengkar selamanya."
Sepertinya Lusi memang masih sangat mencintai Andrew. Ia meminta agar Andrew berlaku sebagai kekasihnya sampai ia bisa menjelaskan semua pada orang tuanya. Dan tentunya bisa mencari pengganti Andrew. Andrew menyetujuinya, namun ia tidak berjanji untuk menikahi Lusi. Karena ada aku yang harus ia perjuangkan sekarang.
Di akhir percakapan, Lusi mengiyakan. Namun ia tak ingin Andrew menyebut namaku ketika perjanjian masih berjalan. Begitulah isi percakapan online Andrew dengan Lusi.
Aku menatap Andrew yang tengah tertunduk. Matanya bengap dengan raut wajah yang pasrah dan tidak rela. Sejujurnya, ada rasa iba dalam hatiku. Ingin sekali aku memeluknya dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Namun, aku urungkan aku tidak mau seperti ini.
"Makasih." Ujarku pelan.
"Vya kamu sekarang yakin kan?" Tanya Andrew padaku.
"Soal?"
"Perasaanku sama kamu Vya aku sayang sama kamu."
Aku tidak menjawabnya. Otakku masih terus mencari apa hal yang tepat untuk aku lakukan. Disisi lain aku juga merasa kasihan pada Lusi apalagi soal ibunya yang sakit-sakitan. Terlebih mereka sudah menjatuhkan harapan anaknya untuk bisa bersama Andrew.
"Ndrew gimana perasaan kamu sama Lusi sekarang?" Tanyaku.
"Aku lebih sayang kamu Vya." Jawab Andrew.
"Keliatan Ndrew."
"Maksud kamu?"
"Kamu masih sayang sama dia Ndrew, tapi rasa kecewa kamu ke dia masih besar dan jadi menutupinya."
"Enggak gitu Vy."
"Jangan bohongin perasaanmu sendiri Ndrew. Empat tahun itu bukan waktu sebentar buat langsung ngelupain."
Andrew terpejam. Kepalanya dijatuhkan pada badan sofa. Sepertinya benar yang aku katakan. Karena ia tidak bisa mengelak lagi.
"Kamu benar." Ujarnya.
"Ehmm." Jawabku dengan tabah.
"Gak mungkin bisa nglupain perasaan gitu aja. Tapi kenangannya bukan untuk orangnya."
__ADS_1
"Jangan nyari alesan terus."
"Enggak Vya aku serius. Aku udah sayang banget sama kamu dan aku udah gak bisa nyaman sama dia perasaanku udah hilang. Aku akui mungkin aku masih terbayang memori kami tapi bukan berarti aku masih cinta sama dia."
"Terus?"
"Aku mohon Vya kasih aku kesempatan kasih aku waktu buat nyelesein masalah aku sama dia sampai kami bener-bener bisa bicara sama orang tua."
Aku mencoba menguasai diri sekali lagi. Mendengar semua permintaan Andrew yang terasa mengiris-iris hatiku. Aku hanya ingin segera mengambil keputusan terbaik untuk sekarang. Untuk semua, aku tidak ingin menjadi orang jahat seperti joker.
"Vya aku mohon." Ujarnya lagi sembari meraih tanganku. Kini ia bersimpuh di bawahku.
"Andrew jangan kayak bocah deh bangun!!"
"Enggak aku mau gini sampai kamu ngasih kesempatan."
"Yah, aku rasa kita udah berakhir sekarang."
Andrew terbelalak seketika. Ia tersontak kaget dan menatapku dengan bola matanya yang memerah dan kantung mata yang bengap. Mungkin merasa usahanya sia-sia karena tidak bisa merubah hatiku yang sangat kecewa.
"Vya???"
"Hubungan kita udah salah dari awal. Maksudku kita dari awal gak punya ikatan apa-apa. Kita bukan siapa-siapa satu sama lain."
"Vyaa... please?"
"Kamu jangan egois. Kamu harus tanggung jawab dengan perjanjian kalian. Akan sampai mana kalian seperti ini? Setelah bohong sama aku terus kedua orang tua kalian?"
"Aku tau aku salah tapi...."
"Gak, kita semua salah termasuk aku yang mudah sekali jatuh cinta sama kamu tanpa peduli sebuah status."
"Vya??"
"Kamu boleh sama siapa aja Ndrew, setelah kamu nyelesein hubungan kamu sama Lusi. Kamu bahkan boleh kembali sama aku nanti dengan catatan saat itu aku masih sayang sama kamu. Kamu gak boleh kayak gini. Kasian mereka yang sudah tua udah berharap dan gak tau apa-apa!!!"
Aku menarik tubuhku untuk berdiri. Lalu melangkah kearah pintu. Meskipun Andrew masih saja mengejar tanpa mau melepasku dengan rela.
"Vyaaa aku mohon." Ujarnya.
Andrew meraih pundakku dan memelukku dari belakang. Lagi-lagi aku tidak bisa menahan air mata yang sedari tadi masih aku kendalikan untuk tidak keluar.
Kami hanyut dalam perasaan yang menurutku terlarang. Saling menjatuhkan air mata derita. Aku membalas pelukannya. Aku pikir untuk terakhir kalinya. Terakhir kali aku memberikan cintaku dengan tulus.
"Maaf Ndrew tolong lepasin aku semua udah jelas. Aku ingin kita sudahi disini, kembalilah sama dia. Mungkin masih banyak perasaan kamu yang tersisa buat dia." Ujarku sembari melepas pelukan erat Andrew.
"Enggak aku gak mau kehilangan kamu." Jawab Andrew.
Dengan tenaga sangat besar aku mencoba melepaskan diri. Andrew terduduk lemah di hadapanku. Aku mengangkat wajahnya, dan mengusap halus air mata dipipinya. Pandangannya tampak kosong dan tidak berekspresi. Hatiku yang paling dalam sangat berterima kasih dengan kasih sayang yang Andrew berikan padaku.
"Maaf kalo selama ini aku banyak salah sama kamu, maaf selalu bikin kamu repot. Semoga kita bisa sama-sama bahagia setelah ini walaupun berbeda jalan. Aku sayang kamu Ndrew selama ini. Makasih." Ujarku.
__ADS_1
Andrew tidak menjawab sepatah katapun. Dan dengan langkah berat aku meninggalkannya sendirian di apartemen. Yeah, aku pulang dengan taksi dan tentunya bersama perasaan hancur.
Bersambung...