
Hatiku berdesir ketika melihat wajah calon suamiku. Entah, kali ini rasanya memang sangat berbeda dari biasanya. Aku terdiam beberapa saat karena terpana, bahkan langkahku berhenti seketika. Aku begitu asyik menatap Andrew yang melebarkan senyumnya, sesekali ia tertawa setelah bercanda dengan kedua teman kamarku--Raya dan Sinta.
"Woe!" Seruan itu membuat tatapanku membuyar seketika. Aku salah tingkah dan menjadi kebiasaanku dengan mengusap tengkuk belakangku. Sedangkan Sinta justru semakin mengerutkan dahinya karena sikapku. "Loe kenapa, Nav?"
Aku menggeleng cepat, lalu tersenyum kepadanya. "Aku enggak apa-apa kok, Sin," jawabku.
"Calon nganten pagi-pagi enggak boleh galau," celetuk Raya.
"Enggak ah. Siapa yang galau. Ya udah yuk, lanjut." Aku mengajak kedua temanku. Dan tidak lupa mengajak Andrew juga untuk bergegas ke kantin perusahaan ini.
Rasanya sungguh malu ketika lamunanku dipergoki oleh Sinta. Bahkan ia bersedia mundur ke belakang untuk menghampiriku yang menghentika langkah. Sepertinya, otakku sedang tidak benar. Padahal, hampir setiap hari aku bersama Andrew, mengapa pula aku merasa takjub kepadanya? Ini seperti tidak masuk akal saja.
Kami berhenti lagi, menunggu elevator yang sedang turun supaya naik lagi. Diam-diam, seseorang tengah mendekat kepadaku. Ya, tentu saja Andrew. Ia tersenyum ketika sudah sampai di sampingku. Sedangkan Raya dan Sinta begitu asyik berbincang dengan karyawan lain yang juga sedang menunggu lift naik kembali.
"Sayang, tadi kenapa kamu? Galau kenapa?"
Aku tersenyum, bahkan nyaris tertawa. Mana ada aku bergalau-galau pada saat hari bahagiaku bersamanya tinggal satu langkah lagi. "Aku laper, jadi galau," jawabku.
"Sayang, serius."
Aku menatap Andrew lebih dalam lagi. "Emangnya, aku kelihatan bohong?"
"Iya! Kamu pasti bohong."
"Ya ampun." Aku menepuk dahiku, setelah itu kembali berkata, "aku enggak galau, Ndrew! Serius."
"Terus kenapa tadi diem di sana?"
"Emm ... itu rahasia."
"Halah!"
Andrew mengabaikanku, ia bersedekap dan menatap lift yang mulai terbuka. Semua karyawan yang menunggu benda itu, kini masuk satu persatu ke dalamnya, termasuk diriku dan Andrew.
"Tunggu! Tahan liftnya!" Seseorang meminta agar seseoang menahan lift dengan kaki tepat di bawah sensor agar tidak tertutup.
Aku maju dan menahannya. Di sana, tampak Kak Kate yang berjalan cepat, nyaris berlari dan dialah seseorang yang meminta tadi. Setelah itu, ia masuk ke dalam lift alias elevator ini. Aku kembali menarik kakiku dan pintu pun tertutup. Akhirnya, kotak ini bisa turun ke lantai di mana kantin kantor berada.
"Nav?" panggil Kak Kate kepadaku.
Aku lantas menatapnya. "Iya, Kak. Kanapa, Kak?" tanyaku demi memastikan maksud dirinya.
"Makan siang sama aku ya?"
"Emm ...." Aku seketika menatap Andrew, bahkan Raya dan Sinta juga.
Kedua temanku mengangguk, namun tidak dengan Andrew yang ragu-ragu dalam memberikan jawaban. Hal itu membuatku belum bisa mengiyakan ajakan Kak Kate ini.
"Ndrew?" Kak Kate menatap Andrew. Bahkan, ia menampilkan wajah yang teramat memelas.
"Iya, Nona," jawab Andrew. "Silahkan, bawa Navya. Mungkin dia juga rindu dengan Nona."
Kak Kate tersenyum lebar. "Makasih ya!"
Jika Andrew sudah menjawabnya, maka aku tidak perlu berucap lagi. Meski dalam hatiku merasa sangat tidak enak hati. Terlebih, ia sudah menolak ajakan teman-teman prianya agar bisa makan siang bersamaku. Namun, di satu sisi, aku juga merasa iba kepada wanita cantik yang berada di sampingku. Ia tampak begitu muram dan sepertinya membutuhkan teman untuk berbicara. Aku hanya bisa menghela napas diam-diam, sembari sesekali menekan lengan Andrew.
Namun, kekasihku itu hanya tersenyum. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya tetap baik-baik saja. Pun meski, di dalam hatinya merasa kecewa.
"Aku ikut Kak Kate dulu ya, Ndrew?" pamitku kepadanya. Tepatnya saat kami telah keluar dari elevator. Dan tentunya secara diam-diam, ketika Kak Kate lebih dulu menuju area parkir.
__ADS_1
Andrew tersenyum. "Iya, Sayang," jawabnya.
"Maaf, ... padahal kamu udah nolak ajakan teman-teman kamu."
"Nggak apa-apa, Sayang. Kan tiap hari kita juga ketemu, masa' ditinggal bentar aja enggak mau."
"Emm ... tapi, muka kamu bilang gitu."
"Wajar dong. Tapi kan enggak dibawa terlalu lama. Ya udah sana, nanti ditungguin sama Kate."
Aku mengangguk pelan. "Iya, kamu mau makan sama siapa jadinya?"
"Aku anak cowok, bisa gabung sama cowok lain." Andrew menyentil hidungku. "Emangnya cewe, suka gengsi. Harus sama yang dikenal baru mau gabung."
"Kan namanya juga cewek. Ya udah deh, aku duluan ya."
"Hati-hati, Vya."
"Iya."
Aku berbalik badan, kemudian kuhela napas dalam. Satu langkah aku ambil, namun aku kembali berhenti dan menoleh lagi ke arah kekasihku itu. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Aku membalasnya, lalu kembali melanjutkan langkahku.
Di sana, di mana mobil bisa berhenti sejenak, Kak Kate sudah menungguku dengan mobil mewah miliknya. Tanpa pikir panjang lagi, aku menegaskan laju kakiku, bahkan nyaris berlari karena merasa tidak enak hati jika sampai Kak Kate menungguku terlalu lama.
"Masuk, Nav," ujar Kak Kate sembari membukakan pintu mobil untukku.
"Iya, Kak," jawabku. Setelah itu aku melebarkan pintu itu dan masuk ke dalam mobil, tepatnya aku duduk di samping Kak Kate yang tengah menyetir.
Wanita cantik bertubuh indah ini, segera melaju mobilnya untuk meninggalkan gedung kantor dalam sementara waktu. Langit Singapura tampak begitu cerah, terlebih terik matahari terasa begitu membakar kulit jika berada di luar ruangan. Nyamannya, pada saat aku menumpang di mobil seseorang yang begitu dingin.
"Sorry, ya. Aku bawa kamu dari pacarmu," celetuk Kak Kate. Ia menatapku sekilas, kemudian kembali berfokus pada jalan.
"Hmm ... aku di sini malah enggak ada temen."
"Kok gitu?"
"Entah, aku malas aja. Lagian, orang yang ada di kantor banyakan orang asing. Kayak enggak nyaman aja, mungkin karna beda budaya dan aku juga sering diingetin sama papa biar enggak salah gaul."
Aku manggut-manggut saja. Kak Kate bilang; kantor berisi sebagian besar orang-orang asing. Padahal, seingatku justru tidak jarang orang pribumi bahkan karyawan mutasi dari Indonesia. Aku rasa, pada dasarnya Kak Kate adalah orang yang susah bergaul. Hal itu mengingatkan diriku pada aku sendiri di masa lalu, yang mana hanya ada Sita yang ada di sampingku. Aku selalu berpikiran buruk tentang orang lain. Oleh karena itu, aku bisa mengerti perasaan Kak Kate dalam hal ini.
Deru mobil masih terdengar bising, berkolaborasi dengan kendaraan lain. Kami di dalam, kini hanya diam sampai menanti sampai di tujuan yang tidak aku ketahui. Namun, dugaanku kami akan mendatangi suatu restoran favorite Kak Kate yang selama ini ia kunjungi bersamaku. Dan aku tahu pasti, ia sedang tidak baik-baik saja.
****
Hidangan istimewa telah tersaji di depan mata. Membuat air liurku justru semakin encer, terlebih karena aromanya. Aku memesan steak daging sapi yang begitu menggugah selera. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mengiris daging itu dan menyantapnya karena rada lapar yang semakin mendera.
Namun berbeda denganku, Kak Kate justru melamun. Makanan yang berupa cake dengan krim berlebih kini hanya dikoyak-koyak berantakan. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku merasa tidak enak hati karena malah begitu menikmati makananku sendiri.
Aku menghela napas dalam, kemudian kembali aku hembusan. Kuletakkan garpu dan pisau di atas piring. Aku menatap Kak Kate setelah minum air putih dari dalam gelas. "Kak, enggak makan?" tanyaku.
Ia masih diam. Tampaknya, tidak sadar akan panggilanku kepadanya. Apakah Affandy yang membuatnya seperti ini? Entahlah.
"Kak?" Aku memegang tangan Kak Kate yang berada di samping piring cake-nya.
Ia tersentak. Lalu, salah tingkah seketika. "I-iya, Nav. Kenapa?" tanyanya kembali.
"Enggak apa-apa kok. Hanya, ... jangan melamun di siang bolong. Makan dulu, habis itu terserah."
Kak Kate tersenyum, lalu tertawa kecil. "Mana ada orang ngasih nasehat begitu? Makin hari, kamu makin imut aja ya, Nav."
__ADS_1
"Emm? Imut? Mana ada aku begitu, yang ada keriput karna makin tua."
"Makanya jadia cewek yang pinter ngerawat diri. Skincare-an, biar glowing. Mau nikah lagi."
"Eh?!" Dahiku mendadak mengernyit. Bagaimana bisa, Kak Kate mengetahui rencana pernikahanku? Apakah aku pernah bilang kepadanya perihal itu? Aku lupa, rasanya malah tidak pernah. "Kak Kate tahu dari mana?"
"Aku ini seorang sekretaris. Ya, aku tahu siapa aja yang datang menemui atasanku. Jadi, Andrew emang memohon izin buat lamar kamu. Aku pikir alasan dia doang buat nyusul kamu pulang, tapi ternyata bukan ya? Di Bandara, justru dia yang antar kamu dan kamu kelihatannya enggak tahu apa-apa. Aku nebak aja, kalau dia mau buta lamaran kejutan buat kamu. Ah! Manis banget kalian."
Bukan manis, justru sekarang aku merasa malu sekalo. Mendengar penjelasan dari Kak Kate, aku langsung membayangkan bagaimana Andrew memohon izin kepada Affandy. Tampaknya, bukan sesuatu yang mudah. Terlebih, hubungan mereka berdua tidak pernah baik. Sekali lagi, ia berjuang untukku. Lalu, sesuatu apa yang bisa aku berikan kepadanya sebagai tanda terima kasihku dan sekaligus cinta tulusku. Tampaknya, aku harus berpikir keras untuk mengupayakannya.
Aku kembali melanjutkan makanku. Dan kini, Kak Kate pun begitu. Ia sudah mau mulai makan siang. Pun meski, di dalam hatinya penuh dengan kebimbangan perihal hubungannya dengan Affandy. Lagi-lagi, aku melihat kilasan masa laluku dari mereka. Affandy sebagai aku yang selalu bersikeras menolak kehadiran Kak Kate, sedangkan sang wanita tetap menunggu dan bertahan dengan perasaan yang sama dalam waktu lama. Hanya saja, aku tidak tahu; apakah Kak Kate memiliki kesalahan yang nyarisa sama dengan kesalahan yang dilakukan oleh Andrew. Sejauh itu, hanya mereka berdua yang tahu.
"Aku bingung, Navya. Harusnya, aku udah enggak kerja di sana. Tapi, Fandy enggak menerima surat pengunduran diriku. Dia ngancem aku sesuai perjanjian, kalau aku pergi dia bakal tuntut aku sesuai perjanjian prakerja," ujar Kak Kate mulai bercerita.
Aku termangu lumayan lama. Sampai akhirnya, aku berkata, "jahat banget nggak sih, kalau ada acara ancem-ancem begitu?"
"Itu cara dia, biar aku tetep di sini, Nav. Aku pikir bukan sungguhan."
"Iya sih. Tapi enggak gitu juga, Kak."
"Tapi kenyataannya emang gitu. Sekalinya, itu sungguhan. Fandy akan bebasin aku dari tuntutan yang diajukan dengan syarat yang bakal dikasih ke aku."
"Kejam banget!"
"Enggak, Nav. Kali ini, hanya itu cara yang bisa dia pake buat nahan aku. Karna aku tipikal orang yang keras kepala. Kalau aku enggak keras kepala, maka aku udah nyerah sama perasaanku padanya sejak dulu."
"Emm ... ya sih. Jadi, Kak Kate masih suka sama dia? Terus kejadian setelah di bandara itu gimana?"
Kak Kate terdiam. Ia menatapku sekilas, namun segera menunduk. Makanan yang ada di hadapannya kembali ia abaikan lagi. Tampaknya, ia belum siap untuk menceritakannya kepadaku. Dan aku juga tidak memiliki hak untuk memaksanya.
"Aku masih cinta sama Fandy, Nav. Tapi, aku ragu buat melangkah maju demi dirinya lagi," ujar Kak Kate setelah beberapa saat.
"Aku tahu, Kak. Orang kalau udah kecewa pasti susah sembuhnya. Tapi lebih baik, pikirian yang ada sekarang. Jangan nyampe nyesel. Kak Kate harus ngasih kesempatan sama Fandy. Hanya itu jalan keluar yang terbaik," jawabku sembari mengenggam tangan Kak Kate yang mendadak gemetar.
Ia menitikkan air mata. Perasaannya pasti sedang campur aduk. Ya, memang rasa kecewa itu sangat sulit dihapuskan. Tidak seperti goresan luka yang berada di kulit luar. Rasa kecewa bahkan lebih berbahaya dari segala macam perasaan lainnya. Hanya cinta yang terkadang bisa meredamnya. Namun, apakah cinta juga sanggup, jika bayangan lula di masa lalu terus memberikan bayangan secara jelas?
Aku sendiri bisa meredam rasa kecewaku terhadap kebohongan Andrew dan ia membuat berada di posisi seperti seorang selingkuhan. Namun, setelah itu, ia berusaha meminta maaf dengan segala macam upaya. Aku mengecewakannya dengan penolakan yang aku berikan secara berulang-ulang. Namun, cinta-lah yang membuatnya terus bertahan menunggu hatiku terbuka lagi untuknya.
Lalu, apakah Kak Kate bisa seperti Andrew? Ia seorang wanita, yang pasti harga dirinya teramat tinggi. Secara umum, pria-lah yang seharusnya berupaya bukan dirinya. Dan ketika Affandy mulai membuka hati, justru rasa kecewanya mulai muncul dengan jelas. Aku tahu, Kak Kate tidak ingin lagi tersakiti oleh kisah cinta macam itu. Namun, rasa cintanya dan perubahan sikap Affandy yang kini membuatnya bimbang, sedangkan rasa kecewa masih tetap ada dan justru kian mengembang. Terlebih, pada saat ia teringat sikap Affandy yang selalu dingin dan menolaknya selama ini.
Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Mau memihak kepada siapa, aku juga merasa bingung. Mau bagaimanapun aku pernah berada di posisi Affandy, hanya saja dengan alasan yang berbeda.
"Kak, jangan nangis lagi ah. Nanti cantiknya hilang lho," ujarku kepada wanita cantik itu.
Ia mengusap air mata yang sempat menetes membasahi pipi. Kemudian, ia menghela napas dalam dan kembali ia hembuskan. Ia tersenyum, lalu berkata, "maaf ya, Nav. Aku malah mewek."
"Enggak apa-apa kalau bikin tenang mah."
"Emm ... nanti malam, keluar bareng yuk! Aku pinjem kamu lagi dari Andrew. Sebelum kalian benar-benar menikah."
Aku terdiam sejenak. Rasanya sedikit berat. Sejak kemarin, aku belum bertemu dengan Andrew secara empat mata. Selepas pulang dari tanah air, kami benar-benar disibukkan oleh kerja dan hari ini adalah hari pertama kami bekerja. Hanya saja, aku kembali tidak enak hati jika harus menolak ajakan itu.
Lalu, aku mengangguk pelan. "Iya, Kak."
"Oke, nanti aku jemput."
"O-oke."
Bersambung ....
__ADS_1