Who Is My Love

Who Is My Love
Malam Yang Indah


__ADS_3

Hari berganti, malam pun menyertai. Ini adalah hari kedua pernikahanku dengan kekasihku--Andrew. Hari pertama kami sangat kelelahan, sehingga langsung tertidur ketika semua orang sudah pulang. Kami berdua masih menginap di rumahku, di mana ada papa, mama, Bi Emi juga Cika. Jangan tanya apa yang terjadi tadi malam! Sungguh, kami belum melakukan apa pun.


Bahkan, di hari kedua pun, rasa lelah masih tetap ada. Siang tadi, kami membantu para orang tua untuk membereskan semua peralatan yang dipakai untuk resepsi pernikahan kami. Ingin sekali mengeluh, tetapi rasa bahagia justru menghempas keinginan itu. Melelahkan memang, tetapi sangat berkesan.


"Uh!" Kurebahkan tubuhku di atas ranjang milikku. Aku tersenyum di antara rasa bahagiaku. Mataku asyik menatap langit-langit kamar sembari membayangkan wajah suamiku, ketika ia mengucapkan kalimat ijab qabul.


Masih ada beberapa hari lagi, kami akan kembali ke Singapura. Ah, entah dengan suamiku itu. Andrew merupakan pembisnis, meski yang mengolah masih orang tuanya. Kami belum membicarakan lagi perihal itu. Aku teringat ketika ia memintaku untuk keluar dari pekerjaanku, ternyata ia mempersiapkan masa depan untuk kami berdua. Aku menyesal karena menudingnya sok kaya dan kecewa lantaran ia membeli mobil. Ternyata, ia memang mampu. Ya, salahnya sendiri tidak mengatakannya kepadaku.


Tiba-tiba terdengar pintu kamarku sedang dibuka oleh seseorang. Mataku terbelalak, dengan debaran di jantungku yang tidak beraturan. Pasti pelakunya adalah Andrew. Benar juga, malam ini kami akan tidur bersama berbagi ranjang. Aku menelan saliva ketika mengingat kebiasaan baru itu. Apa yang akan aku lakukan? Aku belum siap, sungguh!


"Sayang?" panggil Andrew kepadaku. Ia berjalan menghampiriku, sedangkan tubuhnya hanya terbalut kaos biasa dan celana olahraga yang pendek. Lalu, ia duduk di samping posisi rebahanku. Tersenyum, senyum yang sungguh menawan, tetapi mampu membuat diriku gemetar.


"Udah ngantuk?" tanyanya lagi dengan belaian halus di kepalaku.


Aku menghela napas dalam, dan kuhalau semua rasa getir ini. Lalu, aku membangunkan diriku untuk duduk. "Belum kok," jawabku untuk pertanyaannya tadi.


Sialnya, ia malah tersenyum. Ia mengangkat kedua kakinya dan sepenuhnya berada di ranjang. Aku menggeser diriku, agar muat untuk dirinya.


Kami berdua masih bergeming, meski tangan saling mengepal satu sama lain. Rasa canggung menyeruak masuk di antara kami berdua. Ternyata kenyataannya sungguh sulit, daripada bayangan sebelumnya. Saat masih berpacaran, ia begitu berani mengecup pipiku. Namun kini, kita berdua saling malu-malu.


Hanya helaan napas yang terdengar dalam beberapa saat. Membuatku benar-benar kesulitan untuk membuka pembicaraan, mungkin Andrew juga merasakan hal yang sama. Sebenarnya, aku masih sangat takut. Namun tidak bisa menghindarinya, bukan? Bayangan tentang trauma di masa lalu, juga adanya kekhawatiran jika ada sesuatu yang tidak pantas pada tubuhku. Misalnya, bau? Mungkin.


"Navya?" Perlahan, Andrew mulai berani menarik pinggangku. "Kamu kok gemeter?"


Pertanyaan yang seharusnya tidak ia tanyakan, justru keluar begitu saja. Tentu saja, aku sangat malu. "A-aku c-capek, jadi begini," jawabku berkilah.


"Pft ...." Tawanya tertahan, tetapi terlihat jelas ia sedang menertawai diriku.


"A-apa?!"


"Enggak."


"Jangan ketawa!"


"Emang kenapa?"


"Aku malu." Aku membuang wajahku darinya, berupaya untuk menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah memerah. Bagaimana tidak, rasa hangat menjalar di telinga juga wajahku. Aku benar-benar malu!


Tangan Andrew yang juga gemetar, berusaha memintaku untuk menatapnya. Ke mana keberanian kami selama ini? Apakah setiap pengantin baru akan merasakan hal semacam ini? Jika sudah seperti ini, rasanya tengkukku, bahkan seluruh badan menjadi kaku dan sulit digerakkan.


Cup! Satu kecupan akhirnya dijatuhkan oleh Andrew di pipiku. Saking kagetnya, aku sampai membelakakan mata dengan napas yang berhenti beberapa detik. Meski begitu, aku terus berusaha membuang rasa gelisah ini. Berharap kecanggungan segera pergi.


"Hei?" ujarnya kepadaku.


"Hmm?" balasku sekenanya saja.


"Hadap sini dong."

__ADS_1


"Nggak mau."


"Kenapa?"


"Enggak apa-apa."


"Kita ngobrol doang kok, Navya."


"Ngobrol apa?"


"Emm ... mungkin soal pekerjaan."


Pekerjaan? Baiklah, sepertinya sesuatu yang penting. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sembari memejamkan mata sejenak. Baru setelah itu, aku menoleh ke arah Andrew. Lagi-lagi, ia tersenyum. Gemetar di tangannya juga berangsur menghilang. Sepertinya, ia sedang berusaha menyamankan keadaan.


Aku mengembuskan napasku dengan kasar. Senyum lebar kuupayakan bisa mengembang di bibirku. Beruntungnya, ia pria yang sabar, mengerti apa yang tengah aku rasakan. Ya, baru kali ini aku akan tidur sekamar dengan seorang pria, maksudku dalam keadaan yang berbeda dan bahagia. Bukan seperti kala ia datang secara tidak sadar karena putus asa, sampai membuatku terpaksa kabur ke apartemennya.


"Jadi, gimana?" Aku menggenggam tangan Andrew, seperti yang biasa aku lakukan kepadanya.


"Kamu mau keluar?" tanyanya kembali.


Aku berpikir sejenak, kemudian kembali berkata, "kenapa aku harus keluar?"


"Kamu, kan, udah ada aku. Dan hutang papa kamu udah dibebasin sama cowok itu. Lalu, target apa lagi yang mau kamu cari, Sayang?"


"Iya sih. Tapi, kita harus bayar penalti dong. Emm ... kamu aja yang keluar, kamu, kan, ada bisnis."


"Terus gimana?"


"Aku bisa bayar penalti kalau kamu mau keluar."


"Aku belum mau."


Andrew mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"


"Entah. Emm ... gimana kalau aku udah hamil aja?"


Andrew menatapku dalam-dalam. Astaga! Sepertinya aku mengatakan sesuatu yang justru seperti kode. Secara tidak langsung, aku mengajaknya ...? Ah, ini tidak benar. Aku seperti wanita yang tidak tahu malu. Kutundukkan kepalaku karena itu. Apa yang ada di pikirannya saat ini? Jangan sampai ia menilaiku yang tidak-tidak.


Gerakan tangan Andrew yang memelukku tiba-tiba, membuatku tersentak, tetapi tidak bisa menghindarinya sama sekali. Aku jatuh ke dalam pelukannya. Terdengar debaran jantungnya yang sangat cepat dan keras. Bagaimana ini? Aku benar-benar belum siap.


"Navya?" Suaranya terdengar parau ketika mengucapkan namaku. Seperti ada sesuatu yang ia rasakan. "Makasih udah mau jadi istriku."


"Emm." Hanya itulah yang bisa kuberikan sebagai jawaban. Itu pun dengan mata yang kupejamkan kuat-kuat.


"Jadi, ... kamu mau keluar kerja kalau udah hamil?"


"I-iya."

__ADS_1


"Hmm."


"K-kenapa?"


"Kamu udah siap punya anak?"


Aku terdiam. Ingin menjawab iya, takut jika dianggap kode kedua. Menjawab tidak, takut jika ia kecewa. Meski sebenarnya, aku sudah siap jika Tuhan telah memberikan. Hanya saja, prosesnya itu yang membuatku gemetar. Aku belum terlalu siap untuk menghadapi suatu keromantisan yang lebih dari biasanya.


"Navya, Sayang?"


"Emm."


"Aku sayang sama kamu." Andrew melepaskan pelukannya dari. Setelah itu, ia menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajahku. Mataku belum bisa menatapnya. "Coba lihat aku."


Permintaannya itu, memaksaku untuk berusaha menggerakkan bola mata. "Ada apa?" Setelah dengan perasaan susah payah, akhirnya aku bisa menatap netra matanya yang memancarkan suatu kelembutan.


"Apa kamu takut sama aku?"


"E-enggak kok."


"Kamu masih ingat masa lalu? Tubuh kamu gemetaran, Sayang."


Aku menunduk lagi. "Maaf. Aku juga enggak tahu kenapa bisa begini."


"Enggak apa-apa. Aku juga merasakannya kok."


"Maaf."


"Navya?" Andrew mengangkat kepalaku lagi. Tatapan matanya kali ini sangat sayu dengan senyuman tipis yang mengembang di bibirnya.


Jantungku semakin dipacu oleh debaran aneh itu. Tepatnya, ketika ia mendekatkan wajahnya di wajahku. Karena tidak bisa bergerak, aku sama sekali tidak bisa menghindar.


Sampai akhirnya, aku hanya memejamkan mata. Sentuhan halus bibirnya, menyapu bibirku. Kami jatuh ke dalam keromantisan. Meski sesekali, aku masih menolak perbuatan tangannya, ia berupaya membuatku tenang. Dengan upayanya itu, aku bisa menerima.


Ya, malam ini menjadi malam yang indah bagi kami. Setelah perjuangan kami dalam mengatasi segala masalah.


"Terima kasih, Andrew," ujarku lirih.


"Emm ...." Ia memandangku sekilas, setelah itu kembali pada perbuatannya atas diriku saat ini.


"Aku sayang kamu."


"Aku juga."


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2