
Setiap cinta adalah perasaan hati. Namun mengapa harus ada kata saling menyakiti? Lantas mengapa aku tidak kembali, jika aku masih mencintainya? Atas dasar apa aku bertahan dalam perasaan yang semu? Dan mengapa aku selalu bersikeras mendesaknya menghilang, jika aku masih memiliki rasa itu? Mengapa aku kesal dan cemburu?
Semua pertanyaan itu terus bermunculan didalam benakku. Aku merasa bingung pada diriku sendiri yang seperti ini. Yah, mungkin aku masih mencintai Andrew. Pada akhirnya aku menyadari lagi perasaan ini. Dan masih saja bertahan pada pendirianku yang aneh ini. Disatu sisi, aku masih harus memikirkan papa, disisi lain aku masih takut menjalin cinta. Dan disisi lainnya pula, aku tidak terima Andrew berlaku seperti itu. Entahlah, aku tidak mengerti.
Dan lagi-lagi, aku tidak bisa memejamkan mataku karena memikirkan semuanya. Satu minggu telah berlalu semenjak terhitung dari hari pertama kerja. Dan selama itu pula, Andrew terus menghindariku. Ia bersikap biasa saja dan seperlunya saja. Ia bukan lagi dirinya yang selalu mendesakku kembali. Meski aku tahu, pasti itupun sulit dilakukannya. Dengan terdiam sambil menelan ludah, aku menyaksikan hubungannya dengan Linseyld yang terlihat semakin akrab. Lantas, benarkah Andrew perlahan bisa membuka hatinya untuk orang lain? Lalu, mengapa aku tidak bisa menerima tawaran Affandy seperti dirinya menerima wanita itu?
Mungkin, jika Andrew tidak datang bersamaku ke tempat ini, aku lebih mudah untuk melupakannya. Hal terberat bagi seorang wanita adalah melupakan mantan orang terkasih yang terus saja ditemuinya, bukan? Terlebih orang itu sudah perlahan menjauh.
Mataku masih enggan terpejam dikala waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Aku memikirkan bagaimana Andrew dan Linseyld akan berkencan esok hari nanti. Pendekatan baru yang akan menentukan hatinya untuk siapa. Masih untukku atau orang itu. Jika Andrew bersama orang lain, apa aku bisa menerima?
"Kenapa hati gue diombang-ambing kayak gini sih?" gumamku bertanya pada tembok putih yang selalu diam.
Aku geram pada diriku yang tidak bisa membuat keputusan. Entah karena aku yang bodoh, atau alam sedang mempermainkan. Mau menyalahkan Tuhan pun tidak akan mungkin. Karena sejatinya hidup hamba-Nya adalah dari apa yang hamba tersebut lakukan. Aku menghela napas dalam-dalam dan kemudian kuhembuskan kembali. Kuturunkan diriku dari atas ranjang ini. Lantas, aku berjalan keluar.
Suasana ruangan sudah gelap karena lampu yang dimatikan. Raya dan Sinta pun sudah asyik terlelap. Aku memutuskan untuk keluar rumah demi menghirup udara malam yang segar sembari memandang bintang, seandainya tampak. Dan di pagar yang terhubung dengan tangga aku terdiam membisu, berdiri sendiri tanpa rasa takut akan hantu. Kupandangi langit yang ternyata tiada satupun kemerlip bintang bersinar. Begitu gelap dan mencekam seperti hati dan hidupku.
Tiba-tiba seseorang bergerak membuka pintu gerbang rumah ini. Aku meneliti siapa orang tersebut. "Woee maling yaaaa?!" seruku pada orang itu.
Seketika orang itu menghentikan langkahnya dan tampak mengangkat kepalanya. "Gue, Navya," jawabnya dengan suara serak.
"Si-siapa? Hantu? Kok tahu namaku?!"
Orang itu berjalan mendekati lantai bawah. Semakin dekat dengan kediaman Andrew, semakin jelas rupa wajahnya yang tadi terhalang bayangan pohon besar.
"Emm... maaf, gue pikir hantu," ujarku saat mengetahui orang tersebut adalah Andrew.
"Agak mirip sih kayaknya muka gue sama hantu."
"Bukan gitu. Kan suaranya beda, serak gitu."
"Iya, agak nggak enak tenggorokannya. Turun gih, ngobrol yuk. Besok libur, gue nggak enak mau naik."
"Hmm... ya, boleh."
Entah mengapa aku menyetujui permintaan Andrew itu. Sebenarnya aku hanya ingin melihat wajahnya dengan bebas kali ini saja. Aku ingin bertanya lagi lebih dalam pada hatiku sendiri. Lagipula, aku tidak bisa tidur. Daripada ia terus menghindariku, lebih baik aku yang datang untuk sekedar berbincang.
Aku menuruni anak tangga satu persatu. Sampai akhirnya mencapai lantai bawah. Disudut kiri, ada kursi panjang pada teras rumah ini. Andrew mengajakku untuk duduk disana. Aku menyetujuinya. Lantas, kami menghampiri dan duduk dengan suatu jarak ditengahnya.
"Loe sakit?" tanyaku kemudian.
"Enggak, serak doang," jawabnya. "Makanya tadi nyoba nyari obat di minimarket pertigaan itu. Untung masih buka."
"Oh."
Hening, kami saling terdiam bersama pikiran dalam benak yang tidak saling kami ketahui. Hanya helaan dan hembusan napas saja yang terdengar. Atau terkadang deru kendaraan yang sempat melintas. Kami sedang dekat, namun rasanya begitu jauh. Sudah tidak ada nyali untuk melemparkan kelakar kecil. Dan selama satu minggu ini hubungan kami seperti ini. Bisa dibilang ini pertama kalinya kami berbincang setelah seminggu itu.
Apakah ini sudah benar? Rasanya sangat menyesakkan. Aku ingin menangis, namun sebisa mungkin aku tahan. Semua terjadi karena perlakuan bodohku yang membuat Andrew kelelahan. Padahal perjuangannya untukku terhitung besar. Satu titik kesalahannya sudah tertutupi dengan semua penyesalan itu.
"Vya?" panggilnya kepadaku.
"Ya? Kenapa?" tanyaku kembali.
"Enggak, rindu aja manggil nama kamu pake sebutan Vya."
"Hmm... gitu ya? Emm... Linseyld gimana? Sampai mana kalian?"
"Masih biasa aja. Dia baik kok, anaknya seru juga."
"Syukurlah."
"Affandy?"
"Fandy?"
"Ya."
"Kenapa tanya soal Affandy sama gue?"
"Katanya kalian jadian."
"Haaaah?!"
Siapa yang membuat gosip seperti itu? Mana ada aku dan Affandy sudah jadian. Namun, aku menilik wajah Andrew yang datar-datar saja setelah menanyakan hal itu. Sepertinya ia sudah membuka hati pada Linseyld.
Aku menghela napasku dan menghembuskannya kembali. Tidak ada gunanya, aku menjelaskan hubunganku dan Affandy. Lagipula, ia sudah sedikit bisa melepaskanku. Jika Linseyld adalah wanita yang baik menurutnya, aku rasa ia berhak mencoba dan bahagia dengan wanita itu.
"Ya, Affandy baik juga. Loe pasti udah hapal sifatnya, Ndrew," jawabku kemudian.
__ADS_1
"Hmm... syukurlah juga. Toh, dia lebih baik dariku, Vya. Mungkin kalau sama orang itu, loe bisa bahagia."
"Emm... semoga."
"Gue besok mau nyoba kencan sama Linseyld ke mall yang disamping gerai makanan yang kita datangi dulu. Apa loe dan Affandy mau gabung?"
"No, thanks. Gue nggak mau ganggu kalian."
"Haha... enggaklah, biar rame aja. Banyak yang lain."
Itu tidak mungkin aku lakukan. Aku tidak tahu perasaanku jika aku menyaksikan Andrew dengan orang lain. Aku akui, pada akhirnya perasaanku untuknya masih sama seperti dulu. Aku mencintainya, namun aku juga ingin ia bisa bahagia dengan pilihan barunya. Karena selama ini ia sudah cukup menderita karena perlakuanku. Ia pantas mendapatkan bahagianya, bukan? Dan kini penampilanku sudah tidak secantik dulu.
Namun, semua yang aku niatkan selalu saja berlawanan dengan hati. Aku menghadap kiri, tepatnya sisi yang tidak menghadap Andrew. Akhirnya aku menangis lagi. Kugigit bibirku menahan suara isak tangisku supaya tidak keluar. Karena tidak mungkin aku berlari seketika saja, yang ada Andrew mengetahuinya.
Pada akhirnya, hanya dengan waktu satu minggu perjanjian itu bisa menyadarkan akan perasaanku. Sejauh mana bibirku menolak, hatiku tetap tidak bisa berbohong. Namun, seperti yang sempat Andrew katakan, aku harus menerima luka ini setelah dirinya bisa membuka hati pada orang lain. Ini mauku, ini permintaanku, dan ini akibat dari keegoisanku. Aku harus menerimanya, bukan?
"Vya?" panggilnya.
"Emm...," jawabku pelan tanpa menoleh kearahnya.
"Loe nangis ya?"
"En-enggak kok."
"Halah bohong. Coba lihat."
Aku menepis tangan Andrew seketika. "Enggak!"
"Jangan cengeng dong. Maaf, maaf, gue nyakitin loe ya?"
Andrew mendekatkan dirinya kepadaku. Sebisa mungkin aku menghindar. Namun, tenaganya terlalu kuat untuk merengkuh diriku. Ia menarik wajahku seketika. Ia bahkan mengusap air mataku yang tersisa. Namun, untuk apa? Untuk menertawakanku?
Benar saja, tak lama kemudian ia tertawa cukup kencang. Aku menepuk bahunya karena kesal yang bercampur malu. "Jangan mainin gue!" ujarku.
"Haha... baru juga seminggu. Masa' udah nggak sanggup?"
"Si-siapa yang nggak sanggup?"
"Loe lah, cemburu kan gue sama Linseyld?"
"Enggak!"
"Lho???"
"Andrew tetaplah Andrew yang masih mencintai satu orang. Jujur beberapa hari yang lalu, Affandy datang dan bilang kalian udah jadian. Gue frustasi banget. Tapi, meneliti lagi. Apakah dia emang bener. Tapi, nyatanya gue lebih kenal siapa seorang Navya."
Aku tertegun sebentar. Kutatap wajah Andrew dalam-dalam. Kucoba mencerna semua perkataannya. Tentang pengakuan Affandy dan lain sebagainya. Jadi, ini yang membuatnya menghindariku?
Malam terus berjalan semakin gelap. Kami masih seperti ini. Saling berdekatan dan menerka semuanya. Aku masih bingung dan juga tidak mengerti. Tak ada penjelasan lebih lanjut mengenai hal itu. Rasanya semakin lama semakin kesal. Tentang Affandy bahkan Andrew juga. Mengapa tidak ada yang jujur kepadaku?
"Sejak awal, gue tahu kalau loe emang cemburu," ujar Andrew lagi.
"Cemburu soal apa?" tanyaku.
"Kedekatan gue sama Linseyld."
Aku menghela napasku dalam-dalam. Mungkin malam ini adalah malam yang tepat untuk menuntaskan semuanya. "Ya! Gue cemburu. Awalnya nggak sadar, makin lama makin nggak karuan keselnya. Pernah disaranin buat jadi pacar Affandy, tapi nggak mau soalnya do'i masih suka sama Kate. Emm... gue sadar gue masih suka sama loe! Puas?!"
Andrew terkekeh saja mendengarku. Ia yang menang. Semua tebakannya benar. Saat ini, aku yang menjadi budak cintanya. Biarlah saja, ia menertawakanku. Toh, aku benar-benar menggelikan.
Namun, sekilas ia mulai berani mengecup keningku. Aku terkejut sampai dibuat berdebaran karenanya. Seolah kami adalah pasangan baru. Ya! Rasanya seperti sebuah aplikasi yang diperbaharui. Meskipun wajah masih sama, namun isi dan fiturnya sedikit berbeda dan lebih baik dari sebelumnya.
Andrew meraih wajahku. Ia menelungkupkan kedua tangannya di wajahku. Aku berdebar tidak menentu, mataku terpejam seketika. Rasanya seperti pertama kali kami berkecupan. Padahal, bukan kali pertama kami melakukan. Ia mendapatkan bibirku. Ia menorehkan rasa hangat dan manis. Kami jatuh ke dalam suasana romantis. Jauh lebih mengesankan dari sebelumnya.
"Aku mencintai kamu, Navya. Selalu...," bisiknya.
"Emm," jawabku pelan diiringi lanjutan keromantisan itu.
Sampai satu menit berlalu, ia menarik kepalanya. Aku terdiam gemetar. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasanya masih sulit aku percayai, apa ini mimpi? Kalau mimpi, aku berharap tidak bangun lagi. Aku sadar aku masih mencintainya. Selama ini aku hanya berfokus pada satu kesalahannya. Semua yang ia sesali, semua usahanya sudah cukup besar.
Aku bahkan tidak peduli akan perkataan orang lain mengenai kami. Aku tidak ingin kehilangan Andrew untuk kedua kalinya. Aku memang munafik, tapi aku masih memiliki hak untuk memaafkan kesalahannya dan meminta maaf kepadanya.
"Kali ini, jangan menghindar lagi ya? Loe udah janji," pinta Andrew.
"Maaf, Ndrew," jawabku.
"Maaf? Masih mau keras kepala?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala. "Bukan, maaf buat selama ini udah bikin loe terombang-ambing. Terus nggak sadar sama perasaan sendiri. Menghakimi kesalahan loe."
"Astaga! Kirain masih mau hindar. Navya, denger ya? Gue tahu gue salah, salah banget. Tapi, gue nggak pernah main-main sama perasaan. Loe udah bikin gue jatuh cinta, udah bikin gue berani mengambil keputusan buat udahin hubungan gue sama Lusi yang udah rusak sejak lama. Navya, gue rasa yang bisa nerima loe apa dayanya cuma gue doang."
"Emm... mungkin. Karna kemana-mana emang ada loe doang. Herannya itu. Gue udah nggak laku sama cowok lain. Andrew mulu."
"Haha... mungkin kita emang jodoh. Bentar ya, tunggu disini."
"Mau kemana?"
"Tunggu aja."
Andrew berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju pintu rumahnya. Ia pun membuka dan masuk ke dalam. Aku tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan. Hakku hanya menunggu, berharap ia cepat kembali. Jujur saja, sekarang ini aku merasa sangat senang. Aku sampai menyunggingkan senyuman sembari mengusap rambutku lantaran sedikit malu.
Semoga malam ini bukanlah malam yang ada didalam mimpi. Karena aku terlalu takut kehilangan Andrew lagi. Bahkan aku tidak peduli, jika ia jauh lebih dibawah daripada Nevan, Haris ataupun Affandy. Aku hanya ingin dirinya. Setelah semua proses hati tidak menentu yang aku alami, aku bisa menyadari semua ini dalam waktu yang cukup singkat yaitu satu minggu.
Tak lama kemudian, pintu kembali dibuka dan Andrew keluar. Ia datang menghampiriku. Kemudian ia duduk berjongkok dihadapanku. "Selamat ulang tahun, Navya. Maafkan segala kesalahanku, maaf karna nggak ada kue dan balon untuk merayakan. Tapi, hanya ada hadiah kecil. Semoga Navya selalu bahagia, sehat dan paling penting lebih dewasa," ujarnya sembari memberikan kotak kado kecil namun memanjang membentuk persegi panjang.
"Haah? Ulang tahun? Siapa?" tanyaku tidak percaya.
"Ini tanggal lahirmu."
"Oh ya? Kok gue lupa?"
"Lah, nggak jadi romantis ini. Besok hari ulang tahun kamu, Sayang."
"Hahaha... iya iya inget kok. Emm... makasih kadonya, tapi kok bisa sekebetulan ini ya?."
"Dibilangin karna kita berjodoh kok."
Aku tersenyum saja. Kemudian Andrew berdiri dari duduk jongkoknya. Ia menarik diriku agar aku juga turut berdiri. Kemudian diraihnya kedua telapak tanganku yang salah satunya memegang kado itu.
"Navya, sekali lagi entah ini kebetulan atau apa. Kita dipertemukan di malam ini. Kamu bisa jujur akan perasaan kamu. Tepat dihari ulang tahun kamu. Aku bener-bener bahagian banget."
"Iya, sama, Ndrew."
"Emm... Navya? Maukah kamu jadi pacarku. Maksudku maukah kamu jadi calon istriku? Kita mulai dari awal lagi. Aku tahu kesalahanku emang nggak termaafkan, tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Atas nama cinta ini, demi apapun aku mencintai kamu, Navya."
"Janji?"
"Janji, aku benar-benar berjanji."
"Gue mau. Gue mau, Ndrew. Gue udah capek main kucing-kucingan, pada akhirnya gue masih ada rasa yang sama. Maaf, gue yang banyak salah. Emm... gue masih sayang sama loe, Ndrew. Tapi, gue udah kayak gini. Gue nggak bisa jadi cantik lagi."
Andrew tersenyum. "Mau bagaimanapun loe, loe tetep Navya. Nggak ada yang berubah. Anak plin-plan yang gue cinta. Jadi kita pacaran ya? Nggak ada HTS lagi."
Senyuman tersungging di bibirku sembari menggangguk pelan. Ya! Aku tidak bisa kehilangan dirinya lagi.
Tidak lama kemudian, dosa kami terjadi lagi. Andrew mengecup bibirku. Kami membuang rindu setelah sekian lama memisahkan rasa di hati. Dibawah langit yang gelap, pukul setengah satu malam di negara orang. Bahkan, lagi-lagi kami hanya memakai celana training panjang dan juga kaos oblong biasa. Semua menjadi saksi bisu akan cinta kami yang baru terajut kembali. Dan aku tidak akan membiarkan dirinya hilang lagi. Dalam waktu satu minggu aku sudah cukup lelah menahan amarah karena cemburu.
"Jangan pergi lagi ya, Navya."
"Jangan bohong lagi ya, Ndrew."
"Nggak akan."
"Bener?"
"Bener banget."
Namun, semoga hubungan kami tidak mengganggu niatanku untuk mencari uang. Nasib papa tetap harus diutamakan. Papa harus bebas!
Bersambung...
Hahaha... maaf ya kalau cukup mengecewakan.
sebenarnya kenapa aku tanya, pilih mana kalian antara affandy dan Andrew.
aku mau ngetes aja, seberapa besar rasa maaf ke orang yang sempat bersalah. Ada tipe orang yang sekali dikecewakan memang susah sembuh. Namun, ada juga yang bisa sembuh. Tapi, setiap manusia pasti ada suatu kesalahan ya guys. Tidak baik menghakimi orang lain atas dasar kesalahan itu. hehe
semoga kita semua selalu lebih baik kedepannya.
Sejak awal bikin novel ini, sebenarnya sudah terkonsep seperti ini. Mengulas kisah cinta Navya dan Andrew. Dua orang manusia yang menggambarkan beberapa sifat remaja indonesia.
Bahkan diantara mereka, ada yang bertahun-tahun pacaran putus nyambung atas dasar cinta.
Masa' Navya nggak bisa memaafkan, padahal Andrew udah berjuang sebanyak itu.
__ADS_1
Sekian yah guys, SEKALI LAGI AKU MINTA MAAF JIKA MENGECEWAKAN. AKU BIKIN NOVEL INI ATAS DASAR BEBERAPA KENYATAAN YANG ADA HEHE..
Terima kasih