
"Sah?!" ujar sang penghulu dengan lantang setelah menyelesaikan prosesi ijab qabul pernikahanku.
"Saaaaaah!" Para saksi menjawabnya dengan serentak, memberikan bukti bahwa aku dan Andrew sudah sah menjadi suami istri.
Do'a dimulai, diiringi rasa syukur karena lancar menjalankan prosesi akad nikah. Aku mengecup punggung telapak tangan Andrew yang kini telah menjadi suamiku. Lalu, ia memberikan kecupan manis di keningku.
Air mataku berderai membasahi pipiku, aku memeluk mama dengan sangat erat. Aku menangis haru, bukan sedih. Akhirnya aku mencapai pelaminan bersama kekasihku tercinta, setelah proses perjalanan cinta kami. Mama menangis pun berderai air mata, juga papa. Anak semata wayang sudah menjadi milik orang lain. Kesempatan kami untuk bersama lebih lama lagi, sudah mulai terkikis.
Lalu, aku setengah bersujud di hadapan papa. Dosaku begitu banyak kepada beliau. Kebencianku selama ini yang muncul dari dalam hatiku untuk beliau. Aku benar-benar anak yang kurang ajar, karena menganggap papa sebagai musuh bebuyutan. Papa mencengkeram kedua lenganku agar aku bisa bangkit dari posisiku. Setelah itu, beliau memeluk erat tubuhku dengan air mata yang juga berderai deras.
"Maafkan kesalahan Papa selama ini, Nak. Semoga kamu selalu bahagia dan dilimpahi banyak rezeki," ujar beliau kepadaku.
"Maafin juga kesalahan Navya ya, Pa." Aku semakin mengeratkan pelukanku pada tubuh papa. "Navya anak yang kurang ajar, Pa. Navya minta maaf."
"Iya, Papa udah maafin kamu dari dulu, Nak."
Dengan berat hati, papa melepaskan diriku, karena aku harus menemui kedua orang tua mertuaku. Kami saling memeluk dan aku diberikan do'a terbaik dalam menjalani rumah tangga nanti. Aku hanya bisa mengamininya.
"Terima kasih, Ibuk, Bapak," ujarku kepada orang tua dari suamiku.
"Jadilah istri yang berbakti dan kami akan mendo'akan agar suami kamu menjadi suami yang bertanggung jawab," jawab ibuk alias Ibu Siti.
"Amin, amin."
Setelah itu, beliau melepasku. Aku sungkem dengan bapak alias Bapak Birowo. Sama seperti ucapan sang istri, beliau mendo'akan yang terbaik untuk kami. Namun, aku tidak memeluk beliau, hanya sebatas mengecup punggung tangan dan sungkem saja.
Aku tidak menyangka bahwa prosesi pernikahan adalah kegiatan sakral yang mengharukan. Hampir semua yang hadir di sini menitikkan air mata, apalagi saat aku bersimpuh di hadapan papa. Perasaanku bahagia, haru dan juga ada sedikit rasa bersalah. Rasa bersalah tentang sikapku selama ini yang begitu buruk terhadap kedua orang tuaku. Bahkan, aku belum bisa membahagiakan mereka berdua. Mungkin, itulah yang menjadikan tangisku pecah dan membuat orang lain tersugesti dengan tangisanku ini.
Aku mendapati Bi Emi di barisan paling belakang. Tanpa pikir panjang, aku sedikit berlari untuk menghampirinya. Setelah sampai, aku menangis lagi sembari memelul erat tubuh ibu keduaku ini. Sosok ini yang menggantikan fungsi mama selama ini. Aku sangat berterima kasih karena Bi Emi telah setia menemaniku, bahkan bertahun-tahun lamanya.
"Maafin Navya kalau ada salah ya, Bi? Nyampe jadi istri orang pun, Navya masih sering nyusahin," ujarku dengan sesenggukan suaraku.
"Non ... Non Vya ... Non, semoga bahagia." Bi Emi menangis juga, bahkan suaranya melebihi suara tangisanku.
"Makasih ya, Bi, karna udah nemenin Navya selama ini. Makasih banyak, Bibi."
"Iya, Non. Bibi juga berterima kasih. Semoga Non Vya bahagia bersama Den Andrew. Jangan nangis lagi, nanti cantiknya ilang. Bibi juga bakalan nangis melulu' ini." Bi Emi mengusap air mataku dengan tisu bersih yang baru saja diambil dari bungkus kecilnya.
Aku beralih kepada Cika yang saat ini begitu manis dengan gaun indah hadiah dariku. Aku memeluknya yang sudah semakin bertambah besar.
Setelah momen haru itu, aku kembali menghampiri kekasihku, maksudku suamiku. Ia mengulas senyuman di bibirnya, tampan sekali dengan setelan jas putih dan celana warna senada. Aku tidak percaya jika kami sudah sah menjadi suami dan istri.
"Mata kamu nanti sembab kalau banyak nangis, Sayang," ujarnya kepadaku.
"Ya, gimana lagi. Aku terharu tauk," jawabku.
"Akhirnya, aku dan kamu bersatu. Terima kasih udah mau jadi istri dari orang kayak aku."
"Apaan sih, jangan bikin nangis lagi deh."
"Hehe ... kamu cantik banget."
"Terima kasih, suamiku. Kamu juga tampan banget."
Lalu, kami bergegas. Sesuai intruksi dari Tante Desi, kami akan berganti baju untuk persiapan resepsi yang langsung digelar. Menjadi raja dan ratu sehari, menjadi pusat perhatian dari para tamu undangan. Sayangnya, Raya dan Sinta tidak hadir, Kak Kate pun begitu. Aku rindu mereka. Tidak, itu nanti saja, aku tidak boleh menangis lagi. Jangan sampai mataku sembab di acara yang paling penting dalam hidup. Aku harus jadi pengantin yang sangat cantik.
Kebaya pilihanku yang berwarna keemasan kini membalut tubuhku. Rambutku yang hanya disanggul biasa, kini dilepas lagi. Lalu, make up juga diganti. Inilah ribetnya kalau resepsi langsung digelar setelah akad, apalagi menggunakan dua adat yang berbeda.
"Jangan nangis lagi ya nanti, Neng," ujar Tante Desi kepadaku. "Nanti mata kamu sembap."
Aku tersenyum tipis. "Iya, Tante," jawabku.
"Lha wong acara bahagia kok malah nangis sih, Neng."
"Saya juga enggak tahu, Tante. Kenapa gitu, ya? Tumpah gitu aja hehe."
"Iya sih. Kebanyakan juga gitu, Neng. Oke! Kita make up ulang, ya? Dua jam cukup kok waktunya. Enggak nyampe malah."
Tante Desi mulai melukiskan kosmetik-kosmetik di wajahku. Sejujurnya, aku sedikit takut akan efeknya di kulit. Namun apa mau dikata, aku adalah seorang pengantin, harus siap dengan riasan tebal. Kuakui hasil riasan Tante Desi sangat bagus, kemampuan beliau bukan abal-abal. Sehingga, aku cukup puas dengan hasilnya.
__ADS_1
Ada Andrew yang memperhatikan diriku dari belakang. Ia tampak terpana dan entah apa yang ada di dalam pikirannya. Membuatku tersipu malu, tetapi aku hanya bisa menahannya karena tidak mungkin meneriakinya.
"Bi, istriku cantik ya," ujarnya kepada Tante Desi yang notabene-nya adalah bibinya sendiri.
Tante Desi tersenyum. "Pinter, Ndrew, kamu cari istri. Enggak kayak yang dulu," goda beliau.
"Jauhlah, Tante. Ini mah cantik banget, yakin deh. Nyampe aku dilabrak sama petinggi."
"Labrak gimana maksud kamu?"
"Pada naksir Navya, aku suruh mundur haha. Mereka aja enggak tahu aku siapa."
"Kamu sih, udah punya usaha sendiri, malah main-main aja jadi bawahan orang."
"Ngejar cinta, Bi. Jadi, ya bertahan."
"Kan, kamu bisa ngejar tanpa ambil kontrak lagi."
"Enggak tahu, Bi. Masih seru aja hehe."
Tante Desi menggeleng. "Andrew, Andrew."
Sedangkan pria yang telah menjadi suamiku itu justru tertawa. Tante Desi kembali berfokus pada wajahku. Dengan telaten dan penuh kesabaran dalam merias wajahku. Kami juga membicarakan beberapa hal meski tidak penting. Selepas selesai dengan make up, beliau beralih dengan rambutku yang akan disanggul dengan adat Jawa Jogja.
****
Menjadi pusat perhatian itu bukan sesuatu yang mudah. Aku malu sekali, apalagi jika ada tamu yang memperhatikan wajahku dengan sangat tajam, dari bawah sampai atas. Namun, karena pesta resepsi ini milikku aku benar-benar menahan segala perasaanku. Sejak tadi, aku dan Andrew hanya duduk, berdiri, duduk lagi, berfoto dan seperti hingga beberapa jam berselang. Bahkan, sampai aku berganti pakaian setelah tiga jam berlalu.
Kini, aku menggunakan pakaian adat sunda, yang sejak lama aku inginkan. Semuanya bagus, tetapi aku merasa senang jika melihat seorang pengantin menggunakan siger sunda. Ia pasti akan terlihat bak putri raja. Dan adat jawa, aku merasa seperti seorang putri keraton. Semuanya memiliki keunikan masing-masing.
"Capek ya, Sayang?" tanya Andrew kepadaku.
Aku menatapnya, setelah itu memberikan anggukan pelan. "Masih lama ya?" tanyaku.
"Masih, dua jam lagi nyampe kita bisa ganti sama baju biasa."
"Kan, kamu yang mau."
"Iya, sih."
"Kamu cantik."
"Udah tauk!"
Ia tertawa pelan. "Iya juga sih. Istriku tercinta, duh! Malunya, akhirnya aku bisa sebut kamu begitu."
"Jadi kamu malu nikah sama aku?"
"Bukan begitu, Sayang. Maksudnya, masih agak malu-malu mau manggil kamu begitu."
"Hmm ... kirain."
Tamu undangan yang hendak pulang mendatangi kami berdua. Memberikan ucapan selamat dan juga do'a terbaik. Hanya senyum dan terima kasih yang bisa aku sampaikan kepada mereka. Aku melihat mama dan papa, juga ibuk dan bapak yang sibuk menyambut tamu atau berbincang. Aku bersyukur karena tidak ada lagi perdebatan tidak penting.
Sebenarnya, aku merasa gelisah oleh sesuatu. Sahabat yang aku tunggu, belum juga datang. Sita ke mana? Bahkan, malam di mana kami berjanji untuk bertemu, ia tidak bisa dihubungi sama sekali. Dan malam itu, rencana temu rindu kami menjadi gagal.
"Hei, Bro! Ampun deh, jadi beneran. Gila loe, Ndrew." Baru saja datang, Rezky sudah menghampiri kami berdua, ia memeluk Andrew dengan salam yang sering diucapkan oleh laki-laki.
"Gue yang menang, kan, Rez," jawab Andrew kemudian.
"Emang dari awal loe berdua itu sama-sama suka. Andrewnya aja yang rada'-rada'."
Andrew menepuk bahu Rezky cukup keras. "Loe, yang bikin! Gue, kan, emang mau jujur, loe duluan yang kasih bocoran."
Rezky tergelak dengan tawanya yang cukup lebar. Ia sama sekali tidak merasa bersalah kepada Andrew. "Sorry, Bro. Gue juga naksir sama Navya dulu."
"Sayangnya, Navyanya maunya sama gue."
"Iya, karna gue bodoh, Rez," timpalku.
__ADS_1
Masalah yang dulu datang, kini menjadi bahan candaan. Itulah manusia, tidak harus terfokus pada kesalahan. Ada saat di mana perubahan terjadi. Andrew berubah, bahkan diriku sendiri. Ada proses di mana kami bisa sampai ke titik ini.
"Gue cabut ya? Banyak antrian nih, mau minta makan di sini haha," ujar Rezky undur diri. Dan memang, ia belum mengambil secuil makanan pun.
"Baek-baek, Bro. Buruan nyusul gue," ujar Andrew.
"Makasih, Rez, udah dateng," timpalku.
Pria itu hanya mengulas senyuman kepada kami. Setelah akhirnya meninggalkan kami di kursi pelaminan ini. Aku dan Andrew masih harus menyambur para tamu. Ini sungguh melelahkan, tetapi juga mengesankan. Andaikan Raya dan Sinta ada, pasti akan seru sekali. Sayangnya mereka harus bekerja. Sungguh, aku sangat rindu.
Waktu berjalan, tamu datang, kemudian pulang. Begitu yang terjadi selama seharian. Hingga sore hari menjelang, hampir pukul lima sore. Harapanku mengenai Sita sudah benar-benar pupus, ia tidak datang di acara pernikahanku. Ada baiknya, jika ia memberi kabar terlebih dahulu, seperti Raya dan Sinta meminta maaf karena tidak bisa hadir sebab keadaan. Sita, dia mengecewakan diriku.
"Ayok, pengantin udahan. Kasihan banget," ujar Tante Desi, setelah sebelumnya menghampiri kami berdua di tempat ini. Beliau menggiring kami untuk kembali ke ruang rias.
Aku dan Andrew mengikuti permintaan beliau. Kepalaku juga sudah mampu menahan sanggul dan siger ini. Berharap agar segera di lepas, setelah itu aku bisa mandi. Meski aku harus pulang terlebih dahulu dan itu memakan waktu yang lama.
"Sayang," panggil Andrew kepadaku.
Aku menatapnya. "Ya? Kenapa?" tanyaku kembali.
"Kamu capek apa kenapa sih?"
Aku menunduk, sedang salah seorang asisten Tante Desi membantu melepaskan mahkota di kepalaku. "Sita enggak dateng, Ndrew. Aku dari tadi nungguin dia. Dia, kan, sahabat aku dan waktu itu aku usahain buat pulang."
Andrew mendekat. Ia menggenggam jari jemariku. "Mungkin dia ada halangan, Sayang. Dia, kan udah jadi istri orang juga, pasti ada sesuatu. Kami ingat, kan? Malam itu dia juga enggak bisa dihubungi?"
Aku mengangguk. "Aku juga berharap begitu. Tapi rasa kecewa tetep ada."
"Ya udah, ini kan hari bahagia kita, jadi jangan murung gitu. Nanti kamu dikira nikah paksa sama aku."
"Iya, sih. Maaf, ya? Emm ... ambilin tas aku dong. Aku mau bersihin make up, kita pulang dulu, ya? Udahan, kan, ini? Aku pengen mandi."
"Iya, Sayang."
Ia mengambilkan apa yang aku minta. Setelah itu, aku mengeluarkan pembersih wajahku. Polesan kosmetik kubersihkan perlahan-lahan dengan air pembersihnya. Satu persatu yang ada di kepalaku sudah dilepaskan. Setelah selesai, aku bergegas berganti pakaian.
Urusan sisa tamu adalah urusan orang tua. Aku dan Andrew kabur pulang. Karena gerah tubuh dan pasti bau sekali, aku sudah tidak tahan. Dengan mengendarai mobil suamiku, kami melaju menuju rumahku.
"Sayang, aku masih kayak mimpi bisa nikah sama kamu," ujarku kepada Andrew.
Ia menatapku sekilas. "Aku yang enggak nyangka mah. Kamu kan cantik."
"Apa hubungannya?"
"Kan banyak yang ngelirik. Eh, jatuhnya malah ke orang kayak aku."
"Emang kamu orang kayak apa?"
"Aku enggak sehebat mereka, Navya. Aku ya begini, ala kadarnya."
"Ala kadarnya matamuh! Kamu hina aku? Hartamu berlimpah, Andrew! Kayak enggak bersyukur aja jadi orang."
"Hi, ngomongnya kasar sama suaminya sendiri."
"Habis kamunya begitu."
"Iya, iya, maaf. Tapi pamor kamu itu udah luar biasa lho, Sayang. Kalau lagi kumpul-kumpul, yang diomongin ya kamu, kalau bukan Kate. Tapi, Kate kan udah sama Pak Fandy. Jadinya kamu yang jadi tranding topik."
"Bodo' amat. Sekarang aku istri kamu, punya kamu enggak peduli sama mereka sama sekali."
Kami saling melempar senyuman. Sabtu yang bahagia milik kami berdua. Setelah sekian lama, akhirnya sah juga. Aku menjadi istri, Andrew menjadi suami. Semoga aku bisa menjadi istri yang baik, juga menjadi ibu yang baik pula.
Mobil kamu akhirnya sampai di rumahku. Setelah itu, kami masuk ke dalam.
"Navya!"
Suara itu?
Bersambung ....
__ADS_1