
Disarankan untuk memutar lagu syahdu nan melow agar lebih ngena di hati š
____________________________________________
Di hari kedua izin tidak bekerjaku, aku masih terperangkap didalam rumahku sendiri. Papa selalu mengancamku dengan membawa penyakitnya, atau ancaman penjara karena hutang yang mencapai satu milyar.
Sebenarnya aku cukup heran, untuk apa saja uang sebanyak itu. Tidakkah orang tuaku berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Semua ini sangat tidak masuk akal. Aku tidak bisa menerima alasan tersebut, namun juga tidak bisa melakukan apapun.
Deru mobil memasuki gerbang rumahku. Aku hanya menghiraukannya. Pasti ia adalah Haris. Hari ini ia menjanjikan akan mengajakku berjalan-jalan. Meskipun aku sangat ingin menolaknya, sekali lagi aku tidak punya kuasa.
"Sayang Nak Haris udah dateng lho," Ujar mama dari balik pintu kamarku.
"Bodo amat," Jawabku cuek.
"Jangan gitu, turun ya udah ditungguin."
"Sial!"
"Jangan mengumpat papa disini."
Uuhh! Bagaimana caranya aku bisa lepas dari semua ini? Aku berharap Tuhan mengirimkan seseorang untuk menjemputku tanpa menimbulkan masalah. Namun, semua hanya angan dan khayal atas keputus-asaanku.
Aku hanya memakai pakaian sesimple mungkin. Bahkan polesan make up tidak ada sama sekali di wajahku. Aku memang sengaja dan tentunya sangat malas. Andai saja pria itu adalah orang yang aku cintai pasti aku akan berias secantik mungkin.
"Hai Navya," Sapa Haris sembari menyunggingkan senyum.
"Emm..." Jawabku singkat.
"Kamu cantik ya natural gini hehe."
"Thanks."
"Ayo."
Haris mengayunkan tangannya supaya aku menggandengnya. Dan sekali lagi aku menghiraukannya, aku bahkan terkesan tidak peduli. Sedangkan ia hanya salah tingkah dan malu mendapat perlakuan ini.
"Berangkat ya tante om," Pamitnya kepada orang tuaku.
"Jaga anak om ya nak," Jawab Papaku.
"Iya nak tante nitip Navya ya," Sambung mama.
"Siap tante."
Kemudian Haris menggandeng tanganku dengan sedikit memaksa. Genggamannya sedikit membuatku meringis kesakitan. Aku rasa Haris merupakan sosok pria yang kasar atau memang memiliki sifat tempramental. Terbukti dibeberapa momen, ia menunjukkan raut wajah yang terkesan mengancam kepadaku.
Haris membukakan pintu mobilnya dan mau tidak mau aku memasukinya. Jantungku berdegup kencang. Ada rasa khawatir tersendiri didalam hatiku. Aku takut dibawa ketempat aneh oleh Haris. Aku sama sekali tidak bisa bersuara sedikitpun saat ini.
"Hei Navya kamu cantik banget sih?" Ujarnya. Namun, aku enggan menjawabku.
__ADS_1
"Jawab atuh cantik, diem aja sih? Kenapa?" Lanjutnya. "Gue punya bates kesabaran ya Navya, inget loe sekarang jadi milik gue nggak usah sok jual mahal! Gue punya duit banyak, loe nggak perlu kerja lagi kalo udah nikah."
"Loe nggak ada hak ngatur gue," Tegasku.
"Haha jangan naif Navya, gue tau loe nggak suka gue. Tapi gue tau loe suka duit."
"Nggak semua orang seperti yang loe pikirin!"
"Oke, oke terserah loe. Yang pasti hari ini kita jalan-jalan sepuasnya, makan sepuasnya dan gue bisa bayarin apa yang mau loe beli."
Sifat Haris yang sebenarnya akhirnya keluar disaat tidak ada orang tuaku. Aku sudah sering menemui orang-orang seperti ini. Orang kaya yang merayuku dengan uang. Kecuali Nevan, saat itu ia menjanjikanku cinta . Makanya aku menerimanya meskipun kami tidak berjalan dengan baik pada akhirnya.
Haris terus memacu mobilnya menyusuri jalan perkotaan. Hingga sampailah disuatu toko baju yang sangat ternama. Haris mengajakku masuk kedalam.
"Pilih yang loe mau," Ujarnya.
"Nggak, gue nggak butuh," Jawabku.
"Jangan keras kepala Navya!"
"Gue nggak butuh Haris!"
"Susah! Hei kamu kesini, pilihin baju yang bagus dan sesuai buat cewek ini."
Seorang karyawati toko menghampiri Haris. Lalu ia mengajakku ke beberapa tempat khusus pakaian wanita.
Bagi mereka yang bahagia, mungkin tempat ini adalah surga dunia. Namun, bagiku saat ini malah terkesan seperti neraka. Aku tidak mau namun Haris tetap memaksa.
"Aku nggak mau mbak," Ujarku.
"Aduh jangan gitu nona, saya takut Tuan Haris marah besar."
"Mbak kenal dia?"
"Emm..."
"Mbak jawab aja."
"Tapi janji ya nona mau pilih baju tolongin saya."
"Iya aku janji."
"Se... sebenarnya tuan Haris sudah sering kesini bersama cewek-cewek. Mereka tipe wanita matre non, dan beberapa kali mengadukan pelayanan kami nggak bagus. Tuan Haris pun sering marah, dan saya lihat nona ini seperti terpaksa ya? Maaf non, saya hanya merasa kasihan jarang sekali saya lihat wanita yang di bawa Tuan Haris seperti terpaksa kayak nona."
"Iya mbak aku dipaksa. Yasudah terimakasih ya, aku bakal pilih bajunya kok."
"Makasih ya nona, semoga nona bisa secepatnya lepas dari dia non."
"Amin."
__ADS_1
Karyawati tersebut terus memberi dukungan kepadaku. Jarang sekali, ada orang yang mau ikut campur seperti ini dan bahkan memberikan kata iba kepadaku. Apakah aku terlihat semenyedihkan itu?
Yasudahlah, semua tidak ada gunanya dipikirkan sekarang. Aku akan mengikuti permainan Haris mulai saat ini. Pastinya, aku tetap mencari jalan keluar dari masalah ini.
"Cantik banget," Kata Haris.
"Tentu saja," Jawabku.
"Haha gitu dong masa' mau jalan sama gue pake baju gembel."
"Jangan sombong Ris!"
"Oke, oke. Selanjutnya kita ke salon ya."
"Ngapain lagi? Nggak cukup?"
"Wajahmu memang sudah cantik Navya tapi butuh sentuhan sedikit lagi."
"Terserah!"
Haris membawaku lagi untuk menuju sebuah salon. Mobilnya melaju cepat menerabas kemacetan. Gaya Haris begitu lihai dalam menyetir. Aku rasa ia sering bermain balap dengan teman-temannya.
Hingga beberapa saat kemudian sampailah ditempat yang dituju. Kemudian aku dirias secantik mungkin oleh salah satu karyawannya. Karena sudah cukup lihai dia tidak membutuhkan waktu yang lama.
"Kamu udah cantik sih cyin jadi eke gampang ngeriasnya hehe," Ujarnya.
"Thanks ya," Jawabku.
"Sama-sama cantik, sering-sering kesini yaa." Katanya lagi
"Nahkan makin cantik calon istri gue," Celetuk Haris dari arah belakang.
"Mantul bos si nona cantik banget."
"Thanks ya."
"Sama-sama bos."
Perjalanan aku dengan Haris berlanjut lagi. Entah mau kemana lagi rencananya. Ia membawa mobilnya semakin jauh.
Kami tidak saling berbicara untuk beberapa saat. Haris sibuk bersenandung mengikuti irama musik yang ia putar. Sedangkan aku hanya menunduk, rasanya pusing dan mual.
Wajahku kuarahkan untuk melihat luar jendela mobil. Dari kepiluan ini dan segala macam beban serta tekanan batin. Aku menitikkan air mata, tentunya Haris tidak mengetahuinya. Aku menyembunyikannya sebaik mungkin.
Aku ingin semua cepat barakhir. Aku sudah lelah dengan semuanya. Bahkan kini aku sangat merindukan Andrew yang selalu ada setiap saat, ketika aku bersedih kala masih bersama.
Rasa cinta untuk Andrew belum kunjung sirna. Aku masih bingung caranya melupakan, namun sudah ditumpuk masalah lagi yang lebih besar. Aku hanya ingin bahagia. Aku harus keluar dari masalah perjodohan memuakkan ini.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like+komen.