
Sesuai permintaan Haris, akhirnya aku menepatinya. Aku akui memang ada rasa malas tersendiri. Namun, mengingat sikap Haris beberapa saat yang lalu. Membuatku banyak berpikir. Sepertinya aku memang sudah keterlaluan. Tidak kuberikan sedikitpun kesempatan padanya sampai sekarang.
Apa mau dikata? Kalau namanya tidak suka. Apalagi hari pertama kami bertemu, aku sudah mengalami tekanan batin yang kuat. Belum lagi ketika bertengkar dengan Vines saat itu. Ditambah Haris yang sempat akan membawaku ke suatu tempat. Yang mengantarkanku ke rumah sakit dan bertemu Affandy.
Aku sangat bersyukur jika Haris telah benar-benar berubah. Namun, rasa waspada dihatiku masih tetap ada. Belum lagi, saat teringat kejadian tadi yang ia artikan sebagai candaan sangat membuatku takut.
Apa benar Haris hanya bercanda? Karena, aku tidak pernah memperdulikannya? Apa dia frustasi tentang itu? Sebenarnya Haris itu pribadi yang bagaimana?
Pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan satu persatu dari benakku. Membuatku galau karenanya. Disatu sisi aku takut, namun sebagai manusia aku tetap punya nurani untuk iba. Aku curiga. Saat Haris terus mengatakan hal buruk mengenai Papa, apakah sebenarnya ia memang tidak suka? Karena Papa seolah-olah sudah menjualku. Seingatku Haris tidak pernah berkata buruk tentang Mama. Hanya Papa saja.
Apa sebenarnya maksudnya?
Karena dari awal ada sesuatu yang menurutku mengganjal. Namun, biarkan dulu. Lebih baik, aku menyelesaikan riasan wajahku. Daripada Haris berpikir macam-macam. Jangan sampai ia kesal dan membawaku kesuatu tempat yang aneh lagi.
Setelah selesai dan siap, aku segera berjalan keluar. Tak lupa kutenteng tas selempang berwarna putih senada dengan baju. Sedangkan bawahannya, aku memakai celana jeans berwarna hitam senada dengan flat shoes yang hendak aku pakai.
Aku menuruni tangga demi bertemu dengan Haris. Tentunya dengan sejumlah kebimbangan dan kegelisahan.
"Sayang?" ujar Mama. Beliau sudah pulang bersama Papa yang menatap diriku dengan tajam.
Kuhentikan langkahku sebentar. "Iya Ma?" jawabku.
Mama mendekatiku. Beliau membelai halus pundakku. Lalu berkata, "Kamu hati-hati ya sayang. Mama minta sama kamu, sebisa mungkin hindari pertengkaran dengan Nak Haris. Mama takut kamu kenapa-napa."
"Iya Ma, Navya janji akan hati-hati."
"Mama tunggu di rumah. Pulangnya jangan terlalu sore ya."
Kuanggukkan kepalaku tanda menyetujui permintaan Mama. Kemudian aku mengecup pipi dan tangan Mama. Beliau menampilkan raut wajah yang seakan tidak rela. Aku rasa, Mama juga sangat mengenal sosok Haris yang keras. Sedangkan Papa. Uhh... jangan tanya. Aku melewati beliau begitu saja. Entahlah, rasa hati belum bisa ikhlas menerima semua ini. Meski dosa hati terkadang sering mengganggu.
Aku hanya berharap Papa bisa sadar dari ulah dan sikap yang selalu aku perbuat. Aku ingin beliau merasa bersalah lalu berubah. Berubah menjadi seorang ayah yang menyayangi keluarga. Tanpa ada politik uang sedikitpun. Karena jika keluarga kami harmonis, aku siap bekerja keras untuk membantu keuangan. Meski tidak banyak, aku selalu yakin bahwa aku bisa diandalkan.
"Ayo," ujarku. "Keburu panas."
"Eh udah?" jawab Haris. "Loe selalu cantik, Navya."
"Thank's, mungkin kalau gue jelek. Loe nggak bakalan sengotot ini."
Haris hanya tersenyum manis tanpa menjawabku sekalipun. Sehingga rasa heran kembali menggerayangi hatiku. Ia bisa selembut ini? Rasanya seperti mimpi.
Kemudian Haris meraih tanganku dengan erat. Dibawanya aku untuk masuk kedalam mobilnya. Kuikuti perintahnya. Saat berada didalam, pandangan mataku masih menengok ke pintu rumah. Mama disana, menatapku penuh iba. Berharap aku kembali, dan tidak melakukan perjalanan ini. Namun, apa boleh buat semua sudah terlanjur.
"Kita mau kemana, Ris?" tanyaku memberanikan diri.
Tangan Haris memutar lagu. Kemudian ia melaju mobilnya meninggalkan rumahku. Ia menatapku. "Loe maunya kemana?" tanyanya.
"Tempat yang nyaman, ramai, dan tidak aneh bagi gue," jawabku.
"Loe masih mikir, gue bakalan ngajak loe ketempat aneh lagi?"
"Bohong, kalau nggak mikir. Setelah semua sikap aneh yang loe lakuin."
"Kita nonton ya? Gue udah pesen tiket."
Haahh? Nonton? Haris? Salah minum obatkah?
Rasa heran kembali datang. Tidak biasanya ia mengajakku ke bioskop. Selama ini, ia selalu mengajakku ketempat-tempat mewah atau bertemu teman-temannya di cafe ternama. Sebenarnya, ia mengingatku pada sosok Nevan. Keduanya kaya raya, tidak sembarangan ketika hendak berkunjung kesuatu tempat. Yang membedakan mereka adalah sifat. Sifat Nevan lembut manja, sedangkan Haris begitu keras. Nevan gemar menonton film, sedangkan Haris bermain game dengan mempertaruhkan uang.
Jika menilik lagi pada mereka berdua. Aku bisa membandingkannya dengan Andrew. Sangat kontras sekali. Andrew adalah orang biasa sepertiku, mandiri dan tekun bekerja. Ia tidak sekaya mereka. Tapi ia bisa membuatku jatuh cinta sampai sedalam ini. Bagiku uang bukanlah tolok ukur untuk menautkan hati.
"Gimana mau nggak?" tanya Haris. "Entar gue cariin bioskop di mall ternama."
"Emm... boleh. Tapi gue punya challenge buat loe," jawabku.
"Challenge?"
Aku mengangguk kemudian menjawab pertanyaannya, "Ya!"
"Apa?"
"Gue yang nentuin tempat kencan hari ini."
Haris terdiam. Ia manggut-manggut. Sepertinya bimbang dengan permintaanku. Sedangkan rencanaku adalah mengajaknya ketempat-tempat biasa. Bukan levelnya orang kaya. Siapa tau ia akan menyerah setelah ini. Dan aku bisa terbang ke Singapura.
Mobil ini masih melaju tanpa arah. Menderu, menyeruakkan kebisingan keseluruh jalan raya. Aku menunggu jawaban dari Haris.
"Loe mau ngerjain gue ya?" tanya Haris lagi.
Sontak saja aku terbelalak. Ia tau apa yang ada dipikiranku. Sepertinya rencanaku terlalu kelihatan. "Ma-maksud loe apa?" tanyaku kembali.
"Loe mau ngajak gue, ketempat yang norak dan aneh kan?"
"Emm... ya! Emang kenapa? Loe takut? Malu sama brewok!"
"Enak aja!"
"Jadi?"
"Gu-gue setuju kok, tapi jangan disuruh makan ditempat aneh juga. Entar perut gue sakit."
"Terserah gue!"
"Sayang. Please..."
Aku tersenyum sinis. Mengabaikan permintaan dari Haris. Lelaki pengecut yang takut dengan dunia luar. Namun, Haris adalah manusia berharga diri tinggi. Ia tidak mungkin membatalkan persetujuannya. Jadi, aku memiliki kesempatan untuk melanjutkan rencanaku.
Langkah awal, kuarahkan terlebih dahulu ke mall biasa. Dengan raut malas, Haris akhirnya bersedia. Sebenarnya mall seperti ini tidak terlalu berbeda jauh dengan mall kalangan atas. Hanya saja, harga barang yang dijual lebih murah. Tentunya kualitasnya juga standar. Menjadikan tempat ini sangat ramai oleh para pengunjung.
Kuajak Haris berputar-putar. Mencari barang-barang yang aku inginkan sembari menunggu bioskop dibuka. Sebagai wanita pastinya akan sanggup menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbelanja. Tidak memperdulikan orang lain. Dengan rencana dan maksud agar Haris kelelahan karena ulahku.
__ADS_1
"Tadi mau nonton kan?" tanyaku setelah sadar jam bioskop telah dibuka.
"Iya, Navya. Tapi, masa' ditempat kayak gini? Rame banget," jawab Haris.
"Loe udah setuju, jadi ikut aja. Jangan bandel."
"Hmm..."
Aku berhasil! Ia begitu setia mengikutiku. Membawakan beberapa barang yang telah aku beli. Tapi memakai uangku sendiri. Haris memang menawarkan kartunya untuk kupakai. Namun, aku menolak. Aku tidak ingin terlihat murahan dan semakin tidak berarti baginya. Lalu kami melanjutkan kencan dengan menonton sekarang.
Ada untungnya juga sikap Haris berubah cepat seperti ini. Kami sedang tidak bertengkar. Sedang ia selalu mengikuti arahanku. Lalu kupesankan dua tiket untuk menonton film horor. Jujur saja, aku takut. Tapi, apa boleh buat. Daripada film romantis, yang ada kami baper. Dan Haris bisa menjadi gede rasa seketika.
Ia tak bergeming sedikitpun dan masih menungguku mengantri. Anak yang pintar, jadi tidak membuatku pusing atau khawatir.
"Ayo," ujarku mengajaknya masuk kedalam studio yang tertera pada tiket.
"Udah mau diputar?" tanyanya.
"Iya, untungnya masih keburu."
"Oke, sini."
"Apa?"
"Tangan kamu sayang."
"Ogah!"
"Kebiasaan!"
Tanpa mau mendengar penolakanku, Haris meraih tanganku dengan sedikit kasar. Namun setelah itu bersikap lembut kembali. Menuntunku kedalam studio. Membuatku benar-benar kesal karena kami akan terlihat seperti sepasang kekasih.
Walau aku tau, Haris adalah pasanganku sekarang. Namun, tetap saja aku tidak menyukainya sedikitpun.
Kami melangkah masuk. Sebentar lagi film akan dimulai. Duduk dibangku sesuai yang tertera pada tiket. Jujur saja, aku khawatir. Aku berjanji tidak akan menonton film horor ini. Supaya tidak ada hal memalukan yang aku perbuat.
Tak lama kemudian, musik awal dari film terdengar sangat kencang. Membuatku tersentak kaget. Tentunya menahan malu dan berusaha memejamkan mata.
"Pfftt... hahaha." Haris tertawa.
"Apaan?" tanyaku.
"Aneh."
"Aneh?"
"Takut beginian mesennya malah beginian. Mau ngerjain gue?"
"Si-siapa yang takut? Nggak kok. Apaan sih?"
"Dah... kagak usah ngeles. Pegang tangan gue sini."
"Ogah!"
Lagi-lagi Haris tidak memperdulikanku, ia mengambil telapak tanganku. Karena malu akan banyaknya penonton yang lain, akhirnya aku tidak menolak.
Meski takut, tetap saja ada rasa penasaran tentang isi film. Sampai teriakan kecil sering kulontarkan karena kaget akan wajah setan didalamnya. Cukup mengherankan, padahal setiap hari aku telah bersama setan. Tapi, mengapa aku setakut ini?
Yang lebih mengesalkan lagi adalah sikap Haris yang biasa saja. Ia tidak menunjukkan rasa kagetnya sama sekali. Malah sering menertawakanku yang tengah berlaku memalukan. Padahal aku yang merencanakan semua ini. Ibarat senjata yang memakan tuannya. Aku kalah telak dalam pertempuran yang aku buat sendiri.
****
Dua jam berlalu, durasi film sudah habis. Kami keluar dari ruang studio. Karena ramainya pengunjung, Haris terlihat risih. Membuatku tersenyum puas. Aku rasa ia sudah jenuh, bosan, lelah dan malas karena ulahku.
"Makan yuk?" ajakku padanya.
Haris menatapku dan menjawabku, "Oke, entar ke tempat ya-"
"No, no, no. Loe harus ikut gue."
"Kemana lagi Navya?"
"Makan mie ayam bakso diluar."
"What??? Maksud loe di pinggiran jalan."
"Ya!"
"Nggak!"
"Haris! Loe udah setuju tadi!"
"Tapi gue nggak bisa makan begituan."
"Dasar pengecut!"
Haris menghela napas yang terdengar kesal. Sembari mengelus dadanya. Aku rasa ia sedang menahan diri agar tidak emosi. Pradugaku mengatakan sepertinya ada yang memberikan nasehat pada Haris dalam menghadapi wanita.
Tidak mungkin, ia berubah secepat ini. Jika tanpa dorongan orang lain. Tak masalah, toh aku bisa menang.
Kami berjalan keluar dari mall ini. Kuajak ia berjalan kaki untuk menggapai warung bakso di seberang jalan. Ia masih menggandeng tanganku dengan erat. Setelah sampai di warung, kupesankan dua mangkuk mie ayam bakso. Kami duduk bersama sembari menunggu pesanan disajikan.
Setelah tersaji, aku langsung melahap makanan tersebut. Sedangkan Haris terlihat sangat risih. Ia ragu-ragu untuk menyantap itu.
"Makan dong!" desakku padanya.
"Iya iya," jawabnya.
"Yang ikhlas."
__ADS_1
"Iya sayang."
Mau tak mau, Haris menurutiku. Dijejalkannya sendok berisi mie kedalam mulutnya. Ekspresinya begitu datar, aku tidak tau apa yang sebenarnya ia rasakan.
Beberapa saat kemudian, kami selesai. Aku menyantap habis hidangan tersebut. Sedangkan milik Haris masih tersisa setengah. Aku membiarkannya saja, karena tidak mau terlalu memaksakan.
"Gue yang bayar," katanya.
"Nggak, gue yang ngajak kesini," jawabku.
"Gue cowok loe, Navya."
"Cowok? Dih."
"Navya???"
"Sssttt..."
Haris diam. Aku membayarkan uang untuk pesanan kami. Setelah itu keluar dari warung ini.
"Mau kemana lagi?" tanya Haris.
"Emm... ke taman ya?" tanyaku kembali.
"Taman?"
"Iya, taman yang ada danau kecilnya. Kalau nggak mau, anterin gue aja. Loe pulang."
"Iya iya sayang, mau kok."
"Bagus!"
Kami masuk kedalam mobil lagi. Haris melajunya cepat menuju tempat yang aku maksud. Hari ini begitu cerah sepertinya, enak juga mencari udara segar dipinggiran danau. Lagipula aku sangat lelah sekali. Seingatku ada sebuah gazebo kecil di taman itu. Jadi kami bisa beristirahat sebentar nantinya.
"Itukan?" tanya Haris sembari menunjuk taman yang aku maksud.
Aku mengangguk. Kemudian ia mengarahkan mobilnya kesana. Setelah sampai, ia memarkir mobil mewahnya pada area parkir yang telah disediakan. Haris mengajakku turun dengan menggandeng tanganku kembali. Aku rasa inilah yang ia maksud sebagai kencan yang wajar. Karena hari ini, ia sangat penurut jadi aku membiarkannya. Sangat jarang, kami tidak bertengkar seperti hari ini.
"Duduk disana, gue capek," ajakku pada Haris setelah kutunjuk sebuah gazebo.
Beruntungnya tidak dipakai oleh orang lain. Kami mendekatinya lalu duduk diatasnya. Hamparan danau kecil terlihat begitu indah. Namun, memberikan kenangan yang kurang menyenangkan bagiku. Di tempat inilah, pertama kalinya aku mendengar kebohongan Andrew dari Rezky.
"Navya?" ujar Haris.
"Ya," jawabku.
"Perut gue sakit."
"Ehh??? Sakit gimana?"
"Ya sakit, duhh! Isshh."
"Ris? Sakit banget ya? Gara-gara mie ayam tadi?"
"Mungkin."
Haris menekan perutnya dengan kencang. Keringat dingin mengucur deras diwajahnya. Ini bukan bercanda, Haris sakit. Aku benar-benar panik. Hanya usapan keringat didahi yang bisa kulakukan.
Mati gue! Ini kan gara-gara gue. Duhh... gimana dong?
"Ki-kita ke rumah sakit ya?" ajakku.
"Nggak! Gue mau selesaiin kencan ini," jawab Haris, menolakku.
"Gilak loe! Loe sakit Haris, jangan keras kepala. Ayok, gue pegangin jalannya."
"Navya, nggak!"
Haris menggenggam tanganku. Ia bersikeras tidak mau. Lantas, apa yang harus aku lakukan? Ini semua karena aku yang memaksa ia makan hidangan yang tidak biasa ia santap.
Mama tolongin Vya.
"Ris, ayolah," kataku.
Haris merengkuh tubuhku agar aku tetap tinggal. "Gue nggak apa-apa, bentar lagi juga sembuh kok," katanya.
"Tapi kan pasti sa-"
"Nggak Navya, percaya deh. Panas doang rasanya, setelah itu juga ilang kok."
"Kenapa sih keras kepala kayak gini?"
"Karna ini hari dimana kita tidak bertengkar. Harusnya gue selalu bersikap seperti tadi ya, biar loe tetep disisi gue. Gue salah, karna gue nggak pintar dalam mengutarakan perasaan Navya. Menurut gue, ancaman adalah hal yang paling tepat buat nahan loe disisi gue. Maaf, kita malah selalu ngabisin waktu buat bertengkar terus."
"Haris?"
Ini terlalu tiba-tiba. Kenapa loe harus berubah selembut ini, disaat gue pengen menjauh? Kenapa loe selalu kasar, sampai gue nggak bisa ngasih kesempatan satu kalipun. Haris, gue nggak cinta sama loe.
Bersambung...
Jangan lupa komen+like.
BTW Navya ini satu kota sama Fanni ya, tokoh novelku yang satu. Kira2 menarik nggak kalau dipertemukan? hehehe
Ini sebabnya aku bikin judulnya Who is My Love
Soalnya Navya diperebutkan empat pria.
Andrew, Haris, Affandy mungkin.
__ADS_1
Rezky harapannya tipis.
Nevan sudah gagal hehehe..