Who Is My Love

Who Is My Love
Muak


__ADS_3

Aku mengikuti semua permintaan Nevan hari ini. Bahkan di saat aku dan Sita akan pulang pun Nevan masih mencegahku. Ia mengatakan ingin menghabiskan waktu hari ini denganku. Lalu aku mengiyakan dengan santai.


"Beb kok lo mau sih?" Tanya Sita berbisik padaku sedikit menarikku kesisinya.


"Gue cuman pengen ikutin apa mau dia hari ini." Jawabku.


"Ah jangan-jangan lo jatuh cinta lagi?"


"Gak tenang aja, abisin aja duit dia hari ini."


"Wow jahat lo beb."


"Dia yang mau kok."


Kami semua termasuk Jean menghampiri area parkir mobil. Entah akan dibawa kemana kami oleh Nevan. Tangannya tak sedikitpun berpaling dari tanganku. Aku tidak menolak lagi sekarang. Toh, pasti akan sia-sia.


Biar saja aku terlihat gampangan. Memang aku peduli. Hatiku telah hancur oleh laki-laki. Aku akan menghancurkan hati orang lain dalam waktu sekejap. Makanya aku meladeni permintaan Nevan untuk bernostalgia. Dan ketika ia sudah percaya diri mengajakku kembali, aku akan membuangnya bagai sampah.


Menarik bukan?


"Jean lo ikut Sita dulu ya." Ujar Nevan pada Jean.


"Whaaaattttt???" Jawab Jean tersontak.


"Gue pengen ngobrol sama Vya berdua aja."


"Tapi kan Van."


"Please kali ini aja oke, Sit gak papa kan?"


Sita mengangguk pelan.


Dengan malas dan berat hati Jean memasuki mobil murahku dengan Sita. Sedangkan aku berada di mobil mewah Nevan. Nevan hanya tidak mau waktunya denganku terganggu. Dan aku malah tersenyum geli secara sembunyi-sembunyi.


Mobil kami saling beriringan berjalan meninggalkan gedung Mall yang besar. Melaju pelan melewati jalan perkotaan yang ramai dan padat. Karena sudah hampir sore, terdapat kemacetan di beberapa titik jalan. Beruntung, tercium aroma therapi yang terpasang di dalam mobil Nevan yang menimbulkan efek tenang sekaligus mengurangi rasa pusing.


"Kita dulu sering becanda ya Navya kalo macet gini." Ujar Nevan.


"Ehmm." Jawabku singkat.


"Aku kangen."


"Masa'?"


"Serius Vya emang kamu nggak? Indah tau kalo diinget lagi."


"Dikit sih."


"Aku pengen kayak dulu lagi."


"Haha."


"Kok ketawa?"


"Lucu aja."


"Lucunya dimana?"


"Gue inget pas lampu merah ketemu lo ama cewek cina dulu."


"Ohh."


Aku menatap sinis kearah Nevan. Tampaknya ia merasa tersinggung dan tidak senang dengan ucapanku. Aku sih bodo amat. Toh, itu yang terjadi. Saat aku masih menangisinya ia sudah menggandenhg orang lain seenaknya jidatnya.


"Kenapa diem?" Ujarku.


"Maaf." Jawab Nevan lirih.


"Buat?"


"Semuanya."


"Gue gak peduli lagi kok."


"Makasih ya Vya."


"Sama-sama."


"Aku beneran nyesel Vya aku pengen memperbaiki semuanya kita kayak dulu lagi. Kamu udah gak sama cowok itu kan?"


"Gak."


"Kenapa dia nyakitin kamu?"


"Gak juga, dia sayang sama gue."


"Terus kenapa udahan?"

__ADS_1


"Kita gak udahan karena kita emang gak pernah pacaran."


"Tapi kan duluu...."


"Stop! Fokus nyetir aja gak usaha bahas yang gak penting deh."


"Sorry."


Nevan mengembalikan fokusnya kearah jalan. Aku memang jengah jika ia banyak bicara. Apalagi menyangkut Andrew. Rasanya ingin sekali aku sumpel sepuluh tissu kedalam mulutnya. Untung saja, ia cukup mengerti kemauanku dan tidak melanjutkan pembahasannya.


Aku melirik pada kaca mobil didepanku. Aku bersyukur masih ada mobilku yang dikendarai Sita dibelakang. Aku membayangkan betapa kesalnya Jean disana, ia harus menaiki mobil yang tidak sesuai levelnya. Tentu saja aku tersenyum geli sendiri.


Di sebuah gedung restoran ternama, Nevan mengarahkan setirnya untuk masuk. Sebenarnya aku tidak heran kalau ia akan membawa kami ketempat semewah ini. Karena tempat tersebut juga salah satu milik keluarganya.


Setelah memarkir mobil masing-masing kami beranjak keluar. Sapaan Tuan Nevan terdengar dari bibir para pelayan. Nevan terlihat seperti seorang pangeran jika seperti ini.


"Gilaaaakkk cowok lo tajir banget." Ujar Sita berbisik padaku.


"Gak bukan cowok gue." Jawabku.


"Mantan maksud gue."


"Vya vya jangan jauh sama aku." Celetuk Nevan sembari meraih tanganku lagi.


"Cih, lebay amat bosss." Ujar Jean.


Jean terlihat tak lagi senang dan kagum padaku. Mungkin ia menangkap raut kesal dan tidak suka atau ia merasa keberadaanku merugikan dirinya.


Memangnya aku peduli gitu, yang ada aku malah senang dan semakin sengaja memperlihatkannya. Aku berharap semua ini cepat berakhir dan tidak mau terlalu lama bersama kedua orang kaya yang belagu ini.


"Duduk disini Vya." Ujar Nevan menarik dan mempersilahkan aku duduk di sebuah kursi.


"Thanks." Jawanku.


Kami berempat telah berada dimeja makan. Selang beberapa saat kemudiam dua orang pelayan menghampiri. Tampaknya mereka akan mencatat menu pesanan.


"Tuan silahkan." Ujar salah satunya. Ia menyodorkan buku menu pada anak majikannya.


"Kamu mau makan apa Navya?" Tanyanya padaku.


"Semua menu spesial keluarin aja, jangan sampe ada yang ketinggalan!" Ujarku.


Semua orang terkesiap tak terkecuali dengan Sita. Sita memberikan isyarat gemas untukku. Dalam artian jangan keterlaluan atau malu-maluin. Namun, aku menghiraukannya.


"Lo serius Navyaaaa?" Tanya Jean dengan keras.


"Jangan keterlaluan lo mentang-mentang dimanjain Nevan, kira-kira lo satu makanan harganya selangit gaji lo aja gak cukup. Matre amat lo jadi orang!!!"


Jean mengomel panjang padaku. Sedang Nevan hanya menggertaknya agar terdiam. Jahatkah aku? Tidak! Aku hanya muak. Aku ingin membuat Nevan jera. Seandainya ia membenciku biarlah. Dengan begitu ia bisa melupakanku dengan cepat dan tentunya tidak menggangguku lagi.


Kedua pelayan tersebuk beranjak pergi ke dapur. Mungkin mereka menyiapkan apa yang aku mau maksudku kami.


Tatapan Jean sangat tajam diarahkan padaku. Lalu Sita hanya menggigit bibir bawahnya menandakan ia sedang panik sekarang.


Tangan Nevan belum juga lepas dari tanganku. Sialnya, usahaku tidak membuatnya menyerah. Padahal aku sengaja membuang rasa maluku untuk membuat ulah. Mungkin seandainya aku masih mencintainya aku akan menerimanya kembali. Namun, hatiku seolah terbuat dari baja yang keras dan kuat sekali. Rasa kecewa tidak bisa hilang begitu saja.


Selang beberapa menit kemudian pesanan diantar pada kami. Kini meja penuh berisi hidangan-hidangan mewah nan mahal. Secara logika tidak akan habis jika disantap hanya empat orang.


"Makan ya yang banyak biar kamu gemukan, sekarang kurus banget, Sita juga ya." Ujar Nevan.


"Ehm..." Jawabku singkat.


Aku mengambil beberapa menu sedikit saja. Aku hanya ingin menyicipnya untuk mengurangi rasa penasaran.


"Lo abisin semua Vya!" Ujar Jean lagi.


"Gak, emang lambung gue segede badak. Kalian aja yang abisin" Jawabku santai.


"Bego banget sih, udah pesen banyak malah gak mau makan banyak, mau lo apa?" Kata Jean geram.


"Nyicip doang."


"Berengsek!!!"


"Udah... udah... Jean kita abisin bareng aja." Sela Nevan.


"Nevan lo gak liat kelakuan dia???"


"Please udah!!!"


Jean marah ia mendorong kursi dengan kasar kebelakang. Kemudian berlalu keluar. Sita melotot padaku. Tampaknya ia ingin aku menghentikan ulahku. Dan lagi-lagi aku menghiraukannya sembari menyantap santai kembali.


Kami bertiga tidak bergeming. Hanya kecapan lidah yang terdengar. Sejujurnya dalam hati kecilku aku merasa tidak enak.


Betapa kuranga ajarnya aku? Dan Nevan hanya bersabar dengan ulahku. Mengapa ia begitu keras membelaku?


Sampai akhirnya Sita berdiri dari duduknya. Entah apa yang akan ia lakukan. Aku juga tidak tau apakah ia marah padaku.

__ADS_1


"Sorry gue ada urusan Van gue kayaknya mau balik duluan. Oh iya gue mau bayar makanannya separo." Ujar Sita membuatku terbelalak kaget.


"Lo mau kemana???" Tanyaku.


"Ada urusan beb, gue bawa mobil lo dulu ya. Sekalian selesein masalah kalian berdua."


"Tapi kan..."


"Udah Vya biarin Sita pergi. Masalah makanan biarin aja Sit santai aja gak perlu bayar kok."


"Ehmm yaudah thanks Van gue balik dulu, jaga baik-baik ya Navyanya."


Oh shit! Sekarang aku dibiarkan berdua lagi dengan Nevan. Aku tidak tau mau bagaimana lagi sekarang. Pada akhirnya aku tidak tega menatap wajah Nevan yang masih saja bersabar karena ulahku. Mungkinkah ia melakukan semuanya hanya untuk aku agar kembali padanya?


"Sorry Van atas ulah gue." Ujarku.


"Gak papa Vya aku ngerti kok." Jawabnya.


"Makasih."


"Navya?"


"Ya."


"Apa aku udah gak ada dihati kamu sama sekali?"


"Ya gak ada."


"Beneran? Cowok itu sebegitu berartinya buat kamu ya?"


"Gak juga."


"Terua kenapa Vya? Sampai kamu gak ngasih aku kesempatan sama sekali?"


Sebelum menjawab pertanyaan Nevan aku mengatur nafas terlebih dahulu. Mencoba tenang dan tidak gegabah lagi. Aku menatap mata abu-abunya.


Sepintas terbayang masa lalu yang indah tentang kami. Mulai dari pendekatan, jadian dan hari-hari saat masih bersama. Aku juga berusaha bertanya pada hatiku sendiri. Namun, semua jawaban masih sama aku tidak lagi mencintainya. Dan memang benar bayangan dan nama Andrew masih disana.


Aku berjalan bersama Andrew lebih lama daripada Nevan. Ia juga sangat pengertian dan tidak sekeras kepala Nevan saat itu. Aku benar-benar tidak bisa langsung melupakannya.


"Van makasih ya." Ujarku.


"Buat apa?" Jawabnya.


"Semuanya, makanannya, kesabarannya dan juga perasaan kamu sama aku, jujur aku tadi sengaja bikin masalah biar kamu benci."


"Jadi kamu mau ngasih aku kesempatan lagi? Aku gak bakal bisa benci kamu."


"Maaf aku gak bisa, kita udah berakhir dari dulu."


"Vyaa beneran."


"Maaf tolong jangan berharap apapun lagi dan mulai sekarang jangan pernah anggap keberadaanku lagi."


"Tapi..."


"Sekalian nitip maafku buat Jean udah bikin dia kesel. Maafin aku, aku pamit."


Nevan tak bergeming, ekspresinya hampir sama dengan Andrew saat aku meninggalkannya. Sedang aku berjalan keluar dari restoran tersebut. Mencoba menguasai diri agar tidak menangis. Meski akhirnya tidak terbendung lagi.


"Navya!!!" Panggil Nevan.


Aku terperanjat berbalik menatapnya lagi. Apakah ia masih tidak menyerah?


Blukk! Tubuh Nevan memelukku dengan erat sampai menitikkan air mata. Lagi-lagi aku membuat dua pria gagah menangis. Sebegitu besarkah pengaruhku terhadap mereka?


"Maafin aku." Kata Nevan.


"Iya aku maafin tapi lepasin."


"Gak, biarin aku peluk kamu meski terakhir kalinya."


"Van?"


"Abis ini aku janji lupain kamu selamanya Vya, aku bakal keluar negeri biar kamu gak ketemu aku lagi. Maaf selalu bikin kamu merasa terganggu."


"Aku rasa cukup Van, jangan kayak gini. Ini malah buat kamu semakin berat. Pergilah jika itu yang terbaik cari orang lain yang lebih baik sekaligus satu level sama kamu. Maaf lepasin."


Setelah aku berhasil melepaskan pelukan Nevan, aku berjalan menyusuri jalan perkotaan sambil tertunduk lesu. Tatapanku kosong menatap tanah yang sudah diplaster semen.


Aku berjalan begitu lama tanpa bergeming. Rasa-rasanya sudah pasrah dengan semua takdir yang Tuhan berikan. Who is my love? Siapa yang sebenarnya mencintaiku maksudku jodohku nanti?


Sebagai wanita normal aku juga ada keinginan untuk menikah. Seseorang yang bisa diajak saling mencintai. Dan pastinya tidak ada kata menyakiti satu sama lain.


Bersambung...


cayoo sudah hampir 2000 kata semoga masih ada yang setia karena aku sudah jarang up sekarang. Hehe

__ADS_1


__ADS_2