
Beberapa saat kemudian, sampailah mobil ini di bandara. Kami turun, mama dan Sita membantuku membawa barang yang tidak seberapa. Namun, sebelum masuk ke dalam, aku berencana ingin menghubungi salah satu dari kedua pria itu. Dan kutemukan nomor Affandy lebih dulu. Lantas, aku menekan tombol panggil yang berwarna hijau.
"Hai, Vya. Dimana? Udah sampe belom?" tanyany dari kejauhan sana, sesaat setelah mengangkat panggilan dariku ini.
"Udah. Loe dimana? Andrew udah dateng?" tanyaku.
"Oh... a-aku udah didalem, di ruang tunggu. Andrew juga udah dateng."
"Oke. Gue kesana."
"I-iya."
Entahlah, apa yang membuat Affandy tergagap. Aku tidak memusingkan akan hal itu. Setelah, mematikan panggilan itu, aku dan mama serta Sita masuk ke dalam. Maksudku mereka berdua mengantarkanku sampai ruang yang masih diperkenankan.
Mama tidak henti-henti mengenggam tanganku. Sebanyak apapun ucapanku untuk menenangkan hati beliau, tetap saja seorang ibu tidak akan mudah untuk melepas kepergian sang anak ke negeri orang. Terlebih, diriku yang tidak pernah kesana. Bahkan naik pesawat saja, hanya sekali. Itupun ke Pulau Dewata sewaktu masih duduk di bangku perkuliahan. Ya! Aku sedikit norak dalam masalah seperti ini.
"Ma, Sita udah nyampe sini aja. Nggak mungkin kan kalau ikut masuk ke dalem?" ujarku.
Sita mengangguk pelan. Kemudian, ia merengkuh diriku ke dalam pelukan. "Hati-hati ya, Beb. Jaga semuanya yang baik-baik tentunya. Jangan bolos makan lagi, udah kurus banget. Gue bakalan kangen banget sama loe," jawabnya.
"Thanks, Sit. Gue yang bakalan kangen banget sama loe."
Kemudian kami saling melepaskan diri. Aku merengkuh tubuh mama dan memeluk beliau dengan erat. "Mama jangan sedih. Aku pasti kembali dan membawa papa," ujarku.
"Iya, Sayang. Mama akan kuat, kamu hati-hati disana," jawab mama.
"Mama nggak perlu cari kerja lho. Navya akan nafkahi mama kok."
"Hmm... kamu tahu aja yang Mama pikirin."
"Tahulah. Pokoknya nggak boleh kerja. Duduk manis aja di rumah."
"Iya iya. Kamu hati-hati diluar sana. Jangan sampai ketemu cowok macem Haris lagi."
"Iya, Ma. Tentu."
Aku memberikan kecupan manis di wajah dan punggung tangan mama. Kemudian pergi meninggalkan beliau dan Sita. Sedih, namun sebisa mungkin aku tidak ingin menangis. Air mataku saat ini adalah barang yang mahal. Aku tidak boleh lemah lagi. Dan mulai sekarang aku harus memberikan sugesti seperti itu pasa diriku sendiri.
Di suatu ruang tunggu, aku celingak-celinguk mencari keberadaan kedua pria itu. Sampai akhirnya kutemui mereka tengah duduk, namun satu bangku kosong dibiarkan diantara mereka. Lantas, aku bergerak melangkah menghampiri keduanya.
Bugh! Aku duduk di kursi kosong diantara mereka. Sontak saja, keduanya kaget. Namun, tidak berani berucap lantaran wajahku tertutup oleh topi dan hoodie. Ingin rasanya tertawa, karena mereka bahkan tidak mengenali diriku. Saling diam dan membelakangi diriku.
"Navya mana...?" ujar Andrew begitu pelan namun masih terdengar oleh telingaku. Kutilik perlahan ia tampak sedang memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian Andrew melakukan panggilan yang entah ditujukan kepada siapa. Namun, tiba-tiba ponselku berdering kencang. Dan aku rasa, Andrew sang pelakunya. Sontak saja, ia menatap ke arahku. Ia terkejut sampai berdiri dari duduknya. Hal ini membuat Affandy sama kagetnya. Aku yang sejak tadi memilih diam kini menyeringis tanpa rasa bersalah. "Hai, Bro," sapaku.
"Na-Navya?!" ujar merek berdua bersamaan. Raut wajah mereka sama seperti Sita beberapa saat yang lalu. Menatapku begitu nanar dari atas ke bawah. Kemudian Andrew mengayunkan tangannya dan membuka tudung kepalaku. Ia semakin terperanjat karena penampilan baruku yang jauh dari kata cantik.
"Apa sih?" tanyaku karena semakin lama kurasakan salah tingkah juga.
"Apa-apaan ini?" tanyanya kembali.
"Navya, berubah dalam sekejap mata." Affandy tidak mau kalah, ia bahkan semoat bertepuk tangan.
Memangnya begitu salahnya, jika aku berpenampilan seperti ini? Aku akui, aku pun belum cukup terbiasa. Apalagi sudah terbiasa dengan rambut panjang dan make up, dan sekarang tampilanku berubah drastis dalam waktu satu malam. Disisi lain, tetap ada rasa nyaman. Tidak terbuka dan juga tidak memerlukan waktu yang lama. Namun, mampu membuat orang lain semakin terkejut.
Yah, aku mencoba tidak peduli mengenai orang lain lagi. Toh, ini hidupku sendiri. Aku hanya mencoba kemungkinan masalah kemarin agar tidak terjadi lagi. "Udah yuk, check in," ajakku.
"Oke," jawab Affandy.
Aku tersenyum. Sedangkan Andrew masih merasa tidak percaya. Wanita yang selalu ia puja, tidak lagi anggun seperti biasanya. Biarkan saja, siapa tahu ia akan menyerah. Karena hatiku masih kelabu, memberikan pengertian kepadanya lagi pasti akan sia-sia begitu saja.
Yah, lupakan soal itu. Karena kami akan melalui beberapa proses lagi untuk melakukan penerbangan ini. Lantas, aku dan Andrew mengikuti langkah Affandy bersama dua orang rekan wanitaku yang berasal dari divisi lain. Berbicara tentang mereka, tampaknya aku bisa memulai pertemanan dari sini.
"Ha-hai," ujarku malu-malu.
__ADS_1
"Oh... hai juga, Navya ya?" tanya salah satu diantara mereka berdua.
Aku mengangguk pelan. "Iya, gue Navya. Dengan siapa?"
"Gue Sinta."
"Gue Raya, salam kenal ya?"
"Sama-sama."
Setelah perkenalan itu, kami berbincang cukup banyak. Tentu saja, mereka yang memulai bukan aku yang notabene adalah orang yang monoton. Namun, seketika juga terhenti tatkala kami akan melakukan beberapa prosedur naik ke pesawat.
Perkiraan penerbangan untuk sampai ke Singapura mungkin sekitar dua jam, bisa kurang bisa lebih, aku tidak terlalu paham. Membutuhkan beberapa menit untuk prosedur seperti ini. Sampai akhirnya, kami naik ke salah satu pesawat. Kami mencari bangku yang sesuai yang tertera pada tiket.
Kemudian aku duduk dekat dengan jendela pesawat disusul oleh Andrew. Andrew lagi, sepertinya ia sudah mengatur tempat duduk ini. Tidak mungkin se-kebetulan seperti ini. Seharusnya aku duduk bersama dua orang rekan wanitaku bukan dirinya. "Loe lagi, loe lagi," gerutuku.
"Kenapa? Nggak boleh?" tanya Andrew.
"Nggak!"
"Hmm..."
"Apa?"
Andrew memposisikan badannya dan kini manghadap diriku. Ia melepas topi yang aku pakai. Lantas menyingkap poniku ke atas. "Mau bagaimanapun, kamu tetaplah Navya yang cantik..." bisiknya.
Tentu saja, wajahku memerah seketika. Aku malu sekali, hanya menatap wajahnya yang begitu dekat saja membuatku berdegup kencang. Seolah wajah Andrew adalah wajah orang lain yang baru aku kenal. Apa ini? Jangan sampai aku hanyut ke dalam perasaanku lagi, sebelum kubayar hutang-hutang papa.
Aku menepis tangan Andrew dan memalingkan wajahku darinya. "Jangan begitu, Ndrew. Gue belum ingin main-main tentanh perasaan lagi," ujarku.
"Aku tahu, aku tetap akan tunggu."
"Kalau bisa jangan. Siapa tahu banyak bule cantik di sana nanti, jangan hanya berfokus sama seorang Navya saja."
"Iya, terima kasih untuk itu. Tapi, gue minta, jangan banyak membahas tentang cinta lagi. Gue nggak mau ada orang lain terluka lagi."
"Tenang aja, aku paham akan keadaan hati kamu sekarang."
"Hmm... yah, semoga loe bisa jaga ucapan. Dan nggak ngasih beban ke gue."
Yah, hidupku sedang terombang-ambing, bahkan sampai sekarang. Aku belum mampu menata pikiran untuk ke depan. Entah tentang cinta ataupun sikapku nanti. Aku masih bingung. Terlebih, selama ini aku adalag wanita yang angkuh dan sombong. Terlalu malas untuk menjalin pertemanan dalam area yang luas. Sok merasa paling cantik, padahal kecantikan itu membuat diriku semakin rapuh dan hancur.
Bagaimana mungkin Andrew yang sebaik ini pantas untuk kumiliki? Ia memang pernah berbuat kesalahan. Namun, segala upayanya untuk bisa dimaafkan terbilang begitu besar. Andrew tetap pria yang baik dan lembut hati. Apalah dayaku, yang hanya seorang wanita naif penuh keangkuhan dan kebodohan. Mungkin pria lain selain dirinya pun, tidak pantas aku miliki. Aku ingin berubah, namun sejujurnya belum tahu akan ke arah mana perubahanku. Aku masih menjadi manusia yang teramat plin-plan.
Perlahan namun pasti, pesawat mulai bergerak karena diterbangkan. Bersama pramugari yang menyampaikan beberapa intruksi yang kurang aku mengerti. Sabuk pengaman sudah terpasang disetiap tubuh para penumpang. Jantungku mulai berdebar tatkala pesawat sudah beranjak naik tanpa menyentuh tanah lagi.
Aku melirik ke bawah, menyaksikan pemandangan dari jendela kecil disampingku. Mulai detik ini, aku meninggalkan Indonesia-ku demi lembaran uang untuk hidupku dan keluargaku. Aku serasan sesak napas karenanya. Seperti inikah perasaan para perantau yang meninggalkan tempat kelahiran beserta keluarganya? Sama halnya dengan Andrew yang notabene adalah pria dari kampung lalu merantau ke ibukota, bahkan kini ia melangkah lebih jauh. Atau Affandy yang anak asli dari ibukota dan malah berkarir lebih tinggi di negara tetangga. Sedangkan diriku tidak pernah bersyukur, dan malah terus menerus menyalahkan papa dan mama. Aku memang manusia bodoh dari yang terbodoh.
"Emm... Ndrew? Gimana perasaan loe?" tanyaku kepada budak cintaku itu.
"Maksud kamu?" tanya Andrew.
"Yeah, loe kan udah merantau dari kampung. Terus ke luar negeri, untuk nemenin gue, kan?"
"Di ibukota, di luar negeri, sebenarnya nggak ada bedanya, Vya. Sama-sama meninggalkan rumah dan kampung halaman."
"Tapi, apa kata orangtua loe?"
"Mereka selalu menyerahkan segala keputusan pada diriku sendiri."
"Soal pembatalan pernikahan itu gimana?"
Andrew terdiam. Sepertinya ia tengah gusar untuk mengatakan. Aku menjadi merasa bersalah. Aku rasa, Andrew tidak ingin membahas hal itu lagi. Namun, aku pun ingin tahu tentang respon keluarganya. Terlebih alasannya karena cintanya gilanya kepadaku. Mungkin, diriku bisa dikatakan sebagai orang ketiga. Meski, aku tidak pernah memintanya berbuat seperti itu.
Yah, lebih baik untuk diam. Akhirnya aku memutuskan untuk memejamkan mata. Namun, sebelum itu aku memakai tudung sweaterku kembali dan juga masker. Supaya tidurku tidak jelek-jelek amat, apalagi kalau mangap. Jangan sampai terlihat.
__ADS_1
Namun, pejaman mataku kembali terbuka. Aku melirik sekilas, Andrew menyentuh tanganku. "Kenapa?" tanyaku kemudian.
"Nggak apa-apa. Izinkan aku bersandar sebentar," jawabnya.
"Emm... yah, silahkan."
"Makasih, Navya. Navya?"
"Ya? Kenapa lagi?"
"Apa aku nggak pantas bahagia?"
"Kenapa tanya soal itu?"
"Aku hanya ingin bersamamu bahkan sampai menikah."
Deg! Menikah denganku? Entahlah, mengapa Andrew berencana sampai sejauh itu? Jika seperti ini, ia tidak bisa mengenal orang lain selain aku. Katanya tidak ingin membebani, tapi sekarang ia kembali mengucap kata yang bisa menjadi buah pikiran lagi untukku.
Aku menghela napas dalam. Melirik wajahnya dari atas. Kulitnya halus dan bersih, hidungnya mancung dan beralis tebal. Ia tidak kaya namun terbilang sempurna pada segi fisiknya. Orang selembut ini harus dikecewakan oleh dua orang wanita yaitu Lusi dan aku.
"Kenapa kamu mencintai aku, Ndrew?" tanyaku melembut seperti hari-hari sebelumnya.
"Entahlah, aku nggak punya alasan untuk itu," jawabnya.
"Kenapa kamu tidak memilih bersama Lusi aja?"
"Hubungan kami memang terbilang lama, tapi hanya untuk bertahan karna jangka waktu jalinan itu. Sampai akhirnya aku bertemu kamu, aku sadar bahwa mempertahankan yang udah runtuh itu termasuk kesalahan fatal. Kami hanya bisa saling menyakiti, bahkan setelah menikah nanti."
"Tapi, Ndrew. Bukankah kita juga saling menyakiti?"
"Nggak! Tapi, aku yang menyakitimu, Navya. Kamu pantas merasa kecewa, tapi sejauh ini kamu masih peduli akan diriku. Itu tanda kalau kamu masih mencintaiku."
Aku menghela napas dan menghembuskannya kembali. "Udahlah, tidur dulu. Perjalanan masih lumayan lama. Nggak enak sama yang lain, kalau berisik"
"Iya."
Andrew kembali memejamkan matanya yang sebelumnya ia buka kembali. Sama halnya dengan dirinya, aku mencoba melelapkan mataku. Mungkin, Affandy dan kedua rekanku kini melakukan hal yang sama.
****
Selang waktu berjalan, sampailah kami di negara milik orang. Aku membuka mataku karena pesawat telah mendarat dengan selamat. Kubangunkan Andrew. Satu persatu penumpang turun. Begitupun Affandy yang mengintruksikan agar kami bergegas. Seperti perkiraanku awal tadi, sekitar dua jam kurang kami telah sampai.
Kemudian kami berlima berjalan, mengambil barang-barang dan prosedur tertentu. Kemudian kami berjalan mencari jalan keluar. Sungguh tidak kusangka aku telah berada di luar negeri. Terlebih negara ini terkenal sebagai negara yang ramah akan bisnis dan juga kebersihannya. Berbeda dengan beberapa saat yang lalu, kini aku merasa bungah. Ya! Hidupku yang baru akan dimulai di tempat ini. Aku menjadi tidak sabar untuk segera bekerja dan membebaskan papa. Oh... aku juga ingin keliling kota untuk sekedar menyegarkan otak yang telah lama dirundung kekalutan.
"Navya?" panggil seseorang kepadaku yang ternyata adalah Raya.
"Ya?" jawabku sekaligus bertanya akan maksudnya.
"Yang gue lihat, loe rambutnya panjang lho? Kok dipotong?"
"Pengen penampilan baru ditempat baru aja hehe."
"Padahal cantik banget lho. Gue aja yang cewek bisa terkesima, walaupun nggak kenal sama loe," ujar Sinta ikut serta dalam perbincangan ini.
"Kalian lebih cantik kok."
Raya mencubit lenganku. "Loe mah ngejeknya parah."
"Nggak Ray, gue serius."
"Halah, padahal loe jadi bintang kantor lho. Banyak banget cowok-cowok yang sering gosipin loe dulu."
Aku tersenyum tipis mendengar setiap perkataan keduanya. Bintang kantor? Iyakah? Yah, itu salah satu alasan, mengapa aku merubah penampilanku. Aku tidak ingin dianggap spesial atau bahkan menyebabkan rasa iri orang lain. Selain itu demi menghindari para pria yang bersifat serupa dengan Haris. Karena semakin lama, aku merasa kesulitan atas parasku yang kata orang, cantik sekali.
Bersambung...
__ADS_1