
Sekarang aku dan Andrew telah berada disofa ruang tvnya. Kami duduk bersebelahan. Tangannya menggenggam tanganku begitu erat serta raut wajah yang terlihat seperti seekor kucing meminta sedikit makanan.
Sebenarnya aku sudah menjaga jarak dudukku dengan Andrew sejak tadi. Namun ia terus mengikuti kemanapun aku bergerak. Seakan takut aku akan melarikan diri. Entahlah mengapa ia seperti ini? Sebenarnya sebesar apa makna diriku di hatinya?
“Vya dengerin aku.” Ujarnya.
“Ngomong, daritadi juga mau didengerin.”
“A..aaku sebenarnya sejak awal gak pernah ada niatan deketin kamu Vya. Sampai rekan-rekan kita sering meledeng kita. Jujur sebagai cowok aku juga ada ketertarikan sama kamu secara insting. Lalu kita mulai menyapa satu sama lain, rasa keingintahuanku tentang kamu semakin tinggi.”
“Terus?”
“Kamu menjadi fokus utama tatapanku tertuju setiap di kantor tanpa aku menyadari apapun.”
“Tapi kamu udah punya pacar kan Ndreww?”
Andrew terdiam sejenak. Ia menghela nafas dalam lagi. Tampaknya ia sangat berat untuk mengutarakannya. Aku berdehem kencang supaya ia segera melanjutkan perkataannya. Karena aku sudah merasa jengah di tempat ini. Terlebih harus terus menatap wajah Andrew yang masih aku rindukan.
“Iya, kamu datang maksudku perasaanku ke kamu tumbuh disaat aku mempunyai masalah dengan dia.”
“Haaah? Jadi aku pelampiasan kamu selama ini?”
“Gakk gak Vya bukan kayak gitu.”
“Terus gimana lagi?”
“Aku mempunyai perbedaan pendapat yang sangat besar sama dia yang mengharuskan kita break.”
“Tanpa kata putus?”
“Iya.”
Hati wanita mana yang tidak akan merasakan sakit mendengar pernyataan dari orang yang disayang sesuai dengan kabar yang didapat dari orang lain. Sebenarnya aku sedikit berharap ada perbedaan dari pernyataan Andrew dengan isi chat kekasihnya di ponsel Rezky yang lalu. Dan ternyata memang
keadaan harus memaksaku tersadar dan tau diri.
“Terus?” Tanyaku, untuk mengorek penjelasan Andrew lebih dalam meskipun hati terasa seperti dicabik parang yang sangat tajam.
“Ehmm... Aku pikir hubungan sama dia akan berakhir sampai disitu saja. Setelah sebulan lebih aku putus kontak dengannya, aku mulai menimang-nimang buat minta nomor hp kamu. Sebenarnya itupun karena bujukan teman-teman yang menilai kita cocok. Apalagi kondisi kamu yang masih sendiri.”
__ADS_1
“Ohh teman ya?”
“Kamu inget kan setelah kejadian kamu kecelakaan?”
“Ya.”
“Aku gak langsung deketein kamu, sekalipun sudah minta nomor kamu aku juga gak langsung ngajak kamu jalan Vya. Karna aku emang gak ada niatan apa-apa aku pikir gak ada salahnya temenan.”
Benakku melayang. Mengingat-ingat kembali memori pendekatanku dengan Andrew beberapa bulan yang lalu. Memang benar ia begitu lama untuk mendekatiku bahkan kurang lebih tiga atau empat bulanan. Entahlah aku tidak terlalu ingat. Ia mulai memberanikan diri mengajakku jalan.
“Sampai akhirnya aku mulai memberanikan diri ngajak kamu jalan. Aku mulai hafal sifat kamu.” Lanjut Andrew.
“Ndrew jangan berbelit langsung keintinya saja.” Ujarku.
“Rasa ketertarikanku sama kamu semakin besar Vya, kamu berbeda. Kamu gak pernah menuntut ini itu, kamu jutek dan gak mudah digoda orang lain.”
“Ya. Karna aku terus lihat ke kamu Ndrew!”
“Maaf, semakin sering kita bersama aku semakin sayang sama kamu. Aku berusaha bikin kamu bahagia walaupun gal seberapa. Aku gak bisa menahan diri saat didekat kamu Vya. Aku gak akan pernah sanggup jika jauh dari kamu.”
“Omong kosong.”
“Aku serius Vya. Jujur saja pas mantan kamu dateng aku gelisah sendirian disini. Aku takut kamu balikan lagi sama dia. Aku juga baru tau dari Sita jika si Nevan yang bikin kamu sakit hati sampai kecelakaan karna inget dia.”
“Terus kenapa kamu gak larang aku Ndrew? Malah kamu nyuruh aku ikut dia berangkat kerja dulu?”
“Aku gak mau ngekang kamu Vya, aku Cuma pengen kamu nyaman sama aku tanpa aturan apapun. Dan hubungan kita memang belum pasti tapi jujur aku cemburu Vya dan akhirnya mau nemuin Nevan karena kamu ngerasa gak nyaman. Aku mau cegah siapapun yang bikin kamu gak nyaman.”
Aku terperanjat. Seandainya Andrew berbicara seperti itu sebagai kekasihku yang tidak memberikan rasa kecewa karena kebohongannya selama ini. Aku pasti akan langsung memeluknya dan berterima kasih karena telah melindungiku.
Tanpa terasa air mataku mengalir lagi. Meskipun raut wajahku tanpa ekspresi. Andrew mengusapnya dengan lembut sambil berkata maaf dan jangan menangis lagi. Ia tidak akan sanggup melihatku seperti ini. Padahal ia yang membuatku bersedih.
“Terus kenapa kamu bohong Ndrew?” Tanyaku.
“Maafin aku. Ini semua karna kau gak bisa lepasin kamu.”
“Dan kata pacarmu itu hubungan kalian sudah empat tahun. Kamu break selama empat bulan lho kita deket terhitung selama delapan bulan Ndrew. Terus selama ini aku apaan buat kamu?”
“Gak Vya bukan empat bulan aku sama dia terus berantem sampai tiga bulanan itupun bisa dibilang seminggu sekali baru chantting dan sebelum aku berani deketin kamu, tapi gak ada kontak hampir setengah tahun bukan empat bulan.”
__ADS_1
Aku mengeryitkan dahiku. Mengingat kembali isi chat dari ponsel Rezky dulu. Tidak, memang benar tertulis empat bulan mereka break. Jadi siapa yang benar?
“Jangan bohong Andrew, dia ngomongnya selama empat bulan doang!”
“Itulah yang membuat hubungan kami renggang Vya, setelah hubungan kami berjalan tiga tahun dan di tahun yang akan memasuki keempat tahun dia banyak berubah suka bohong dan omongannya gak sesuai fakta.”
“Terus kenapa kamu bertahan?”
“Aku pikir hubungan yang sudah terjalin lama akan sangat disayangkan jika berakhir begitu saja. Aku terus bertahan sampai hubungan kami berjalan hampir empat tahun tinggal beberapa bulan lagi. Aku muak sama dia.
Kami bertengkar hebat. Setelah itu aku gak pernah ngabarin dia, cuman bales kalo dia chat selama tiga bulan dan bener-bener putus kontak selama hampir setengah tahun tanpa kata putus dan disitu aku mulai suka sama kamu.”
“Dia dimana Ndrew?”
“Kota sebelah, dia kerja disana.”
“Selama sama aku kamu pernah ketemu?”
“Gak Vya aku kan selama ini selalu sama kamu, kemaren di acara nikahan doang.”
Yah, memang benar waktu Andrew di habiskan bersamaku selama ini. Sampai aku tidak merasa curiga sama sekali. Entah bagaimana Andrew begitu baiknya menyembunyikannya dariku.
“Kamu baikan sama dia?” Tanyaku.
“Iya Vya.”
Jantungku seakan tertajam duri lagi dan lagi. Tanpa ragu Andrew menjawab pertanyaanku. Lalu mengapa ia bersikukuh menahanku untuk tidak meninggalkannya?
“Oke kamu balikan aja sama dia!”
“Vya bukan kayak gitu.”
“Terus gimana?”
“Aku emang baikan sama dia tapi aku perasaanku gak sama lagi. Aku jauh lebih sayang sama kamu Vya.”
“Terus kenapa Ndrew? Kamu baikan kan? Kamu ini sebenarnya mau apa sama aku???????”
Bersambung...
__ADS_1