
Selalu saja seperti ini, ketika sudah memutuskan sesuatu, pasti ada saja yang mengganjal di hatiku. Apakah karena keputusan yang kuambil adalah sebuah spontanitas belaka dan tanpa pemikiran panjang lebar? Sebenarnya, aku juga merindukan kebersamaanku dengan Kate. Kala itu, ia memperlakukan diriku seperti seorang adik dan aku bisa bersikap layaknya orang yang lebih muda. Namun, ketika aku mengetahui kebenarannya, aku sangat sakit hati. Bahkan sampai berpikir--bagaimana bisa seseorang seperti Kate itu ada?
Malam itu, aku segera mengundurkan diri dan membayar semua hidangan malam, termasuk milik Kate. Walau sebenarnya aku merasa sayang uang karena harganya yang cukup mahal. Namun, ketika mengingat Kate mengatai bahwa makanan dan barang bisa membungkam mulutku, rasa sayang akan uang itu mendadak sirna. Perkataan itu pula yang terus ada di dalam benakku, membuatku enggan lupa atas rasa perih dari pertengkaran kami pada saat itu.
Kini, aku hanya bisa duduk diam--merenungkan semuanya. Hari libur seperti ini, seharusnya sudah menjadi kesempatan emas untuk berjalan-jalan, tetapi aku sangat enggan, pun hanya untuk berdiri.
"Nav!" Seseorang menyerukan namaku dari balik pintu kamarku, sepertinya suara milik Raya.
"Ya, Ray. Kenapa?" tanyaku tanpa beranjak sedikit pun dari posisiku.
"Keluar gih, ngegoa aja lu."
"Mager!"
"Libur kali, sini makan cemilan."
"Iya, iya, boleh."
"Urusan makan aja loe dateng."
"Gue, kan, pengen gemuk."
"Ya udah, gerak cepat gih. Kagak usah dandan, Andrew kagak ada."
"Iya, iya, bawel loe ah."
Terdengar suara tawa milik Raya dari sana. Ia memang sangat lihai dalam membuat orang lain merasa sebal. Meski begitu, di antara aku dan Sinta tidak pernah menyimpan rasa dendam. Lalu, dengan gerak malas, aku mencoba berdiri. Langkahku gontai untuk menuju luar kamar. Ah, aku hanya ingin merebah.
Di sana ada Raya dan Sinta yang kompak menggelengkan kepala. Mungkin benar-benar tidak habis pikir dengan sikapku yang super malas ini. Kulanjutkan langkahku yang sempat terhenti. Kemudian, aku menjatuhkan diriku di salah satu sofa kosong. Sialnya, sofa yang panjang telah diambil oleh Raya.
"Gantian, Ray," pintaku kepadanya.
"Apanya?" balasnya.
"Sofa."
"Loe mau rebahan, ya?"
Aku mengangguk. "Iya, masih ngantuk."
"Enak aja loe! Gue yang dapet duluan, kok."
"Ya, makanya gue minta gantian."
"Pulus dong."
"Aih! Matre' loe!"
Sinta berdeham cukup kencang secara tiba-tiba, bahkan membuat diriku juga Raya menghentikan perdebatan. Ia mengecap bibirnya, setelah itu ia berkata, "Macam anak kecil aja kalian ini. Rebutan sofa, ih."
"Pengen rebahan, Mak," timpalku.
"Gelar kasur lantai aja noh, di depan pintu. Ngadem sekalian, hemat AC kalau pagi begini. Loe juga belum mandi, kan, Nav?"
"Ih! Udahlah, mana ada gue sejorok itu. Gue cuma males gerak bukan males mandi. Perasaan kalian yang demen mager mandi."
Sinta tersenyum kecut sembari menggaruk kepalanya. "Iya sih, hehe."
Ya, untuk urusan bebersih diri--aku selalu nomor satu. Dan tidak pernah malas tentang itu, maksudku semalas apa pun diriku, tetap mengutamakan yang namanya mandi. Namun tidak dengan Raya dan Sinta, mereka bahkan pernah mandi sehari sekali, alasannya karena ada AC yang tidak membuat kegerahan. Meski terbilang rajin dalam mengerjakan pekerjaan rumah, nyatanya tidak membuat mereka rajin dalam urusan diri sendiri.
Aku mengambil satu bungkus cemilan dari meja yang berada di hadapanku. Kedua temanku sedang asyik menonton acara televisi bertajuk cinta. Lagi-lagi, hal ini merupakan perbedaan di antara kami. Membuatku sering kalah dalam memegang kendali televisi, aku gemar menonton film Hollywood, sedangkan mereka justru sinetron atau mungkin drama korea.
"Eh, Nav. Itu beneran mobil punya Andrew?" tanya Sinta tiba-tiba.
Aku mengangguk pelan dengan masih mengunyah cemilan. "Iya, kenapa emang, Sin?" tanyaku kembali.
"Emm ... enggak apa-apa sih. Tanya doang, gue pikir dia bohong."
"Ya, kan? Gue tadinya juga enggak percaya, meskipun gue ceweknya. Dia kagak ngomong apa-apa, sih. Kejutan katanya."
Raya menyela, dan berkata, "Kalian, kan mau nikah. Emang kagak sayang duit? Ya boleh aja sih. Tapi tahu sendiri, kan, biaya orang nikah itu banyak."
"Ya, kan? Gue juga sempet protes, Ray. Cuma dia diem aja, mungkin ada rasa bersalah juga. Dan ya gue ya ngerasa bersalah, dia, kan, beli pake uang sendiri. Kenapa gue harus marah?"
"Ya sih, Nav. Cuma, biasanya cowok itu pusing banget kalau udah mau nikah. Jadi gue sama Raya agak heran aja sama Andrew."
"He'em, bener tuh, Nav. Tapi enggak apa-apa sih, kitanya juga ada tebengan hahaha." Suara tawa Raya di akhir ucapan begitu lepas tanpa sedikit pun beban. Namun, ia berhasil membuat diriku dan juga Sinta tersugesti untuk turut melebarkan bibir sampai gigi terlihat jelas oleh orang lain.
Ternyata bukan diriku saja yang merasa heran dengan sikap kekasihku. Andrew terbilang santai di saat-saat menuju hari H pernikahan kami. Apa benar, ia memiliki modal cukup? Kesepakatan kami untuk menunda resepsi pun kini menjadi gagal, lantaran Ibu Siti--calon ibu mertuaku menginginkan agar resepsi dilangsungkan tidak jauh-jauh setelah prosesi akad nikah.
Beliau dan sang suami memang salah satu pengusaha hebat dalam bidang makanan, beberapa cabang restoran yang sudah terbangun di beberapa kota besar. Namun, aku dan Andrew tidak mungkin meminta modal dari Ibu Siti, bukan? Dan tentu saja aku sangat menghindari hal itu. Aku ingin agar Andrew berusaha sendiri dan aku akan membantunya. Aku tidak mau pernikahan kami seolah dibeli oleh uang orang tua, pun meski mereka tidak akan mempermasalahkannya.
__ADS_1
Memikirkan semua itu, benar-benar membuat diriku merasa jengah. Mengapa pula, Andrew begitu terburu-buru dalam membeli mobil? Tidakkah ia memikirkan pernikahan kami? Dan setelah semua selesai, juga kami resmi menjadi suami dan istri, akan lebih lega ketika membeli segala sesuatu. Setidaknya, kami tidak akan merasa cemas lagi.
"Nyebelin!" pekikku tanpa diduga-duga, bahkan oleh diriku sendiri.
"Kitanya?" tanya Raya merasa curiga.
"Loe doang, Sinta kagak."
"Ah, loe! Pilih kasih!"
"Bodo'."
"Udah, woy!" Tangan Sinta bergerak memberikan isyarat agar perdebatanku dan Raya berhenti. Ya, jika tidak seperti itu, maka akan ada lanjutan yang lebih panjang lagi. Dan begitulah caraku dengan Raya berteman, sedangkan dengan Sinta, aku bisa sedikit lebih sopan.
Aktivitas kami hanya seperti ini ketika libur tiba. Para pemalas yang enggan keluar, meski hanya untuk ke minimarket saja. Rasanya memang sangat disayangkan jika membuang-buang waktu tanpa rebahan, bahkan sudah tidak perduli lagi dengan otak yang masih membutuhkan penyegaran.
"Maen ke mal, yuk?" ajak Sinta tiba-tiba.
"Tanggal tuir, wei," sahutku.
"Ya elah, jalan-jalan doang, Nav."
Raya menoleh ke arah Sinta. "Mau numpang selfie gitu?"
Sinta mengangguk pelan, sedang mulutnya masih penuh dengan makanan. "Iyalah, kita jarang hang out bareng. Apa lagi Navya tuh, pacaran mulu'. Sebelum loe nikah, puas-puasin main dulu, Nav."
Aku memikirkan ajakan tersebut dalam beberapa saat. Memang benar, hampir satu tahun kami bekerja di sini, aku jarang sekali pergi jalan-jalan bersama mereka kecuali beli keperluan dapur saja. "Oke, boleh deh."
"Tapi jangan ajak Andrew, biar ciwi-ciwi enak kelilingnya. Kalau cowok suka ngeluh kalau diajak ke mal," timpal Raya.
"Ya, gue usahain. Lagian, mana tega gue bikin kalian kayak serangga. Para pejuang LDR haha."
Sinta tersenyum, setelah itu berkata, "Kalau LDR, loe bakalan tahu apa arti rindu. Kalau deket mah kagak bakalan tahu."
"Kata siapa? Gue matahin kalimat itu, buktinya gue rindu mulu sama Andrew, meski tiap hari ketemu."
"Loe keterlaluan bucin-nya, Nav. Ya enggak, Ray?"
Mendengar pertanyaan dari Sinta, Raya spontan mengangguk kepala. Bahkan, ia memberikan cibiran kepadaku. Biar saja, itu tanda iri. Lagi pula, aku dan Andrew sudah melalui banyak hal yang rumit, ketika kami takut kehilangan lagi, rasanya bisa dimengerti. Atas masalah terlalu lama bersarang, membuat kami berdua mau tidak mau harus menekan rasa rindu sampai ke dasar hati. Lalu, ketika kami kembali bersama setelah menyelesaikan semuanya, rasa rindu itu bisa diungkapkan dengan bebas.
Mengingat tentang kekasihku itu, membuatku sangat ingin bertemu. Segera aku bangkit dari posisiku yang setengah rebahan, kemudian mengambil langkah untuk keluar.
"Mau ke mana loe, Nav?" tanya Raya kepadaku, sebelum aku berhasil melalui lubang pintu.
"Dasar!"
Kali ini, aku menyeringis saja. Kuabaikan mereka berdua yang hanya bisa bergeleng-geleng kepala. Mereka telah hapal dengan sikap-sikapku dan juga tidak pernah melarang, selain memberikan cibiran ringan. Hal itu yang membuatku tidak segan lagi untuk turun untuk bertemu Andrew, lantaran ia juga tidak mungkin naik ke rumahku. Ia masih merasa tidak enak hati kepada Raya dan Sinta, karena ia seorang pria.
Sesampainya di bawah, aku mendapati Andrew sedang membersihkan lantai teras. Tampaknya, ia sedang mendengarkan musik melalui headset yang sudah disambungkan dengan ponsel, sehingga ia tidak menyadari kedatanganku. Lalu, tanpa pikir panjang lagi, aku berjalan lebih dekat dengan posisi kekasihku.
"Pagi, Pak? Ada paket," ujarku dengan sekeras mungkin.
Kali ini, Andrew menyadari keberadaanku. Ia menghentikan gerak tangannya, kemudian melepas headset dari telinganya. "Sayang," ujarnya.
"Rajin banget?"
Ia tersenyum. "Kalau pacar aku main, bisa nyaman dan lebih lama di sini."
"Hmm ... modus di balik kerajinan, ya?"
"Hehe ... enggak, Sayang. Emang rajin kok, bentar aku beresin dulu."
"Mau dibantu?"
Andrew menggelengkan kepala. "Ini tempat aku, kamu pasti udah beberes sendiri di atas."
"Ya sih. Enggak usah buru-buru, bersihin dulu."
Andrew hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban. Aku memutar badan dan melihat-lihat pekarangan. Beberapa tanaman yang tampak basah, sepertinya habis disirami olehnya, juga mobil yang terlihat mengkilap. Aku terhenyak ketika melihat mobil itu. Selepas memiliki benda tersebut, Andrew sangat antusias dalam mengantarkan diriku juga kedua teman tinggalku ke mana kami akan pergi. Bahkan, aku melihat hampir setiap hari ia membersihkannya.
Membuktikan bahwa ia sangat menginginkan benda tersebut, rasanya memang cukup sulit jika tidak memiliki kendaraan pribadi. Biaya ongkos berangkat kerja juga cukup mahal, meskipun kami sering patungan, juga ketika kami ke mana-mana perlu mencari angkutan umum.
"Vya, ayo masuk."
Mendengar suara Andrew, aku memutar badanku kembali. Aku menatap dirinya sembari berkata, "Masih basah, Ndrew."
"Enggak apa-apa, nanti kamu kecapekan berdiri."
"Cari sesuatu yang bisa buat alas."
"Ada kardus."
__ADS_1
"Boleh deh. Selama enggak bikin kotor."
"Kelamaan nyari."
"Terus? Masa' masuk gitu aja?"
Andrew tidak memperdulikan pertanyaanku. Ia mendatangiku yang masih berdiri di luar terasa rumahnya. Aku tidak tahu, ia hendak melakukan apa. Ketika sampai di hadapanku, ia memberikan kecupan manis di keningku. Lalu, ... ia menggendongku secara tiba-tiba. Tentu saja aku terkesiap dan spontan memelototkan mata. "Apa-apaan kamu, Ndrew?"
"Biar enggak terlalu kotor."
"Ya, enggak digendong juga kali. Turunin, aku takut jatuh, lantainya licin, kan? Dan lagi, aku berat."
"Mana ada kamu berat."
"Iya, iya aku kurus, enggak sesemok mereka."
"Tapi, aku sayang."
"Turunin!"
"Sabar sih, Navya, yang cantik jelita."
Andrew benar-benar tidak memperdulikan perkataanku sama sekali. Setelah menjatuhkan alas kakiku, ia membawaku masuk ke dalam rumah dengan langkah cukup pelan. Aku hanya pasrah dengan menghela napas beberapa kali, sembari berharap agar tidak ada insiden memalukan alias jatuh.
Sesampainya di dalam, Andrew menjatuhkan diriku di atas sofa panjang. Aku bisa bernapas lega sekarang, kami sampai dengan selamat. Hidangan teh hangat sudah tersaji di atas meja di hadapanku. Tampaknya, ia sudah mempersiapkannya sebelum membawaku masuk ke dalam rumah.
Tanpa dipersilahkan, aku segera mengambil salah satu cangkir dan mulai menyesap isinya. Pagi hari memang pas dengan aroma teh bercampur melati. Aku mengembalikan cangkir tersebut di tempatnya. Lalu, menatap kekasihku itu sembari berkata, "Malam nanti aku mau jalan-jalan, Ndrew."
"Ke mana?" tanyanya kembali. Ia yang sejak tadi memilih bersandar, kini membangunkan dirinya dan menatap netra hitamku dalam-dalam.
"Ke mal."
"Sama siapa?"
"Raya dan Sinta."
"Aku?"
"Mereka enggak mau ada cowok."
"Hmm ... ya sih, terus aku orangnya juga males. Bikin capek jalan-jalan sama cewek."
"Apa?!"
"Eh, m-maksud aku kalau barengan, Sayang. Kalau buat kamu, Abang rela ke mana aja dan selama apa pun."
"Tapi ngebatin, kan?"
"Enggak kalau sama kamu."
"Aku juga cewek."
"Makanya aku sayang sama kamu."
"Ih! Bahas apa, jawabnya apa."
Andrew terkekeh, sedangkan diriku hanya bisa mendengkus kesal atas sikapnya. Namun aku bersyukur karena dirinya tidak merengek meminta agar ikut dan bisa menemaniku. Tampaknya, Andrew sudah bisa bersikap lebih normal lagi daripada sebelumnya.
Ketika kami sedang berdua, pipiku selalu menjadi sasaran empuk dari kecupannya. Sepertinya sudah menjadi hobi baru baginya, terlebih rasa sayang yang kian menumpuk di antara kami. Dan tidak jarang menjalar pada alat bicaraku, berubah menjadi keromantisan di antara kami.
"Nanti aku anter ...," bisiknya setelah menyelesaikan semuanya.
"Tapi jangan ikut masuk, ya?" pintaku.
Ia mengangguk pelan. "Iya, aku janji."
"Aku cuma mau jalan-jalan, kok."
"Puasin waktu kamu sama temen-temen kamu. Aku juga enggak janji lagi, nanti kalau kita udah menikah."
"Enggak janji gimana, maksud kamu?"
"Enggak janji buat bebasin kamu."
"Jadi, mau ngekang aku?"
"Ya, enggak gitu juga, Navya!" Ia menyentil hidungku dengan ekspresi gemas. "Kalau udah jadi suami istri, kan, ke mana-mana harus bareng. Bakalan aneh, kalau ke mana-mana sendirian, padahal punya pasangan. Karna aku belum jadi suami kamu, makanya belum terlalu berani menekan ini itu. Kacau jadinya kalau kamu tiba-tiba ngilang lagi."
Aku tersenyum kepadanya dan aku tahu maksud dari perkataannya. Nanti, ketika sudah sah menjadi istrinya--kewajibanku memang harus menuruti apa katanya. Ya, semoga saja aku bisa menjalani kewajibanku sebagai seorang istri.
Kurebahkan kepalaku pada tubuh Andrew yang telah bersandar. Ia membelai halus kepalaku, hal yang selalu menjadi favoritku. Kali ini, aku tidak ingin membahas tentang mobil itu. Biarlah ia yang mengurus, jika aku dibutuhkan, aku pasti akan membantu. Lagi pula, aku tidak pernah membuatnya senang. Dan tampaknya justru benda tersebut, yang membuatnya merasa senang.
__ADS_1
Bersambung ....