
"Kamu?!"
"I-iya, Om. Saya Andrew."
Papa menghela napas dalam. Lalu beralih menatap Bapak Birowo. "Ini anak kamu, Wo?"
Bapak Birowo mengangguk. "Iya, Sur. Gagah, kan?"
"Tak segagah dirimu waktu masih muda." Papa kembali beralih kepada Andrew. Beliau menghampiri Andrew, lalu memegang kedua pundak Andrew. "Jangan main peluk-peluk anak saya, sebelum menikah secara sah."
"Oh." Andrew terkesiap. Bahkan bukan diriku saja, mama, Ibu Siti, juga beberapa rombongan tadi. "I-iya, Om," jawab Andrew kemudian. Ia segera menyalami tangan kanan papa dan berlaku sesopan mungkin.
Akhirnya aku bisa bernapas lega. Tentang semua yang terjadi hari lamaran ini. Selepas Andrew datang dan selesai dalam memberikan kejutan, kami semua lantas masuk. Mendiskusikan perihal tanggal pernikahan yang akan dilangsungkan tiga bulan lagi.
****
Hari ini adalah hari kembalinya aku dan Andrew ke Singapura. Masih harus bekerja dan menghabiskan sisa kontrak kerja, yang belum bisa dipastikan sampai kapan akan kami ambil. Mengingat lagi, pada acara kemarin, kedua orang tua kami menginginkan acara pernikahan beserta resepsi dan bukan pengesahannya saja. Aku tidak tahu harus merencanakan bagaimana soal permintaan itu.
Deru mobil taksi yang aku dan Andrew sedang tumpangi masih terdengar. Baru separuh perjalanan dari Bandara sampai ke kediaman kami di sini. Sejak awal naik, telapak tangan Andrew selalu menggenggam telapak tanganku. Suatu kehangatan dalam cinta kami, juga manis. Semua badai telah berlalu, ia kini akan menjadi milikku. Aku tidak sabar menunggu tiga bulan lagi. Rasanya masih sangat lama, bahkan seperti satu tahun lagi.
"Aku pikir, kemarin papa kamu masih enggak suka sama aku, Sayang," ujar Andrew. Ia menatapku, ketika aku pun menatapnya.
Aku tersenyum. "Aku pikir juga begitu. Tapi ternyata bukan gitu, padahal papa enggak tahu ya kita kayak gimana hehe," jawabku.
"Kayak gimana, maksud kamu yang gimana, Sayang?"
"Kamu sering kecupin aku! Meluk-meluk aku juga!"
"Ma-maaf, aku sayang banget sama kamu masalahnya."
"Hmm ... iya deh. Emm, ngomong-ngomong, kenapa kamu enggak pernah bilang kalau orang tua kamu punya banyak gerai makanan."
"Kan punya ayah aku, Sayang. Bukan punya aku."
"Iya sih. Tapi, ... kamu kan bisa bantu mereka daripada merantau jauh kayak gini."
"Kalau aku nggak merantau jauh, aku enggak bisa ngejar kamu, Sayang."
Aku menatap Andrew. "Oh, o-oke."
Ia tersenyum. Hanya itu saja, tidak ada lagi. Sepertinya benar, ia terlalu mandiri. Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi.
Lalu perjalanan ini terus berlanjut, suasana dengan hari kemarin sudah berbeda. Esok hari, kami akan bekerja lagi. Padahal aku masih ingin libur panjang. Namun yah, itu tidak akan mungkin, bukan? Dan sepanjang jalan itu, tangan kami saling menggenggam penuh kehangatan yang manis. Aku tidak segan merebahkan kepalaku di pundak Andrew. Mungkin, ... Pak Sopir sedang membanti kami pasangan yang sangat berlebihan.
Hingga waktu membawa kami sampai di rumah dinas itu. Aku dan Andrew turun dari taksi, setelah ia membayar ongkos antarnya. Sang driver kembali melaju taksi untuk meninggalkan kami berdua dan bekerja kembali mencari penumpang lain.
Andrew menatapku, ia meletakkan kopernya terlebih dahulu. Setelah itu, ia meraih kedua tanganku dan digenggamnya. "Kita udah nyampe sini lagi, Sayang. Kita betah-betahin dulu, ya?" ujarnya.
Aku tersenyum. "Iya, Sayang. Lagian, nggak buruk-buruk amat kok di sini. Dan, ... sama calon suami lagi," jawabku.
"Hmm ... ya udah, ayo masuk."
Aku mengangguk pelan. "Iya, Ndrew. Ayuk!"
Ia melepaskan genggaman tangannya. Kemudian, mengambil koper lagi bahkan milikku juga. Ia membawakannya. Sepertinya, ia tidak mau jika calon istrinya ini merasa keberatan. Pun meski hanya hal kecil. Baiklah, tidak mengapa, aku justru beruntung. Ya, kali ini Andrew sedang penuh perhatian, ia kekasihku, bahkan akan menjadi calon suamiku. Hubungan tanpa status yang sempat terjalin kini sudah tidak ada lagi.
Aku masuk ke dalam rumah yang gerbangnya tidak dikunci. Tadi, setelah turun dari pesawat, aku memang telah memberikan kabar kepada Raya dan Sinta. Sehingga, mereka tidak mengunci pintu gerbang agat kami tidak kesulitan masuk. Hari ini pun masih hari bekerja. Mereka berdua tentu tidak ada.
"Mau langsung naik?" tanya Andrew kepadaku ketika kami sampai di depan tempat tinggalnya yang merupakan lantai bawah dari rumah ini.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Ndrew. Aku mau mandi dulu, udara pesawat enggak enak di badan," jawabku.
"Pusing ya kamu? Padahal bentaran doang, tapi kena jet lag ya kamu?"
Aku tersenyum malu-malu. "Aku kan enggak pernah naik pesawat selain ke negara ini. Dan, ... hanya tiga kali aja."
"Hmm ... susah nih kalau diajak bulan madu jauh."
"Emang kamu mau ajak aku kemana?"
"Ke Hawai, Sayang."
"Hah?! Yang bener? Kita kan kaum missqueen."
__ADS_1
Andrew menghela napas. "Siapa tahu dapet rezeki setelah menikah."
"Iya deh. Amin."
"Ya udah, Sayang. Kamu naik dulu, istirahat dulu. Nanti malem kita keluar bareng, cari makan yang seger sekitar sini, ya?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, Sayang."
"Eh, bentar!"
Aku yang sudah mengambil langkah, kini kembali berhenti dan kembali berbalik badan. Aku menatap Andrew penuh tanda tanya. Ia maju dua langkah menuju diriku. Dan ... setelah itu, ia memberikan kecupan manis di keningku. Spontan, aku mengusap tengkukku sembari menunduk malu-malu. Rasanya sedikit berbeda, ya mungkin karena ia sudah akan menjadi suamiku secara resmi.
"Tidur ya, Vya. Enggak usah mikirin aku," ujarnya.
"Aish. Mana ada aku begitu? Tidur ya tidur aja," jawabku berkilah. Aku tersenyum kepadanya.
"Ya, siapa yang tahu kalau kamu masih kangen sama aku. Empat hari kita enggak ketemu, Sayang.".
"Umm ... ya, aku emang kangen sih. Tapi nanti kita kangen-kangennya ya. Aku pusing banget."
Andrew mengacak rambutku. "Iya, Sayang. Abang tunggu." Ia tersenyum, tampan sekali.
Aku kembali berbalik badan, kuambil langkah untuk melanjutkan tujuanku ke lantai dua di mana aku tinggal di sana. Andrew masih menungguku sampai aku benar-benar hilang dari pandangan matanya. Bahkan, saking tidak relanya, aku masih menolehnya dan memberika senyuman di setiap tapak kaki yang menaiki anak tangga.
Sampai akhirnya, aku benar-benar sampai di atas. Sebelum masuk, aku masih melongok ke bawah melalui pagar pembatas. Andrew mendongak, sepertinya ia juga ingin memastikan diriku sampai benar-benar masuk ke dalam rumah.
"Tidur, Sayang!" ujarnya dari bawah sana. Ia sedikit memberikan penekanan pada nada suaranya agar aku bisa mendengarnya.
"Iya, Sayang. Kamu juga, ya!" jawabku dengan intonasi serupa.
Andrew tersenyum. Setelah itu, ia menunduk. Sepertinya ia akan masuk ke dalam rumah.
"Andrew!" Aku menyerukan namanya, sebelum ia benar-benar melangkah ke dalam.
Ia mendongak kembali dan menatapku. "Kenapa, Vya? Kangen ya?"
"Iya! Emm ... aku sayang sama kamu. Makasih buat kejutannya kemarin!"
Aku menghela napas lega, dan mengembuskannya kembali. Terkadang aku tersenyum-senyum sendiri, apa lagi jika teringat tentang kejutan hari kemarin dari kekasihku itu. Ah, bahagia!
Knop pintu aku buka, setelah berhasil membukanya dengan kunci. Aku masuk ke dalam rumah yang selalu rapih. Tentu saja, Sinta yang rajin merapikannya. Karena, Raya sedikit pemalas. Terkadang, aku merasa kesal terhadapnya, namun ada saja tingkahnya yang membuatku justru tertawa. Ya, inilah resiko tinggal dengan orang lain yang bukan siapa-siapa, hanya sebuah pertemanan yang bisa menjelaskan hubungan kami.
Setelah mengambil air minum di dalam kulkas, aku segera meneguknya. Segar sekali, karena rasa dingin yang membasahi tenggorokan ini. Sebelum menuju kamar, tak lupa aku membersikan kaki dan tanganku, bahkan wajahku. Nah, aku baru siap untuk bertemu kasurku di dalam kamar itu.
Aku mengembuskan napas yang sempat aku hela. "Uh! Capek!" gumamku sembari merebahkan diriku.
Kemudian, semburat senyuman kembali menghiasi wajahku melalui bibir tipisku. Benakku melayang membayangkan acara lamaran hari kemarin. Betapa kesalnya diriku karena malah menjadi perbincangan para orang tua, bahkan kerabat dari Andrew yang turut hadir justru mengabaikanku. Berlanjut pada papa yang hendak mengakui bahwa diri beliau adalah seorang mantan nara pidana, bahkan masih menjadi tahanan kota yang terlilit hutang pada perusahaan milik keluarga Haris. Lalu, kejutan romantis dari Andrew.
"Emm ... tapi, gimana kalau misal orang tuanya Andrew tahu ya?" Aku kembali gusar. Setelah kejadian itu, memang tidak ada pembahasan lagi soal gelar baru milik papa. Pun meski, papa adalah kawan lama dari Bapak Birowo, apakah beliau bisa menerima kenyataan itu? Memiliki besan nara pidana? Sungguh menjadi sesuatu yang sangat miris dan tentunya tidak enak untuk didengar.
Suara dering panggilan yang berasal dari ponselku berhasil membuyarkan lamunanku. Aku bergerak tanpa membangunkan diriku untuk meraih tas ransel di mana benda pintar itu berada. Dan aku mendapatkannya, aku memainkan jariku di atas layarnya. Ternyata sahabatku tercinta yang tengah meneleponku.
"Hai, Sit," sapaku dengan perasaan berdebar karena di hari pernikahannya, aku justru pulang lebih awal dan tidak menunggunya.
"Beb? Udah balik ya katanya?" tanyanya. Ia terdengar begitu khawatir.
"Iya, Sita. Ini baru nyampe. Kenapa?"
"Aduh! Gimana sih? Kok enggak kasih kabar? Gue kecewa banget lho. Mana kemarin dicariin enggak ada lagi."
"Maaf, Sita. Gue beneran minta maaf, ada insiden yang terjadi dan gue enggak mau ngerusak pesta loe."
"Insiden?"
Aku mengangguk pelan, meski Sita tidak mengetahuinya. "Iya, Sit. Gue ketemu Nevan dan ya begitulah. Malah ada Tante Diana juga."
"Ya ampun! Masih ganggu loe, Beb?"
"Tente Diana juga mau gue balik sama Nevan. Ya, gue nggak bisalah."
"Gue pikir, Nevan udah sama yang lain."
"Mungkin udah. Mana ada tuan muda enggak laku dalam waktu yang lama."
__ADS_1
"Tapi, ... kayaknya hatinya masih sama loe, Beb."
"Itu salah dia, Sit. Kenapa dulu harus ninggalin gue? Karna gue nggak bisa ngasih yang dia mau? Terus cari yang lain dulu, nanti kalau udah bosen baru cari gue lagi? Gue juga enggak jamin si Nevan masih perjaka."
"Hus! Jangan gitu! Jangan berprasangka buruk."
Aku terkekeh pada saat mendengar nasehat Sita. Ya, aku memang hanya menebaknya. Namun bukan sesuatu mustahil untuk terjadi. Benakku melayang lagi pada kilasan masa laluku dengan Nevan. Di mana ia meminta sesuatu yang berharga dariku dan aku langsung menolaknya, bahkan menangis pada saat ia masih mencoba membujukku. Beruntungnya, Nevan masih merasa kasihan kepadaku. Sehingga aku masih bisa menjaganya sampai sekarang.
Aku tidak bisa membayangkan jika aku memberikannya kepada Nevan. Dan jika setelah ia mendapatnya, ia meninggalkanku begitu saja. Mungkin aku akan menjadi seseorang yang sangat hancur!
"Beb?"
"Y-ya?"
"Kok diem, mikir apa?"
"Ah! Enggak kok."
"Hmm ... gue masih kengen sama loe, Beb."
"Sit?" Aku menelan ludah. "Selamat ya, udah jadi istri. Sejujurnya, gue agak minder pada saat nyamperin loe. Sekarang, level loe udah naik. Kalangan pertemenannya loe udah sama para Lady."
"Apaan sih? Gue tetep Sita, Beb. Ya ampun, justru para Lady itu enggak asyik. Banyak aturan dan harus pinter-pinter jaga sikap dan image. Gue enggak tahan, biasanya sama loe bisa bar-bar, enggak peduli kalau suara gue bisa memekakkan telinga. Cuma loe, Beb. Gue kangen banget kebersamaan kita. Apa lagi, gue udah keluar dari kantor. BT di rumah, suami dinas mulu. Sebel!"
"Sabar. Toh, nyari nafkah buat loe. Loe udah jadi nyonya sekarang."
Samar, aku mendengat suara isak tangis. Ya, mungkin Sita sedang menangis. Kini, justru rasa bersalah yang menghinggap di hatiku. Aku menyesal karena tidak menunggunya terlebih dahulu. Semua karena Nevan, perasaan hati yang sudah tidak membenci, kini malah semakin benci. Menyebalkan! Karena pria itu, aku justru mengorbankan waktuku dengan Sita.
"Jangan nangis dong, Sit," ujarku. Aku sangat ingin membelai, bahkan memeluk Sita. Aku ingin mendampingnya ketika ia merasa kesepian saat ini.
"Gue kangen loe, Beb. Setelah resepsi, suami harus dinas. Gue di rumah sama pembantu doang," jawab Sita. Suaranya parau hasil dari tangisannya itu. Aku rasa, ia telah pindah ke rumah suaminya.
"Itu resiko, Sit. Loe yang sabar. Mungkin lain waktu, kita bisa ketemu dan gue bakalan nemenin loe seharian."
"Emm ... gue mau dianter ke situ deh."
"Ke situ?"
"Ke tempat loe, gue mau liburan."
"Emang boleh? Gue kerja lho. Terus suami?"
"Gue tunggu loe nyampe balik kerja. Nanti gue bicarain sama dia. Toh, gue enggak pernah liburan, kan? Semoga aja dia kasih izin."
Aku juga berharap seperti itu jika memang bisa. Rasa rindu kami begitu mendalam, sayangnya belum ada waktu untuk bersama
Aku sangat berharap Sita bisa datang setelah mendapatkan izin dari sang suami. Lalu, kami bisa menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama. Berkeliling Singapura bersamanya. Semoga saja.
Perbincangan kami masih berlanjut. Meski topiknya tidak terlalu penting. Aku sampai melupakan nasehat dari Andrew untuk tidur dan menghilangkan penatku. Mau bagaimana lagi, saat ini Sita juga membutuhkan diriku dari kesepiannya di sana. Yang aku dengar, suaminya tidak mengizinkannya tetap bekerja dan ingin cepat melakukan program kehamilan.
"Semoga aja, cepet isi deh, Sit. Gue ngebayangin loe jadi seorang ibu hehe," ujarku setelah Sita menceritakan keinginan suaminya itu.
"Gue takut jadi ibu galak, Beb," jawabnya. Aku menebak; wajahnya pasti sedang bersemu merah jambu.
"Ya enggak apa-apa dong. Nanti, loe dateng ke acara nikahan gue sama perut besar."
"Iya tuh. Kapan loe nikah? Gue pikir loe duluan yang bakalan nikah, secara loe laku keras, eh ternyata gue. Andrew kapan lamar nih?"
"Laku keras, loe pikir gue apaan? Tiga bulan lagi dong, kemarin acara lamaran."
"What?! Kemarin? Kenapa loe enggak undang gue, Baby!" Suara cempereng milik Sita keluar lagi. Aku segera menjauhkan ponsel dari telingaku karena takut gendang telingaku pecah.
"Lamaran biasa doang, Sit. Enggak apa perayaan apa pun."
Sita terdengar sedang menghela napas. "Hmm ... gue harap lancar nyampe hari H ya, Beb. Gue enggak nyangka akhirnya loe beneran sama Andrew. Padahal, dulu loe bener-bener kecewa parah sama dia. Walaupun, kenyataannya kalian emang saling sayang."
"He'em. Usaha dia begitu besar, Sit. Sekarang, ... justru gue yang enggak bisa jauh dari dia. Tapi, karna penolakan gue itu, gue jadi tahu kerasnya usaha Andrew dan rasa cinta dia sama gue."
"Good luck, Beb. Gue setia menunggu undangan nikahan dari kalian."
"Yaps, beres itu."
Bersambung ....
__ADS_1