Who Is My Love

Who Is My Love
Menghindar


__ADS_3

Hari Senin telah tiba. Mataku terlihat bengap menandakan kurang tidur. Apalagi kalau bukan kepikiran Andrew. Belum lagi Sita menyerocos ingin tau apa yang aku bicarakan dengan Nevan kemarin.


Beruntungnya Sita langsung pulang tadi malam karena dicari oleh ayahnya. Yah, meskipun aku kesepian setidaknya tidak ada pertanyaan-pertanyaan dari mulut comelnya yang membuatku semakin pusing.


Seperti biasa aku berdandan rapi di depan cermin rias. Aku sengaja berhias diri secantik mungkin untuk menandakan bahwa aku sudah baik-baik saja. Sehingga tidak membuat atau memancing kekhawatiran Andrew nantinya.


Aku belum tau akan seberat apa nantinya berada di satu lingkup dengan mantan teman dekat. Aku hanya berharap bisa melewati hari dengan baik.


Sejujurnya aku tidak ingin bertemu lagi. Namun, jika aku tidak masuk pasti ribet mengurus ijinnya. Atau jika aku keluar pekerjaan. Konsekuensinya aku harus menganggur. Memangnya mencari pekerjaan semudah itu. Aku tidak ingin membebani hatiku dengan meminta-minta pada orang tua apalagi mereka harus membayar gaji Bi Emi. Jadi, aku harus lebih bersabar lagi.


"Non sarapan dulu." Ujar Bi Emi ketika mendapati aku berjalan turun.


"Iya bi." Jawabku sembari menghampiri meja makan.


Ada seorang gadis kecil terduduk di salah satu kursi. Wajahnya sayu dengan hidung mungilnya yang memerah. Aku melongok kearah jam tanganku. Jam masih menunjukkan pukul tujuh. Lalu mengapa Cika belum berangkat kerja?


"Sayang kamu gak sekolah?" Tanyaku pada gadis kecil tersebut.


Ia tampak menggeleng-gelengkan kepala. Setelah itu merebahkan kepalanya diatas kedua tangan pada papan meja. Sontak saja aku terheran-heran.


Cika terkulai lemas dengan pandangan redup. Lalu kuayunkan telapak tanganku diatas dahinya. Benar saja dahinya terasa panas sekali. Gadis kecil ini sedang demam. Aku usap pelan kepalanya dengan harapan mengurangi rasa pusing di kepala. Meskipun itu mustahil, karena hanya bentuk rasa sayangku saja.


"Cika demam non gak bisa masuk sekolah." Ujar Bi yang baru saja berjalan dari arah dapur.


"Ehmm... panas banget bi. Aku anter ke rumah sakit yuk." Kataku.


"Biar bibi aja non, takutnya non Vya telat nanti."


"Gak papa kok bi masih sempet."


"Gak non beneran lagian ada taksi online. Bibi tau non Vya sengaja kan mau berangkat pagi karena den Andrew."


"Ehmm... serius bi."


"Udah pokoknya non Vya sarapan dulu entar bibi berangkat sendiri."


"Yaudah yang penting hati-hati ya bi. Kalo kenapa-napa langsung kabarin aku."


"Iya non makasih non hehe."


Aku menyantap sesuap demi sesuap nasi seraya menatap Cika dengan iba. Aku sebenarnya bisa saja memaksa Bi Emi supaya aku yang mengantarnya. Namun tampaknya ia benar-benar tidak mau merepotkanku.


Tidak sampai sepuluh menit aktivitas sarapanku pun usai. Aku beranjak kearah mobilku setelah berpamitan pada Bi Emi sekaligus aku beri uang sedikit untuk biaya berobat. Tentu saja ia sangat berterima kasih padaku. Dan hanya kubalas dengan senyuman paling tulus.


Perjalanan memakan waktu cukup lama, disebabkan kemacetan di beberapa titik jalan yang berhasil membuatku gugup serta panik. Aku takut nantinya akan bertemu Andrew. Tentu saja bertemu maksudku tidak bisa menghindarinya.


"Tiiiiiinnnn... tiiiinnnnn... ttiiiiinnnn..."


Klakson mobil aku bunyikan berkali-kali dengan harapan mobil didepanku bisa berjalan lebih cepat. Namun semuanya sia-sia. Mau tidak mau aku harus menunggu sampai lima menit lamanya sampai jalanan mulai lenggang.

__ADS_1


Sekitar dua puluh menitan aku baru sampai di kantor. Setelah memarkir mobil putihku, dengan ragu-ragu aku berjalan memasuki gedung perkantoran tersebut. Kepalaku menunduk agar tidak menangkap keberadaan Andrew.


Nyatanya tengkuk leherku terasa pegal bila terlalu lama menunduk. Aku sudah tidak tahan. Kuangkat kepalaku perlahan dan kubunyikan tulangnya kekanan dan kekiri.


Tubuhku terpaku seketika ketika mendapati Andrew sedang berdiri di depan tembok ruang arsip yang harus aku lewati. Berbeda denganku ia tampak lesu dan berantakan. Bajunya saja terlihat kumal tidak disetrika.


"Deg... deg... deg..."


Oh jantung! Debarannya begitu kencang terasa. Tubuhku seperti sedang dimatikan tanpa bisa bergerak. Aku takut dan gugup. Ternyata semua tidak sesuai harapan.


"Vyaa..." Ujar Andrew akhirnya ia menyadari keberadaanku.


Aku tersadar dengan lidah yang masih kelu. Otakku berputar mencari jalan keluar supaya tidak sampai berbicara dengan Andrew. Aku juga tidak mau ada insiden memalukan dikantor nantinya.


"Vyaa." Panggilnya lagi yang kini langkahnya semakin dekat denganku.


"Rezkyyyyy." Ujarku disaat menengok kebelakang yang sebenarnya bermaksud membuang muka.


Beruntungnya Rezky datang dari sana. Aku menghampirinya dan tidak mempedulikan keberadaan Andrew. Raut wajah Rezky tampak bingung. Apalagi ketika aku berbalik disisi kanan Rezky. Aku mengajaknya terus berjalan.


Tidak aku pungkiri, ekor mataku masih melirik Andrew. Penasaran dengan reaksinya, ia hanya tertunduk lesu dan pasrah.


"Vya?" Ujar Rezky.


"Ehmm?" Jawabku.


"Gue akhiri."


"Serius?"


"Ya."


"Lo pasti hancur banget."


"Do'ain aja biar cepet lupa."


"Ada yang bisa gue bantu? Misal nemenin lo? Ehmm... gak ada maksud laen gue cuman gak tega kalo lo galau."


"Thanks Rez tapi gak perlu gue gak papa kok, ikutin prosesnya aja."


"Oke, semoga lo tetep tabah."


Di depan ruangan kami berpisah. Daripada terdengar gosip aneh. Tampak para karyawan sudah berdatangan. Hingga di beberapa menit kemudian Rezky memulai briefingnya.


Aku tidak melihat keberadaan Andrew ketika kami berkumpul. Sebenarnya ingin kuhiraukan saja, namun aku tidak menampik rasa khawatir masih bergelayut dihatiku.


"Beb, Andre mana?" Tanya Sita disampingku dengan setengah berbisik.


"Tauk dah." Jawabku acuh.

__ADS_1


"Hmm..."


Setelah Rezky menyelesaikan pidatonya sebagai ketua tim, ia mengarahkan kami untuk berdo'a bersama. Kemudian para karyawan bubar menuju tempat kerja masing-masing. Kami semua mulai berfokus pada layar komputer serta keyboardnya.


Selang beberapa saat kemudian, semua orang saling berbisik satu sama lain. Aku melihat suara langkah kaki mengisi keheningan. Andrew yang masih tertunduk pasrah, sedang berjalan. Mungkin akan ketempat kerjanya.


"Bener kan gue duga pasti kalo ditinggal pulang kampung salah satunya ada yang hancur, pasti ada yang selingkuh. Gue rasa sih ceweknya yang nakal, cowoknya aja kacau gitu. Si cewek malah baik-baik aja hihi." Celetuk Lia si biang kerok dengan keras.


"Maksud lo apa haaah???!!!" Ujarku tersulut dengan ucapan Lia.


"Santuy mbak emang gue nyindir lo, eh tapi kayaknya bener deh kalo kepancing haha. Abis maen ya sama om-om?"


"Sialann lo, gue udah sabar selama ini masih aja lo fitnah seenaknya."


Plaaakkk!!!


Spontan aku berdiri menghampiri Lia dan menamparnya. Entah setan apa yang merasukiku. Mungkin aku masih menyimpan segala amarah yang terpendam. Sampai-sampai tidak bisa menahan emosi. Semua orang terkejut dan mungkin tidak habis pikir.


"Beb sabaaaaarrr." Ujar Sita sembari berlari menghampiriku disusul Rezky dan Andrew.


"Biasaaa aja dong nooooonnn kalo ngrasa gak salah, jangan seenaknya nampar orang loooooo perek!!!" Balas Lia, ia berdiri lalu mendorongku dengan tenaga kuat.


Bruukk!!!


Lengan seorang pria menangkapku. Beruntung aku tidak sampai terjatuh. Sialnya, orang itu lagi-lagi Andrew.


"Lepaaaasss!" Kataku.


"Aku mohon sabar." Ujar Andrew.


"Ya!"


"Udah beb balik gih, ada cctv lho." Sambung Sita.


Lia masih saja menatapku dengan bengis. Rekan-rekan disampingnya mencoba menenangkannya agar kembali duduk.


"Vya please duduk kembali. Kamu juga Lia jangan mancing emosi orang kalo gak tau apa-apa!" Tegas Rezky pada kami.


"Semuanya juga balik kerja!!!" Ujarnya lagi.


Aku kembali ke mejaku dengan di papah Sita. Aku melirik kearah Lia dimana Andrew masih disana. Entahlah apa yang ia bicarakan. Namun, sepertinya Andrew sedikit menggertak Lia untuk tidak menggangguku lagi.


Semua terasa kacau dihari pertama kerjaku setelah memutuskan hubunganku dengan Andrew. Bahkan aku hanya berdiam diri di depan komputer sepanjang hari. Aku tidak makan siang, aku hanya keluar ketika kebelet buang air kecil.


Tampaknya sama seperti Andrew. Kami sama-sama terdiam ditempat masing-masing tanpa mengganggu satu sama lain.


**Bersambung....


LIKE DAN KOMENNYA PLIIIIISSSSS**.....

__ADS_1


__ADS_2