
Setelah berpisah dengan Affandy, aku berjalan-jalan sendiri tidak menentu arahnya. Niat Affandy aku tolak mentah-mentah. Aku tidak ingin merepotkan dirinya lebih dari ini, dibawa ke rumah sakit saja sudah lebih dari cukup. Apalagi kami baru saja saling mengenal hari ini.
Dan tentu saja aku tidak ingin pulang lebih dulu. Kini aku berada di sebuah Kafe yang berbeda dengan acara traktiranku pada Affandy. Melamun sepanjang hari, merenungkan semua masalah yang menjijikkan. Jiwaku sudah terguncang hebat.
Diriku tak lagi seperti dulu. Setan hina telah merasuk kedalam kalbu. Mungkin setelah ini, aku akan menghadapi masalah baru. Aku yakin sekali Haris telah mengadu pada orang tuaku. Memanipulasi fakta yang ada dengan segala kemunafikannya.
Herannya, ia terus menjeratku dengan kuat. Apakah aku secantik itu? Sampai-sampai anak seorang konglomerat tidak mau menyerah untuk mendapatkanku. Masih bagus jika Haris berambisi untuk menikahiku dan memperlakukanku dengan baik.
Nyatanya belum ada sebulan, sifat busuknya sudah keluar. Bagaimana jadinya nanti, jika kami bersama. Aku juga khawatir jika Haris hanya bernafsu mendapatkan tubuhku bukan hatiku.
Tiba-tiba dering ponsel mengejutkan diriku. Membuyarkan lamunan asa yang menjadi kegiatanku hari ini. Nama Sita tertera diatas layar ponselku. Padahal masih jam sebelas siang, belum waktu istirahat. Nampaknya, sahabatku tersebut sangat khawatir padaku.
"Halo Sit," sapaku padanya sesaat setelah kutekan tombol hijau pada layar ponselku.
"Babyyyy... kamu dimana???" Tanya Sita kencang sekali, seolah mampu memecah gendang telingaku. Sontak saja kujauhkan ponsel dari daun telingaku.
"Gue lagi maen hahaha."
"Beb serius, loe nggak apa-apa kan?"
"Menurut loe?"
"Beb, loe harusnya hari ini udah masuk kan? Direktur marah besar tadi."
"Masa'? Kok bisa?"
"Kata beliau loe izin bukan cuti tapi izin biasa dan batas waktunya kan tiga hari doang Beb, loe dimana? Kenapa sih?"
"Ada banyak yang terjadi Sit, gue sebenernya tadi mau berangkat."
"Terus?"
"Ada sedikit masalah Sit, udah loe kerja dulu gih. Belum waktu istirahat kan?"
"Belum, gue takut loe kena sangsi dari Direktur Baby."
"Nggak apa-apa, kalau dipecat yaudah."
"Navya... loe kenapa sih?"
"Entar kalau ketemu gue ceritain ya."
"Sore nanti ya gue cus tunggu aja."
"Oke, di Kafe deket rumah sakit Bunda."
"Jauh banget, kenapa nyampe sono Vya?"
"Udah jangan bawel, buruan balik."
"Iya iya ehh... tadi Andrew nanyain loe sama Rezky juga."
"Bodo amat! Kalau Rezky bilangin aja gue nggak apa-apa."
"Dih."
Tanpa persetujuan Sita, aku langsung mematikan perbincangan online ini. Apalagi saat ia menyebut nama Andrew. Aku tidak akan kuasa jika membahas tentangnya. Percuma saja, Andrew menanyakan keadaanku sekarang. Toh, ia juga sama saja. Menjadikan diriku sebagai yang kedua, disaat kekasih aslinya jauh dari sisinya.
Tampaknya dunia zaman sekarang, sangat sulit mencari pria sejati. Pria yang bisa menghargai wanita. Terbukti saat aku mengenal Nevan, Andrew lalu sekarang Haris. Meski memiliki sifat yang berbeda, ada kesamaan diantara ketiganya. Yaitu tidak menghargaiku dengan cara busuknya masing-masing.
Aku hanya lelah.
Terik matahari semakin memanas, dirinya pun sudah berada diatas kepala. Menyinari seluruh bumi tanpa meminta imbalan apapun.
Dulu, aku ingin menjadi seperti matahari. Selalu bersinar untuk semua orang. Dengan segala kemampuannya sendiri. Menjadi salah satu sumber yang paling berguna. Tapi sekarang apa? Aku bahkan sudah gila.
__ADS_1
Sudah beberapa kali aku memesan minum setiap jamnya sembari menunggu jam pulang Sita. Mungkin para pelayan kafe ini terheran-heran denganku. Aku sama sekali tidak beranjak kecuali untuk numpang toilet saja.
Aku sangat berharap Sita benar-benar datang. Setidaknya ada tempat dimana bisa kutuangkan segala rasa sakit ini. Aku terus menunggu sahabatku tersebut sembari melayangkan pandang pada jalan raya.
****
Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya. Hari ini menyisakan beberapa luka hati. Belum lagi masalah baru datang lagi. Aku harus menghadapi Papa, Haris lalu direktur.
Kalau bunuh diri tidak sakit dan juga tidak berdosa. Aku pasti akan melakukannya sekarang juga.
"Babyyyyy!!!" seru suara Sita dari ambang pintu Kafe sampai membuat semua pengunjuk tersentak kaget.
Kutengok sekilas jam pada ponsel. Benar saja, sudah lewat pukul tiga lebih. Pantas ia sudah datang.
Namun yang membuatku luar biasa terkejut adalah Andrew dan Rezky. Apa-apaan ini? Sontak saja aku kaget dan kesal pada Sita. Namun, aku mencoba tenang lebih dulu.
Aku tidak ingin membuat mereka malu. Dan juga membuat masalah baru.
"Sit loe apa-apaan sih bawa mereka?!" Tanyaku tegas pada Sita namun masih dalam suara kecil.
"Sorry Beb, gue sendiri juga nggak tau. Tiba-tiba pada buntutin gue, pas nyampe sini gue baru sadar," jawab Sita.
"Gilak!"
Mendengar penjelasan dari Sita, aku terdiam. Sepertinya, apa yang ia katakan memang benar. Sita bukan tipe pembohong selama ini. Herannya mengapa kedua pria itu bisa memiliki pikiran yang sama. Untuk aku?
Tanpa kupersilahkan duduk. Sita, Andrew maupun Rezky mengambil kursi kosong sendiri dan bergabung dengan mejaku.
Jika Rezky masih bersikap biasa saja. Berbeda dengan Andrew yang menampilkan wajah khawatirnya padaku. Pakaiannya pun masih kusut seperti saat kami berpisah dulu.
"Hai kalian, emm... apa kabar?" Tanyaku.
"Baik!" Jawab Andrew dan Rezky bersamaan.
"Vya kening kamu kenapa? Kamu sakit? Kecelakaan dimana? Vya?"
"Biasa aja kali Ndrew nanyanya, pelan-pelan bae."
"Gue nanya doang Rez, sama Vya. Bukan sama loe."
"Ya biasa aja dong, Vya kan bingung jawab darimana. Lagian sok-sokan khawatir segala loe."
"Maksud loe apa Rez? Gue serius khawatir sama dia, kenapa loe ikut campur? Loe sendiri siapanya dia?"
"Dihh... jangan songong gitu Ndrew, wajar kalau gue ketua kalian. Lah loe bisanya nyakitin dia doang."
"Siapa yang nya-"
"STOOPP!!!"
Aku maupun Sita menghentikan perdebatan kedua pria tersebut. Membuatku semakin pusing saja. Seolah mereka sedang memperebutkan sebuah mainan.
Jujur saja, aku sedikit bingung. Mengapa hubungan pertemanan mereka bisa jadi seperti ini? Apakah karena aku lagi? Jika benar karena aku, berarti aku memang pembawa sial.
"Kalian ini cerewet banget sih jadi laki! Kasian Navya!" Tegas Sita sampai Rezky dan Andrew terdiam dibuatnya.
"Kenapa kalian kesini?" Tanyaku kemudian.
"Kami khawatir sama loe Vya," jawab Rezky.
"Gue baik-baik aja kok. Lagian nggak perlu lagi bela-belain nyamperin gue sejauh ini, apalagi loe Andrew. Kita udah nggak ada urusan lagi kan?"
"Bukan gitu Navya, tapi aku bener-bener khawatir sama kamu. Apalagi kemaren kamu sempet nangis kan pas aku telepon?" Andrew bertanya padaku lebih detail lagi. Aku senang ia masih perhatian, namun hubungan kami sudah sangat tidak normal.
Seolah Andrew akan membawa masalah baru lagi nantinya. Aku juga belum cukup mampu menghadapi parasnya yang sangat aku rindukan. Jika masih seperti ini, kapan aku bisa melupakannya?
__ADS_1
Aku juga sangat yakin, jika Andrew belum bisa menyelesaikan masalahnya dengan kekasihnya. Lalu untuk apa semua ini?
"Vya pulang yuk," ajak Sita padaku.
"Iya pulang aja Vya, kami udah tenang kalau udah ketemu loe gini. Yah, walaupun pasti loe nggak bakalan cerita apa yang udah terjadi sampe loe luka gitu," sela Rezky.
"Thanks guys, tapi gue nggak apa-apa. Emm... kita balik aja ya. Stop tanya-tanya aku lagi, please aku butuh waktu. Urusan direktur aku udah siap kok buat segala kemungkinan, seandainya dipecat juga."
"Nggak Vya, gue sebagai ketua Tim udah urus soal itu. Loe tenang aja."
"Thanks Rez."
"Santai."
Sita memapah tubuhku untuk keluar dari Kafe. Kepalaku masih terasa pening sekali. Mungkin sudah seharian menghadapi kejenuhan. Apalagi ada luka di keningku.
Aku, Sita, Andrew maupun Rezky berjalan bersama menuju parkiran. Beruntungnya aku masih memiliki seorang sahabat yang mengerti. Selain Bi Emi, ada Sita yang selalu membantuku. Meski semua itu tidak bisa menyelesaikan masalahku begitu saja.
"Vya?" Panggil Andrew sembari meraih telapak tangan kiriku sebelum aku masuk kedalam mobil milik Sita.
"Lepas!" Tegasku padanya.
"Kamu ikut aku ya, please."
"Nggak! Gila ya kamu!"
"A-aku pengen ngomong. Tolong, bentar aja. Emm... setengah perjalanan kamu ikut Sita lagi."
"Nggak! Ribet!"
"Vya tolong, sekali ini aja."
"Ndrew loe jangan maksa gitu dong!" Sergah Rezky sembari melepas genggaman tangan Andrew dariku.
"Rez, please loe jangan ikut campur deh!" Tegas Andrew.
"Loe jadi cowok nggak gantle gini, sejak kapan hah? Sejak loe bohongin Navya?"
"B*engsek loe Rez!"
"Woeee woeee para cowok please deh jangan berantem kayak banci aja loe pada, kasian Vya," celetuk Sita dengan suara nyaringnya sebelum pukulan Andrew mendarat pada wajah Rezky.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan situasi sekarang ini. Sebenarnya, apa yang telah terjadi diantara mereka berdua? Tidak mungkinkan karena aku saja?
Beruntungnya celetukan nyaring dari Sita berhasil. Amarah Andrew maupun Rezky telah mereda. Aku hanya bisa bergidik ngeri menatap kedua pria ini.
"Ikut aku Vya please..." ujar Andrew lagi tak putus asa memintanya padaku.
Aku tak langsung menjawabnya. Jujur saja, aku juga penasaran dibuatnya. Kulihat paras Sita, ia memberikan isyarat padaku untuk ikut saja. Toh, tidak ada salahnya memberikan sedikit kesempatan berbicara.
"Oke," jawabku singkat sampai membuat Rezky terkejut. Namun ketua Tim tersebut tidak punya hak apapun untuk melarangku.
"Makasih Vya, mari," tuntun Andrew padaku.
Sontak saja kukibaskan telapak tangannya dariku. Sampai ia malu sendiri. Tapi maaf, aku tidak mau luluh kembali.
Walau sebenarnya aku gugup sekali. Kekhawatiran hatiku muncul saat telah berada didalam mobil milik Andrew. Aku takut menjatuhkan hatiku lagi pada lubang yang kotor.
Apalagi hati wanita begitu rapuh dan mudah luluh. Meski begitu, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena telah menyetujuinya. Tinggal nanti, bagaimana caraku menyikapinya. Dengan segala cinta dan rindu yang masih menggebu untuk Andrew.
Akankah aku jatuh kembali kedalam pelukan terlarangnya? Jangan sampai, itu saja harapanku sekarang.
Bersambung...
jangan lupa like+komen...
__ADS_1