Who Is My Love

Who Is My Love
Suasana Baru


__ADS_3

Aku menatap gusar beberapa hidangan yang terpampang didepan mata. Beberapa botol minuman asing turut menyertainya. Begitupun dengan kekasihku yang sejak tadi tampak menelan salivanya. Sebuah perkumpulan karyawan satu divisi sedang digelar selepas pulang kerja tadi. Meski kemi enggan ikut serta, namun Elena--selaku sang ketua tim malah memaksa. Sebagai ajang keakraban sekaligus penyambutan bagi kami berdua. Padahal yang aku tahu, Singapura adalah asli milik orang Melayu. Namun banyak pendatang baru dari barat dan menjadi rekanku.


Bagaimana aku bisa menikmati pesta ini? Aku dan Andrew adalah orang Indonesia yang masih menjunjung tinggi beberapa larangan sesuai aturan agama kami. Aku bukanlah orang sempurna, namun aku masih enggan ikut ke dalam gaya hidup orang barat. Seperti beberapa kali rekanku menuangkan minuman itu ke dalam gelasku. Sungguh aku tidak mau menyentuhnya, barang sekali saja. Aku teringat akan nasihat dari mama dan Bi Emi.


Mungkin beberapa orang menganggap diriku aneh dan tidak tahu gaya hidup yang modern. Seolah aku sedang terperangkap disini sendiri. Sedangkan Andrew berbaur dengan orang lain yang satu jenis gender dengannya.


"Minum saja, Navya. Ini enak," kata salah satu rekanku yang pandai berbahasa Indonesia.


Aku menggeleng tegas. "Ini bukan budaya negaraku, Rose ," jawabku.


"Kamu masih terlalu malu. Tampaknya banyak yang mengikuti acara ini dari negaramu. Ini bukan sesuatu yang membahayakan."


"Ya, aku tahu. But, i not them."


"Gadis lugu yang menarik. Kita lihat saja, sekitar tiga sampai lima bulan, gaya hidupmu berubah."


Ya, ya, silahkan you mau ngomong apa.


Dibalik batinku yang merasa sebal, aku menampilkan senyuman sekilas untuk menjawab perkataan dari Rose. Aku benar-benar ingin keluar dari tempat ini dengan segera. Namun, Andrew tidak kunjung memberiku intruksi untuk undur diri. Belum lagi, aku merasa tidak enak jika pulang lebih dulu. Aku rasa, saat ini Andrew juga merasa kesulitan. Meski aku tahu, ia pernah minum tatkala merasa frustasi atas diriku.


Disatu sudut, terlihat segerombol wanita sedang bercengkerama sendiri. Mereka masih satu rekan denganku. Sedangkan dihadapanku, para pecandu sudah semakin teler dan tidak menentu. Semua tampak bergembira ria, lepas dari kepenatan. Padahal hari ini masih hari Senin. Perayaan macam apa dan untuk apa ini?


"Navya?" Seseorang menyebut namaku. Aku menoleh.


Linseyld?


Glup! Aku menelan ludahku seketika. Aku pikir ia akan banyak bertanya kepadaku seputar hubunganku dengan Andrew. Gilanya dalam keadaan berkumpul seperti ini. Bagaimana kalau hubunganku dan Andrew diketahui?


"Navya?"


"Eh, i-iya."


"Boleh gabung?"


"Silahkan."


Linseyld tersenyum. Kemudian ia meminta satu ruang agar bisa duduk didekatku. Jantungku berdebar tidak menentu. Nyaliku yang sempat membara kini malah menciut seketika. Apa yang akan ia lakukan terhadapku? Aku ingin sekali meneriakkan nama Andrew dan mengajaknya kabur pulang. Namun sekali lagi, aku tidak punya cukup nyali.


Kini, Linseyld malah semakin memandangi wajahku. Dalam sikapnya itu, tentu saja membuatku malu. Apa yang dia pikirkan sekarang? Aku gelisah secara diam-diam. Kuangkat kepalaku dan memandang lampu-lampu yang menyala remang. Tempat ini cukup hangat. Beberapa tulisan mural pun tergambar disetiap dinding ruangan. Mewah, namun memiliki kesan yang romantis. Bar yang berkelas bagi karyawan seperti mereka.


"Hei, kamu cantik juga," ujar Linseyld tiba-tiba.


Aku menatapnya seketika. Kuusap rambutku ke belakang dengan raut wajah yang malu-malu. "Biasa saja, Kak," jawabku sembari tersenyum.


"Coba kalau pake make up dan rambutnya panjang."


"Hehe ... seperti ini jauh lebih nyaman bagiku, Kak."


"Hmm ... sayang aja sama paras cantikmu."


"Kakak lebih cantik kok."


Linseyld tersenyum sembari mengalihkan pandangan ke depan. Apakah aku salah bicara? Tidak, aku memujinya dan aku rasa ia tengah menumbuhkan bunga-bunga di hatinya. Baiklah, tampaknya menjadi penjilat adalah hal yang tepat untuk dilakukan saat ini. Walau sebenarnya aku benar-benar kesal terhadapnya sejak tadi.


Dan sekarang juga, Linseyld kembali mencuri pandang ke arah Andrew. Tepat dihadapanku yang notabenenya adalah sang kekasih pria itu. Andai aku memiliki keberanian, pasti akan kugetok kepalanya itu. Uh ... aku harus bersabar. Lagipula, Andrew tidak memberikan respon apapun.


"Navya, kamu dekat ya sama Andrew?"


"Eh?"


"Kalian kelihatan akrab seperti kakak dan adik."


Gue pacarnya, Kakak!


"Hehe ... iyakah, Kak?"


"Iya, kamu seperti adik lelaki untuk Andrew."


What?! Sial, nih orang.


"Oh ... begitu ya? Hehe."

__ADS_1


"Kamu tahu pacarnya nggak, Navya? Orangnya seperti apa?"


Ya kayak Navyalah, Mbak!


Aku mengangguk pelan. Sedangkan Linseyld meneguk minuman asing itu dihadapannya. Sepertinya ia sudah sangat terpengaruh dengan gaya kehidupan disini. Terlebih saat ini, ia tengah patah hati. Miris juga, dan aku terlibat didalamnya. Rasa kesal pun kini sedikit terhapus pada saat Linseyld menunjukkan wajah yang memelas. Ya, aku tidak boleh merasa paling benar.


Satu kesalahan Linseyld, menurutku adalah saat ia terlalu terburu-buru akan perasaan itu. Untuk kata maaf hanya bisa kuutarakan dalam hati saja. Entah, bagaimana responya jika ia tahu bahwa diriku adalah kekasih dari pria yang ia sukai. Mungkin, ia akan membenciku.


"Kakak sesuka apa dengan dia?"


"Awalnya, aku hanya kagum parasnya aja. Tapi, ternyata dia pria yang lembut."


"Lho? Tahu darimana? Kalian masih berhubungan ya?"


Linseyld menggeleng. "Dia bahkan mengabaikan pesan-pesanku. Sekalinya membalas hanya sekenanya aja. Hmm ... aku kayak cewek yang terobsesi ya, Navya?"


"Hehe ...."


"Aku pikir, cowok bakalan tunduk pada saat si cewek maju lebih dulu. Ternyata nggak dengan Andrew. Mendengar pengakuannya tadi aku sempet kecewa, Nav. Bahkan marah."


"Kenapa Kakak begitu? Mungkin Andrew masih ingin menjaga privasinya. Apalagi, eem ... kalian baru kenal."


"Mungkin. Tapi ... aku udah terlanjur menyukainya. Mungkin bukan saat ini waktu yang tepat untuk dia melihatku. Lagipula hubungan jarak jauh pasti berat, kan? Pada saat itu, aku bisa masuk ke dalam hatinya."


"Haah?"


"Hehe ... becanda kok. Maaf ya, malah jadi curhat."


Becanda matamu, itu!


Ucapan Linseyld membuatku bergidik. Meski ia mengatakan itu hanyalah sebuah canda, tapi aku melihat sorot matanya tidak bercanda lagi. Tampaknya, rasa sesal dan bersalahku harus cukup sampai disini saja. Aku harus lebih berhati-hati dengannya. Jangan sampai, ia menemukan celah diantara hubunganku dan Andrew.


Ia kembali meneguk minuman asing itu. Satu nilai negatif yang menunjukkan bahwa dirinya bukanlah tipikal wanita idaman Andrew. Aku masih menang disini. Parasnya cukup manis, mungkin saat yang lalu aku tidak terlalu melihat wajahnya dan menilainya biasa saja. Nyatanya ia cukup manis, aku wajib waspada. Style-nya cukup bagus. Ah, tidak! Aku harus yakin bahwa Andrew bisa setia kepadaku.


Kuputar bola mataku. Kapan waktu ini akan berakhir? Aku sudah tidak tahan lagi berada didekat wanita ini. Ingin pergi, namun enggan untuk pamit. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk ke toilet sebentar. Aku berdiri dan mohon izin kepada yang lain. Lalu, aku mengambil langkah untuk mencapai ruang kecil itu.


"Hei, Nav. Mau kemana, Cantik? Gabung denganku saja," ujar Steve yang tiba-tiba saja muncul dihadapanku saat aku hendak ke toilet.


"Santai, pakai bahasa negaramu saja. Aku cukup pintar, Navya."


"Eem ... ya, maaf aku harus ke sana dulu."


"Mau kuantar?"


"Tidak perlu."


"Ayolah, kita bisa saling berbincang. Aku butuh nomor ponselmu. Kamu tipeku, Navya. Gadis manis, namun bergaya simpel sekali. Kamu cantik."


Steve terus mendesakku, bahkan menghalang-halangi langkahku. Sialnya, para rekannya hanya tertawa karena sudah terbius oleh minuman asing itu. Aku kesal sekali, rasanya ingin kupukul wajahnya itu.


Dugh! Tiba-tiba seseorang menabrak tubuh Steve sampai ia terjengkang dan hampir jatuh. Dan sang pelaku adalah Andrew. Ia memberikan isyarat agar aku berlalu pergi. Lalu, dengan langkah cepat aku menurutinya. Aku berjalan terus, namun aku berhenti disuatu belokan dan mengintip. Aku khawatie respon Steve terhadap Andrew.


Mereka tampak berbincang. Sepertinya Andrew sedang meminta maaf. Aku bisa bernapas lega karena tidak ada sesuatu yang mengerikan, seperti hantaman--misalnya. Astaga! Aku sudah berubah sejauh ini, mengapa masih ada pria yang nakal?


"Sayang," ujar Andrew saat ia telah sampai dihadapanku. Ya, ia menyusulku. "Kamu nggal apa-apa, kan?"


Aku menggeleng lalu menengak-nengok untuk memastikan tidak ada yang berada disini. "Aku nggak apa-apa kok. Mungkin dia lagi mabukk, jadi kayak gitu," jawabku.


"Syukurlah. Aku kaget kamu digituan, nyampe nggak sadar langsung berdiri. Alasannya lagi kebelet hehe."


"Makasih, Ndrew. Tapi, aku pengen pulang. Aku nggak betah di tempat kayak gini. Kamu nggak minum, kan?"


"Enggak, Sayang. Kabur aja yuk, aku juga nggak betah. Didesak mulu sama mereka."


"Kabur lewat mana? Pintunya hanya satu. Aku nggak enak mau pamit, nanti dikiranya kita nggak bisa bersosialisasi. Dan pesta ini akan sampai kapan? Tengah malem?"


Andrew terdiam. Tampaknya ia sedang memikirkan jalan keluar. Menurutku memang kepulangan kami akan malam nanti, kalau kami mengikutinya sampai akhir. Baru setengah jam saja, aku sudah tidak tahan. Aku ikut berpikir keras, sangat keras. Lalu ...


"Kita kabur aja!" Kami terpekik bersama. Sampai akhirnya kami menutup mulut supaya tidak ada yang mendengar. Otak usil pun keluar, kami saling berdiskusi diam-diam. Aku menukar blazerku dengan milik Andrew. Mungkin ia akan kekecilan memakai blazer milikku. Tapi, sekedar menutup kepala mungkin masih bisa. Selanjutnya aku keluar lebih dulu, dibalik kumpulan beberapa orang yang memang keluar.


Deg! Deg! Jangan sampai ada yang melihat. Untuk saat ini, aku harus bisa melepaskan diri. Karena kalau pamit pun, mereka tidak akan memberika izin. Pasti esok harinya baru menanyakannya. Yang terpenting adalah keselamatanku dari minuman itu pada waktu ini.

__ADS_1


Langkah demi langkah, aku menapaki lantai bar ini. Dengan jantung berdebar dan perasaan tidak menentu, aku bagaikan seorang pencuri yang sedang kabur dari kejaran polisi. Sedangkan beberapa orang yang aku tumpangi untuk berjalan menatapku penuh keheranan. Jangan sampai mereka berpikiran macam-macam terhadapku.


Dan ... akhirnya sampai diluar. Aku terus menunduk dan berjalan. Aku mencari titik dimana yang tepat untuk menunggu taksi. Sesampainya di tempat itu, aku berdiri diam sembari waspada. Tanpa menunggu lama satu taksi datang. Sang driver menghentikan mobilnya dihadapanku. Aku meminta waktu untuk menunggu Andrew.


Mana sih? Udah tiga menit, kagak keluar-keluar.


Aku cemas, takut jika Andrew tertangkap basah dan kembali didesak untuk menghabiskan malam pesta itu. Aku berdecak ragu sembari menggigit jari-jariku. Bahkan aku selalu mengatakan maaf kepada sang driver lantaran lama menunggu. Mengapa harus sesulit ini? Seperti kabur dari kejaran pembunuh saja. Apa hanya aku yang merasa berlebihan seperti ini? Padahal esok hari, aku bisa bertemu dengan mereka. Astaga! Ini merupakan hal konyol yang pernah aku lakukan.


"Navya!" seru Andrew, akhirnya ia sampai.


Aku menoleh ke arahnya dan ia datang menghampiriku. Lalu, kami masuk ke dalam mobil taksi ini, diiringi suara tawa yang cukup menganggu. Sang driver memacu mobil taksinya meninggalkan tempat ini. Kami lega sekali. Pasangan macam apa, kami ini? Tapi, ini cukup seru juga.


"Tadi ada yang lihat kamu nggak, Ndrew?"


"Ada hehe."


"Haah? Siapa?"


"Roger, tapi dia udah teler terus acuh."


Aku menghembuskan napasku dengan lega. "Kirain."


"Hehe ... kita ini lagi ngapain sih, Sayang."


"Aku pun nggak tahu haha."


"Seru sih. Bisa melakukan hal gila dan nggak jelas gini bareng kamu."


"Iya sih. Tapi ini bukan hal baik. Coba kalau nggak pake acara minum-minum, aku pasti betah. Aku belum terbiasa."


"Jangan ngomomg belum yang berpeluang akan. Ngomong nggak aja, pasti kamu nggak bakalan terpengaruh. Jangan sampai, aku sempet minum sekali pas lagi frustasi gegara kamu. Aku menyesal karna melampiaskan lewat itu, Sayang. Maafin aku yang pernah bandel ya?"


"Iya, tapi jangan diulangi lagi."


Andrew mengangguk mantap. Kemudian ia merengkug bahuku dari belakang. Dengan mobil taksi ini, kami menikmati perjalanan singkat untuk mencapai tempat kediaman. Aku masih saja tersenyum diam-diam pada saat mengingat hal tadi. Sangat konyol dan terasa berlebihan, namun rasanya memang seru.


Sedangkan alunan deru mobil terdengar bising membaur dengan kendaraan lain. Kerlap-kerlip lampu jalan memancar begitu indahnya. Kota di Singapura yang sangat indah, aku tapaki bersama harapan yang besar tentang papa. Walau sejujurnya, tanah airku jauh lebih nyaman. Aku ingin segera pulang, namun aku perlu waktu untuk membayar hutang papaku. Aku ingin berkumpul dan mengenalkan kekasih yang aku cintai ini.


****


Beberapa saat berlalu, kami telah sampai didepan gerbang rumah ini. Aku menepis tangan Andrew yang hendak membayar ongkos taksi dan menggantikannya. Ia terpana melihat, sedangkan aku acuh saja. Aku berjalan lebih dulu. Membuka gerbang lalu masuk ke dalam.


Hingga saat aku ingin menapaki tangga, Andrew meraih tanganku sampai aku terjatuh ke pelukannya. Ia tersenyum sembari merengkuh diriku. "Aku mencintaimu, Navya," katanya.


"Aku tahu," jawabku.


"Mandi terus istirahat."


"Kamu juga ya?"


Ia mengangguk. "Tapi kalau masih kangen turun aja hehe."


"Nggak mau, malu sama Raya dan Sinta."


"Hmm ... padahal mereka baik-baik aja."


"Tetep aja."


"Yaudah iya. Telpon atau video call aja."


"Nggak bisa juga, aku harus telpon Mama, Ndrew."


Andrew menampilkan raut kecewa. Namun, begitulah adanya. Aku harus mengutamakan mama dan Sita terlebih dahulu. Lagipula kami sudah menghabiskan waktu bersama.


Cup! Kuberikan sekilas kecupan di pipinya. Lalu, aku melepaskan diriku dari rengkuhannya. Aku melanjutkan langkahku untuk naik dan meninggalkan Andrew yang masih terpana sembari menyentuh pipinya yang aku kecup itu.


"Tidur yang nyenyak ya, Ndrew. Sampai jumpa esok hari. Oh iya, jangan lupa siapin jawaban buat tadi ya."


Andrew tersenyum. "Siap, Sayang. Aku sayang kamu."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2