Who Is My Love

Who Is My Love
Cara


__ADS_3

Libur satu hari pun telah usai. Aku harus bersiap untuk bekerja dan bekerja lagi. Satu persatu permasalahan pun usai. Namun, pagi ini aku merasa lebih semangat daripada biasanya. Bagaimana tidak? Aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan. Kekasih baru yang merupakan orang lama. Ah... intinya aku bahagia.


Dan pagi ini, aku, Sinta, Raya bahkan Andrew tidak lagi dijemput oleh Affandy. Selain tidak enak, rasanya juga tidak pantas jika sang atasan malah direpotkan. Yang lebih penting lagi adalah tentang perasaannya terhadapku. Aku tidak ingin kami canggung atau Andrew merasa cemburu. Kami semua memilih untuk memesan sebuah taksi secara online yang tersedia di negara ini. Yah, namanya anak perantauan, rasanya memang tidak boleh merasa gengsi. Lagipula kami hanya karyawan bawah yang tidak mungkin diberikan mobil dinas, diberi tempat menumpang tidur saja sudah sangat bersyukur.


"Kerja lagi aja dah," gerutu Raya.


"Jangan ngeluh ih," jawab Sinta.


"Tidur gue belum puas, Sin."


"Yaelah, loe udah tidur dari pagi nyampe pagi lagi lho."


"Tetep aja. Masih mabuk pesawat."


"Manja amat sih, ah."


Aku terkekeh saja ketika mendengar gerutu Raya yang terus-terusan disanggah oleh Sinta bagaikan seorang ibu. Sedangkan Andrew sedari tadi masih menaruh lengannya diatas bahuku. Kami memilih diam sembari menunggu taksi datang.


Semburat awan biru turut menghiasi kehangatan pagi ini. Udara pun cukup jernih dan segar pada saat dihirup oleh hidungku. Seakan-akan memberikan sambutan selamat pagi dan semoga senantiasa bersemangat. Namun, disatu sisi hati, aku masih merasa gusar ketika mengingat ketiga wanita itu. Aku rasa nanti mereka akan datang dan memastikan keberadaan Andrew kemarin. Ini adalah salah satu konsekuensi ketika memiliki kekasih yang memiliki paras tampan. Sedikit menyebalkan.


"Ehh!" pekik Sinta tiba-tiba. "Gue mau minta sesuatu sama kalian berdua nih.Yang nyuruh Navya."


"Gue? Apaan?" tanyaku.


"Pajak jadian hehehe," sela Raya.


Aku menggerakkan jariku dan meletakkan diatas hidung. "Ssssstttt ...," pintaku agar mereka diam lantaran tidak enak hati.


"Apa sih? Udah tahu ya? Gampang sih, nanti pulang kerja aja ya?" ujar Andrew.


"Serius?!" tanya Raya dan Sinta bersamaan.


Andrew menggangguk sembari menyunggingkan senyumannya. Sejujurnya, aku merasa sangat senang. Setidaknya, aku kembali tahu bahwa ia tidak malu ketika sudah benar-benar menjadi pacarku. Bahkan ia bersedia memberikan traktiran makan untuk kedua temanku. Satu bukti lagi, bahwa diriku cukup bermakna di hatinya. Walaupun aku sudah tahu sejak lama, namun setitik perhatiannya mampu membuatku bahagia.


Tak lama kemudian, taksi pesanan telah datang. Kami keluar dari pekarangan rumah ini untuk mendekati keberadaan taksi didepan gerbang. Sesampainya disana, Andrew memilih untuk duduk didepan. Sedangkan para gadis berbagi tempat dibagian belakang. Beruntungnya, badan kami tidak besar sehingga cukup untuk kami bertiga.


Perlahan namun pasti, taksi mulai dikemudikan kembali. Sang driver membawa kami untuk menyusuri arah dan juga jalan aspal yang memanjang. Menikmati perjalanan singkat ini dengan beberapa canda tawa. Berbeda dengan perkotaan Indonesia, di negari ini tidak terlalu banyak ditemui kemacetan. Kendaraan berbaris rapi. Kebisingan klakson mobil pun jarang didengar sebagai tanda kekesalan bagi para pengemudi. Yah, tidak mengherankan karena negara kecil ini sudah sangat maju.


"Ray, Sin, kalian beneran jangan bilang siapa-siapa ya, tentang hubungan gue sama do'i. Termasuk ke Affandy," ujarku mengingatkan maksudku kepada Raya dan Sinta.


"Tenang aja, Nav," jawab Raya. "Asal beneran ada pajak jadiannya hehe."


"Hmm ... urusan dia itu mah." Aku menunjuk ke arah Andrew. "Gue nggak mau meja kami dipisahin hehe. Jadi, beneran kalian harus peganh janji."


"Yaelah, loe kayak penganten baru aja," celetuk Sinta."


Aku terkekeh mendengarnya. Mungkin ucapanku ini bisa membuat Andrew tersenyum-senyum sendiri. Dan pada saat aku mengingat akan hal itu, aku segera menutup mulutku lantaran malu. Sedangkan Raya dan Sinta masih terus menggoda kami dengan kata "cie" beberapa kali.


Aku menyadari akan sesuatu, bahwa memiliki beberapa teman itu nyatanya menyenangkan. Selama ini aku adalah orang yang terlalu sombong, angkuh, cuek dan tidak peduli. Mungkin ini adalah salah satu hal positif yang kuraih setelah perubahanku. Baiklah, aku memang bukan manusia sempurna. Aku harus banyak berbenah diri lagi setelah ini.


Beberapa saat kemudian, sampailah kami di gedung kantor tempat kami bekerja. Salah satu dari kami membayar ongkos sesuai jadwal yang ditentukan. Maksudku adalah jadwal giliran untuk berangkat dan pulang. Setelah selesai, kami masuk secara bersamaan ke dalam gedung kantor. Aku sedikit menjaga jarak dari Andrew karena tidak cukup percaya diri.


"Navyaaa!" seru seseorang memanggil namaku.


Kami serentak berbalik badan. Affandy disana, tampaknya ia baru saja keluar dari area parkir. "Selamat pagi, Pak Fandy," sapa kami secara bersamaan, kecuali Andrew.


"Hehe ... iya selamat pagi. Kalian naik taksi?"


"Iya, Pak." Aku menjawab mewakili mereka semua. Tak lagi memakai nama panggilan, melainkan menggunakan sebutan kehormatan sesuai jabatannya yang merupakan atasanku.


"Emm ... boleh saya bareng kalian?"

__ADS_1


Andrew maju seketika. "Mohon maaf, Pak. Kami hanya karyawan biasa, dari Indo pula. Tidak etis kalau seorang atasan seperti Bapak Affandy berlaku tidak sama rata dengan karyawan lagi. Ayo guys, kita masuk. Kami duluan, Pak."


"Oh .... ya, ya. Ba-baik."


Setelah mengucapkan itu, Andrew mengajakku, Raya dan Sinta untuk kembali melanjutkan langkah masuk. Aku sendiri masih tidak percaya bahwa ia mampu bersikap tegas seperti tadi. Bahkan kepada atasan kami. Ada apa dengannya? Mungkinkah pengakuan Affandy mengenai hubungannya dengan diriku mampu membuatnya tidak sesenang ini?


Dan kami bertiga pun hanya diam tanpa menyanggah permintaan Andrew. Kami mengikuti anjurannya untuk segera menuju ruang kerja. Disatu sisi, ucapannya memang ada benarnya. Apalagi, saat kami mulai bekerja disini sikap Affandy memang sudah terlihat berbeda, bahkan ia bersedia menjadi taksi untuk keberangkatan kami ke kantor. Aku tidak ingin berprasangka buruk, hanya saja hal itu juga tidak bisa dinilai biasa-biasa saja. Mengingat, karyawan lain pun lebih banyak, termasuk yang dari satu negara. Untuk alasan apapun.


Selanjutkan aku dan Andrew berpisah dengan Raya dan Sinta. Mereka ke divisinya, sedangkan kami ke divisi lain. Aku tersenyum diam-diam karena merasakan kelegaan. Akhirnya aku bisa berjalan, berangkat dan juga bersama Andrew tanpa adanya perdebatan. Ibarat kata, aku seperti kembali jatuh cinta. Jatuh cinta diawal pendekatan.


"Beb, kenapa senyum-senyum?" tanyanya tiba-tiba.


Seketika saja, aku menghapus senyumanku dan memasang raut datar. "Nggak ada yang senyum-senyum," jawabku menyanggah pertanyaan itu.


"Halah, bohong aja loe. Bilang aja kesenengan deket sama gue."


"Yeee... PD amat!"


"Iya nggak?"


"I-iya sih hehe."


"Sayang, Sayang. Aku yang lebih bahagia."


"Sssstttt ... jangan kenceng-kenceng."


"Nggak ada yang bisa bahasa kita."


"Banyaklah."


"Yaudah biarin, biar mereka tahu."


"Tuhkan nggak inget janji. Kamu mau jauh dari aku?"


Selepas percapakan kecil itu, kami melenggang masuk ke dalam ruang kerja. Duduk dimasing-masing tempat kerja yang saling bersebelahan. Dan kami masih mencuri kesempatan untuk saling bertatap muka. Terhitung masih setengah jam lagi, jam kerja dimulai. Brifieng dimulai sekitar lima belas menit lagi.


Sedangkan diri ini masih malas untuk menjelajahi monitor komputer. Bahkan karyawan lain masih sibuk berbincang. Hal yang hampir sama dengan suasana kantorku yang dulu. Aku menjadi teringat Sita lagi, beberapa hari inipun kami belum sempat berbincang, entah via telepon ataupun pesan. Terlebih, kecuali Raya dan Sinta, aku masih belum mendapatkan teman. Hanya saja, beberapa karyawan asing sering mendatangiku sekedar bertegur sapa atau mengajak minum-minum. Dan aku bukan orang yang gemar melakukan itu.


"Sayang ...," ujar Andrew pelan.


"Jangan panggil gitu ...," balasku sama pelannya.


"Hmm ..."


"Tuh kan ...!"


"Iya, iya. Emm ... aku sayang kamu ..."


"Aku juga ..."


Mendengar jawabanku Andrew langsung tersenyum dengan wajah yang bersemu warna pink. Ia imut sekali, sangat imut seperti kelinci kecil. Tidak bisa dipungkiri bahwa parasnya memang menarik. Kelembutan pun tergambar disana. Dan aku rasa hal itu membuat daya tarik tersendiri pada dirinya. Seingatku Lia--mantan rekanku yang sempat membenciku juga sempat menyukai Andrew. Jadi, tidak aneh jika disini pun ia cukup populer.


Sejujurnya aku sedikit merasa minder. Aku tidak bisa kembali pada diriku sebelumnya dan kalah cantik jika dibandingkan dengan para karyawan asing disini. Apa Andrew bisa menahan godaan seperti ini? Oh ... aku sedikit takut. Kami baru saja bersama kembali, aku khawatir dirinya mampu tergoda oleh wanita lain seperti saat ia tergoda akan diriku dan melupakan Lusi. Namun, bukankah aku tidak boleh berpikir seperti ini? Ya, aku harus percaya kepadanya. Hanya inilah yang aku bisa, lagipula aku terlalu lelah untuk bertengkar lagi dengannya. Terlebih jika bertengkar untuk sesuatu yang konyol dan belum pasti.


"Mikirin apa kamu, Navya?"


"Enggak kok. Bukan apa-apa hehe."


"Kok ngalamun?"


"Ya, nggak percaya aja. Kita bisa baikan kayak gini."

__ADS_1


"Kamu harus percaya dong. Kamu udah jadi milikku ..."


"Hmm ... yang paling penting nggak ada kebohongan lagi diantara kita, Ndrew."


"Aku janji, aku akan pastikan itu."


Aku tersenyum.


"Andrew!" Tiba-tiba seseorang menyerukan nama Andrew. Dan benar saja, mereka adalah ketiga wanita itu termasuk Lindseyld. Aku memutar bola mataku dengan sinis, memalingkan wajahku dari Andrew. Sedangkan ia tampak salah tingkah. Aku pun memilih menghadap ke komputerku sembari memasang telinga untuk mencuri dengar.


"Andrew kemarin kemana? Kita udah tungguin lho. Udah samperin ke rumah juga," tanya salah satunya dan menurutku adalah Nita.


"Saya ... anu, Mbak. Itu ...," jawab Andrew ragu.


"Kemana, Beb? Kasian nih Linseyld udah berharap, kamu malah nggak dateng. Hmm." Bela terdengar mendesak Andrew.


Apa-apaan mereka? Macam orang tua saja!


Andrew terdengar menghela napas dalam. Kemudian mulai bersuara lagi, "maaf sebelumnya kakak-kakak dan juga Linseyld. Kemarin ada keperluan, terus sepanjang hari saya bersama pacar."


"Bersama pacar?!" tanya Linseyld.


"Eh ... ma-maksudnya telepon pacar seharian gitu. Emm ... tadinya saya pikir kalian mau ajak jalan aja. Tapi, kayaknya punya maksud lain untuk membuat saya dan Linseyld lebih dekat. Tapi mohon maaf, saya sudah memiliki kekasih hati. Dan saya perlu menjaga hatinya. Maaf sebelumnya nggak bilang, itu ... itu karna kalian juga nggak menanyakan."


"Haaah?!"


Wow! Diam-diam aku tersenyum puas sekali. Pernyataan yang membuatku berbunga-bunga. Aku pikir Andrew akan beralasan lain, misalnya--ketiduran atau sebagainya. Namun, jika diriku tidak disini, apakah ia akan mengatakan hal yang sama? Ah ... aku tidak boleh berpikiran macam-macam. Ini adalah langkah awal untuk pembuktian cintanya.


Lalu, aku melirik diam-diam ke arah mereka. Nita, Bela, dan terutama Linseyld tampak terkejut. Mereka benar-benar diam. Sedangkan sang pemuja tampak kecewa, seolah ingin menangis. Astaga! Aku kasihan sekali. Sepertinya aku terlibat dalam masalah ini. Kalau saja, aku tidak menyetujui perjanjian itu, pasti Andrew tidak berlaku konyol sampai membuat gadis lain terluka lagi.


"Eheeem." Aku berdeham, sampai membuat mereka menatapku. "Ha-hai, Kak Nita dan Kak Bela. Dan ...?"


"Linseyld," jawab Linseyld.


"Iya, Kak Linseyld. Salam kenal sebelumnya."


"I-iya."


"Emm ... maaf, tapi waktu brif mau dimulai. Aku mau mengingatkan saja."


Bela dan Nita menatap jam didinding. "Oh ya. Thanks, Navya," ucap Bela.


"Sama-sama, Kak."


Bela meraih lengan tangan Linseyld. Kemudian keduanya meninggalkan tempat kerja kami. Sedangkan Nita menatap Andrew penuh rasa kesal. "Lain kali bilang, Ndrew. Terus jangan mengiyakan ajakan orang. Anak orang kau bikin kecewa. Ck! Anak jaman sekarang," ujarnya kemudian berlalu.


Aku menghela napasku. Kemudian terkekeh kecil. Andrew menoleh kepadaku. Ia mengangkat kedua pundaknya. Apakah kami jahat? Tapi, kalau tidak ia katakan sekarang, pasti Linseyld akan terus berharap. Tanpa mereka tahu bahwa aku adalah wanita dibalik kekecewaan itu. Dan maaf, Andrew adalah milikku. Meski, aku masih ingin menyembunyikan hubungan ini, aku akan menghempas siapapun yang mencoba mendekati kekasihku. Perjuangan kami cukup banyak, maksudku perjuangan Andrew.


Dan tidak lama kemudian, sang ketua tim menghimbau agar kami segera berkumpul. Mendengarkan arahannya untuk pekerjaan hari ini. Bukan lagi Rezky, melainkan Elena. Ia wanita yang cukup memiliki wibawa, tegas dan pastinya cantik khas orang barat. Ada sisi yang membuatku kagum atas diri Elena. Andai aku bisa menjadi sepertinya, sangat pintar dalam menyelesaikan setiap masalah didalam pekerjaan.


Briefing berlangsung selama kurang lebih 15 menit. Setelahnya kami berdo'a bersama lalu bubar menuju tempat kerja masing-masing. Namun, aku masih menangkap tatapan mata Linseyld yang memang satu divisi dengan kami. Ia tidak melepas pandangannya dari Andrew sampai usai. Sepertinya ia belum ingin menyerah.


Astaga!


"Selamat bekerja, Sayang ...," bisik Andrew tiba-tiba.


Aku segera mendorong kepalanya. "Jangan macem-macem ...!" tegasku dengan nada yang pelan.


Ia tampak menjulurkan lidahnya untuk meledekku. Ingin sekali kutimpuk dirinya, namun masih didalam suasana perkantoran. Terlebih tatapan Linseyld belum terlepas darinya, bahkan diriku. Sumpah! Aku ingin sekali melemparinya sesuatu. Namun, itu juga tidak mungkin aku lakukan. Sampai akhirnya aku duduk, dan mungkin ia pun sama. Tatapannya tidak lagi ada, namun tetap menyisakan perasaan semacam tidak nyaman. Rasanya seperti sedang diawasi.


Oh... jangan sampai gue punya musuh di tempat ini .

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2