
Malam ini, aku hendak turun ke lantai bawah. Aku ingin sekali bersamanya, menghilangkan segala kegelisahan hatiku. Meski sampai saat ini aku masih saja terdiam. Perkataan dari Rose benar-benar mempengaruhi diriku. Menorehkan rasa khawatir yang amat dalam. Ternyata perasaanku sebesar ini untuk Andrew. Bahkan aku berbalik tergila-gila padanya. Jika ini adalah karma, maka biarlah aku merasakan apa yang Andrew rasakan saat mengejar diriku. Namun jangan biarkan ia meninggalkanku, walau sekejap mata.
Aku keluar dari kamarku. Sedangkan di meja makan telah duduk Raya dan Sinta. Entah mengapa, malam ini aku tidak berselera walau sesuap nasi saja. Aku memandangi keduanya yang mungkin sedang menungguku. Benar saja, Raya melambaikan tangan padaku supaya aku bergabung, namun aku menggeleng seketika.
"Kenapa loe, Nav? Nggak laper?" tanya Sinta kemudian.
"Udah janji makan di bawah. Gue keluar dulu ya Ray, Sin," jawabku berbohong. Karena Andrew pun belum tahu rencanaku untuk turun.
"Oke, oke, jangan malem-malem pulangnya. Besok kerja."
"Iya, Mak."
"Huuu! Dasar."
Ya, keberadaan Sinta sudah seperti seorang ibu di tempat ini. Ia pintar, telaten dan tentunya dewasa. Ia bisa menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi, mungkin hal itu membuat Affandy memilihnya untuk berangkat ke negara ini. Dan tentunya membuatku, Raya bahkan Andrew memanggilnya dengan sebutan "emak". Beruntung ia tidak mudah tersinggung, jadi cukup mengerti akan sikap kami.
Setelah itu, aku berjalan keluar. Lalu menuruni anak tangga satu persatu. Malam hari yang ramai akan para pengendara yang lalu lalang didepan rumah ini. Namun entah mengapa, hatiku malah merasa sepi, bahkan galau. Tampaknya aku benar-benar membutuhkan Andrew pada saat ini. Kedua temanku pasti lelah, mama dan Sita jauh disana. Hanya kekasihku yang bisa aku ceritakan keluh kesahku. Ya, setidaknya aku bisa berbagi dengannya.
Sesampainya di bawah, aku menekan tombol bel pintu yang terpasang, lain halnya dengan lantai dua yang tidak ada. Satu kali, tidak ada jawaban. Dua, tiga bahkan sampai kelima kalinya. Andrew kemana? Sedang mandi, kah?Namun saat ini sudah hampir jam delapan malam. Tidak mungkin ia mandi. Apakah sudah tidur? Mana mungkin ia mandi pada jam sedini ini.
"Ck! Padahal gue kangen." Aku berucap sembari menghela napas. Rasa galau hatiku semakin pekat, bahkan kecewa. Lalu aku memutuskan untuk duduk di kursi panjang yang berada di teras rumah ini. Kursi yang menjadi saksi biksu, pertama kalinya kami menjalin hubungan secara resmi. Aku duduk sembari menatap langit yang gelap. Berharap ada respon dari Andrew tidak lama setelahnya. Entah akan terkabul atau tidak.
Rasanya sangat malu jika aku kembali naik. Terlebih aku menolak ajakan makan malam mereka. Setidaknya satu jam ke depan, aku harus menunggu sampai pantas untuk kembali ke atas. Sedangkan udara dingin menusuk kulitku tubuhku yang hanya terbalut kaos oblong biasa. Sehingga membuatku mengangkat kedua kakiku ke atas kursi dan meringkuk diam.
Dalam diamku, aku kembali terbayang wajah Linseyld sekaligus perkataan dari Rose. Akan ada rencana apa lagi dari wanita ular itu? Lalu wanita mana lagi yang tengah menaruh hati pada kekasihku? Akankah aku bisa menahan Andrew untuk tetap bersamaku? Aku hanya serpihan kertas yang sudah buram. Ingin kembali menjadi putih cerah sudah enggan, pasti proses untuk beradaptasi harus aku lalui lagi.
"Ah! Sial banget sih gue? Apa gue kurang bersyukur aja ya?" gumamku mengumpat sekaligus bertanya-tanya. Bagaimana tidak, kupikir aku sudah banyak berubah. Namun nyatanya aku masih menjadi wanita yang teramat bingung akan jati diriku sendiri. Harus bertindak bagaimana lagi supaya aku bahagia? Pasrahkah? Atau harus berusaha lebih keras lagi. "Uuuuuh!"
"Kenapa sih, Sayang?" Itu adalah suara Andrew.
"Eh?" Aku menoleh ke arah sumber suara. "Andrew? Darimana?" Andrew tampak berjalan masuk dari arah gerbang. Ia menenteng sebuah paperbag. Entah apa isinya.
"Keluar cari makan. Kok kamu disini? Nggak dingin lho? Udah lama?"
"Kirain kamu udah tidur. Belum lama, tapi badan udah kaku."
"Hmm ... kalau aku nggak ada ya naik dulu dong."
"Aku malu, tadi udah bilang mau makan disini sama Raya dan Sinta. Ya udah, rencananya mau duduk disini selama satu jam."
Andrew hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian datang menghampiriku. Direngkuhnya tubuhku setelah ia bantu diriku untuk berdiri. Ia bahkan mengecup sekilas bibirku. Lantas, aku menepuk lengannya seketika. Tidak ada izin dariku dan seenaknya saja mencuri bibirku. Membuatku sedikit sebal, walau memang ada rasa senang.
Kemudian ia mengajakku masuk ke dalam rumah. Tentunya setelah ia membuka pintunya. Aku duduk di sofa yang ada di dalam rumah ini sembari meraih remote televisi. Aku menyalakan televisi berharap ada acara unik yang enak dipandang mata. Meski aku seringkali mengabaikan acaranya dan malah membayangkan hal yang lain. Yang pasti, supaya tidak sepi saja.
"Nih, makan dulu," ujar Andrew sembari menyerahkan hidangan yang baru saja ia beli.
"Nggak mau." Aku menolaknya lantaran hanya ada satu porsi nasi beserta ayam katsu dan minuman bersoda.
"Kenapa, Sayang?"
"Itu makan malam kamu. Kok malah dikasih ke aku?"
Andrew duduk disampingku. Ia merengkuh pinggangku dan mengecup pipiku sekilas. "Aku nggak tahu kamu bakal kesini. Jadi, cuma beli satu, Sayang. Terus kata kamu tadi alesannya mau makan bareng aku. Jadi ini jatah kamu."
"Nggak mau. Ini jatah kamu. Udah makan aja, aku turun cuma sekedar mau ketemu aja kok."
"Ya kali, aku tega biarin pacarku kelaparan sendiri. Nggak ah, makan! Kalau nggak mau aku buang aja."
"Apaan sih?! Kayak anak kecil. Ya udah sini, tapi kamu harus mau ya? Kalau aku suapin."
Ia tersenyum manis. Sungguh membuat hatiku menjadi tenang. Aku masih bersyukur karena senyuman itu masih milikku. Hanya saja, aku takut jika tidak bisa mempertahankannya. Bahkan aku tidak tahu, bayangan tentang bagaimana diriku jika benar-benar kehilangan dirinya lagi. Mungkin aku bisa mati, dalam artian hatiku bukan ragaku. Bak mayat yang masih hidup dan berjalan sebagaimana manusia.
Membayangkannya saja membuatku bergidik, oh ... sampai air mataku mengalir satu tetes membasahi pipi kananku. Diam-diam, kuusap air mata itu. Berharap kekasihku tidak mengetahuinya barang sedikit saja. Lalu dengan gerak malu-malu, aku meraih sendok dan garpu. Mencoba mencabik sang ayam dengan kekuatan sedang. Setelah berhasil maka aku mulai menyuapkannya ke dalam bibirku.
__ADS_1
Hening. Sedangkan Andrew hanya diam sembari menyaksikan. Aku tahu bahwa dirinya juga lapar. Sungguh aku menyesal, mengapa pula aku datang tanpa diundang. Bahkan tidak memberitahukannya sebelum ini. Lagi-lagi ia harus berkorban untukku. Meski masih terbilang kecil dan sepele, namun tetap saja memberikan pengaruh pada tubuhnya.
"Nih, aku suap. Kamu juga harus makan," ujarku sembari menodongkan sendok berisi nasi dan irisan sang ayam pada bibirnya yang lembut itu.
"Kamu makan aja. Nanti aku pesen lagi secara online. Navya-ku udah terlalu kurus. Jangan sering menunda makan, Sayang." Andrew menolak niatanku sembari mendorong pelan tanganku yang memegangi sendok itu.
"Aku langsing, oke?! Nah, kita bagi berdua dulu. Nanti kalau laper pesan online lagi. Nanti bagi dua lagi."
"Hmm ... nggak, ini atau nanti bisa jadi jatah kamu."
"Andrew, Sayang. Ayolah, jangan bikin aku kecewa. Kita tuh harus susah senang sama-sama. Berbagi terus. Jangan terlalu banyak berkorban hanya demi aku. Aku takut kamu malah cepat bosan kalau aku jadi manja."
"Huuus! Ngomong apa sih?! Nggak akan bosan sama kamu. Sumpah!"
"Iya, iya, aku percaya kok sama kamu, Ndrew. Maaf ya kalau selama ini aku selalu bikin kamu susah."
"Aku nggak pernah merasa kalau Navya seperti itu. Justru aku yang harusnya minta maaf karna belum bisa bahagiain kamu secara penuh."
"Iya, kamu bakal bisa buat aku bahagia. Nanti, setelah kita menikah hehe."
"Amin."
Ya, pada akhirnya kami saling menyuapi. Satu porsi makanan yang tidka seberapa ini kmao bagi dua, alias satu bungkus berdua. Sangat nikmat, hanya dengan dirinya aku banyak melakukan hal-hal yang tidak pernah aku lakukan. Bahkan hal sekecil ini baru aku alami sekarang. Menurutku sangat seru dan romantis. Kalau boleh, aku ingin melakukannya setiap hari, sekaligus irit juga.
Hihi.
Hingga pada akhirnya, makanan telah habis. Aku dan Andrew menuju dapur, lebih tepatnya ke tempat wastafel berada. Aku hendak mencuci telapak tanganku yang kotor. Dan melakukannya setelah sampai. Setelah itu, aku menuju kamar mandi untuk membersihkan mulut dan bibirku. Selanjutnya keluar lagi dan bergantian dengan Andrew.
Disamping menunggu Andrew, aku iseng menatap setiap sudut ruangan yang tertata rapi. Yah, Andrew masih saja rapi seperti sedia kala, walaupun tidak serapi rumah wanita. Keisenganku berlanjut ke kamarnya. Aku membuka pintu kamarnya perlahan dan masuk ke dalamnya. Lagi-lagi fotoku terpampang nyata didalamnya. Ternyata ia tidak meninggalkannya didalam apartemennya di Indonesia. Aku tidak pantas meragukan dirinya lagi, sudah sebanyak ini rasanya cintanya padaku.
"Maaf, Andrew. Aku sempat meragukanmu," gumamku.
"Meragukan apa lagi sih, Sayang?" Andrew berjalan masuk menyusulku. Aku menunduk seketika lantaran malu. "Kamu ngapain masuk ke kamar?"
"A-aku penasaran aja kok. Nggak sadar nyampe masuk sini. Ya udah, keluar yuk."
"Nggak mau."
Andrew berjalan maju mendekatiku. Aku menelan ludah seketika sembari melangkah mundur. Namun tangannya lebih gesit dalam menangkap tubuhku. Deg! Jantungku berdebar tidak menentu. Bagaimana tidak, ini didalam kamar. Bisa mati, jika ia tidak bisa menahan sesuatu yang mungkin timbul didalam dirinya.
"Enggak! Ini terlalu cepat!" tegasku sembari meronta meminta supaya ia melepaskanku.
"Heh! Diem dulu!" balasnya. Pelukannya semakin menekan diriku. Oh ... aku tidak ingin sesuatu terjadi diantara kami.
"Apaan sih?! A-aku mau nonton TV, Ndrew."
"Aku mau kamu."
"Ih! Nggak lucu tauk, becandanya!"
"Pft ... hahaha. Takut ya, Sayang?"
"I-iyalah."
Andrew membelai kepalaku. "Aku nggak sebusuk itu. Nggak akan aku rusak orang yang aku sayangi sampai sejauh itu. Tenang ya, Sayang. Aku ... aku terlalu senang. Semua masih seperti mimpi, aku bisa memilikimu, Vya. Navya-ku tersayang. Betapa banyak lelaki yang berusaha mendekati kamu."
"...."
"Dan hampir semuanya memiliki level yang lebih tinggi dariku. Aku sampai kewalahan, gimana caranya membahagiakan kamu seperti yang mereka iming-imingkan. Navya?"
"Ya?"
"Jangan pernah tinggalin aku lagi. Aku nggak bisa kehilangan dirimu. Aku akan berusaha membahagiakanmu, pasti! Aku akan menebus semua kesalahan yang sudah aku lakukan padamu, Sayang."
__ADS_1
"Andrew, aku mencintai kamu."
Betapa harunya hatiku. Ia bahkan merasakan hal yang sama sepertiku. Kami saling takut kehilangan satu sama lain. Namun masih ada saja masalah yang membuat kami gelisah. Biarlah, aku yakin bahwa aku dan dirinya mampu menghempas segala rintangan yanga ada. Tidak mudah bagi kami untuk berpisah lagi lantaran kebersamaan ini juga sulit diraih.
Bahkan Andrew menganggat kepalaku, tepatnya wajahku. Tatapan sayu dari netra hitamnya sungguh membuat diriku bergetar. Hembusan napasnya terasa hangat menyentuh kulit wajahku. Perlahan ia mencuri bibirku kembali. Begitu halus dan lembut disertai pejaman mata kami. Kami larut ke dalam keromantisan ini. Meluapkan segala rindu dan cinta. Melepaskan semua beban pikiran yang ada. Gerak tangannya sangat halus dalam membelai rambut di kepalaku. Kecupan manisnya terasa hangat di bibirku. Seolah menimbulkan irama yang syahdu.
Dan tiba-tiba ponselnya berbunyi sangat nyaring, sampai mengejutkan kami berduam Spontan kutarik diriku dari rengkuhan tangannya. Aku memejamkan mata sejenak, sembari mengusap tengkukku. Kini aku diambang rasa malu. Entah bagaimana jadinya jika tidak ada panggilan di ponsel Andrew. Aku tidak tahu pasti. Namun aku tetap mempercayai bahwa Andrew tidak akan merusak kehormatanku sebelum adanya pernikahan.
"Si-siapa, Ndrew? Kok dimatiin?" tanyaku pada saat ia melempar ponselnya begitu saja di atas ranjangnya.
"Linseyld," jawabnya.
"Uh ... apaan sih tuh orang?! Ngeselin!"
"Merusak momen ya? Hahaha."
"En-enggak kok. Justru bagus ka-kalau soal itu."
"Hmm ... bohong kamu. Udah yuk keluar, nanti khilaf."
Aku mengangguk pelan. Kemudian kami mengambil langkah untuk keluar. Namun lagi-lagi ponsel Andrew terdengar sangar nyaring. Membuat langkah kami terhenti. Pasti dari Linseyld lagi.
"Angkat aja, Ndrew."
"Apa? Nggaklah."
"Angkat aja, aku punya rencana."
"Rencana?"
"Ya."
"Tapi, Sayang."
"Udah angkat aja."
"Ck!"
Meski tidak setuju, Andrew berjalan ke belakang lagi. Ia mengambil ponsel yang tadi ia buang ke belakang. Sebenarnya aku kesal. Namun ada sesuatu yang terpikirkan oleh otakku. Mungkin aku akan membuatnya jera setelahnya.
"Halo, Lin. Kenapa?" sapa Andrew pada wanita itu.
"Speakernya pencet ...," bisikku pada Andrew. Lalu aku berjalan menghampirinya.
"Halo, Ndrew. Emm ... lagi ngapain nih?" tanya Linseyld dari kejauhan. Andrew menatapku seketika. Aku memberikan saran agar ia menjawan sebagaiman mestinya tanpa memberitahukan keberadaanku disini.
"Oh, saya sedang santai."
"Begitu ya? Emm ... tumben kamu angkat telepon dariku?"
"Emm ... saya tidak enak saja."
"Jangan terlalu formal gitu dong, Ndrew. By the way, kamu nggak lagi sama dia?"
"Ini sa--" seketika itu aku segera mencubit pinggang Andrew sembari menggelengkan kepalaku supaya dirinya tidak mengatakan yabg sebenarnya. "Dia udah tidur. Kenapa emang, Lin?"
"Oh... bagus deh. Biar aku bisa ngobrol tenang sama kamu, Ndrew. Susah lho cari waktu bincang sama kamu."
Sial ni cewek!
"Emangnya apa yang kamu bincangin sama saya, Lin?"
"Emm ... kamu pasti kerepotan ya, punya cewek bar-bar kayak dia? Emm ... padahal cowok sesempurna dirimu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik, Ndrew."
__ADS_1
"...."
Bersambung ...