
Waktu terasa semakin cepat berjalan. Satu bulan telah berlalu, setelah kejadian perkelahian antara Andrew dan Nevan di rumahku. Dan sekarang Nevan mungkin sudah menyerah dengan ambisinya untuk kembali padaku. Meskipun ia masih beberapa kali mengirimkan pesan padaku. Namun tidak separah dan sesering saat ia masih mengejarku.
Aku kembali ke rutinitasku sebagai karyawan. Tidak banyak yang berubah. Entah tentang hubunganku dengan Andrew atau orang tua yang masih acuh tak acuh terhadapku. Yang pasti aku tidak terlalu ingin memikirkannya lagi. Toh, masih ada Bi Emi, Cika dan Sita yang masih setia menemaniku. Begitu juga dengan Andrew yang semakin aku cintai.
Aku melihat Andrew yang sedang keluar masuk ruangan. Ia menggenggam lembaran-lembaran surat. Aku cukup terheran-heran dengan apa yang ia lakukan. Ingin rasanya aku bertanya langsung padanya. Namun aku urungkan karena masih ada pekerjaan yang belum selesai.
"Hmm lagi ngapain sih dia? ntar deh nanya pas makan siang." Gumamku pelan.
Aku mencoba memfokuskan kembali otakku pada pekerjaanku. Namun, benakku masih saja penasaran dengan aktivitas Andrew. Aku hanya takut ia terkena masalah.
Aku beranjak dari kursi kerjaku dan berpura-pura ingin ke kamar kecil. Ketika kudapati Andrew melangkah keluar ruangan lagi. Aku berjalan dengan agak cepat menyusulnya dari belakang.
"Dooorrr." Ucapku sembari menepuk bahu Andrew dengan tujuan mengagetkannya dan cukup berhasil.
"Usil banget Vya." Katanya.
"Ehmm... bodo."
"Mau kemana emang?"
"Kamu yang mau kemana dari tadi mondar-mandir mulu."
"Ada urusan ntar ya di ceritain."
"Sekarang dong."
"Entar. Ok!"
Andrew mencubit pipiku dengan gemasnya. Kemudian ia melanjutkan langkahnya lebih cepat dariku. Sepertinya ia agak terburu-buru. Aku menghela nafas dalam, mencoba bersabar dengan rasa penasaranku. Kini aku berjalan ke arah kamar kecil untuk sekedar membasuh wajah agar terasa lebih segar. Dan kembali setelahnya.
Setelah tiba di tempat kerjaku, aku kembali melakukan aktivitas yang menjadi kewajiban. Sesekali aku melirik tempat Andrew yang berada di seberang. Tampaknya ia belum kembali juga. Ada rasa cemas menghampiriku. Fokusku mulai buyar. Ingin sekali kuambil jam dinding dan kuputar lebih cepat agar waktu istirahat cepat tiba. Dan itu mustahil kan?
"Cowo lo gak kemana-mana fokus napa kerja." Celetuk Lia membuyarkan tatapanku yang mengarah ke tempat kerja Andrew.
__ADS_1
"Yeaaa manager." Jawabku jutek.
"Dihh."
Lia berlalu dan kembali ke tempat kerjanya sendiri dengan tatapan sinis yang ia tujukan padaku. Entahlah mengapa ia bisa bersikap seperti itu padaku. Irikah? atau memang tidak suka?
"Bodo amat deh!"
Selang beberapa menit kemudian Andrew telah kembali. Ia sengaja berjalan melewati posisiku berada. Mungkin ia tidak ingin aku merasa khawatir.
"Entar ya kalo udah istirahat." Jelasnya.
"Ehm.."Jawabku singkat.
"Jangan ngantuk."
Andrew berlalu setelah memperingatkanku agar tidak mengantuk dengan gerakan tangannya yang mengusap halus rambutku. Dan aku sengaja melirik ke arah Lia. Tampaknya raut wajahnya makin masam saja. Tentunya ia tujukan padaku.
"Dasar tante hihi." Gumamku pelan.
Kemudian kami menuju mobil dan dikendarai Andrew ke restoran padang langganan. Seperti biasa setelah sampai seorang pelayan pria memberikan daftar menu dan kami menulis pesanan masing-masing.
"Kenapa sih tadi?" Tanyaku pada Andrew dengan rasa penasaran yang sudah berada diubun-ubun.
"Penasaran ya hihi?"Jawabnya meledek.
"Ihh serius kamu ngapain tadi?"
"Gak papa kok sayang gak usah khawatir."
"Hmmm yaudah terserah!"
Bibirku yang manyun mampu membuat Andrew tertawa kegirangan. Ia sengaja membuatku bertambah ingin tahu. Kesal rasanya, dan sesekali ku cubit lengannya dengan kencang.
__ADS_1
"Iya... iya sabar atuh makan dulu ya." Kata Andrew.
Aku memilih diam menghiraukannya dan melanjutkan aktivitas menyantapku. Sedang Andrew masih saja terus menggodaku. Cukup membuatku geli juga.
"Udah kelar ni mana janjinya mau cerita." Kataku menagih janji.
"Aku kan belom kelar Vya. Sabar atuh hehe." Jawab Andrew yang masih saja belum puas menggodaku.
"Andrewwww!!!"
Aku mencubit lengannya dengan kencang. Membuat Andrew meringis kesakitan. Tampaknya kini ia telah menyerah.
"Ehm.. gini aku mau pamit." Ucap Andrew yang membuatku tersentak seketika.
"Haah! pamit kemana?"
"Sabar atuh belom kelar ngomongnya."
"Yaudah cepet kelarin."
"Iya.. iya.. bawel. Aku tadi minta tanda tangan surat izin sama atasan aku mau ambil cuti soalnya ada keperluan di kampung."
"Acara apa? berapa lama? sama siapa?"
Andrew terkekeh mendengar rentetan pertanyaanku. Aku hanya mendengus kesal padanya.
"Jangan mikir yang enggak-enggak aku cuma ngambil seminggu kok ya. Kamu baik-baik dirumah makan yang teratur ya kalo kemana-mana hati-hati dan jaga diri." Ucap Andrew bak seorang ayah yang memberikan wejangan pada Anaknya.
Setelah itu kami kembali. Dan benakku mulai terisi kecemasan. Selama satu minggu aku akan melakukan apa? bersama siapa? Padahal selama ini aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Andrew. Kalaupun ada Sita dan Cika pasti mereka memiliki wakti untuk sendiri. Terlebih si kecil Cika harus banyak belajar dan beristirahat.
Aku hanya berharap perjalanana Andrew lancar dan selamat sampai tujuan maupun kembali.
Bersambung...
__ADS_1
____________________________________________
Pendek dulu yah. Saya lagi malas hehe