Who Is My Love

Who Is My Love
Kesepakatan Balasan


__ADS_3

Jam menunjukkan 09.00 WIB. Sepanjang waktu yang berjalan, aku tidak beranjak dari kursi santai milik Andrew, kecuali untuk mandi. Bukan tidak sopan atau bagaimana, namun aku sudah tidak tahu harus seperti apa. Dan kebetulan posisi tempat ini dekat dengan jendela yang besar, sehingga pemandangan luar sana terlihat jelas dari ketinggian apartemen ini.


Entah, apa yang dilakukan Andrew sepanjang waktu. Bahkan, aku sampai melupakan keberadaannya. Yah, itu semua karena pikiranku terlalu banyak bergelut. Aku masih bingung akan kemana, karena tidak mungkin aku menumpang terlalu lama ditempat Andrew. Akan tidak sopan nantinya, apalagi aku hidup di negeri yang menjunjung tinggi norma kesopanan. Lantas, apa yang harus aku perbuat sekarang? Ponsel, dompet, pakaian dan beberapa barang lainnya sama sekali tidak aku bawa. Dengan kata lain, aku tidak memiliki secuil harta pun saat ini.


Untuk pulang ke rumah, aku sama sekali belum siap. Meski, aku sudah terbilang berani kepada papa, jauh di lubuk hatiku, aku masih getir dan takut sekali. Aku tetap seorang anak yang takut akan kemarahan orangtua. Belum lagi keberadaan Haris saat ini. Ah! Jika terlalu dipikirkan, memang sangatlah runyam dan menyakitkan.


"Navya?" ujar Andrew memanggilku.


"Hmm," jawabku sekenanya, bahkan sama sekali tidak memandang dirinya. Biar saja, aku berlagak seperti bos sekarang. Toh, semua terjadi karena kesalahan Andrew yang sangat gegabah dan tidak sabaran. Aku perlu membuatnya jengah, kesal, atau bahkan marah. Yah, meski semua itu terasa mustahil. Lantaran Andrew tidak pernah mampu memarahiku. Mungkin, kecuali saat-saat genting.


Aku hanya mendengar langkah kakinya yang semakin mendekati diriku. Tanpa kupedulikan dirinya, aku masih menikmati pemandangan luar yang sangat cerah dan berbeda dengan situasi tadi malam. Bahkan, posisi dudukku terbilang tidak sopan. Kedua kaki kuangkat diatas kursi seperti sedang bersantai di rumah sendiri.


Kini Andrew telah sampai dihadapanku, ia duduk berjongkok tepat dibawah dan didepanku. Kutilik dirinya, kutatap wajahnya, apa maksudnya berbuat seperti ini? Mau merayu aku lagi?


"Apa?" tanyaku kemudian.


"Makan yuk," ajaknya. "Kamu belum makan dari pagi lho."


Aku menggeleng pelan sembari menolaknya, "aku nggak selera, Ndrew."


"Hmm... kamu udah kurus, jangan nggak makan, nanti sakit."


"Biarin."


"Navya? Aku udah masakin makanan kesukaan kamu lho."


"Yaudah kamu aja yang makan."


Ia meraih telapak tanganku. Kemudian, ia merebahkan kepalanya diatas kakiku yang berada ditepian kursi santai ini. "Jangan gini sih, kesannya kayak nyembah aja," ujarku kemudian.


"Makan yuk."


Karena Andrew sampai berbuat seperti ini, akhirnya aku merasa iba lagi. "Yaudah kalau gitu kamu yang nyiapin. Aku tinggal makan aja," ujarku kemudian.


"Ya! Setuju, Tuan Putri."


Lantas, kami segera mengambil langkah ke dapur, tepatnya ke meja makan. Kutatap pungguh Andrew yang gagah dari belakang. Sudah lama sekali aku tidak memperhatikan gerak-gerik yang ia lakukan. Meski hampir setiap hari bertemu, namun aku terkesan acuj dan menghindarinya. Sampai akhirnya aku disini, semua usahaku untuk menjauhi dirinya selalu sia-sia begitu saja.


Tak kusangka, sesampainya di meja makan, telah tersaji nasi dalam baskom berukuran sedang serta dua menu lauk pauk. Andrew benar-benar memasakkan sebuah hidangan kesukaanku. "Kamu kapan belanjanya?" tanyaku kemudian.


"Pas kamu lagi ngalamun, Navya," jawabnya sembari menyajikan makanan untukku.


"Oh ya? Emm... dikit aja, daripada nggak abis."


"Siap Nona Cantik."


"Oke, makasih."


Kemudian ia menarikkan satu kursi untukku. Memberikan sendok makan dan segelas air putih kepadaku. Entah, harus berterima kasih atau bagaimana. Aku tidak mengerti akan berlaku seperti apa kali ini.


Sesuap demi sesuap nasi, kutelan dengan rasa miris di hati. Yah, seperti yang aku bilang tadi, aku belum cukup berselera. Terlebih makanan yang Andrew masak sedikit keasinan. Aku rasa, ia pun banyak pikiran yang sama denganku.


"Asin ya?" tanyanya yang ternyata juga menyadarinya.


Aku mengangguk pelan. Lantas menjawabnya, "iya. Tapi nggak parah."


"Maaf ya. Namanya juga laki hehe."


"Emm..."


"Kamu sakit kan, Navya?"


"Nggak."


"Wajahmu memerah. Tadi pas aku sentuh kulitmu, kamu demam."


"Masa'? Tapi aku nggak sadar."


"Mungkin efek kehujanan tadi malam. Jangan banyak pikiran dulu ya, aku akan bertanggung jawab atas sikapku. Hari ini, kalau belum siap pulang, kamu disini dulu. Aku mau merawatmu."


Aku terdiam. Sepertinya aku memang demam, karena pening sejak tadi pagi belum kunjung menghilang. Belum lagi, aku merasakan kedinginan sampai sweater milik Andrew tidak terlepas sekalipun dari badanku.


Tidak ada pilihan lain, selain bertahan ditempat ini. Untuk sekarang aku tidak bisa menghubungi siapapun. Lagipula jika bisa, aku akan menghubungi siapa? Tidak mungkin mama, karena beliau sangat dekat dengan papa. Sebelumnya, aku ingin meminta Sita, namun aku tidak ingin melibatkan sahabatku tersebut ke dalam masalahku.


"Emm... a-aku numpang dulu. Mungkin besok kalau udah nemu tempat tinggal baru, aku bakal keluar," izinku kepada Andrew.


Andrew menghentikan aktivitas menyantapnya sejenak. Ia menatapku, "tempat ini selalu terbuka buat kamu, Navya. Bahkan dalam waktu lama sekalipun, aku pasti akan senang hati untuk menerima kamu."

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Tapi nggak mungkin kita berada disatu atap terlalu lama, aku juga takut papaku melibatkan polisi untuk mencariku."


"Aku bisa nyari tempat lain. Kamu disini aja dulu."


"Nggaklah, Ndrew. Ini rumah kamu, kenapa kamu yang harus nyari tempat?"


"Mana mungkin, aku biarin kamu kesusahan sendiri. Kamu tahu kan? Aku sayang banget sama kamu."


"Aku tetep nggak mau. Lagian besok hari libur kok, jadi aku bisa nyari tempat lain, semacam kos-kosan yang murah."


"Nggak!"


"Kenapa emang?"


"Ngekos itu nggak gampang. Panas, sempit, kamu belum ngerasain kan? Biar aku aja, aku udah pernah."


Aku menatap wajah Andrew dalam-dalam. Ia cukup serius dengan niatnya. Disini muncul otak licikku. Meski iba dan tidak tega, tapi sepertinya patut dicoba. Hal ini bisa menjadi pertimbanganku untuk membuat keputusan berikutnya. Lagipula, ini kan akibat kesalahannya.


Kuhela napasku dalam-dalam, aku mencoba lebih tenang sebelum menjalankan rencanaku. Yah, menjadi orang yang jahat itu tidaklah gampang. Oh, bukan! Aku tidak jahat, aku hanya memanfaatkan tawaran yang ada.


"Oke, deal! Besok kamu yang nyari kos-kosan. Aku yang disini," ujarku mantap.


Andrew menghela napas lega. "Iya. Nggak akan ada yang tahu, kalau kamu ada disini," jawabnya.


"Emm... kamu serius? Aku nggak punya uang buat bayar apartemen ini lho."


"Ini kan tahunan, Sayang."


"Terus kalau kerabatmu datang kesini, gimana?"


"Nggak bakalan. Tenang ya kamu."


"Yakin, kamu nggak apa-apa tinggal diluar?"


"Enggak sih. Tapi, kalau kamu mau tinggal sama aku, aku tetap disini."


"Enak aja!"


Andrew terkekeh, namun aku menangkap urat masam setelahnya. Aku mencoba bersikap tidak peduli, lagipula ini bukan kemauanku.


Karena merasa pusing lagi, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan dapur dan menuju ruang santai. Aku memandangi dinding-dinding ruangan ini, yang masih sama seperti dulu kala. Namun, gerakan mataku terhenti saat mendapati sebuah foto yang terbingkai cantik diatas sebuah almari. Itu diriku, diriku yang tengah menengok ke samping dengan latar ditempat ini. Lantas, aku meraihnya. Dahiku berkerut tatkala menatap foto tersebut.


Sejak kapan ada foto diriku disini? Bukankah ini?


Ah... aku ingat, sepertinya ini foto yang telah lama. Kemungkinan besar, pada saat hubunganku dan Andrew belum seburuk sekarang. Bisa dibilang pada saat aku menjalin hubungan tanpa status dengannya. Namun, aku tidak menyangka ia melakukannya secara diam-diam. Senyuman tipis kukembangkan di bibirku. Aku heran dengan sosok Andrew yang konyol hanya karena cinta dari seorang wanita.


"Cantik ya?" tanya Andrew tiba-tiba.


"Iya, banget hehe," jawabku kemudian.


Andrew bergerak menghampiri diriku lagi. Ia berdiri tepat dihadapanku. Ia menatapku, nyaris tak berkedip. Aku rasa, ia tengah menahan kerinduannya dalam waktu yang lama. "Dasar bucin!" ujarku kemudian.


Ia tersenyum. Lantas, menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku tidak bisa menghindar, namun sebisa mungkin kujauhkan wajahku darinya. Ketika ingat bahwa tanganku masih membawa bingkai foto, aku segera menutup setengah wajah bawahku dengan benda tersebut.


"Bener, aku bucin. Makanya aku bisa segila ini, Navya," ujar Andrew.


"Boleh saja, tapi jangan berbuat buruk lagi kayak semalem dong. Sekarang, masalahnya makin besar kan? Suruh sabar susah banget," jawabku.


"Aku terlalu sakit, Sayang. Rasanya kayak mau mati, cuma pengen ketemu kamu."


"Oh ya? Kebanyakan nonton drama kali."


"Enggak."


Andrew mendekatkan wajahnya kepadaku. Namun, aku segera mundur dan mendorongnya. Upayaku berhasil, ia tidak melanjutkan niatnya. Meski, tangannya tak kunjung lepas dari lingkaran pinggangku. Aku tidak bisa membayangkan, jika Andrew tetap kekeh satu atap denganku dalam situasi seperti ini. Bisa-bisa, kami melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan.


"Jadi gimana? Kamu nerima aku kan?" tanyanya lagi.


"Iya," jawabku.


"Beneran?"


"Nggak juga."


"Terus?"


"Aku mau nerima kamu, seperti kamu memperlakukan diriku pada saat itu."

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Hubungan tanpa status, dengan satu orang yang tidak aku ketahui."


Andrew terdiam seketika. Sepertinya, ia tengau gusar. Entah, ide ini muncul darimana. Namun, sepertinya menarik untuk dilakukan. Aku ingin Andrew merasakan apa yang aku rasakan saat itu. Hubungan tanpa status, diambang ketidak pastian dan tentunya tidak memiliki aturan khusus didalamnya.


Kini kami saling bertatapan, seolah menimbulkan suara jitz diantara mata kami. Aku menyeringai licik kepadanya. Andrew tampak menelan ludahnya, terbukti saat jakun dilehernya bergerak naik dan turun. Namun, setelahnya ia menarik diriku lebih dekat lagi. "Aku terima...," bisiknya kepadaku.


Aku mencoba melepaskan diriku darinya. Dan yeah! Akhirnya berhasil. Lantas aku berkata lagi, "ingat didalam hubungan tanpa status, tidak ada aturan apapun seperti orang pacaran."


"Yah, aku tahu. Tapi, kita lihat saja nanti, aku yang akan menang. Dan akhirnya kamu jatuh ke dalam pelukanku secara sempurna."


"Darimana kamu tahu? Bisa aja, aku ketemu cowok lain dan lebih tertarik dengannya."


"Karena bukti hatimu dan tindakanmu tadi malam, udah memperlihatkan akhir dari tantangan ini."


"Ck! Anda terlalu yakin."


"Silahkan kamu cari cowok lain sebagai pelampiasan, Navya. Aku disini memilih setia sama kamu. Lalu setelah kamu puas mengenal orang lain, kamu akan kembali lagi padaku. Anggap saja kita impas dengan kesalahanku waktu itu. Asal aku bisa terus disisimu tanpa penolakanmu lagi."


"Hmm.. oke, deal! Tapi, kamu jangan ngeluh kalau aku manfaatin kamu."


"Tidak akan."


Kesepakatan pembalasan ini akhirnya dibuat dengan sebuah salam tangan. Menarik bukan? Mungkin ini cara terbaik untuk semua upaya Andrew. Secara, aku tidak bisa menerimanya dengan sukarela lagi. Mulai hari ini, kami resmi menjalin hubungan tanpa status atas kendaliku bukan kendalinya.


Lantas, siapa lelaki yang akan menarik minatku selain Andrew? Haruskah Haris? Pria itu sangat menyeramkan. Aku tidak bisa membayangkan jika ia tahu apa yang aku lakukan sekarang. Bisa-bisa, Andrew digilas habis olehnya. Baiklah! Sepertinya aku harus lebih memperhatikan pria lain, siapa tahu ada yang menarik minatku dan melepaskan jerat Andrew maupun Haris atas diriku.


"Berarti aku bisa memperlakukanmu seperti dulu lagi, kan?" tanya Andrew tiba-tiba.


Aku menelan ludahku seketika. Aku melupakan tentang hal sepenting ini. Harus ada sebuah cara agar ia tidak berbuat sesuatu buruk kepadaku. "Enggak! Enak aja kamu!" ujarku kemudian.


"Lho? Kenapa? Itu yang terjadi saat kita masih dekat, Navya."


"Itu dulu. Saat aku masih bodoh. Sekarang nggak bisa dong, harus ada batasan. Kamu harus ingat Andrew, aku yang berkuasa dalam hubungan ini."


"Oke. Batasnya dimana?"


"Cukup ketemu aja."


"Aku nggak bisa. Butuh kontak fisik."


"Ehh... pegang tangan aja."


"Lebihin dikit lagi."


"Ogah! Itu udah cukup banyak."


Aku segera mengambil langkah pergi meninggalkan Andrew dan duduk diatas sofanya. Lalu, kunyalakan sebuah televisi miliknya. Tengkukku kaku seketika. Ternyata, aku masih terlalu bodoh. Seharusnya aku memikirkan akan masalah itu. Lantas, apa yang harus aku lakukan jika Andrew nekat?


Tiba-tiba Andrew menjatuhkan dirinya tepat disampingku. Aku terkejut bukan kepalang sampai kupukul bahunya menggunakan remote televisi. "Jangan macem-macem kamu, Ndrew!" seruku kepadanya.


"Enggak akan. Tapi, Vya, boleh aku bertanya?" ujarnya.


"Bo-boleh sih. A-apa?"


"Apa kamu emm... apa cowok dari papa kamu pernah menyentuh kamu?"


"Ehh??? Se-sepertinya nggak pernah."


"Yakin?"


"I-iya dong yakin. Emm... e-emangnya kalau aku pernah disentuh kenapa? Kalau enggak kenapa? Kalau seandainya aku udah ternoda, kamu bakalan jijik kan???"


"Enggak. Aku tahu kamu bisa menjaga diri, Sayang. Tadinya kalau itu benar aku bakalan habisin dia dan bertanggung jawab atas kamu."


"Ck! Yakin banget, ingat hubungan kita sekarang Andrew. Kamu tidak berhak ikut campur dengan hubunganku bersama orang lain. Dan itu udah termasuk kesepakatan."


"Iya... aku ingat. Tapi, mau sedekat apapun kamu sama orang lain nantinya. Jangan pernah berbuat sesuatu yang aneh ya? Jaga diri baik-baik."


"Itu pasti."


"Tidurlah dibahuku. Kamu demam, Navya. Nanti aku belikan obat."


Andrew berhenti bertanya apapun lagi. Ia merangkulkan tangannya dipundakku, aku pun menerima untuk sekedar merebahkan kepalaku yang masih pening. Aku masih khawatir kalau untuk tidur di kamar miliknya. Kami menyaksikan acara televisi, meski sejatinya pikiran kami melayang terbang yang entah kemana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2