Who Is My Love

Who Is My Love
Merasa Aneh


__ADS_3

Aku terus memikirkan dugaanku itu sepanjang malam dan percayalah, aku tidak bisa tidur dengan tenang. Bagaimana tidak, aku menginap di apartemen seseorang yang aku curigai. Dan kemungkinan besar, apa yang aku pikirkan itu benar. Kak Kate berbohong kepadaku, ia masih menyimpan sejumlah rasa curiga dan cemburu. Bahkan, bisa jadi ia mendekatiku untuk memanfaatkan diriku, maksudku mencari tahu sejauh mana aku dan Affandy saling mengenal.


Bahkan, kerisauan itu awet sampai sekarang. Sangat mengganggu konsenterasiku dalam bekerja. Beberapa kali, aku menghela napas dalam dan mengembuskannya secara kasar. Juga sering mendengkus kesal diam-diam. Mengapa pula, aku harus terlibat dengan kisah cinta mereka berdua? Bahkan, sejauh aku mengenal Affandy, aku tidak pernah tertarik secara khusus kepada lelaki itu. Namun, yang terjadi sekarang justru aku sudah seperti pengganggu di antara hubungan mereka berdua.


"Kamu kenapa sih, Vya?" tanya Andrew kepadaku sembari melongokkan kepalanya di bilik kerja.


Aku menatapnya, kemudian menggelengkan kepala. "Aku enggak apa-apa kok, Ndrew," jawabku berbohong.


"Yakin? Kerjaan terlalu banyak, kah? Aku bisa bantu kok."


"Ah, enggak kok. Malahan, bentar lagi beres semua."


"Iya, harus. Bentar lagi pulang. Kalau ada masalah ngomong ke aku, ya?"


Aku mengangguk pelan. "Iya, Ndrew."


Tiba-tiba Elena datang, membuyarkan pandanganku seketika. Matanya yang berwarna abu-abu menatapku dan Andrew secara bergantian, bagaikan ingin menerkam. "Sudah selesai?" tanyanya dalam bahasa inggris dengan arti seperti itu.


"Sedikit lagi," jawabku.


"Oke."


Selama hubunganku dan Andrew terkuak, memang kami berdua seperti diamati dan diawasi. Mungkin takut jika kami tidak profesional dalam bekerja. Belum lagi, ada mulut-mulut julid dari teman-teman Linseyld. Memang, wanita itu tidak lagi mengganggu hubunganku dengan Andrew, tetapi masih ada tatapan benci yang kerap kali ia berikan kepadaku. Huh! Rasanya menyebalkan, tetapi itulah resiko yang harus aku tanggung selama masih bekerja di tempat ini dan selama wanita itu masih menjadi rekan kerjaku.


Kemudian, aku kembali berfokus pada monitor komputer kerjaku. Mengerjakan sisa-sisa pekerjaanku dengan teliti. Tentu saja, aku sangat bekerja keras untuk menghilangkan segala kerisauan hatiku tentang Kak Kate dan juga Affandy. Detik jam terus berjalan, waktu menunjukkan setengah jam sebelum waktu pulang. Beruntung, hari ini pekerjaanku bisa cepat selesai, pun meski harus ada gangguan di dalam otakku.


Sampai setengah jam berikutnya, aku berhasil menyelesaikan semuanya. Bahkan, bertepatan dengan waktu pulang kerja. Kurapikan berkas-berkas yang berserakan di atas mejaku. Melakukan beberapa proses pekerjaanku serta laporannya. Setelah itu semua selesai, baru aku kembali ke meja kerjaku lagi demi mengambil tas selempang aga besar yang aku bawa.


Andrew mendatangiku. Kemudian, ia tersenyum kepadaku. "Ayo kita pulang, Vya," ajaknya.


Aku mengangguk pelan untuk ajakannya. "Ya, ayo, Ndrew," jawabku.


"Mau mampir ke suatu tempat dulu enggak?"


Aku menggelengkan kepala. "Enggak deh. Aku capek dan ngantuk banget, pengen rebahan."


"Tapi, bolehlah di tempat aku."


"Itu gampang, Sayang."


Aku menyamakan langkah dengan Andrew. Kami berjalan bersama untuk meninggalkan ruang kerja yang tinggal beberapa rekanku yang belum menyelesaikan tugasnya. Keadaan di luar sudah ramai. Antrian elevator pun sama. Kami hanya bisa menunggu dengan duduk membuang sedikit letih di kursi panjang tanpa sandaran.


Kutatap ke segala penjuru arah dengan pikiran yang masih berkecamuk. Nanti, jika aku bertemu Kak Kate dan Affandy, wajah apa yang mestinya aku pasang? Senyum sedikit saja pasti akan salah, takut jika Kak Kate salah paham. Menyebalkan sekali rasanya, tetapi tidak bisa melarikan diri dari ini semua.


Sialnya, aku benar-benar menangkap keberadaan mereka berdua. Kak Kate di belakang Affandy dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Sepertinya tidak ada perbincangan yang terjadi. Lebih sialnya lagi, mereka menatap aku dan Andrew yang duduk dengan jarak sekitar sepuluh meter dari mereka.


Datang beberapa rombongan karyawan yang menghalangi pandangan kami. Hal itu aku ambil sebagai kesempatan untuk melarikan diri. Aku menarik tangan Andrew seketika. Kami berdua bergabung dengan kelompok itu dan berusaha menghindari kontak mata dengan Affandy dan Kak Kate.


"Kenapa sih? Masih rame lho?" tanya Andrew kepadaku.


Aku menatapnya sekilas. "Aku udah pengin pulang, capek," jawabku berbohong kepadanya.


"Kamu aneh. Ada apa sebenarnya, Navya?"


"Ah, nanti aku ceritain deh. Kayaknya Raya dan Sinta juga udah nunggu kita di bawah, enggak enak kalau lama-lama."


"Janji, ya?"


"Iya, jangan bawel. Aku beneran pengin cepet-cepet pulang, Sayang."


"Ya, ya, ya, oke deh."


Andrew tidak lagi banyak bertanya setelah itu. Mau bagaimana pun, aku menyembunyikan masalahku, ternyata ia tetap merasa ada yang aneh pada diriku. Apa ini yang dinamakan telepati hati sepasang calon pengantin? Entahlah, aku rasa itu hanya mitos.


Kami terus berjalan cepat sampai di salah satu elevator perusahaan ini. Bahkan, aku mencoba menyerobot tanpa mau mengantri terlebih dahulu. Tentu saja hal itu membuat karyawan lain yang entah dari divisi mana menjadi marah seketika. Kotak bernama lift itu kini telah menutup pintunya secara otomatis. Sedang tanganku masih saja menggandeng tangan Andrew, bahkan tanpa aku sadari. Sampai akhirnya aku lepas, karena merasa tidak nyaman jika menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


"Hati-hati, enggak usah buru-buru. Rumah itu enggak akan pindah kok," celetuk Andrew di dekat telingaku.


Aku yang sempat terkejut, spontan menatapnya. "Aku enggak buru-buru," jawabku berkilah.


"Enggak mungkin enggak, bukti nyata udah ada."


"Iya, terus kamu mau apa?"


"Aku mau kamu."


"Malu-maluin, Andrew."


"Mereka enggak paham bahasa kita."


"Itu mustahil, banyak orang Indo di sini."


"Terus kenapa?"


"Berarti bahasanya enggak terdengar asing lagi."


"Ya udah, biarin."


"Dasar!"


Tak lama kemudian, pintu lift kembali terbuka. Dengan gerak cepat, aku keluar dari kotak penghubung lantai demi lantai itu. Andrew mengikutiku dari belakang dan tampak kewalahan, nyaris berlari.


Benar saja, di pos security tampak Raya dan Sinta sedang menunggu kami.


"Udah lama, Ray, Sin?" tanyaku kepada mereka pada saat sampai di hadapan mereka.


"Enggak, Nav. Tapi taksi pesanan udah nunggu di luar, yuk kita pulang," jawab Sinta. Sedangkan Raya hanya menggeleng saja.


Detik berikutnya, kami berempat bergegas bersama untuk menuju taksi yang telah di pesan berada. Andrew meraih tanganku tiba-tiba. Ketika aku menatapnya, ia hanya tersenyum.


Perjalanan dimulai, ketika kami telah berada di dalam mobil taksi itu.


Setelah sampai di rumah, aku tidak langsung naik ke atas, melainkan duduk bersantai bersama Andrew di lantai bawah. Namun saat ini, ia masih mengambilkan minuman dingin untukku. Betapa rajin dan manisnya kekasihku itu, dan aku mencintainya. Meski begitu, masih ada saja orang yang mencurigaiku.


"Ini, minum dulu, Sayang," ujar Andrew sembari memberikan segelas air dingin untukku. Kemudian, ia duduk tepat di sampingku. "Kamu ada masalah apa?"


"Makasih minumannya," jawabku.


"Hem ... ada masalah apa?"


Aku memberanikan diri untuk merebahkan kepalaku di atas pangkuan Andrew karena rasa penat yang tidak terkira. Ia menyambutku dengan baik dan justru memberikan belaian halus di rambut kepalaku. "Sebenarnya, enggak ada masalah apa pun, Ndrew. Cuma aku agak curiga sama sikap orang."


"Siapa?"


"Kak Kate."


Dahi Andrew mengernyit, mungkin merasa heran atas pengakuanku. Terlebih, tadi malam aku masih menginap di apartemen milik pujaan hati Affandy itu. "Kok bisa? Kamu tadi malem berantem apa?"


Aku menggeleng. "Enggak sih. Cuma emang ada pertengkaran."


"Kamu, kan?"


"Bukan, Sayang. Tapi Kak Kate sama Affandy."


"Oh ... terus kenapa kamu curiga kayak gitu?"


"Emm ... dari pertengkaran itu, aku tahu kalau Kak Kate sebenarnya masih cemburu sama aku soal Fandy. Kamu tahu sendiri, kan? Dulu Fandy gimana sama aku, bukannya aku mau sok cantik. Malahan, aku enggak ada apa-apanya kalau dibanding Kak Kate, cuma ya itu ... aku curiga Kak Kate ngedeketin aku cuma mau cari info soal aku dan Fandy."


Andrew menghela napas. Entah apa yang ada di dalam pikirannya setelah aku menceritakan semuanya. Aku berharap, ia bisa membantuku dengan saran yang bisa membuatku lebih tenang.


Cukup lama, Andrew terdiam. Pun meski, tangannya tidak berhenti dalam memberikan belaian. Di sini, aku menjadi semakin bimbang. Jangan-jangan aku memang berbuat kesalahan atau sikapku sangat mengganggu orang lain? Jika benar seperti itu, berarti yang salah adalah diriku dan bukan orang lain.

__ADS_1


"Ndrew, kok kamu diem sih?" tanyaku kemudian. Aku harus mendapatkan jawaban atas sikap diamnya itu.


"Ya, aku sih enggak bela siapa pun ya, Sayang. Soalnya, wajar sih kalau jadi Kate," jawabnya.


"Kok gitu? Katanya enggak bela siapa-siapa?"


"Gini, soalnya aku pun masih agak gimana gitu kalau lihat Pak Fandy, apa lagi kalau ngobrol sama kamu. Kita juga enggak tahu hati orang, kan? Siapa tahu Kate sering lihat kamu ngobrol sama Pak Fandy, jadi masih cemburu. Walaupun dia ngedeketin kamu tanpa niatan apa pun."


"Tapi, aku kan enggak banyak ngobrol lagi sama Fandy, Ndrew. Dan sekali pun iya, pasti soal kerjaan kok."


"Dan sekali pun iya, orang kan lihatnya dari jauh. Apa lagi ada history soal kamu dan Fandy, belum lagi panggilan akrab kamu sama dia. Kalau boleh jujur, aku juga merasa terganggu, Vya."


Aku terdiam. Memang benar, selama ini aku tidak menyadari tentang hal itu. Dengan kata lain, aku tidak berusaha menjaga perasaan orang lain. Semenjak kasus pertengkaranku dengan Linseyld, hubunganku dengan Fandy memang membaik. Namun dalam kontek pertemanan, hanya saja aku tidak menyadari kemungkinan kecemburuan dari Andrew dan juga Kak Kate.


Jadi, apakah sekarang bisa disimpulkan jika aku yang bersalah? Namun, aku juga tidak mau jika dibohongi. Jika Kak Kate percaya kepadaku, seharusnya ia tidak menutup-nutup apa yang ia takutkan atas diriku. Jika seperti ini, aku menjadi bingung sendiri.


"Maaf, Navya," celetuk Andrew tiba-tiba.


Aku menatapnya dengan heran. "Apanya yang maaf, Ndrew?" tanyaku kembali.


"Karna aku jatuhnya enggak belain atau ngasih saran ke kamu. Maaf, ya? Bukan giyu maksud aku."


Aku menghela napas dan kembali aku hembuskan. Detik berikutnya, aku membangunkan diriku. Di samping Andrew, aku tetap duduk. Kukecup sekilas bibirnya yang berwarna merah muda itu. Ia sontak terkejut. Ya, karena ini pertama kalinya aku berlaku demikian.


"Kamu jangan cemburu-cemburu lagi. Aku kan calon istri kamu," ujarku kemudian. Aku kembali mengecup bibirnya sekilas.


"Jangan rayu aku cuma buat dapet kepercayaan dari aku, Vya," tukas Andrew.


"Itu tulus, aku sayang padamu. Kalau enggak mau, ya aku tarik lagi."


"Mana bisa begitu? Udah membekas, enggak bisa ditarik. Yang ada mau lagi dan lagi."


"Cukup! Dua kali aja, kita masih bau polusi udara. Belum mandi pula."


"Aku enggak peduli, selama itu kamu dan kamu seorang."


"Kan udah dua kali."


"Hanya sekilas, enggak ada rasanya."


"Terus mau kamu apa?"


"Begini ...." Andrew menarik wajahku. Aku yang terkejut sampai tidak menutup mata akibat keromantisan itu. Namun, segera aku pejamkan mataku pelan-pelan sembari berhati-hati atas ulahnya. Pun meski sudah lamaran, aku tetap tidak mau jika melewati batas sebelum pernikahan.


Selang beberapa detik kemudian, Andrew menyudahinya. Ia tersenyum bak memenangkan sebuah hadiah. Aku membalasnya dengan semanis mungkin. Kemudian, kujatuhkan diriku ke dalam pelukannya. Ia membelai kepalaku dengan lembut, sesekali ia berikan kecupan manis di keningku.


Hubungan kami sudah semanis ini, mana ada aku suka kepada orang lain. Seharusnya, Kak Kate memikirkan aku dan Andrew bukan aku dan Affandy. Jelas di antara aku dan atasanku itu tidak ada hubungan apa pun. Jujur, aku sedikit kecewa. Seperti ini rasanya tidak dipercayai, menyesakkan hati.


"Jangan ke mana-mana lagi, Vya," ujar Andrew lagi. Mungkin, ia kembali mengingat tentang masa lalu kami.


"Enggak akan. Tapi, kamu juga jangan bohong lagi, ya?" balasku.


"Enggak akan."


"Janji?"


"Ya, janji."


"Jadi, tepati ya?"


"Tentu, Sayang."


"Emm ... jangan hanya perkataan aja."


"Iya, aku janji untuk calon istri yang cantik ini."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2