
Awan putih yang cerah, pagi yang indah. Semangat baru terus memburu. Sudah dalam waktu kurang lebih lima bulan aku disini. Perlahan tabunganku terkumpul. Hubunganku dengan Andrew semakin erat, sehat dan tentunya aku yang mendominasi. Sebenarnya aku hanya ingin menguji dirinya lagi, ternyata ia cukup penurut. Bahkan pada saat aku ingin memotong rambutku yang mulai memanjang, ia mengizinkan. Aku pikir, Andrew akan mencegahku. Seperti Affandy yang mendesakku berpenampilan seperti dulu. Ternyata tidak sama sekali.
Hal itu membuatku semakin yakin bahwa Andrew tidak mau membuatku terluka lagi. Ia masih sama, gemar mengalah dalam setiap masalah. Namun bukan berarti membuatku semena-mena. Aku masih menghargainya, seringkali kukatakan ucapan maaf untuk tingkahku yang terkadang menyakitinya. Dan kini, aku sudah ingin menyelesaikan permainan ujian itu. Aku ingin hubungan kami saling memberi pengertian.
Pagi yang cerah, semangat untuk bekerja lagi. Semakin lama, aku sudah mulai terbiasa dengan tumpukan pekerjaan. Tidak terlalu banyak mengeluh lagi, apalagi disaat gaji turun. Rasa hatiku menjadi luar biasa bahagia. Saat-saat seperti itu yang kuingat adalah sosok papa. Perlahan tapi pasti, aku bisa segera menebus papa dari jeruji besi itu. Aku sudah tidak sabar. Mungkin saat papa sudah keluar, aku berencana untuk pulang dan mencari pekerjaan baru di tanah air. Yah, sebagus-bagusnya negara ini, tanah kelahiran adalah yang terbaik.
"Navya?" Seseorang menyebut namaku. Sampai aku menatap sang pelaku sesaat setelah turun dari taksi bersama teman-temanku.
"Hai, Kak Kate." Kate tersenyum, ia melenggak-lenggok untuk menghampiriku. Sehingga membuat Raya dan Sinta pamit lebih dulu. Dan aku mengangguk pelan.
"Nanti, makan siang bareng ya?"
"Emm ...." Aku menatap ragu diiringi tatapan mataku yang memandang Andrew. Lelaki itu tersenyum saja.
"Halah, iya aja. Aku lagi bebas kerjaan siang nanti. Ndrew, aku pinjem istrinya dulu ya? Hehe."
Andrew memberikan senyumannya kepada Kate. Ia menjawab, "boleh, Kate. Tapi terserah Navya aja."
"Gimana, Nav?"
Aku masih ragu. Belakangan ini aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Kate dan mengabaikan Andrew. Walau sebenarnya hal ini cukup menguntungkan bagi hubungan kami. Dengan begitu, hubungan kami masih bisa ditutupi. Namun disatu sisi, aku merasa tidak enak terhadapnya. "Lain kali lagi aja ya, Kak?" usulku dengan nada ragu-ragu.
"Duh .... yaudah deh hehe. Mungkin aku terlalu sering minjem kamu, Nav. Kasian si doi." Kate berkata demikian sembari menunjuk ke arah Andrew.
Andrew pun tampak malu-malu dengan tingkahnya yang menggerakkan tangan dibelakang lehernya. "Kamu terlalu serakah, Kate. Jangan gegara si Bos jadi suka sama Navya lho," ujarnya.
"Hahaha .... ngawur kamu, Ndrew. Aku udah nggak peduli sama dia." Meski terkekeh dan mengatakan itu, aku bisa melihat bahwasanya sorot mata Kate tampak kecewa dan malu.
Maka dari itu, aku langsung mencubit lengan Andrew supaya menghentikan gurauan tidak pantas itu. Selanjutnya aku mencari cara supaya hal ini terasa adil. Akhirnya aku mulai mengusulkan sesuatu lagi, "kita nanti makan siang bareng aja. Anggep aja aku dan Andrew nggal pacaran, Kak."
"Wah! Parah kamu, Sayang," cetus Andrew.
Kate kembali tertawa. "Oke, aku ikut usulan itu. Anggep aja aku sebagai orangtua yang mengawasi anak-anak pacaran hehe. Emm .... nanti ya? Aku harus masuk, si Bos nungguin."
Aku mengangguk mantap. Selanjutnya Kate meninggalkan kami berdua. Kami hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Menyusuri lantai gedung ini.
"Nggak terasa ya? Kita udah disini hampir setengah tahun," ujarku.
"Hampir sama kayak usia hubungan kita, Sayang. Tapi sampai sekarang, aku belum memberikan yang terbaik buat kamu." Andrew menunduk menatap lantai-lantai yang kami tapaki.
Plak! Aku menepuk kencang punggungnya sembari memutar bola mata dengan sinis. Ia terkejut dan mengaduh sakit. Ya, aku tidak suka jika merendahkan diri seperti ini. Semua yang ia lakukan sudah teramat banyak untukku. Rasanya aku malah sedang disindir olehnya. Aku tidak mau jika Andrew berpikir demikian. Bagiku kehadirannya dihidupku, pembuktian cintanya, bahkan semua ucapan maaf yang ia katakan setiap hari sudah cukup. Jika ia masih berkata atau berpikir demikian malah membuatku merasa muak.
Baiklah, aku akui Andrew bukanlah Nevan, Haris ataupun Affandy yang mungkin bisa memberiku segalanya. Namun seandainya ia sama seperti mereka, aku tidak mau terlalu banyak meminta, apalagi soal materi. Mungkin jika hal kecil seperti traktir makan, aku tidak bisa menghindari. Namun untuk barang mewah, aku tidak seperti itu. Andrew adalah satu-satunya orang yang aku cintai. Lagipula ia bukan orang yang miskin, ia memiliki pekerjaan yang gajinya lumayan tinggi. Tidak pantas jika ia masih merasa demikian.
"Hei, Ndrew. Nggak bisakah kamu sapa aku sekali saja?" Linseyld tiba-tiba menghadang kami. Aku tertegun sekaligus terkejut. Sudah sejauh ini, masa' ia belum melupakan perasaannya terhadap Andrew?
"Aku bersikap biasa aja, Lin," jawab Andrew.
"Heran ya, kalian terlalu sering bareng. Tadinya aku pikir hanya sebatas sahabat. Tapi, sejauh ini kurasa lebih dari itu."
Andrew menghela napas dalam. "Ayo, Vya. Udah siang."
"Eh?"
__ADS_1
"Andrew! Aku suka padamu!"
Dug! Aku menabrak punggung Andrew yang tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah Linseyld. Aku sibuk mengamati keadaan sekitar. Malunya diri ini, banyak karyawan yang mengamati.
"Apa maksud kamu berkata sekencang itu, Lin? Bukankah aku sudah menegaskan bahwa aku sudah memiliki kekasih?"
"Aku tidak percaya sebelum gadis itu ada disini. Hiks .... aku mencintaimu, sangat. Aku tidak peduli kalau sekarang sedang menjadi tontonan."
"Astaga! Kamu ini baru mengenalku, Lin. Ambisi macam apa itu? Ayo, Navya."
Andrew menggenggam tanganku. "I-iya."
Apa semua orang di dunia ini bisa segila itu pada cinta? Aku heran kepada wanita itu, seolah mengingatkanku pada sosok Haris dalam bentuk wanita. Atau ini karma untukku? Jika dulu Andrew harus melihat Haris yang kerasa kepala bersamaku. Kini aku harus melihat Linseyld yang tergila-gila pada kekasihku itu.
"Ck! Dunia udah gila," gumamku.
"Maaf, Vya. Aku nggak ada maksud kayak tadi. Nanti aku ceritakan ya, maaf banget," jawab Andrew.
"Bukan salah kamu kok. Aku juga pernah bertemu dengan orang seperti itu, semacam Haris."
"Tetep aja. Aku ingin segera pulang dan menjelaskan semuanya."
"Ya, aku percaya padamu, Ndrew."
Meninggalkan Linseyld dan kami masuk ke dalam ruang kerja. Aku duduk di tempat kerjaku sendiri, begitu pun dengan Andrew. Kami menunggu briefing digelar. Selanjutnya bekerja. Meski saat ini, situasi kami benar-benar tidak nyaman. Seolah sedang diawasi oleh sepasang mata. Aku memang terganggu, namun berlaku sebaik mungkin. Aku berfokus pada pekerjaan.
Setelah ini, aku akan membicarakan lagi dengan Andrew. Haruskah kami mengaku dihadapan Linseyld atau tidak.
Selang waktu berjalan, jam makan siang telah datang. Aku telah ditunggu oleh Kate sejak tadi. Sedangkan Andrew memilih lembur dan menyarankan aku berdua saja dengan Kate. Sebenarnya aku sedikit khawatir dengan keberadaan Linseyld. Namun, apa mau dikata? Andrew masih memiliki tanggungan pekerjaan yang mengharuskan dirinya bekerja di waktu siang. Sedangkan diriku tidak enak hati jika membuat Kate menunggu sia-sia.
"Ayo, Kak," ajakku kepada Kate.
"Udah? Andrew mana?" tanya Kate.
"Lembur, Kak."
"Hmm ... harusnya nggak perlu maksa. Nggak makan?"
"Mungkin pesen sama OB."
"Gimana sih kamu, Nav. Ck!"
"Hehe .... lagian aku didesak buat ikut. Yaudah yuk."
Aku dan Kate berjalan keluar bersama. Tapakan demi tapakan kami lalui untuk mencapai lantai dasar. Sejujurnya aku benar-benar mengkhawatirkan Andrew, namun enggan untuk kembali karena tidak ingin membuat Kate kecewa. Aku berharap ia benar-benar makan dan tidak ada gangguan sama sekali terhadapnya. Aku was-was akan keberadaan Linseyld sekarang.
Sampai di pertengahan jalan, lagi-lagi kami bertemu orang tidak terduga. Yaitu Affandy. Mimpi apa aku semalam? Selama ini aku bersikeras untuk menghindarinya. Selain tidak ingin membuat keberadaanku dianggap tidak wajar, aku juga ingin menjaga hati Kate dan terutama kekasihku.
"Kalian mau kemana?" tanya Affandy.
"Bukan urusan Tuan," jawab Kate dengan dingin. Lantas, ia mengajakku melanjutkan perjalanan. Namun tangannya berhasil diraih oleh Affandy. "Ada apa, Tuan?"
"Kamu? Kamu sengaja mendekati Navya?"
__ADS_1
"Aku berteman sejak lama dengan Navya. Dia sudah seperti adikku sendiri. Ada urusan apa dengan Tuan Affandy?"
"Tidak, Kate! Kenapa harus Navya? Bukankah seharusnya kamu melampiaskan kekesalan hatimu padaku saja?"
"A-apa? Hah? Hahaha .... anda terlalu percaya diri. Bisakah anda memperlakukan saya sebagai seorang sekretaris saja? Dan tidak membahas masalah lain dilingkup kantor ini?"
"Lepaskan Navya, Kate."
Mata Kate menatap tajam ke arah Affandy. Bahkan bola matanya tampak berkaca-kaca. Tangan yang sedari tadi digenggam Affandy belum juga terlepas. Aku hanya bisa menelan ludahku dengan kelu. Tidak pernah mengerti dengan hubungan mereka berdua. Serumit apa? Dan, bagaimana bisa Affandy memperlakukan Kate sedemikian rupa?
"Aiiiiiiiiiiih! Apa-apaan sih anda-anda ini? Orang saya nggak kenapa-napa kok. Apanya yang dilepas lho? Ck! Heran lho aku," ujarku sembari menggeleng-gelengkan kepalaku. Membuat mereka berdua saling melepaskan pandangan. Bahkan Kate menghempas genggaman tangan Affandy.
"Ikut denganku saja, Navya. Kita bisa makan siang bersama," ajak Affandy kepadaku.
"Maaf, Pak. Saya sudah janji sama Nona Kate. Nggak boleh diingkari dong."
"Kamu kenapa sih, Navya? Belakangan ini selalu menolak dan menghindariku? Nggak seperti dulu?"
"Hmm .... karna ada hati yang harus saya jaga, Pak. Dan saya nggak mau dianggap karyawan kesayangan hehe."
"A-apa maksud kamu, Navya? Hati? Siapa? Kamu udah punya pacar lagi?"
Aku mengangguk mantap. Ya, sudah tidak ada gunanya menyembunyikan hubunganku dan Andrew lagi. Lagipula siapa aku? Sok kepentingan sekali. Hanya karena takut dipisahkan meja kerjanya, aku sampai se-berlebihan ini. Macam anak SMA yang sedang mengalami cinta saja. Mungkin setelah ini aku pun akan mengaku dihadapan Linseyld dan siapapun yang bertanya. Sudah cukup permainan kami yang tidak penting ini.
"Andrew," ujarku mantap.
"Navya???" Kate tampak terkejut dengan pengakuanku. Ya, aku memang sudah menceritakan kisah kami kepadanya. "Kamu nggak harus nyampe kayak gini. Demi aku, kan? Kamu ingin menunjukkan kalau kamu nggak mau nyakitin aku gegara Affandy?"
"Enggak, Kak. Aku baru sadar permainan kami sangat kekanakan. Lagipula kami bukan artis kantor ini. Biarlah kalau dipisahkan. Toh, kami masih bisa bertemu di rumah hehe."
"Navya??? Andrew? Hah! Apa kamu gila? Gimana tentang kebohongannya waktu itu? Aku tahu, aku tahu itu, Navya," ujar Affandy.
"Emm ... seharusnya kamu sadar, Affandy. Siapa yang ada disisi kamu selama ini. Bukan aku tapi Kak Kate. Berjuang itu pasti sakit. Aku bahkan menyesal telah mempermainkan Andrew. Beruntungnya aku belum terlambat. Dia masih bersedia menerimaku yang seperti ini, bahkan hampir kehilangan harga diri."
"Kamu nggak tahu apapun tentang kami, Navya. Apa jadinya jika kami saling menyakiti dan pada akhirnya malah terpisah jaug. Lalu kenapa kamu malah mengulang buku yang yang sama? Kenapa nggak menerima aku dan kita bisa saling memahami dan belajar melupakan."
"Hah?!"
Plak! Aku mendaratkan telapak tanganku di wajah Affandy. Aku tidak menyangka tentang ucapannya yang berani ia ucapkan dihadapan Kate. Untuk apa? Untuk membuat Kate menjauh? Affandy menyentuh pipinya. Ia memejamkan matanya dan mencoba tenang.
Dibalik itu, aku sedikit menangkap bahwa sebenarnya ia tidak mau berkata demikian. Seolah sedang menyembunyikan sesuatu mengenai hubungannya dengan Kate. Bahkan beberapa kali ia melirik Kate dengan raut wajah yang sendu. Kate sendiri hanya menundyk pasrah. Beruntung kondisi tempat ini sangat sepi, dengan kata lain hanya ada kami. Entah apa jadinya, jika ada orang yang melihatku berlaku kasar terhadap atasan.
"Kamu! Aiiiiiih, apa sih alasan kamu ngomong kayak gitu, Fandy? Fandy yang aku kenal itu baik lho. Alasan karna persahabatan? Konyol sekali, kalau karna itu. Bukankah bertingkah seperti sekarang sama aja menjauhkan kamu dengan Kate?!" tegasku lagi.
"Maaf ...." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Affandy. Sangat lirih dengan wajah yang teramat lesu. Ini tidak mungkin masalah biasa. Bukan sesuatu yang mudah dilakukan oleh manusia berhati baik seperti dirinya. Ya, aku yakin ada alasan lain yang membuat Affandy seperti ini. Aku seperti melihat diriku dimasa lalu yang serba salah. Berbuat kasar terhadap papa dan menolak Andrew secara terus menerus. Mungkin Affandy sedang dijodohkan dengan wanita lain? Ah .... rasanya itu konyol. Tidak mungkin ia mendekatiku jika masalahnya seperti itu.
"Navya, mari pergi." Kate mengajakku berlalu. Keberikan anggukan kepala dan mengikutinya. Kami meninggalkan Affandy yang tengah frustasi. Melanjutkan perjalanan menuju area parkir. Setelahnya kami masuk ke dalam mobil mewah milik Kate.
Perlahan namun pasti, Kate melaju kendaraannya. Deru mobil sudah terdengar bising. Kulirik beberapa kali pada Kate, ia tampak menelan ludah. Pasti perasaannya teramat hancur. Aku sangat penasaran. Namun, tidak lantas membuat diriku menanyakannya. Ia masih memiliki privasi yang harus dijaga. Mungkin jika aku diperlukan, ia akan menceritakannya kepadaku.
Ironis memang, hidupku saja sudah berantakan. Namun aku malah ikut campur ke dalam masalah orang lain. Yah, bagaimana aku bisa tahan melihat pertengkaran mereka tepat didepan mataku. Mungkin jika aku sudah tidak memiliki rasa malu, aku akan berteriak kencang dan membentak keduanya. Ah .... aku ini sedang berpikir apa? Kini peranku hanyalah sebagai pendukung keduanya. Mendo'akan yang terbaik sembari menyaksikan.
Bersambung ....
__ADS_1