
Aku diantarkan oleh Andrew berjarak lima meter dari keberadaan rumahku. Jika tidak begitu pasti Papa akan sangat marah. Yang lebih ditakutkan lagi, kalau sampai beliau menuduh macam-macam pada Andrew. Pasti ia akan terlibat masalah. Haris juga tidak akan tinggal diam tentang itu.
"Vya?" ujar Andrew memanggilku. Ia ikut turun dari mobilnya demi menghampiriku lagi.
"Ndrew, cukup disini aja ya? Aku mohon banget sama kamu," pintaku padanya.
"Aku nggak janji Vya."
"Kenapa kamu masih kayak gitu?"
"Baiklah kalau kamu nggak mau kembali sama aku, tapi tolong... izinin aku jagain kamu. Bales telpon atau pesan aku, itu aja cukup. Biar aku nggak selalu khawatir sama kamu Vya."
"Bener-bener deh! Terus kapan kita bisa saling lupa satu sama lain?"
"Please itu aja, aku janji nggak akan ngajak ataupun maksa kamu buat ketemu aku lagi."
"Hmm... oke, tapi cukup pesan aja."
"Iya nggak apa-apa. Yang penting aku tau kabar kamu setiap harinya."
"Oke, tapi aku nggak janji buat bales setiap hari. Karna aku sering ketemu Haris, Ndrew udah ya? Aku mau pulang, kamu hati-hati dijalan."
Raut wajah Andrew lagi-lagi berekspresi sendu. Seakan tidak rela untuk berpisah denganku. Ia terus menggenggam tanganku dengan erat sembari menatap wajahku.
Sebenarnya aku pun sama. Ingin rasanya kupeluk dirinya seperti saat-saat lalu. Setidaknya sebagai tanda perpisahan. Cukup ini yang terakhir, meski hati kami masih ingin. Aku sendiri menyesal, mengapa Andrew berbuat seperti itu. Membuat kisah cinta ini berakhir menyedihkan.
Tak ada lagi kata bersama diantara kami.
"Lepas Ndrew, sakit. Aku mau pulang," ujarku padanya.
Namun, permintaanku tidak digubrisnya sama sekali. Hari sudah memasuki waktu gelap, aku mulai gelisah sendiri.
Tiba-tiba Andrew menarik diriku sekali lagi. Ia memelukku begitu erat. Seolah tak bisa melepasku sejengkal pun. Tentu saja, aku terkesiap kaget oleh tingkahnya. Namun cengkeraman lengannya pada tubuhku begitu kuat. Sampai-sampai aku tidak bisa melepaskan diri darinya.
Akhirnya aku menyerah. Aku membiarkan Andrew memelukku untuk beberapa saat. Beruntung suasana jalan memang sepi. Tidak ada satu pun orang yang lewat. Kubalas pelukan ini dengan erat pula. Guna menyisakan kenangan yang mungkin menjadi yang terakhir diantara kita.
"Aku nggak tau harus gimana lagi buat lepasin kamu dengan mudah Vya," ujar Andrew padaku.
"Suatu saat nanti, kita bisa saling mengikhlaskan Andrew. Mungkin sebentar lagi kita akan sama-sama menikah, dengan pasangan masing-masing," jawabku.
"Aku inginnya sama kamu aja Navya."
"Udahlah, kita udah nggak jodoh jadi cukup sampai disini aja Ndrew. Aku minta lepasin diri kamu dari aku. Aku takut Papaku marah karna pulang malam."
"Aku cinta kamu Navya, sekarang dan kapanpun. Seandainya kita emang nggak berjodoh, aku bersumpah nggak akan lupain kamu sedikitpun."
"Jangan konyol! Kasian istri kamu nanti."
"Hmm... tapi itulah janjiku."
"Terserah kamu aja, tapi lepasin aku."
"Iya."
Dengan berat hati, akhirnya Andrew melepas pelukannya dari diriku. Aku menatapnya dengan perasaan iba yang masih ada. Wajahnya begitu kusut dengan penampilan yang tidak karuan.
Rasa pilu akhirnya muncul lagi. Andrew memang busuk karena telah membohongiku. Namun, aku juga tau semua ia lakukan karena tidak ingin aku berlalu pergi. Hubungan tanpa status selama itu dan juga dirinya yang tidak pernah mengatur diriku. Semua hanya karena agar aku tetap tinggal.
Namun, semua sudah terungkap sekarang. Posisi kami sama-sama salah. Untuk yang terakhir juga, aku usap wajah Andrew yang kusut. Rambutnya pun kurapikan, agar ia terlihat lebih baik.
"Jangan kayak gini lagi ya Ndrew, sama siapapun itu. Kamu juga jangan sehancur ini, kamu yang sekarang bener-bener nggak beraturan. Kamu harus kembali pada dirimu sendiri yang selalu rapih dan wangi," kataku padanya.
"Mana mungkin aku bisa begitu Vya. Kamu sendiri semakin hari semakin kurus, wajah kamu selalu pucat."
"Yaudah kita sama-sama berjanji ya. Kita saling berbenah diri setelah hari ini. Kamu janji jangan kayak gini lagi."
"Iya baiklah. Semua tergantung kamu juga."
"Oke, cukup disini aja Ndrew. Jaga diri baik-baik dan jangan sampai sakit. Kamu juga harus hati-hati dijalan. Aku pulang."
"Navya?"
"Apalagi?"
__ADS_1
"Emm... kamu juga jangan sampai sakit. Dan selalu kabarin aku kalau ada masalah."
Aku tersenyum padanya. Lalu aku berbalik badan dan berjalan meninggalkan Andrew.
Kuembuskan napas dengan kasar. Semuanya begitu sulit kuhadapi. Namun, kuakui setidaknya ada sedikit kelegaan dalam hati. Aku bisa berdamai dengan Andrew walau belum bisa melupakannya. Setidaknya rasa rinduku padanya bisa sedikit terobati.
Tinggal sekarang. Pasti Papa telah berkacak pinggang sembari menungguku di rumah. Aku harus bersiap diri untuk menghadapi beliau. Bisa jadi aku ditampar sampai memar.
Memang benar kata Haris. Papa lebih mencintai uang daripada diriku. Beliau bukan lagi ayahku yang begitu lembut di masa kecilku. Mata dan hati telah buta oleh uang dan uang.
Sudahlah, jika dipikirkan akan semakin rumit. Kuhadapi saja seperti biasanya. Pura-pura tidak mengerti. Lalu mengabaikannya. Toh, pasti hanya tamparan dan teriakan yang aku dapatkan. Aku sudah tidak punya hak lagi untuk berpendapat di rumah itu.
Lagipula, bagaimanapun yang sebenarnya. Papa tidak akan memahami dan mempercayaiku. Beliau pasti akan lebih percaya pada Haris, calon menantu yang menjadi idaman hati.
****
Benar saja. Ketika aku mulai masuk melalui pintu utama, Papa telah berkacak pinggang di ruang utama. Menatap diriku dengan tajam, seolah bisa menembus ulu hatiku.
"Darimana saja kamu?!" tanya Papa padaku.
Aku hanya diam dan menatap sekilas. Lalu kuacuhkan lagi. Aku melanjutkan langkahku untuk masuk kedalam kamarku.
"Navya!!!" seru Papa lagi dengan tegas sampai aku memaksakan diri untuk berhenti.
"Udah Pa sabar dulu dia baru pulang, Navya kamu kenapa sayang? Kening kamu kenapa?" tanya Mama sembari menghampiriku.
Mama menyentuh luka yang kuderita di kening ini. Beliau mengusap wajahku dengan kelembutan. Ada rasa penasaran yang menampakkan harapan agar aku mengutarakan penyebab adanya luka ini.
Namun, aku tidak bisa. Segera kutepis tangan Mama, lalu beringsut mundur. "Nggak apa-apa, nggak perlu sok perhatian!" tegasku.
"Navya!!! Anak macam apa kamu? Sama orang tua sendiri kayak gitu haaah?" tanya Papa.
"Anak macam apa? Lalu kalian sendiri orang tua macam apa haaah? Ngasih anak tunggal, anak satu-satunya sama kep*rat itu???"
Mama terkesiap. Sekali lagi beliau menghampiriku lebih dekat. Lalu menatapku baik-baik dari ujung kepala sampai kaki.
Ada tetesan air mata di wajah Mama. Mungkin, yang namanya seorang ibu bisa merasakan sakit hatiku. Apalagi menyaksikan anak semata wayangnya ini benar-benar tidak karuan. Penampilan acak-acakan dengan luka di kening yang diperban.
Tapi, sekali lagi semua hanya sebuah kiasan saja sekarang. Mau bagaimanapun kekhawatiran Mama, beliau juga tetap mendesakku untuk menikahi Haris.
"Cihh! Orang tua gila!" jawabku bengis. Aku sudah kehilangan akal sehatku.
Plaaaakkkk!!!
Sebuah tamparan keras aku dapatkan. Wajahku seakan panas terbakar. Papa memang sudah gila. Aku pikir beliau akan mengerti saat berjalan mendekatiku. Nyatanya sebuah tamparan keras menyanyat kulit wajahku.
"Papa! Jangan kasar sama anak!" ujar Mama pada Papa.
"Diam kamu! Ini semua karna kamu terlalu lembut sama anak ini, nggak ada sedikitpun rasa sopan sama orang tua!"
"Tapi dia anak kita Pa, Papa nggak lihat luka dikeningnya? Udah dong! Jangan mojokin anakku terus. Cukup, saya sendiri juga sudah muak! Kenapa harus maksa perjodohan ini! Lihat anak kita kayak gini!"
"Allaaahhhh... bela aja terus anak kurang ajar ini, Ma! Semua yang saya lakukan juga buat dia! Buat siapa lagi???"
Situasi rumahku sudah kacau. Kini Mama dan Papaku saling beradu argumen satu sama lain. Sedangkan aku masih diam terpaku, sembari menyaksikan suasana mencekam ini.
Mataku seakan sudah kering kerontang. Air mataku telah habis untuk menangis di mobil Andrew beberapa saat yang lalu. Tiada satu pun buliran air mata yang membasahi pipiku. Yang ada sayatan perih dari tamparan Papa. Lalu luka hati yang semakin menjadi-jadi.
Sepertinya uang sudah membutakan hati Papa. Aku menjadi paham, mengapa Haris berani mengatakan hal kurang ajar itu untuk Papa. Nyatanya, kini terbukti. Diriku tak lagi penting. Luka kening tidak bisa membuat Papa percaya bahwa Haris bukan orang baik-baik.
"Pokoknya saya nggak mau tau, Navya harus sama Haris. Keluarga kami sudah janji soal ini, mau ditaruh dimana muka keluarga kita kalau Navya masih seperti ini haaah?" ujar Papa lagi.
"Kasian Navya, Mama udah nggak kuat ngikutin ambisi seperti ini," jawab Mamaku.
"Saya tidak peduli tentang alasan apapun! Kalau bisa, Navya secepatnya bisa keluar dari pekerjaannya lalu cepat-cepat menikah!"
Aku terbelalak hebat. Kurang cukupkah izin tiga hariku kemarin? Lalu sekarang aku harus keluar dari perusahaan. Semena-mena inikah Papa bisa mengatur dan menyiksa batinku?
"Nggak! Enak aja ya Anda main atur saya! Anda pikir anda siapa? Orang tua? Hahaha... orang tua sejati tidak akan sebusuk ini! Sudah untung lho saya mau ikut perjodohan hina ini, masih untung Bapak tidak masuk penjara karena hutang tidak jelas!!!" ujarku tegas pada Papa.
"Jangan kurang ajar Navya! Kamu pikir kamu bisa sebesar sekarang karena siapa?!" balas Papa.
"Karena Tuhan Yang Maha Kuasa!"
__ADS_1
"Anak ini!!!"
Segera kutepis keras telapak tangan Papaku sebelum mendarat pada pipiku lagi. Aku menatap beliau dengan nanar. Penuh amarah yang sudah tidak tertahankan. Ya! Aku sudah muak dengan sikap Papa yang seenaknya saja. Papaku yang dulu telah hilang.
Seperti seorang manusia yang sedang kerasukan iblis. Aku sendiri heran, apa yang membuat Ayahku menjadi sebengis ini?
"Jangan macam-macam sama saya, atau saya laporkan pada pihak berwajib atas kasus penganiayaan!" tegasku.
"Navyaaaaa!!!"
"Ciihh!!!"
Kulempar tangan Papa dengan kasar. Lalu aku melanjutkan perjalananku menuju kamarku.
Rumah ini sudah menjadi neraka dunia. Kehangatan keluarga sudah hilang entah kemana. Kedamaian hati tidak ada lagi. Sepertinya kesendirianku maksudku tinggal bersama Bi Emi dan Cika saat itu lebih terasa hangat dan menyenangkan.
Tidak seperti sekarang.
Aku merebahkan diriku pada ranjang yang menjadi penopang lelahku selama ini. Langit yang telah gelap tanpa bintang satupun, tertangkap oleh mataku dari jendela yang dekat dengan ranjangku.
Suasana malam ini begitu gelap dan dingin. Seolah paham akan apa yang aku rasakan. Yah, setidaknya alam masih mendukungku.
Tanpa mandi ataupun bebersih diri, aku meringkukkan badan dengan balutan selimut. Memar dipipi dan luka dikeningku, aku biarkan begitu saja. Sudah cukup lelah dengan hal yang terjadi hari ini.
Biar saja, seandainya infeksi siapa tau bisa membawaku mati. Tanpa bunuh diri.
"Non Vya?" suara Bi Emi terdengar memanggilku dari balik pintu kamarku.
"Iya," jawabku singkat.
"Boleh Bibi masuk Non?"
"Silahkan Bi, nggak dikunci kok."
"Iya Non."
Kemudian Bi Emi masuk kedalam kamarku dengan nampan berisi mangkuk air, handuk dan juga secangkir teh hangat. Entahlah untuk apa semua itu.
Bi Emi meletakkan barang itu diatas meja kecil disamping ranjangku. Lalu ia duduk ditepian ranjangku. Tangan Bi Emi begitu lembut mengusap bahuku. Membuat sebuah ketenangan tersendiri. Sebuah energi kasih sayang yang tidak aku dapatkan dari orang tuaku.
"Bangun dulu yuk Non," pinta Bi Emi padaku.
"Iya Bi," jawabku manut.
Aku membangunkan diri dari posisi tidurku. Lalu duduk bersila diatas ranjang dan disamping asisten rumah tanggaku tersebut. Lagi-lagi Bi Emi hanya bisa menatap iba padaku.
Aku tau Bi Emi juga merasakan kesedihanku. Hanya dialah yang bisa aku percaya sekarang. Meski, Bi Emi tidak bisa membantu apapun. Namun, setidaknya ia selalu merawat diriku penuh kasih sayang.
"Bersihin wajahnya aja Non, itu memarnya juga dikompres dulu. Nggak mandi nggak apa-apa sekalian ganti perban luka ya Non," ujar Bi Emi.
"Iya Bi, makasih ya Bi," jawabku.
"Sama-sama Non, udah tanggung jawab Bibi buat ikut jagain Non Vya. Maaf Bibi nggak berani bantu apa-apa ya Non, takutnya kalau Bibi bela Non, nanti malah dipecat sama Bapak."
"Iya Bi, nggak apa-apa kok. Bibi diem aja, temenin aku aja dirumah ini. Aku nggak pengen Bibi pergi, kalau Bibi nggak ada, aku sama siapa?"
"Hmm... sebenarnya masih ada Ibu, Non. Yang Bibi tau Ibuk sebenarnya nggak pengen paksa Non Vya. Tapi semua sudah terlanjur, hutang Bapak katanya banyak. Jadi mau nggak kau perjodohan ini harus berhasil."
"Bibi tau berapa hutang Papa?"
Bi Emi menggelengkan kepalanya. Menandakan bahwa ia tidak tau menahu tentang itu. "Ibuk saja tidak tau Non, katanya."
Mama tidak tau? Mana mungkin!
Aku menimang-nimang penuturan yang diucapkan Bi Emi. Mungkin Mama telah mencurahkan isi hati pada Bi Emi. Sejujurnya, aku sedikit menyesal karena memperlakukan Mama se-demikian buruknya. Karena, prasangka burukku kepada beliau.
Mungkin Mama juga terpaksa menyetujui perjodohan ini. Terbukti saat beliau membelaku beberapa saat yang lalu, sampai bertengkar dengan Papa. Tapi, mengapa ada sesuatu yang mengganjal tentang masalah ini? Mana mungkin Mama tidak tau nominal uang yang Papa pinjam.
Apakah se-rahasia itu bagi Papa? Benar-benar tidak ada yang beres.
Ditengah pemikiran dan kebingunganku, Bi Emi masih saja bersabar. Ia masih membersihkan luka dan memar yang aku derita. Kemudian mengganti perban kecil setelah mengambil kotak P3K yang tersedia di rumah ini.
Aku sangat berterima kasih pada Bi Emi tentunya.
__ADS_1
Bersambung...
budayakan like+komen...