Who Is My Love

Who Is My Love
Yah!


__ADS_3

Kini, aku kembali diantar oleh Haris untuk berangkat ke kantor. Deru mobilnya terus bersuara bersama helaan napas kami yang saling beradu. Hening. Tanpa kata, tanpa suara, kami duduk berdampingan sembari menatap ke depan dengan nanar. Banyak sekali pertentangan yang terjadi, sampai diri ini enggan dalam berucap lagi.


Tentang Haris tadi malam, aku pun masih tidak mengetahui, bagaimana dia bisa menginap. Mungkin Papa mengizinkannya. Namun, tetap terasa aneh. Orang yang tidak memiliki hubungan apapun dengan kami, memangnya pantas dilihat di aturan negara ini? Ataukah kuasa uang lagi yang ia gunakan? Gila sekali, aku tidak habis pikir ayahku seorang penggila harta.


"Kenapa loe diem aja?" tanya Haris kemudian.


Aku melirik sekilas kepadanya dengan raut wajah yang sangat-sangat masam. "Biasanya gue juga diem kok," jawabku.


"Emangnya loe nggak kepikiran buat bersikap lebih lembut, Navya? Gue yakin loe juga lelah kan?"


"Itu pasti. Tapi sikap loe selalu kasar, bikin gue muak!"


Diam. Mungkin perkataanku mampu membungkam bibir Haris yang biasanya tajam. Aku rasa, sebagai manusia, Haris masih memiliki rasa lelah. Itu merupakan hal yang bagus. Jadi, aku tidak perlu membuang tenagaku lagi untuk berdebat dengannya.


Beberapa saat kemudian, sampailah kami di kantorku. Aku ingin segera turun dari mobil ini, namun Haris masih menahanku menggunakan tarikan tangannya. "Apa?" tanyaku.


Haris melepas tanganku. Kemudian ia mengambil sesuatu dari bangku belakang. Aku mengeryitkan dahi seketika. Barang tersebut berbentuk kotak, seperti sebuah ponsel yang masih baru. Lantas, ia memberikannya kepadaku. Aku menerimanya, seperti dugaanku, barang tersebut adalah sebuah ponsel yang bermerk ternama. Seketika saja, aku mengembalikan lagi kepada Haris.


"Why? Ada yang salah, Nav? Apa kurang bagus? Gue bisa tukerin," tanyanya bertubi-tubi.


Aku menggelengkan kepalaku. Lalu memberikan jawaban, "Nggak perlu. Ini terlalu mahal buat gue. Jadi, gue nggak bisa terima."


"Ponsel loe rusak, Navya. Kalau gue nanti jemput, gue hubungin pake apa?"


"Mungkin, seminggu ini loe nggak harus jemput, Ris."


"Apa maksud loe?"


"Nggak ada maksud apa-apa. Gue butuh waktu sendiri dan juga gue males ketemu Papa. Mungkin, gue bakalan lebih sering nginep ke rumah Sita."


"Loe? Kenapa sih?!"


Aku memasang memelas yang kurasa paling menjijikkan sedunia. Lantas, aku berkata, "Pleaseeee ya? Semingguuu aja."


Haris diam saja. Ia tampak berpikir terlebih dahulu. Aku rasa ia sedang bimbang. Sedangkan aku masih sangat berharap cemas. Sebenarnya semua kulakukan adalah demi menghindari pertemuaannya dengan Andrew. Terlebih, kini Andrew sama gilanya dengannya. Aku khawatir, pria itu juga nekad ingin menemui Haris. Dan pada akhirnya terjadi perkelahian hanya karena seorang wanita, yaitu aku. Oh... aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa bersikap, jika itu benar-benar terjadi. Pasti akan terlihat sangat amat konyol.


Helaan napas terdengar dilakukan oleh Haris. Beberapa kali, ia masih menatapku ragu. Atau mungkin curiga. Bisa saja, ia memang mulai curiga, mengingat sifatnya yang tempramental dan mudah sekali menyimpulkan. Namun, sebisa mungkin aku bersikap sangat manis dan menyembunyikan hal yang sebenarnya terjadi. Aku harus bisa mengelabui Haris, dengan harapan, jangan sampai ada pertemuan antara kedua pria itu.


"Oke," ujar Haris. "Gue setuju. Siapa tau, loe bisa berpikir jernih. Tapi..."


Aku mengeryitkan dahiku. Lantas bertanya kepadanya, "Tapi? Apa?"


"Dalam waktu seminggu itu, loe harus ngasih gue jawaban pasti. Yah, pasti nggak pasti, loe tetep jadi milik gue. Cuma, gue pengen denger langsung dari loe tanpa paksaan dari siapapun. Kalau loe bersedia menikah dengan gue."


Sontak saja, tengkukku terasa kaku. Aku menelan ludah kelu. Bola mataku berputar-putar karena bimbang. Tidak mungkin, aku sebegitu mudahnya menyerahkan hatiku kepada Haris. "Nggak adil dong! Emang loe siapa maksa-maksa gue?"


"Yaudah, terserah. Kalau nggak mau, besok gue dateng dan jemput loe lagi. Kita kencan bareng lagi."


"Loe licik!"


"Gue cerdas, Navya!"


Aku sangat risau sekarang. "Oke! Gue setuju. Tapi, apapun jawaban gue nanti, loe harus terima!"


"Terima? Hahaha... kita lihat aja nanti."


"Cihh!"


Begitulah perdebatan yang kembali muncul diantara kami. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera turun dari mobil Haris. Aku meninggalkannya tanpa rasa terima kasih sama sekali, bahkan wajahku mungkin terlihat sangat tidak enak dipandang. Selepas langkahku yang memasuki gerbang gedung kantor ini, Haris melaju mobilnya kembali dengan suara derunya yang luar biasa kencang. Aku rasa ia kesal terhadapku.


Padahal belum ada tiga hari, ia menampakkan wajah malu-malunya. Kini, ia kembali garang seperti biasanya. Herannya, aku juga kembali membencinya. Apakah karena pengaruh Andrew? Aku hanya bisa terpejam sesaat ketika mengingat semua itu. Sedangkan, hatiku masih tetap bingung diawang-awang, aku tidak tahu harus mencari jalan apa dan bagaimana.


Tampak Andrew terlihat berdiri sembari menyenderkan punggungnya di dinding dekat aula. Ia memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Pandangannya tak sedikitpun lepas dariku. Tentu saja, aku menjadi ragu untuk melanjutkan langkahku. Apalagi aku harus melewatinya. Yah, aku sudah terlalu pusing memikirkan ancaman Haris. Aku tidak mau lagi berdebat dengan orang lain.


Namun, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku pikir adalah Sita, ternyata bukan melainkan Affandy. "Oh hai Fan, emm... Pak Fandy. Selamat pagi," sapaku kepadanya.


Ia tersenyum manis. Kemudian menjawab sapaanku, "Hai juga Nona Navya. Selamat pagi."


"Udah sono, cepetan berlalu...," bisikku kepadanya. Karena tidak ingin menerima gosip tidak sedap, dan tentunya prasangka dari Andrew yang berlebihan.


Namun, Affandy sama sekali tidak mendengarkanku. Ia malah menyamakan langkahnya denganku. Saat kutilik lagi, Andrew semakin menampilkan wajah yang masam. Ia melipat kedua tangannya ke depan, tak lagi dimasukkan di kantong celana.


Apa lagi ini?

__ADS_1


"Saya mau bicara dengan Nona Navya, sebelum jam kerja dimulai," ungkap Affandy.


Aku melototkan mataku kepadanya serta berbisik, "Apaan...? Masih pagi lho..."


"Ikut ke ruanganku...."


Karena merasa sesuatu yang penting, akhirnya aku mengikuti langkah Affandy yang sudah bergerak lebih dulu. Namun, ekor mataku masih menilik keberadaan Andrew yang kini kami lewati. Aku rasa, ia sudah benar-benar kesal. Mungkin, rencana menungguku tidak berjalan dengan baik. Belum lagi, ia harus menahan kecemburuannya kepada Haris. Dan kini, aku malah diperintahkan oleh dewan direksi dari Singapura ini.


Melupakan tentang Andrew dan kembali pada tujuan Affandy untuk berbicara kepadaku. Langkah kami semakin dekat dengan ruangan yang ia pakai selama disini. Kemudian, Affandy membuka pintu perlahan-lahan. Ia mengisyaratkan agar aku lekas masuk.


"Duduk dulu," ujarnya.


Aku mendudukkan diriku di sebuah kursi yang berhadapan dengan kursi miliknya. "Jadi, ada apa Pak Affandy?" tanyaku kemudian.


"Hehe... santai aja lagi. Hanya kita berdua."


"Masih lingkup kantor."


"Tak masalah. Emm... ngomong-ngomong, cowok tadi siapa kamu?"


Aku mengernyitkan dahiku. "Yang mana?"


"Yang kita lewati. Emm... yang meluk kamu kemarin sore, Vya."


"Oh... harus ya, aku bilang sama kamu?"


"Ehh? Haha... nggak kok. Sorry, aku basa-basi doang."


"Nah, itu tau. Jadi, mau bicara soal apa?"


Affandy meraih sebuah map dari laci mejanya. Kemudian, ia membukanya untuk diperlihatkan kepadaku. Sebelum membaca isi map tersebut, aku menatapnya terlebih dahulu. Sedangkan Affandy tampak mengangguk tanda menyetujui maksudku.


Beberapa daftar nama tercantum disana. Tentunya dari berbagai divisi. Tampaknya mutasi kerja ini memang tidak main-main. Hanya saja, peminatnya sangatlah sedikit. Mungkin bisa dihitung jari dari setiap divisinya. Yah, aku mengerti tentang itu. Karena hidup merantau ke luar negeri tidaklah semudah yang dibayangkan, meski tempat tinggal sudah dijamin oleh perusahaan.


"Aku harap kamu ikut, Navya," ujar Affandy.


"Emm... aku belum tau," jawabku.


"Dan? Ada lagikah?"


"Andrew? Siapa dia? Sesuai pesan Rezky tadi malam, karyawan ini mendaftarkan diri."


"A-apa???"


Aku benar-benar tidak menyangka, Andrew bergerak sangat cepat. Tampaknya, niatnya untuk membawaku pergi dari kota ini bukanlah isapan jempol semata. Aku diam seketika, karena bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Affandy. Aku khawatir, niat Andrew disambut tidak baik olehnya. Yah, karena kami sempat kepergok olehnya. Siapa yang tahu, jikalau Affandy menerka niat Andrew bukan untuk kerja melainkan diriku. Meskipun, itu memang benar adanya.


Kuhela dan kuhembuskan napasku kembali. Aku mencoba menguasai diriku supaya bisa menjelaskan tentang Andrew kepada Affandy. Aku hanya berharap, semoga Affandy bisa bersikap profesional tanpa mencampur adukkan hubunganku dengan Andrew.


"Hei?" ujarnya. "Ada masalah?"


Aku ragu-ragu. Lantas, menjawabnya, "Emm... sebenernya. Sebenernya, cowok yang tadi itu namanya Andrew, satu divisi denganku."


"Wow! Waow!"


"Jangan menyangka yang tidak-tidak. Kami bisa membedakan mana yang pekerjaan, mana yang bukan."


"Haha... enggak kok, Vya. Hanya kagum aja. Apapun alasannya, selagi mampu bekerja dengan baik tidak akan masalah. Siapa tau dengan bersamanya kalian, kalian bisa tambah semangat disana."


"Bersama? Semangat? Kamu mikir apa, Fandy?"


"Kalian pacaran kan? Yah, aku paham kok. Mana ada laki-laki yang ngebiarin perempuan bekerja sendiri di luar negeri."


"Lebih tepatnya mantan. Meskipun, tidak bisa dibilang begitu juga sih."


"Haha... yaudah, Navya. Aku nggak mau ikut campur. Mungkin, nanti aku bakal bicara sama Andrew. Aku juga perlu mengecek kinerjanya selama ini. Oke, kamu boleh kembali."


"Thanks, aku masih mikirin keputusannya."


Affandy tersenyum kepadaku. Selanjutnya, aku beranjak dari dudukku. Kubuka perlahan pintu ruangan ini dan keluar. Suasana lingkungan kantor sudah mulai ramai. Tak ada yang aku tuju lagi, kecuali ke ruang kerjaku sendiri.


Berbicara tentang mutasi. Sepengetahuanku, memang sering terjadi adanya mutasi ke luar negeri atau luar kota, seperti ini di beberapa perusahaan. Biasanya untuk karyawan yang ditunjuk. Namun, sepertinya kebijakan di perusahaan mempermudah karyawan. Karena tidak semua sanggup menjalani pekerjaan disana, karena beberapa alasan tertentu. Sehingga, membuka peluang untuk yang bersedia dengan diperiksa terlebih dahulu kinerjanya. Dan pada akhirnya peminatnya pun tidak banyak. Sampai akhirnya, Affandy menunjukku dan Rezky.


"Tadi ngomongin apa?" tanya seseorang tiba-tiba.

__ADS_1


Aku sampai terlonjak karena kaget. Aku menoleh kepada sang tersangka yang ternyata adalah Andrew. Langsung saja, kutepuk pundaknya. "Kaget tauk!" ujarku.


"Iya maaf. Lagian ngalamun mulu."


"Terserah gue."


"Jutek banget sih, sayang?"


"Jangan manggil gitu ih! Didenger orang lain nggak enak."


"Nggak peduli."


Andrew sama sekali tidak menggubris ucapanku. Ia malah semakin menggodaku. Siapa yang tidak akan kesal? Tentu saja aku kesal. Sampai akhirnya, kucubit lengannya sampai dengan kencang agar ia bungkam.


"Sakit sayang...," katanya lirih sembari menggosok lengannya.


"Bisa panggil nama nggak? Kalau nggak bisa pergi aja sana...!"


"Nggak bisa, Navya sayang!"


"Andrew!"


"Hahaha."


Andrew tertawa renyah, ia merangkul pundakku dari belakang layaknya sahabat dekat. Para karyawan lain melihat kami dengan heran. Tak sedikit dari mereka yang saling berbisik. Hanya peringisan yang bisa kulakukan. Namun, sejujurnya aku pun ikut tersenyum diam-diam. Entah, mengapa aku merasa ini sangatlah konyol. Dua insan yang sempat dirundung masalah besar, sampai akhirnya bisa berbicara kembali. Meski, aku tidak tahu sebenarnya hubungan apa ini.


Andrew terus berlaku sama sampai kami mendekati ruang kerja. Semakin lama semakin tengsin, kurasakan dalam hati. Telingaku terasa panas, mungkin sekujur wajahku sudah memerah. Campuran antara malu, lucu, bingung dan khawatir. Kemana Andrew yang dulu? Andrew yang selalu tenang, selalu mendengarkanku. Tingkahnya kini malah seperti Haris dalam versi lembut. Keras kepalanya hampir sama, namun tutur katanya berbeda.


"Aku cinta kamu, Navya Elesya...," bisik Andrew tiba-tiba.


"Jangan bertingkah, Ndrew. Ini di kantor...," ujarku sama lirihnya. "Terus lepasin tanganmu dari pundakku. Capek, tau nggak?!"


Andrew melepaskan tangannya dari pundakku, sembari berucap, "Iya sayang, iya."


"Berhenti manggil sayang...!"


"Halah. Sah-sah aja lagi, kita masih saling mencintai."


"Iiiihhh! Susah ngomong sama loe!"


"Ehh??? Tunggu dong."


Aku mempercepat langkahku. Meski itu sia-sia. Karena mau bagaimanapun, langkah seorang pria lebih lebar daripada wanita. Andrew berhasil menyamakan langkah kakinya denganku. Sembari berjalan, ia terus berceloteh kata-kata gombal. Terkadang aku sampai geli sendiri. Namun, tawaku tetap ikut pecah karenanya.


Bolehkah aku seperti ini? Hanya sekali saja, aku pun ingin tertawa. Karena masih banyak hal lagi yang harus aku pikirkan. Jadi, masih pantaskah aku berlaku seperti ini untuk sementara? Boleh tidak boleh, aku memang sudah terlanjur terlena.


Waktu kerja masih sekitar sepuluh menit lagi. Sesampainya didalam ruanganku, Andrew masih saja membuntutiku. Ia berdiri disamping kursi kerja yang aku duduki. "Balik gih," usulku kepadanya.


"Nggak mau. Waktunya masih banyak," jawabnya.


"Nyicil kerjaan kan bisa. Ngapain disini nggak jelas."


"Liatin kamu. Udah lama aku nggak sebebas ini, buat sekedar menatap kamu."


"Sejak kapan sih, jadi menggelikan kayak gini?"


Andrew hanya tersenyum. "Entahlah."


Posisi kami benar-benar menjadi pusat perhatian. Banyak rekan yang saling bergosip dan menatap penuh tanda tanya. Tak terkecuali, bahkan Sita dan Rezki. Sahabat wanitaku tersebut, terlihat mendekati kami. Ia melangkah dengan raut wajah menggelikan sekali. Dalam artian memberikan godaan untuk kami.


"Cieeeeeeeeeee!" serunya dengan suara khas yang menusuk gendang telinga.


Aku menatap tajam kepadanya. "Diem bodoh!" ujarku.


"Nggak apa-apa kali. Kan kalian sahabat kan ya hehehe." Sita menyindir seperti itu. Membuat Andrew menyentil kepalanya karena sebal.


"Jadi cewek cempreng banget deh," ujar Andrew kemudian.


"Hahaha... lah daripada cowok lempeng banget."


"Sssstttt... pada balik napa sihhh??!!!" tegasku.


****

__ADS_1


__ADS_2