
Aku mendapati kekasihku yang meringkuk tidur di sofa ruang tamuku. Ia begitu khawatirnya kepadaku, sampai enggan untuk turun ke bawah. Katanya--biar tidak kesulitan mengecek suhu badanku. Dan, karena dirinya pula, demamku sudah mulai turun. Aku bersyukur karena segala perhatiannya yang luar biasa, tidak pernah aku diperlakukan sedemikian rupa selain dirinya.
Kubelai halus rambutnya yang teracak karena tidur. Kulit yang putih bersih, hidung mancung, mata sipit yang menawan. Seakan tidak ada sedikit pun kekurangan. Karena dirinya, tadi malam aku menjadi bahan cibiran Raya dan Sinta. Kebodohanku yang hakiki membuat mereka justru terpingkal-pingkal. Bodohnya aku, begitu naif mengizinkannya memberikan punggungku. Memang, tidak ada niat buruk darinya, tetapi tetap saja, hasrat pria normal itu seperti apa. Hal itu yang membuatnya cepat-cepat menghindari diriku dengan alasan membeli obat.
Tangan Andrew bergerak, sepertinya sudah sadar dengan keberadaanku. Benar saja, ia menggenggam tanganku, membuka mata, lalu mencoba bangun dari tidurnya. "Udah turun demamnya?" tanyanya sembari mengecek suhu badan di keningku, meski matanya yang sipit semakin menyipit.
"Udah kok," jawabku.
"Kalau belum, enggak usah masuk hari ini."
Aku menggeleng. "Jangan dong, bentar lagi kita ambil izin lho."
"Ya, kalau sakit mah enggak apa-apa, Sayang."
"Enggak enak ah. Belum lagi entar kena cibir yang lain."
"Kena cibir gimana?"
"Gara-gara deket Fandy, bisa seenaknya ambil izin, gitu."
"Halah! Kenapa harus dengerin kata orang sih?"
"Kayak kamu enggak pernah aja."
"Hmm ... kebiasaan balikin kata-kata."
Andrew mengusap-usap matanya, sepertinya agar bisa melihat dengan jelas, apalagi di suasana gelap seperti ini. Hanya ada sinar lampu dari kamarku yang pintunya terbuka. Waktu masih sangat pagi, mungkin pukul jam empat subuh. Tubuhku merasa tidak enak karena tidak mandi tadi malam, sehingga membuat tidurku tidak nyaman.
Aku berdiri setelah beberapa saat duduk di hadapan Andrew. Niatku ingin membuat air hangat. Namun, tangan Andrew masih tak mau lepas dari jari jemariku.
"Masih gelap, Sayang. Kamu enggak mau tidur lagi?" Ia memintaku untuk duduk kembali, tetapi di sampingnya.
Aku menggeleng. "Badan aku udah enggak enak banget rasanya, pengen mandi," jawabku sembari sedikit menjauh darinya. Alasan dari sikapku itu karena takut jika ada bau tidak sedap yang melekat di tubuhku.
"Masih dingin lho. Nanti naik lagi suhu badan kamu."
"Ini makanya mau bikin air panas buat mandi."
"Udah kuat sendiri?"
Aku mengangguk. "Iya udah kok, lagian cuma demam doang."
"Hmm ... ya udah hati-hati. Aku mau bantu, enggak enak mau ke belakang, rumah cewek agak bikin tengsin. Kalau kamu doang mah, masih enggak apa-apa."
"Ya udah, kamu pulang dulu. Siapa tahu mau tidur lagi."
"Iya, Sayang."
Cup! Andrew memberikan kecupan manis di keningku secara tiba-tiba, sehingga aku tidak bisa menghindarinya. Setelah itu, ia berdiri. Membuka pintu dan meninggalkanku sendiri.
Kuhembuskan napas yang sempat aku hela dalam-dalam. Semalaman aku membuat orang-orang kewalahan. Rasanya cukup tidak tenang, ada rasa sungkan muncul dari dalam hatiku. Entah, harus membalas dengan cara apa kepada mereka. Haruskah aku mentraktir mereka? Sepertinya aku akan mengatur rencana ini.
Setelah selesai bebersih diri, aku menyiapkan segala keperluan kerjaku. Karena masih pagi, aku bersantai terlebih dahulu. Ada banyak sekali pesan yang masuk dari ponselku, dari mama juga calon ibu mertuaku. Mereka berdua bertanya perihal persiapan dan kapan aku juga Andrew akan pulang. Mengapa pertanyaan semacam itu justru diberikan kepadaku? Apakah Andrew tidak ditanyai seperti ini?
Kepala yang masih sedikit pusing masih harus menanggapi beban yang membuatku semakin merasa pening. Andai aku tidak di sini, mungkin aku akan mengatur segalanya dengan tangan sendiri. Justru ketika diatur oleh orang lain, membuat kepala ini kewalahan dalam memikirkan. Belum lagi, cocok tidaknya kami dengan persiapan yang telah mama atur sedikit demi sedikit. Sebenarnya aku sangat berterima kasih kepada mama, tetapi takut berbeda dengan seleraku.
****
Mobil yang ada empat orang di dalamnya, kini melaju cepat menuju gedung perkantor tempat kami bekerja. Sejak tadi aku masih sedikit pusing, sehingga memilih memejamkan mata, meski tidak tidur dan hanya sekedar meringankan rasa. Jika bukan kareana membutuhkan uang, aku pasti akan memilih rebahan. Apalagi ketika baru penandatangan kontrak baru, dan akan mengambil izin nanti. Rasanya tidak etis jika aku malah tidak bekerja.
Bayangan tentang tugas kantor, seakan berputar di kepala, bercampur dengan persiapan pernikahan yang entah sampai di mana saja. Aku menelan ludah, jika sudah merasa jengah. Lalu, tiba-tiba ada sentuhan halus di kepalaku. Aku membuka mataku, mobil ini masih berhenti karena lampu merah. Dan Andrewlah yang menjadi pelakuna.
__ADS_1
“Kamu masih sakit?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Enggak kok. Cuma ngantuk doang, tadi pagi, kan, bangun pagi,” jawabku berbohong.
“Demamnya udah turun sih. Tapi, enggak mungkin langsung sembuh gitu.”
Aku melepas tangannya dari keningku. “Aku enggak apa-apa beneran.”
Andrew kembali memacu mobilnya. “Hmm ... harusnya kamu istirahat lebih banyak lagi, Sayang.”
“Itu mah efek mau nikah, Ndrew. Setahu gue emang rada’ ngebebani,” celetuk Raya dari belakang. Entah hanya tebakan atau apa, tetapi yang diucapkannya memang benar. Aku drop karena memikirkan tentang pernikahan, maksudku lebih mengarah ke biaya dan kekhawatiran tentang masa depan kami, aku belum bisa melepas tanggung jawabku dari orang tuaku.
Andrew yang sudah melaju mobilnya kembali, menatapku sekilas, tetapi ada kekhawatiran yang terpancar dari wajahnya. “Kan ada aku, jangan dipikirin. Aku, kan, yang cowok, kenapa justru kamu yang pusing?”
“Iya, aku tahu. Dan emang aku enggak apa-apa kok. Cuma sakit capek doang.”
“Hmm ... pokoknya kamu jangan mikir yang macem-macem. Titik!”
Bagaimana bisa aku mengatakan apa yang aku rasakan sebenarnya? Ia tidak akan membiarkan perasaanku berkecamuk sediri. Terlebih lagi, Andrew merupakan tipikal orang yang mudah sekali minder. Aku takut jika aku menceritakannya, justru membuat hatinya merasa bersalah. Biar semua Tuhan yang mengatur ke depannya. Siapa tahu akan ada rezeki jatuh yang akan diturunkan untuk kami.
Perjalanan kian menipis. Dan akhirnya sampai di tempat tujuan. Mobil ini dibawa ke area parkir perusahaan. Sudah banyak sekali karyawan yang datang, sampai membuat antrian parkir. Alu melihat dua insan dari posisiku yang masih belum turun dari mobil ini. Kak Kate dan Affandy yang sedang berjalan bersama, banyak karyawan yang menghampiri mereka, sekedar memberikan salam, mungkin juga ucapan selamat. Dua insan yang terlihat sangat bahagia, cinta sudah didapat, uang pun juga banyak.
Mobil Andrew sudah mendapatkan satu tempat. Akhirnya, aku, Raya dan Sinta, juga Andrew turun dari mobil ini. Kuupayakan agar diri ini lebih semangat lagi. Tidak boleh oleng, karena tugas-tugas sudah menantiku dengan setia di dalam sana. Seperti biasa, Raya dan Sinta meminta izin berlalu lebih dulu, ya karena divisinya lebih sibuk daripada divisiku.
“Kamu beneran enggak apa-apa, kan?” tanya Andrew lagi, seakan tidak percaya dengan pengakuanku tentang baik-baik saja diriku.
Aku mengulas senyuman di bibirku, sembari menatapnya. “Iya, Sayang. Aku baik-baik aja,” jawabku tetap sama.
Sembari berjalan bersama, ia menyempatkan waktu untuk menyentuh keningku. “Udah adem sih. Tapi pasti masih pusing, kan?”
“Kenapa kamu enggak percaya sama aku, sih?”
“Wajah kamu enggak baik-baik aja.”
“Kamu sih!”
“Aku kenapa?”
“Aku udah menghindar diem-diem, malah teriak-teriak, ngaku lagi. Mereka mikir apaan coba? Dikiranya aku ambil kesempatan dalam kesempitan.”
Aku berpikir. “Hmm ... emang enggak? Lagian aku enggak mikir nyampe sejauh itu, mungkin aku udah terlalu percaya sama kamu.”
Andrew menggeleng. “Aku, kan, niatnya ngerawat kamu. Biar kamu enggak mandi, kalau orang lain, kan, takutnya gimana gitu. Tapi ya itu ....”
“Apa?”
Sikapnya menjadi malu-malu. Wajah yang memerah, sembari mengusap tengkuknya. “Aku masih cowok normal, Vya. Enggak bisa bersikap biasa, sumpah! Makanya aku kabur nyari obat.”
“Iya, aku tahu dan jangan dibahas lagi. Aku malu banget kalau keinget lagi.”
“Itu sih sama aja.”
Kaki kami melangkah ke dalam elevator yang sudah terbuka. Tidak ada orang di dalamnya. Lumayan, bisa berduaan dalam waktu yang sesempit ini. Nyatanya, akulah yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jikatidak ada CCTV di dalam.sini, sudah pasti.aku mengecup pipinya. Ketika merasa malu, wajahnya imut sekali seperti kucing persia.
Ketika sudah di lantai yang dituju, tidak sengaja kami bertemu Affandy dan Kak Kate yang tengah berbincang salah satu manager kantor ini, dengan membawa proposal di tangannya. Kami berdua hanya memberikan sapaan pagi dan hendak pergi. Tetapi, Affandi meminta kami untu menghentikan langkah dengan isyarat tangannya.
Aku dan Andrew yang diintruksikan pun menuruti. Entah akan ada apa yang akan dibicarakan dengan kami berdua. Namun, sepertinya mengenai pekerjaan saja, atau mungkin obrolan basa-basi di pagi hari.
“Ayo ke ruangan saya,” pinta Affandy setelah sang menager berlalu pergi.
Aku dan Andrew belum sempat memberikan jawaban, tetapi sudah mengikuti langkah Affandy dan Kak Kate yang menuju ruang kerjanya. Tentu saja, kami menjadi pusat perhatian karyawan lain yang kebetulan melintas. Mungkin menduga kami akan diberikan sangsi keras yang entah dari kesalahan apa. Sikap Affandy pun terlihat lebih formal daripada di luar kantor, atau saat banyak karyawan lain yang lewat.
__ADS_1
“Silahkan duduk,” ujarnya mempersilahkan kami untuk duduk tepat di hadapannya. Sedangkan, Kak Kate tidak masuk ke dalam karena mungkin harus mengurus pekerjaan lain. “Jadi, kapan kalian mau menggelar pernikahan? Kenapa enggak ada yang datang padaku minta izin?”
“Masih sekitar tiga minggu kurang,” jawab Andrew. “Hari ini pun, kami akan berencana untuk meminta izin, Pak.”
“Kalian tahu, kan, lebih cepat lebih baik. Bahkan, lebih baik satu bulan sebelum hari H. Ternyata masih sekitar tiga minggu, aku pikir udah dekat-dekat ini. Jadi, kalian mau minta libur berapa hari.”
“Kalau bisa, ya, satu bulan,” jawabku sekenanya.
“Mana ada, Navya. Karna kalian di tahun lalu sudah mengambil lima hari libur. Jadi dua belas hari yang harus jadi hari juti dikurang lima hari itu. Jadi, tinggal tujuh hari. Dan misal izin nikah, aku cuma bisa kasih kalian sekitar lima hari aja.”
“Emang enggak bisa ditambah dua hari, biar genap dua minggu?”
Affandy tersenyum mendengar pertanyaanku. “Bisa kalau kamu ambil di momen hari libur dan minggu tanpa penambahan hari yang aku kasih ke kalian.”
Andrew berpikir. “Kami hanya bisa ambil satu hari minggu, berarti hanya tiga belas hari saja, Pak.”
“Iya, itu udah aturannya. Gimana?”
Aku mengusap tengkukku. “Ya, gimana lagi kalau udah aturannya mah.”
“Tapi, kalian harus ambil hari berbeda. Jadi, misal Navya di hari Senin, Andrew harus di hari Rabu.”
“Selisih dua hari ya?”
“Biar kantor juga enggak kewalahan nantinya. Kasihan, kan, temen-temen kalian? Itu pun udah aku kurangi, Navya, biasanya di dalam satu ruang kerja, mereka bergilir ambil cuti. Jadi, enggak kewalahan. Tapi, karna kalian mau menikah ya gimana lagi, kami pun enggak bisa apa-apa, perusahaan ini juga enggak melarang menikah dalam satu pekerjaan yang sama. Aku cuma direktur biasa, Navya, bukan CEO utama.”
Aku dan Andrew manggut-manggut saja. Memang sih, agak sedikit kurang dan kami pun tidak bisa libur bersama, sehingga waktu pulang dan berangkat pun harus berbeda. Namun, Affandy telah mengupayakan yang terbaik. Perusahaan ini juga bukan miliknya, ia hanya menanam saham dan menjabat sebagai direktur cabang. Berkat bantuannya juga, aku dan Andrew bisa mendapatkan libur itu.
Inilah salah satu kerugian menjadi karyawan bawah yang dibawah naungan orang lain. Tidak bebas bergerak, meski untuk acara yang penting. Bukan sebuah drama yang tokohnya bisa mengambil libur kapan saja. Mungkin aku satu-satunya tokoh utama yang miris hidupnya. Tidak, mungkin aku hanya kurang bersyukur saja.
“Jangan lupa, nanti kalau udah balik kerja lagi, bawa fotokopi surat nikah ya. Hari ini urus form cuti sama izinnya dulu, kalau ada undangan pernikahan kalian.”
“Baik, Pak!” Aku dan Andrew menjawab secara bersamaan.
Setelah itu, kami keluar dari ruangan dengan sedikit lesu. Tidak ada bulan madu seperti pasangan kebanyakan, setelah menikah kami akan langsung bekerja. Baiklah, memang sudah tugas dan tanggung jawab. Dua minggu lumayan panjang juga, meski kurang satu hari.
“Sayang ....” ujar Andrew.
“Hmm ....” Kujawab begitu tanpa menatapnya.
“Apa kamu langsung resign aja?”
“Ck, enggak bisa dong. Aku, kan, udah tanda tangan kontrak lanjutan. Dan lagi, hutang papa aku belum lunas.”
“Hutang papa kamu itu masalah gampang, mungkin kamu yang masih harus bertahan dalam satu tahun. Sebenarnya ada satu rahasia yang belum aku katakan sama kamu, mungkin setelah kita menikah nanti.”
Langkahku terhenti seketika. “Rahasia? Apa? Kenapa enggak sekarang?”
“Udah ayo masuk dulu. Bukan sesuatu yang buruk kok.” Andrew menarik lenganku agar kembali berjalan
“Jawab dulu sekarang!”
“Enggak mau.”
“Andrew!”
“Nanti aja.”
“Ih!”
Andrew benar-benar mengabaikan permintaanku. Ia yang memancing rasa penasaran, tetapi dirinya juga yang tidak bersedia mengatakan. Memangnya rahasia apa lagi yang ia sembunyikan? Haruskah menunggu pernikahan dulu, baru dikatakan?
__ADS_1
Menyebalkan!
Bersambung ...