Who Is My Love

Who Is My Love
Tengil


__ADS_3

Perbincanganku dengan Affandy tadi malam berakhir dengan diam. Pernyataan terakhirnya mengenai perjuangannya yanh selalu sia-sia, membuat mulutku seketika bungkam. Ya, aku merasa tidak boleh ikut campur terlalu dalam pada urusannya dengan Kak Kate. Lagipula, aku sendiri masih menjadi gadis yang labil akan hati dan beberapa hal tentang kehidupanku. Tidak semestinya, aku mendesak Affandy lantaran merasa iba terhadap teman baruku--Kak Kate. Setelahnya, aku diantarkan pulang kembali tanpa pembahasan lebih lanjut.


Lalu, disuatu koridor gedung kantor ini, diwaktu yang tepat untuk menghela napas segar, aku dan kekasihku sedang mencuri waktu berdua saja. Namun dalam konteks yang masih positif. Duduk berdua bersamanya di kursi yang panjang, salah satu fasilitas dari perusahaan ini. Sedangkan para karyawan lain masih sibuk makan siang. Untuk kami? Kami sudah makan siang dan menepi disini.


Kami mencuri kesempatan seperti layaknya anak sekolah yang sedang kasmaran. Namun bedanya kami adalah sepasang karyawan didalam sebuah perusahaan. Bergelut dengan berkas-berkas membosankan dan bukan buku-buku mata pelajaran. Kami mendapatkan gaji berupa uang dengan menerapkan beberapa ilmu yang telah kami dapatkan, bukan membuang uang untuk sejumlah ilmu yang bermanfaat.


"Sayang, kamu tadi malem tidur lebih awal ya?" Pertanyaan Andrew mampu membuat hatiku seolah tertusuk paku. Aku dibuat gelagapan karenanya. Haruskah aku jujur? "Navya?"


"Eh, emm ... ya, aku udah tidur," jawabku sekenanya. Meski begitu, sepertinya aku tidak pandai dalam menyembunyikan sesuatu. Rasanya sangat bersalah terhadap Andrew. Bagaimana kalau ia sudah menaruh curiga? Bahkan sudah mengetahuinya?


"Beneran?"


"I-iya kok."


Namun, tatapan mata Andrew terasa lebih tegas daripada sebelumnya. Seolah benar-benar mencurigaiku. Ingin hati ini supaya aku berucap jujur, karena sudah menjadi prinsip didalam hubungan kami. Namun bibirku terasa kaku dan kelu, tidak bisa mengatakan sepatah kata pun tentang pertemuanku dengan Affandy tadi malam. Ya, aku takut Andrew merasa kecewa.


Pada akhirnya, ia kembali melemahkan tatapan matanya kepadaku. Ia beringsut, memundurkan punggungnya untuk bersender pada badan kursi ini. Sedangkan diriku malah terdiam sembari merasakan keraguan. Aku seharusnya mengatakannya dengan jujur dan bukan seperti ini. Beberapa kali, bahkan aku mengusap-usap tengkukku, bertanda bahwa aku tengah gusar.


"Nggak tahu kenapa, Vya. Kok tadi malem aku gelisah banget. Mungkin aku lagi kangen sama kamu kali ya?" Andrew tiba-tiba mengatakan itu sampai membuatku semakin gusar dan menelan ludah dengan kelu. Jantungku menjadi berdebar kencang. Aku gugup!


"Ke-kenapa bisa gitu?"


"Udah kubilang, mungkin aku kangen sama kamu."


"Maaf."


"Bukan salah kamu kok."


"Tapi ... tapi ... tapi a-aku emang salah kok. Emm ... ada sesuatu yang seharusnya aku katakan sama kamu, Ndrew."


"Soal?"


"Bukan sekarang. Nanti ya? Kalau pulang."


"Yaudah, aku tunggu."


Lalu, ia terdiam, maksudku aku yang lebih dulu diam. Parasnya yang tampan menunjukkan sesuatu yang meragukan diriku. Aku rasa, ia memang sudah tahu. Namun bukan saat ini waktu yang tepat untuk berkata jujur. Ini masih didalam lingkup perusahaan. Bagaimana jadinya jika ia kesal dan malah berlaku buruk kepada Affandy saat mereka bertemu? Astaga! Padahal aku sendiri yang mengatakan jangan pernah berbohong. Tapi, diriku pula yang saat ini sedang berbohong. Walau pada kenyataannya tidak ada hal apapun dengan diriku dan Affandy. Namun tetap saja, hati Andrew harus aku jaga. Aku menyesal.


Mentaru tengah benderang menunjukkan sinarnya, hari ini lebih panas daripada hari sebelumnya. Seolah ikut serta ke dalam perasaan kesal Andrew. Ia bahkan tidak mengatakan sesuatu atau menuduhku secara sembarangan. Aku pikir saat kami mencuri waktu seperti ini akan lebih menghangatkan suasana. Sayangnya tidak, semua karena diriku.


Lalu, tidak lama kemudian, lalu lalang karyawan sudah ramai. Tidak sepi seperti tadi, mungkin mereka hendak kembali ke ruang kerja untuk mencicil pekerjaan. Sedangkan kami masih saling terdiam. Andrew terdengar menghela napas dengan berat, sampai ia mulai berbicara lagi, "emm ... udah mau masuk, Sayang. Aku mau ke toilet dulu ya?"


Aku mengangguk pelan. "Iya, Ndrew," jawabku.


Meski ia merasa kesal terhadapku, ia tetap memanggil diriku dengan panggilan romantis itu. Betapa tabahnya dirinya, sebegitu kuatnya menahan rasa kecewanya. Dan aku rasa, ia memang sudah mengetahuinya. Bagaimana tidak, tadi malam Affandy menurunkan diriku tepat didepan gerbang kediaman kami. Ya, pasti ia tahu dan mengintip sedikit dari bingkai jendela kaca. Rasanya sangat malu dan frustasi. Bahkan jika aku berada diposisi Andrew, aku pasti akan marah dan lantas menghujaninya dengan emosi yang meledak-ledak.


"Maafkan aku ...." Hanya itu kalimat singkat yang mampu aku gumamkan secara pelan. Sembari menunggu kepulangan kami dari kantor ini. Sedang nyaliku sudah menciut untuk sekedar mengikutinya dari belakang. Padahal aku ingin ke toilet wanita yang arahnya sama dengan milik pria.


Ingin sekali kutumpahkan semua rasa ini kepada Affandy, supaya ia pun ikut dalam meluruskan kesalahpahaman yang mungkin terjadi. Hanya saja, sejak tadi pagi aku tidak melihat batang hidungnya barang sekali saja. Bahkan Kak Kate, sepertinya mereka ada urusan atau perjalanan bisnis. Memang nasibku sudah seperti ini, mungkin. Bukan masalahku, namun aku ikut terlibat dan mendapatkan pengaruhnya. Ah ... sudahlah, aku harus kembali. Lantas, aku berdiri dan hendak mengambil langkah


Dug! Seseorang menabrak bahu sebelah kananku dengan tenaga lumayan keras. Beruntung, aku tidak sampai terjatuh terkapar. Aku menoleh ke arah sang pelaku lantaran heran, tidak ada satu kata untuk meminta maaf. Geng chibi-chibi tengah hadir dihadapanku. Mereka menatapku sinis sembari melipat kedua tangan didepan badan mereka. Layaknya siswi-siswi SMA yang sedang melabrak siswi lain yang lebih lemah.


"Ck!" Bibir Bela mengecap sembari memutar bola matanya dengan sinis. "Ini toh ternyata. Sangat nggak cocok sama do'i."


"Norak ih," sela Nita.


"Udah guys. Cabut yuk, nanti diomelin Elena gue." Lindseyld mengajak mereka kembali melanjutkan langkah. Namun, aku tahu bahwa ada sesuatu yang ia tonjolkan kepadaku. Mungkin style, kecantikan atau sesuatu yang tidak aku miliki. Lalu mereka mengambil langkah kembali.


"Cih! Kayak pada cantik aja deh!" celetukku. "Oops ...."


Langkah Linseyld terhenti, bahkan kedua temannya yang lain. Mereka berbalik lagi menatapku. Aku menelan ludah karenanya. Bibir dan lidahku benar-benar tidak bisa diajak kerja sama.


"Tahu diri dong, loe disini junior kami!" tegas Bela kemudian.


"Bener tuh, lihat diri loe sendiri, Navya. Gue pikir loe orang baik. Ternyata dengan santainya mempermainkan hati Linseyld, seolah nggak tahu apa-apa. Padahal loe sendiri yang jadi pacarnya Andrew. Mau sok cantik loe?! Berasa jago gitu kalau udah bikin orang sakit hati?!" Nita tidak mau ketinggalan dalam menghujaniku secara verbal.

__ADS_1


Sedang Linseyld maju tiga langkah ke depan. Kini ia tepat dihadapanku dengan sorot mata penuh kebencian. "Lihat diri loe, Navya. Loe cuma anak cupu yang bodoh!" Ia menyeringai. "Gue nggak yakin, Andrew tulus sama loe. Emm ... kalau gue nekat, gue pasti dapetin dia sepenuhnya. Secara gue masih tinggi satu level daripada loe."


"Tapi, loe lebih rendah dari gue, Kakak. Jelas-jelas Andrew nggak mau, masih ngotot jadi lakor aja. Heran deh ah!" Aku membalas ucapan pedas Linseyld tersebut.


Hingga ia merasa terhina dan hendak mendaratkan telapak tangannya di pipiku. Namun, sebelum menyentuh pipiku, aku menangkis kasar menggunakan tanganku. Vinez yang gila saja, aku mampu menghadapi. Apalagi dirinya yang tidak seberapa. Dan benar, ia tampak bertambah geram. Matanya memerah seperti ingin menangis.


Tentu saja, kedua sahabatnya tidak terima. Mereka berdua mendekatkan diri kepada kami. Lalu Nita berusaha mendorongku, beruntung aku masih bisa menghindar. Walau akhirnya, Bela mendapatkan celah. Aku terdorong ke belakang.


Dug! Namun seseorang menangkap tubuhku seketika. "Ada apa ini?" tanya pria itu.


Affandy?


"Ada masalah apa kalian? Bukankah sebentar lagi jam kerja dimulai kembali?" Itu pertanyaan yang timbul melalui suara Kate.


"A-anu, tadi nggak sengaja kedorong, Pak Fandy. Dan Nona Kate," jelas Bela.


Munafik kalian!


"Saya tidak percaya," jawab Affandy. "Jelas-jelas kalian didepan Navya. Bagaimana bisa tidak sengaja?"


Mampus loe pada!


Lantas, aku melepaskan diriku dari rengkuhan Affandy. Namun sialnya jauh didepan mataku ada Andrew yang tengah menatap kami.


Kali ini gue yang mampus!


Affandy menghela napas kemudian. "Ya sudah. Saya tidak mau menuduh tanpa ada bukti. Siapapun yang bersalah dia yang harus minta maaf. Waktu sudah mepet, kembali ke ruang kerja masing-masing. Dan ... jangan sampai membawa masalah luar ke dalam pekerjaan."


"Ba-baik, Pak," jawab mereka bertiga serentak.


Kemudian, mereka berlalu. Kini aku yang semakin digusarkan oleh sikap Andrew yang dingin. Bahkan secara kebetulan, malah ada Affandy dan Kak Kate. Ini benar-benar diluar kendaliku. Mungkin saat ini Andrew benar-benar kecewa dan menduga segala sesuatu. Oh ... apa yang harus aku katakan? Bisakah ia mempercayaiku? Aku hanya bisa menepuk jidat sekarang.


"Hei!" seru Kak Kate. "Nggak balik, Nav?"


"Yaudah, nanti curcol sama aku aja hehe."


"Emm ... kayaknya lagi seneng nih?"


"Apanya?"


"Jalan sama Pak Fandy."


"Ngawur kamu, Nav. Kami kan lagi kerja."


"Hehe ... siapa tahu, ada kencan disela pekerjaan."


"Dasar, anak nakal. Udah balik sana, mau aku sangsi?"


"Iya, iya, enggak kok."


Kak Kate tersenyum kemudian berlalu meninggalkanku. Sama seperti dirinya, akhirnya aku melangkah menuju ruang kerjaku. Betapa panasnya atmosfer ruang kerjaku nanti, ada Linseyld dan Andrew yang sedang merasa kecewa. Aku ingin cepat-cepat pulang, ya Tuhan!


Para karyawan divisiku telah rapih duduk di tempat kerja masing-masing. Sepertinya diriku yang paling akhir. Benar saja, tatapan tajam dari mata wanita itu masih diarahkan terhadapku. Sungguh konyol, aku masuk ke dalam masalah akibat ulahku sendiri. Ulah tentang ingin menyembunyikan hubungan kami karena alasan tidak ingin dipisah meja kerjanya. Memangnya aku ini anak umur berapa?


Navya, emang nggak pernah waras.


Sudahlah, lupakan. aku harus kembali duduk. Lalu dengan langkah pelan, aku melewati tempat kerja Andrew. Ia tidak berkata sedikitpun. Kuhela napasku dengan berat dan akhirnya duduk. Aku berusaha menepis semua pikiran tidak jelas dan fokus pada pekerjaanku. Biarlah, nanti aku yang menjelaskan semuanya kepada Andrew. Ini memang salahku.


****


Ramai, semua karyawan saling berebut pintu keluar. Sedangkan diriku malah menjatuhkan kepalaku di atas meja kerjaku. Beberapa saat sudah berlalu, bersyukur tidak ada lemburan hari ini. Walau tetap saja, aku merasa kelelahan. Rasanya ingin memejamkan mata sekarang juga.


"Navya, pulang yuk." Suara Andrew membuatku membangunkan kepalaku. Aku menatapnya lalu tersenyum sangat lebar. Akhirnya ia berbicara kembali kepadaku. Aku lega. "Kenapa? Malah senyum-senyum? Ayok."


"Iya, Sayang," jawabku sembari merapikan meja kerjaku dan mengambil tas ranselku.

__ADS_1


Andrew tampak mengernyitkan dahi lantaran heran. Namun, aku tidak peduli dengan sikapnya. Aku merangkul lengan tangannya dan bersikap manja. Lalu kami mengambil langkah untuk keluar.


"Kamu kenapa sih, Vya? Aneh deh."


"Nggak apa-apa. Emang salah kalau kayak gini sama pacar sendiri?"


"Ya, enggak sih. Tapi biasanya kamu jaim banget."


"Mulai sekarang aku nggak akan jaim."


"Bener?"


"Ya!"


"Oke. Didepan siapapun ya?"


"Iya, siap. Termasuk si uler."


"Uler?"


"Yups!"


"Ada-ada aja. Tapi, inget ya, kamu masih punya hutang penjelasan sama aku."


"Iya, aku bakal jelasin. Tapi kamu jangan marah ya, Sayang?"


"Iya, Sayang."


Sempurna! Andrew tidak marah lagi. Mungkin ia sempat kecewa. Namun sekarang tidak. Sepertinya makna diriku untuknya memang sangat besar. Aku boleh berbangga, bukan? Lagipula perjuangannya sudah besarm Tidak mungkin ia tidak mencintaiku dengan tulus. Aku mampu menebas tebakan Linseyld yang sok tahu itu.


Bahkan kami melewati geng chibi-chibi itu. Semakin mereka menatap kami, semakin aku berlaku semanja mungkin kepada Andrew. Beruntungnya Andrew merasa senang dan tidak malu. Justru sikap manisku ini yang selalu ia tunggu. Tentu saja, ketiga wanita itu gumoh-gumoh sendiri. Ini baru permulaan lihat saja ke depannya. Aku akan membuktikan bahwa hubungan kami benar-benar kuat. Aku tidak akan melepaskan Andrew untuk kedua kalinya.


"Hei, Sayang. Kamu sengaja ya?"


"Apanya, Ndrew?"


"Biar mereka panas? Kamu tadi diapain?"


"Iya, bener banget. Aku tadi ditengilin."


"Didorong terus Pak Fandy yang nangkep gitu ya? Terus sok romantis gini, kalau ada mereka aja, gitu?"


"Ih ... maaf, aku nggak tau Pak Fandy ada disitu. Soal ini, aku bener-bener serius. Kamu kan pacarku."


"Oh ... aku harap emang gitu, Sayang. Tapi ... tadi malem kamu kemana sama Pak Fandy?"


Deg! Seketika aku melepaskan rengkuhan tanganku pada bahu Andrew. Dugaanku benar, ia mengetahui pertemuan kami. Aku menelan ludah, tidak mungkin aku jelaskan sekarang lantaran belum sampai rumah.


"Ndrew, Nav!" Seseorang menyerukan nama kami. Kami menoleh dan mereka adalah Raya dan Sinta. "Pulang bareng lagi kita."


"Maaf, Sin, Ray. Gue sama Navya masih ada acara. Kalian duluan aja," ujar Andrew. Sampai aku terkejut. Kami tidak ada rencana keluar. Jangan-jangan ia hendak menginterogasi diriku disuatu tempat nan jauh?


"Cieee, mau kencan sore ya?" celetuk Raya.


"Yaudah, hati-hati ya kalian, Nak. Ingat pulang jangan malam-malam. Mama tunggu di rumah haha. Jangan kelayapan yang aneh-aneh lho," gurau Sinta.


Andrew terkekeh. "Siap, Mak. Siapin makanan buat kami ya, Mak?"


"Enak aja loe, Ndrew!" Selepas menegaskan itu, Sinta mengajak Raya berlalu sembari melambaikan tangan kepada kami.


Deg! Aku harus menghadapi Andrew dengan sebenar-benarnya. Seolah diri ini tengah kepergok berselingkuh.


Mampus, aku!


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2