
Padahal aku baru saja melakukan hal-hal yang menyenangkan sampai aku bisa melupakan Andrew hari ini. Namun sialnya, kenapa aku harus bertemu Nevan disini. Aku pikir ia telah berhenti mengganggu dan mengejarku. Makanya aku sedikit meladeni sapaannya. Dan ternyata ia masih sama saja.
Tangan Nevan masih sangat erat menggenggam tanganku. Rasanya sangat sakit sekali. Aku sudah memberi tatapan ancaman. Namun tidak mengurangi niat Nevan.
"Apaan sih lo Van??!" Ujarku bertanya geram.
"Iya ih Van lepasin Vya napa! Udah bawa cewek juga." Sambung Sita yang tidak kalah kesal denganku.
"Sorry Sit gue butuh Vya.Vya kamu nonton bareng aku ya?" Jawab Nevan pada Sita dan aku.
"Gaklah ngapain sih jangan gini deh banyak orang Nevan!" Ujarku.
Aku benar-benar heran, seorang Nevan masih saja keras kepala sampai sekarang. Pada saat aku melarangnya, bukannya berhenti. Kini ia malah menarikku sampai tersungkur kepelukannya. Beruntung kami tidak jatuh dilantai.
Jika diposisi seperti ini pastinya aku sangat cemas sekali. Tidak hanya kesal namun juga malu. Apalagi disela-sela keramaian seperti ini. Begitupun Sita tak kalah paniknya menyaksikan tingkah Nevan yang sangat kekanak-kanakan.
"Nevaaannn!!!" Seseorang memanggil nama Nevan dari arah depan.
Seorang wanita cantik berkulit putih kebule-bulean yang ditunggu Nevan sejak tadi kini berdiri di hadapan kami. Aku gugup, takut sekaligus tidak enak hati padanya.
Aku terus berusaha melepas genggaman Nevan dengan keras. Namun usahaku sia-sia ia masih saja tidak menyerah, jika aku semakin memaksa tanganku akan terasa sakit. Aku tidak mengerti maksud Nevan dibalik ini semua.
Bola mataku menatap Sita dengan harapan ia bisa membantuku, meski aku tau semua akan nihil. Sita tidak bisa berpikir kalau sedang panik dan tentu saja ia akan kalah tenaga dengan Nevan. Kini aku hanya bisa pasrah dan bersiap-siap untuk mendengar hinaan dari wanita tersebut.
"Loe Vya yaaa?" Ujar wanita tersebut sembari menatapku dari ujung kepala sampai kaki secara berulang-ulang.
"Ehmm... Sorry gue gak ad..." Jawabku padanya namun belum sempat selesai.
"Cantiiiiiiiiiikkkkkkk bangeeeeeettttt."
"Haaaaaah?"
Apa maksudnya? Kok dia tidak marah? Rahangku terjatuh bibirku terbuka menganga. Kini wanita tersebut malah memasang raut wajah takjub padaku. Sikapnya berbanding terbalik dengan apa yang aku bayangkan. Ini bukan sikap sebagai seorang kekasih. Lalu ia siapa?
Sama halnya denganku, Sita tak kalah kagetnya. Bola mata kami bertemu satu sama lain untuk menyampaikan kebingungan yang ada. Sedangkan Nevan hanya tersenyum-senyum disampingku. Tangannya tak lagi kencang menggenggam tanganku meski belum terlepas.
"Kenalin Vya gue Jean adik sepupunya Nevan." Ujar Wanita tersebut memperkenalkan diri seraya memajukan telapak tangannya padaku.
"Hay gue Vya. Kok tau gue?" Jawabku sembari menyambut tangannya.
"Haha taulah Nevan tu ya tiap hari nyeritain lo mulu nyampe bosen gue."
"Ohh... Sorry."
__ADS_1
"Loh kok sorry lo gak salah Vya. Gue kaget banget ternyata lo secantik ini, kayak berbie tauuuukkkk gemassshhh."
"Hehe. Thanks."
Aku tersenyum kecut mendengar pujian Jean. Apalagi ketika jari-jarinya mencubit gemas pipiku, aku merasa resah karena mungkin tidak terbiasa.
"Yaudah yuk Vya masuk udah mau mulai nih." Ajak Sita padaku.
"Gak, Vya gue pinjem." Jawab Nevan.
"Kita beda studio Van."
"Makanya Vya sama gue."
"Tapi kan..."
"Jean bawa Sita yah."
"Okeeeee." Ujar Jean sembari menarik tangan Sita bersamanya setelah memberikan dua tiket yang baru ia beli pada Nevan.
Mataku melotot pada Nevan. Seenaknya saja ia mengatur kami.
"Maksud lo apaan sih?" Tanyaku geram.
"Huuuhhh."
Mau tidak mau aku terpaksa menuruti permintaan Nevan. Namun bukan maksudku segampangan itu. Seandainya aku memilih pulang lalu bagaimana dengan Sita? Jika aku mengikuti Sita tentu saja aku merasa tidak enak dengan Jean lagipula aku juga tidak memegang tiketnya. Dan kalau aku pergi keluar ruangan bioskop takutnya Nevan terus membuntutiku. Jadi, aku putuskan mengikuti permainan ini sampai selesai.
Aku dan Nevan menuju ke sebuah studio dimana film akan diputar. Kami berjalan bersama bak sepasang kekasih. Tangan Nevan tidak lepas sedari tadi. Padahal aku sudah memintanya. Memang luar biasa sulitnya meruntuhkan tembok keras pada hati Nevan. Rasanya aku sudah tidak sanggup.
Setelah memberikan dua tiket pada wanita penjaganya. Kami melenggang masuk mencari tempat duduk yang sudah tercantum pada robekan tiket.
Nevan menuntun lembut ke atas. Tepatnya di bangku baris VIP yang sesuai kelasnya tentunya lalu kami duduk disana. Sejenak benakku melayang membayangkan Jean yang seharusnya duduk di bangku VIP dan sekarang ia hanya duduk di bangku biasa. Malah seingatku dibaris keempat dari belakang. Mau untung malah buntung.
"Hihi..." Aku terkekeh pelan mengingatnya.
"Kenapa Vya?" Tanya Nevan.
"Ehmm... gak kok."
"Yakin?"
"Ehmm."
__ADS_1
"Navya?"
"Ya."
"Kamu inget gak dulu kita sering nonton bareng jalan bareng makan bareng, seru ya?"
Sepertinya Nevan mencoba mengorek masa lalu. Mungkin ia berharap rasa cintaku timbul kembali setelah mengingatnya. Bukannya kepedean, tapi sikapnya memang mengarah kesitu.
Aku hela napas panjang dan malas sebelum menjawabnya. Bola mataku pun segera aku fokuskan pada layar besar agar lebih terbawa suasana di film.
"Vya?" Ujarnya lagi.
"Ya." Jawabku singkat.
"Kamu inget gak?"
"Ya dong inget orang gue nurutin lo mulu."
"Ehmm maaf, selama itu gak pernah nurutin mau kamu gak bikin kamu bahagia. Aku bener-bener gak sadar soal itu maaf."
"Bukan gak pernah Van, pernah kok seinget gue. Diawal kita pacaran lo masih nurutin mau gue dan diakhir pacaran lo tumben mau ikutin apa yang mau gue lakuin. Yah, walaupun abis itu lo ngebuang gue."
"Maaf tau kok aku emang salah maafin aku Navya..."
"Tenang aja udah gue maafin. Sekarang diem aja deh jangan brisik yang lain juga lagi nonton."
Perbincangan kami terhenti dan sama-sama terdiam. Aku dan Nevan fokus menatap dan menyaksikan film yang diputar. Entah apa yang dipikiran Nevan sekarang. Aku tidak bisa dan tidak mau menebaknya. Kini hanya sesekali terdengar riuh tawa penonton ketika ada adegan komedi. Aku juga sudah hanyut dalam isi film
Lambat laun waktu berjalan, dua jam berlalu. Tengkuk sudah pegal sekali apalagi bokongku terasa panas karena terlalu lama duduk. Film pun juga sudah usai. Semua penonton berhamburan keluar.
Nevan masih saja memperlakukanku bak seorang putri. Mungkin ia pikir aku akan luluh padanya. Jangan harap!
Aku pikir semua yang sudah selesai tidak akan bisa diulang kembali. Lagipula rasa kecewa tidak akan bisa hilang meskipun sudah memaafkan. Saat ini aku hanya mengikuti alur permainan Nevan sampai ia merasa Ge-eR dan aku bisa menjatuhkannya seketika.
Silahkan nilai aku seperti orang jahat. Tapu menurutku itulah pelajaran untuk orang yang keras kepala.
Bersambung...
Jangan lupa like+komen+fav+bintang!!
GRATISS!!!
buat kamu yang masih mendukung novel ini terus berlanjut.
__ADS_1
Sekaligus baca juga Aku GENDUT!!! novel terbaruku. Oke??? 😁😁😁