
Di sebuah dapur rumah yang besar bernuansa putih susu, aku tengah sibuk memasak makanan, maksudku hampir selesai. Dua tahun terakhir, memasak merupakan hobi yang paling aku gemari. Terlepas dari hobi shopping dan juga ini itu. Ya, dua tahun telah berlalu. Aku menghabiskan sisa kontrak pekerjaanku, cukup dua tahun saja terhitung dan aku pulang ke tanah air dari keberangkatanku ke Singapura.
Kini, pekerjaanku hanya sebagai ibu rumah tangga. Melayani suami dan ... anak. Benar, aku telah memiliki seorang anak perempuan berusia satu tahun lebih dua bulan. Namanya diambil dari namaku dan suamiku—masing-masing nama dua huruf sepan—An dan Na. Anna Elesya Putri, itulah namanya. Seorang putri cantik—darah dagingku dan Andrew.
Sampai saat ini, aku tidak menyangka bisa mendapatkan kehidupan yang seindah ini. Masa mudaku yang buruk telah berlalu, akan menjadi sebuah kenangan paling berharga di hidupku, sebagai pembelajaran untuk kehidupan yang akan aku jalani. Dan hari ini, aku dan keluarga kecilku akan pergi bertamasya di suatu taman. Kami tidak ingin melewatkan hari libur suamiku yang jarang terjadi. Ya, benar, karena Andrew sudah mengambil alih bisnisnya. Ia meminta kedua orang tuanya menikmati hari tua, juga kedua orang tuaku.
Namun, bukan berarti papa dan mama menerima uang begitu saja. Papa merupakan orang yang terbiasa bekerja, sehingga beliau masih menjalani pekerjaan sebagai penerjemah bahasa Jepang di suatu perusahaan, kali ini sudah tetap. Papaku tidak mau meminta apa pun dariku juga Andrew, kami sudah berusaha memberi satu cabang restoran dan beliau menolak mentah-mentah. Yah, mau tidak mau kami hanya pasrah. Aku bersyukur karena kehidupan papa dan mama juga bisa lebih baik daripada sebelumnya. Aku dan suamiku masih sering mengunjungi mereka, karena rumah kami juga tidak terlalu jauh. Jadi, kami tidak melupakan begitu saja.
"Nona, ini sushi-nya mau ditaruh di wadah kotak aja?" tanya salah satu asisten rumah tanggaku sembari membawa sushi yang masih tersaji di dalam nampan plastik.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Mbak Ina," jawabku.
"Baik, Nona."
Setelah itu, Mbak Ina berlalu. Ah, nona? Sebenarnya, aku merasa agak aneh karena aku sudah memiliki anak dan dipanggil dengan sebutan itu. Namun, Mbak Ina bilang aku masih terlihat muda untuk disebut nyonya. Baiklah, mungkin inilah salah satu kelebihanku, awet muda dan bahkan bentuk tubuhku tidak berubah meski sudah melahirkan—tetap kurus.
Tiba-tiba, ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangku. Aku sontak terkejut dan menghentikan aktivitasku dalam mempersiapkan bekal ke dalam wadah. Aku tahu siapa pelakunya, tentu saja suamiku tersayang.
"Sayang, aku masih pegang makanan ini," ujarku dengan harapan ia bisa melepaskanku.
"Ya udah, kerjain aja. Aku di sini enggak ganggu, kan?" sanggahnya.
Aku mengembuskan napas. Membelai wajah Andrew yang kini terpangku oleh pundakku, tentu saja dengan tangan kanan yang bersih. "Kamu jangan manja dong. Anna mana?"
"Kangen, Sayang. Anna baru aja tidur."
"Hmm ... mau berangkat malah tidur? Gimana ya? Jangan gini ih, ada Mbak Ina."
"Mbak Ina selalu pergi kalau aku begini."
"Hmm ... mendingan kamu bantuin aku aja deh."
"Bantu do'a, ya?"
"Kamu selalu kayak gitu!"
Andrew melepaskanku, tetapi bukan untuk membantuku, melainkan bergerak ke sampingku. Setelah itu, ia menarik tubuhku agar menghadap dirinya. Jika sudah seperti ini, ia sudah pasti mengusir Mbak Ina ke tempat lain. Ada-ada saja. Dan yang ia lakukan adalah memberikan sentuhan lembut di bibirku, dengan bibirnya yang manis itu. Sudah seperti hobi baginya dalam mengganggu aktivitasku. Herannya, aku tidak bisa melawan dan justru hanyut ke dalam keromantisan itu. Apa aku bodoh?
__ADS_1
Hingga satu menit berlalu, ia baru melepaskanku. Senyumnya selalu mengembang setelah mendapatkannya, ya, aku selalu kalah darinya. Hanya gelengan kepala saja yang bisa aku berikan.
"Kamu kok cantik sih, Vya?" Tatapannya tidak terlepas dariku sama sekali. Dan terkadang membuatku salah tingkah, rona merah jambu pun muncul mewarnai sekujur wajahku.
"Dari lahir," jawabku sekenanya sembari memalingkan wajahku membelakanginya.
"Kenapa lihat ke sana? Kamu imut tahu kalau lagi malu-malu, kenapa sih? Padahal udah dua tahun nikah sama aku, aku udah tahu luar dalemnya kamu. Tapi, tetep aja salah tingkah kayak gitu?"
"E-enggak apa-apa, kan? A-aku, kan, juga manusia yang punya rasa malu."
Tidak peduli dengan ucapanku, Andrew mencubit pipiku dengan keras sampai aku mengaduh kesakitan. Pria ini benar-benar menyebalkan. "Cantik banget, istriku!"
"Makasih."
"Aku ganteng enggak?"
"B aja."
"Kok gitu?"
"Kok kamu suka kalau aku B aja?"
"Khilaf, pas sadar udah nikah selama dua tahun."
"Halah, khilaf kok keterusan." Andrew mengembuskan napasnya. "Ya udah aku tunggu ya, Sayang. Aku mau lihat si cantik kecil dulu."
"Iya, Sayang."
Andrew berlalu meninggalkan diriku di sini. Meski sudah menjadi suami yang baik, ia sudah jarang sekali membantuku di dapur. Namun, soal anak, ia maju paling pertama. Lebih mengesalkan lagi, putriku justru sangat mirip dengannya. Mata yang sipit, hidung, bahkan bibirnya sama. Aku yang melahirkan, tetapi bapaknya yang dapat jatah mirip. Yah, mau bagaimana lagi? Anak perempuan memang sangat dominan dengan wajah sang ayah.
****
Beberapa saat kemudian, kami telah sampai di sebuah taman yang indah. Tikar digelar, Andrew mendendangkan lagu indah. Sedangkan putriku berlarian kecil dalam pengawasan kami. Hari ini sungguh cerah, tetapi tetap sejuk, mungkin karena pepohonan yang rindang.
"Sayang, aku tadi bikin sushi tauk," celetukku sembari membuka salah satu wadah berisi makanan itu.
Aku menyuapkannya ke mulut Andrew. Ia menerimanya dengan senang hati. Tidak pernah sekali pun, ia mengeluhkan soal rasa makananku. Mengingat tentang masa lalu—saat kami pertama bertemu—Andrew adalah orang yang membuatku sangat ingin memasak. Meski saat itu hubungan kami benar-benar tidak jelas, aku tidak akan membuang semua pengalaman itu. Dan Lusi? Ia benar-benar menghilang dari kehidupan Andrew, kabar terakhir dari ibu mertuaku, katanya ia pun sudah menikah dengan partner kerjanya.
__ADS_1
Ah, benar juga, soal temanku. Sinta turut memutuskan kontrak bersamaan dengan diriku, ia akan menikah satu bulan lagi setelah LDR selama dua tahun. Raya dan Kak Kate menjadi dekat, bahkan Raya semakin dekat dan menuju jenjang serius dengan Steve—si bule tengil.
"Sayang," panggil Andrew kepadaku.
"Ya?" Aku menatapnya.
"Pak Fandy sama Nona Kate udah mau punya anak?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, aku dengar dari Kak Kate katanya sedang hamil tiga bulan."
"Hmm ... enggak terasa, ya? Kita dan teman-teman udah berumah tangga. Hanya tingga Raya sama Steve. Aku denger mereka lagi ada hambatan soal restu dan Steve, kan, orang asing. Jadi, agak ribet."
Aku mengembuskan napas. "Ya, apa pun itu, semoga mereka lancar kayak kita-kita, Sayang."
Hanya anggukan yang diberikan Andrew kepadaku. Setelah itu, ia bangkit dari duduknya karena melihat Anna yang terjatuh dan menangis. Andrew menggendong putri kami dengan tawa khas untuk anak kecil. Ia menerbangkan Anna sedikit tinggi dan putri kami itu tertawa.
Dari sini, aku melihat pemandangan yang indah tiada terkira. Suami yang tampan, putri kecil yang cantik, ekonomi kami sudah meningkat. Tidak terasa, ada setetes air mata yang jatuh di pipiku, aku terharu, aku bahagia. Terima kasih Tuhan atas kehidupan ini, maafkan aku atas kebodohan dan dosa-dosaku selama ini.
"Mamaaa!" Anna meneriaki diriku dengan suara yang khas milik anak usia satu tahun.
Lantas, aku segera bangkit. Aku menghampiri keduanya, setelah menutup bekal yang kami bawa.
Andrew menarik pinggangku, meski ada Anna di gendongannya. Ia menatapku dengan mata sayu, lalu mengecup bibirku. "Aku bahagia punya kalian berdua. Terima kasih, Navya, kamu udah mau jadi istriku selama dua tahun ini dan aku berharap untuk selamanya. Terima kasih udah melahirkan putri cantik di tengah keluarga kita," ujarnya lirih.
"Terima kasih, Suamiku. Aku juga sayang kalian berdua," jawabku.
"Aku juga sayang kalian."
Kami saling memeluk satu sama lain. Indah dan aku berharap kebahagiaan kami akan berlanjut selamanya. Hanya usia yang akan memisahkan. Amin.
END
Terima kasih semuaa telah berkenan membaca....
Navya rambut pendek.
__ADS_1