Who Is My Love

Who Is My Love
Tidak Stabil


__ADS_3

Setelah melalui hari libur yang secara paksa itu, akhirnya aku akan masuk ke kantor kembali. Aku berdandan ala kadarnya dengan wajah yang masih putus asa. Aku sangat lelah. Belum lagi, aku harus menemui banyak orang nantinya. Pasti akan ada yang bertanya tentang kondisiku.


Deru mobil si b*jingan sialan itu terdengar memasuki pekarangan rumahku. Haris sudah berkirim pesan padaku akan mengantarkan untuk bekerja. Dan lagi-lagi aku tak punya kuasa untuk menolak. Tidak ada yang membelaku di rumah ini kecuali Bi Emi.


"Sayang, Haris udah didepan lho," ujar ibuku dati balik pintu kamarku.


"Bodo amat!" jawabku bengis.


"Cepetan keluar ya."


"Terserah gue!"


"Navya maafin mama."


"Pers*tan!"


Mama diam, sepertinya beliau turun kebawah daripada mendengar perkataan kasarku. Ya! Aku sudah kehilangan diriku sendiri. Diriku kini bagai dikendalikan setan.


Kurasa Navya yang sebenarnya sudah hilang dari dalam diriku. Sekarang hanya tersisa seorang Navya yang gila dan tersiksa.


Miris bukan? Aku bukan lagi boneka barbie cantik seperti dulu. Aku boneka mumi yang berjalan, diatur oleh orang tuaku. Hati seolah mati walau raga masih hidup.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun cukup kasar pada kedua orang tuaku, aku tetap anak mereka. Seorang anak yang tidak tega Ayahnya menjadi tersangka, masuk dalam jeruji besi. Hanya karena hutang, uang dan harta.


Saat aku berjalan turun, kutangkap Bi Emi yang sedang mengintip dari arah dapur. Ia menyunggingkan senyum iba padaku. Jangan menyerah, jangan putus asa, itulah artinya. Namun semua hanyalah sebatas kiasan yang tiada gunanya untukku.


Haris tersenyum dengan bangganya. Berbincang hangat dengan Papa. Membuatku benar-benar muak karena tingkah munafiknya. Seorang b*jingan yang sangat handal bersembunyi dibalik topeng kebaikan. Atau Papa memang sudah tau sifat busuk Haris, namun tetap tidak peduli tentang itu.


Iming-iming masa depanku yang cerah terus dilontarkan untuk membela Haris. Memang benar sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa banyak orang tua yang bisa melahirkan atau membesarkan namun tidak semua orang tua mampu mengerti dan memahami hati seorang anak.


Dan itu Papa dan Mamaku.


"Hai," sapa Haris padaku.


Aku tersenyum kecut sembari memalingkan wajahku darinya. Seolah aku ingin muntah untuk sekedar bertatap mata dengannya.


Namun apa daya, Mama yang berada disampingku, menyenggol lengan tanganku. Beliau mengisyaratkan agar aku lebih ramah dan tidak membuat masalah baru. Sial sekali.


"Gue mau berangkat," ujarku sekenanya.


"Yaudah kamu berangkat hati-hati ya sayang, Nak Haris tolong jagain Navya ya Nak," ujar Mama.


"Siap Tante hehe, Om saya berangkat dulu," pamit Haris.


"Hati-hati Nak Haris," jawab Papa sembari menyambut tangan Haris untuk bersalaman.


Tangan Haris yang begitu lancang, meraih tanganku tanpa persetujuan. Aku geram lalu melemparnya agar menjauh.


"Jangan macem-macem!" Bisik Haris dengan nada mengancam.


"Jangan lancang!" Ujarku tegas.


"Sial! Nggak usah kenceng-kenceng Navya!"


"Kenapa? Loe takut kedok bejat loe ketahuan?"


"Gue nggak sepengecut itu hahaha... Lagian bokap loe bisa dibungkam pake duit."


Aku tidak bisa menjawabnya lagi. Rasanya seperti dipermalukan oleh Haris. Papa pun tak peduli padaku, mendengar pertengkaran kami. Beliau malah menatap tajam mengancam ketika aku menengok sekilas. Aku tidak tau, apakah Papa mendengar bisikan hina dari Haris.


Jika tidak, aku rasa wajar. Namun, jika beliau mendengar. Parah sekali, luar biasa seorang Ayah yang semena-mena terhadap anaknya.


"Masuk!" Perintah Haris, setelah kami sampai dihadapan mobil mewah miliknya.


"Biasa aja!" Tegasku.


"Loe yang mulai, dasar cewek s*nting!"


"Baji-"


"Udah! Kagak usah ngumpat loe!"


"Huuh!"


Begitulah Haris. Alur cerita kami sangatlah cepat. Belum ada waktu sebulan saja, sifat busuknya sudah keluar. Aku tidak bisa membayangkan hari nanti, jika kami telah menikah. Yang pasti hari-hari seperti neraka akan aku lalui. Belum lagi melihat suami yang bergelimang harta namun main gila dengan perempuan.


Aku sudah memprediksi semua itu. Kemungkinannya memang sangat besar. Sangat besar sekali, yang nantinya bisa menghancurkan hati dan hidupku berkeping-keping. Atau bisa jadi aku mati karena Haris nantinya.


Mobil yang kami tumpangi melaju cepat menyusuri jalan raya perkotaan. Hari begitu cerah berbanding terbalik dengan hatiku yang kelam. Lalu lalang orang yang terlihat tertawa gembira, mereka sama sekali tidak memahami hatiku. Ya! Tidak ada yang mengerti sekali pun itu orang tuaku.


"Hei Navya?" panggil Haris padaku.

__ADS_1


"Apa?!" jawabku bertanya tegas padanya.


"Buseeet dah, kagak bisa jadi cewek lembut ya loe."


"Enggak bisa!"


"Hahaha... Navya, Navya jangan belagu. Loe udah jadi wanita gue."


"Nggak akan!"


"Coba aja kalau loe berani nolak, toh nyampe sekarang loe nggak bisa berkutik kan?"


Lagi-lagi Haris mampu membungkam diam bibirku. Ia memang benar, aku menolak namun tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memang bodoh. Seharusnya aku kabur saja ke Luar Negeri, menghabiskan sisa tabunganku. Tabungan yang kusimpan untuk nanti jika menikah dan memiliki momongan.


Namun, itu hanya rencana yang sudah lalu. Sekarang aku masih terjerat dengan Haris. Jika saja, aku memang bisa kabur darinya. Kemungkinan besar Haris tidak akan tinggal diam. Ia akan mencariku bahkan ke penjuru dunia. Bukan sok cantik, namun benar Haris sudah sangat terobsesi padaku. Tampaknya ia menginginkan diriku sepenuhnya. Lalu jika sudah mendapatkan keinginannya, ia bisa membuangku kapan saja.


Sifat busuk para orang kaya.


"Jalan yuk Nav?" Ajakan gila yang dikatakan Haris.


"Maksud loe?" Tanyaku.


"Ya kita maen-maen aja, lagian duit gue banyak Nav. Ngapain sih loe kerja, malu-maluin gue aja!"


"Kalai loe malu, berhenti maksa gue Ris!"


"Ohh... tidak bisa! Loe udah milik gue, harusnya loe udah nurut sama gue!"


"Nggak akan Haris! Turunin gue, sekarang!"


"Kita maen dulu sayang."


"Haris! Turunin! Gue mau kerja, loe lupa tadi pamit sama Bokap gue kemana, haah?"


"Peduli amat sama Bapak loe!"


"Hariiiiissss! Stooopp!"


Laju mobil Haris, berjalan kearah yang tidak semestinya. Ini bukan arah jalan menuju kantor tempatku bekerja. Laki-laki ini gila.


"Hariiiiiisssss! Uuuuuuhhh!!!"


"Whoooeeeee nyetir yang bener!!!" Seru seseorang yang hampir tertabrak oleh mobil yang kami tumpangi.


"Gila loe! Cewek sial!" Umpat Haris padaku.


Mobil miliknya hampir menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan. Semua karena aku yang menarik-narik lengan Haris beberapa saat yang lalu. Sedangkan dahiku maupun Haris sama-sama terantuk bagian depan mobil. Sialnya aku dahiku yang berdarah.


Aku hanya ingin turun itu saja. Rasa cemas serta ketakutan luar biasa, saat Haris melaju mobilnya. Ia hendak membawaku ke suatu tempat mungkin. Aku tidak akan sudi, lebih baik mati daripada bersamanya. Apalagi jika harus mengorbankan kehormatanku padanya.


"Hei loe mau kemana Vya?" Tanya Haris tegas saat aku membuka pintu. Sontak saja tangannya meraih lenganku.


"Lepasin b*jingan! Gue mau pergi dari loe!" Jawabku.


"Gue nggak bakalan ijinin!"


"P*rsetan soal ijin loe, emangnya loe punya hak apa larang gue? Lepasin! Ihhh!"


"Navyaaaaaa!!!"


Akhirnya tangan Haris terlepas dari lenganku. Segera aku beranjak turun dari mobilnya. Aku berlari sekencang-kencangnya. Aku rasa Haris sedang membuntutiku dari belakang.


Jalan sekitar sini cukup sepi, tidak banyak orang yang lalu lalang. Sekalipun ada mereka hanya cuek, dan tidak peduli. Aku terus berlari dan berlari.


Ratapan tangisanku memecah kesunyian. Darahku terus mengalir dari keningku. Rasa sakit hati lebih terasa daripada luka. Mengapa pula aku semenderita ini? Mengapa aku dipertemukan dengan pria-pria yang tidak tau diri? Bukannya, aku tidak jahat? Uhh... Nasib!


Saat kutengok kebelakang Haris tidak terlihat. Sepertinya ia tidak mengejarku. Bisa jadi antukan kepalanya pada setir mobil membuatnya pusing. Karena cukup keras, walaupun tidak ada luka luar sekalipun. Semoga saja, kalau bisa Tuhan cabut nyawa Haris sekalian.


Aku melambaikan tangan pada sebuah mobil hitam yang akan lewat. Bukan tidak ada taksi, hanya saja aku mencari cara tercepat. Tentu saja karena ketakutanku pada Haris.


Beruntungnya, mobil tersebut berhenti dan meresponku.


"Ada yang bisa saya banyu mbak?" Tanya pemiliknya sesaat setelah turun dari mobilnya.


"To-tolong... tolong saya," jawabku gugup sekali.


"Ya ampun, dahinya berdarah. Yasudah masuk ayuk."


"Ma-makasih ya Mas."


"Udah, masuk dulu Mbak. Harus segera ditangani itu lukanya."

__ADS_1


Pria tersebut memapah tubuhku yang sempoyangan untuk masuk kedalam mobil.


Kemudian ia segera melaju kembali mobilnya. Aku rasa ia juga akan berangkat bekerja. Terlihat setelan busana kantor yang rapi, membalut tubuhnya yang proporsional.


"Mas anu... maaf kalau saya ngrepotin," ujarku malu-malu.


"Nggak apa-apa Mbak, yang penting ke rumah sakit dulu. Emm... saya punya sapu tangan buat bersihin keningnya dulu," jawabnya.


"Nggak perlu ke rumah sakit kok Mas, Masnya mau berangkat kerja kan?"


"Udah jangan pikirin saya Mbak, nyawa seseorang lebih penting."


"Ta-tapi beneran nggak apa-apa kok Mas, nggak perlu antar. Nanti kalau udah ditempat ramai turunin aja, saya berangkat sendiri."


"Nggak usah sungkan Mbak hehe... saya antar saja. pamali kalau jalannya setengah-setengah."


"Ta-tapi..."


"Udah, saya bukan orang jahat kok Mbak."


"Terimakasih."


"Sama-sama. Mbak istirahat dulu aja."


Jujur saja tingkah pria ini begitu lembut. Mengingatkanku pada sosok Andrew. Benakku bernostalgia, apalagi saat itu perkenalan awalku karena kecelakaan pula. Andrew mengantarkanku ke klinik.


Sedih hatiku, masalah banyak datang bertubi-tubi. Rasa rindu dengan Andrew yang tidak kunjung mereda. Apalah artinya parasku yang katanya cantik, jika hidupku menderita.


Tidak lama kemudian, sampailah di sebuah rumah sakit. Pria pemilik mobil yang aku tumpangi, begitu lembut memapah tubuhku memasuki rumah sakit sampai ruang periksa. Ia pun senantiasa menungguku. Meski sebenarnya aku tidak enak hati padanya.


"Gimana Dok?" Tanya pria ini.


"Pacarnya nggak ada luka serius kok Mas, hanya luka ringan yang memang darahnya agak keluar," jawab sang dokter.


"Alhamdulillah Dok, makasih Dok... tapi Mbak ini bukan pacar saya hehe. Mari Mbak, saya permisi dulu Dok."


"Sama-sama Mas."


Kami keluar dari ruang periksa. Melihat kondisiku yang sudah mulai tenang, pria ini tak lagi memapahku. Mungkin enggan karena baru bertemu. Sangat berbeda sekali jika dibandingkan dengan si Haris tengik itu.


"Emm... makasih Mas, tapi kayaknya cukup disini aja. Saya nyari taksi aja," ucap terimakasihku padanya.


"Lho? Udah nggak apa-apa Mbak, emangnya? Masalahnya lukanya dikepala lho, saya antar saja nggak apa-apa," jawabnya.


"Hehe... nggak usah Masnya harus kerja kan? Sudah telat lho."


"Iya sih, tapi kantor saja nggak ngasih izin orang yang telat Mbak, apapun alasannya."


"Ya ampun Mas, jadi ngerepotin gini."


"Udah santai aja Mbak, saya bisa buat surat izin nyusul nanti. Mari saya antar pulang."


"Nggak!"


"Ehh...?"


"A-anu... emm... ja-jangan, nggak usah diantar."


"Lho?"


"Ya se-sebagai rasa terimakasih, gimana kalau saya traktir ngopi aja."


"Tapi Mbaknya masih luka gitu lho?"


"Nggak apa, emm... mau ya."


"Yasudah, oh iya by the way nama saya Affandy. Mbak sendiri?"


"Panggil aja Vya."


"Kayak penyanyi dangdut ya? Hehe."


"Hehe... iya Mas."


Beruntungnya pria yang bernama Affandy ini bersedia dengan tawaranku. Aku sendiri tidak mau pulang ke rumah. Akan bahaya nantinya. Jika bukan omelan Papa, pasti Haris sudah memanipulasi tentunya.


Kami naik kembali. Lalu dilajulah mobil milik Affandi menuju sebuah kafe.


Bersambung...


Hehehe... sebulan sudah aku vakum in novel ini...maaf gaesss..

__ADS_1


__ADS_2