Who Is My Love

Who Is My Love
Paginya, duh!


__ADS_3

Berisik, bunyi alarm terdengar nyaring disebuah ponsel. Aku mengerjibkan mataku dan menguceknya perlahan. Masih buram dan belum bisa melihat dengan jelas, atau bisa dibilang aku masih mengantuk. Aku berusaha membangunkan diriku, selanjutnya menguap sembari mengangkat kedua tanganku ke atas.


"Eh?! Gue dimana?!" Betapa terkejutnya diriku pada saat melihat sekelilingku. Kamar ini bukan milikku. Ponsel yang masih membunyikan suara alarm belum sempat aku cari. Ada sebuah foto yang bergambar diriku. Ya, ini kamar milik Andrew. "Astaga!"


Segera kuperiksa tubuhku. Kaos, celana semua yang melekat pada tubuhku masih rapi tanpa terlepas satupun. Hal itu membuatku bisa bernapas lega, setidaknya Andrew tidak berbuat yang tidak-tidak terhadap diriku. Kemudian, kuraih ponsel yang masih terus berbunyi di atas meja kecil tepat di samping ranjang ini.


Masih pukul lima pagi. Hembusan angin segar dari luar merayap masuk dan bercampur dengan suhu AC. Dingin sudah pasti menjadi rasa yang didera oleh kulitku. Aku kembali membayangkan apa yang terjadi tadi malam. Ingatan tentang Andrew yang terus menahan diriku untuk tetap disini sampai aku menyerah dan duduk kembali di sofa. Hanya senyuman bangga dari wajahnya pada saat melihat diriku menyerah.


Padahal, aku berencana pulang kalau Andrew sudah ketiduran. Ah, sepertinya yang ketiduran malah seorang Navya. Aku benar-benar malu. Tampaknya semalam suntuk Andrew terus menjaga diriku disini. Atau mungkin ia melampiaskan rasa rindu dengan cara memandangi wajahku. Lalu, apa wajahku baik-baik saja saat tidur? Jangan-jangan aku menganga lebar?


Duh, jangan nyampe deh. Gue bakalan malu tujuh turunan!


"Eh?! Bentar deh, lah! Andrew mana?! Udah bangun?" Aku tersentak pada saat menyadari bahwa Andrew tidak ada di sini. Sedangkan, pintu kamar masih terbuka lebar. Bagaimana bisa aku sampai kesini tadi malam? Apa Andrew yang membawaku kemari? Lalu, aku teringat akan ucapannya, janji tentang tidur di bawah. Setelah itu, aku bergerak maju dan membuang selimut yang menutupi diriku secara sembarangan.


Aku melongok ke samping bawah ranjang, tepatnya di bagian kiri. Aku menghela napas lega. Ya, Andrew masih meringkuk di bawah sana. Tubuhnya terbungkus selimut seperti kepompong. Apa ia tidak kedinginan? Padahal AC masih menyala, dan ia tidur tanpa alas apapun kecuali karpet permadani.


Aku menengkurapkan badan dengan kepala berada di pinggir ranjang sembari memandangi wajahnya. Matanya terpejam, raut wajahnya begitu teduh dan tentunya sangat tampan. Kujatuhkan satu tanganku dan membelai keningnya.


"Selamat pagi, Sayang ...," ujarku pelan. Seketika itu, Andrew menangkap telapak tanganku dan dikecupnya. Tanpa membuka mata, ia menyunggingkan senyuman yang manis. Bahkan, ia terlihat menggemaskan seperti seekor kucing. Dan ... semua yang ada padanya adalah milikku untuk saat ini, sembari berharap untuk selamanya.


Perlahan Andrew membuka matanya. Masih menyipit, namun sedang menatap wajahku. Ia tersenyum dan sesekali ia masih mengecup telapak tanganku. "Pagi, Vya Cantik. Kok udah bangun sih?" tanyanya kemudian.


"Aku nggak tahu, nggak sadar tadi malem ketiduran ya?"


"Iya, kamu capek banget kayaknya, Sayang."


"Terus kamu yang bawa aku kesini?"


"He'em."


"Terus kamu nggak ngapa-ngapain aku kan?!"


"Aku. Emm ... nggak tahu deh. Lupa."


"Hah?! Andrew!"


Aku terkejut, sedangkan Andrew hanya terkekeh kecil. Benakku mulai melayang dan membayangkan beberapa kemungkinan yang terjadi tadi malam. Jangan-jangan, Andrew telah mengambil kesempatan? Namun, itu tidak akan mungkin. Aku orang yang mudah terbangun jika disentuh sedikit saja. Namun ... bagaimana aku bisa tidak ingat ketika Andrew membawaku ke kamar ini?


"Kamu mikir apa sih, Vya Sayang?"


"Mikirin semalam!"


"Ya ampun, enggak lho. Aku nggak ngapa-ngapain kamu, Sayang."


"Y-yang bener?"


"Bener, sumpah! Paling curi kecupan doang hehe."


"Seharusnya itu nggak boleh juga, Ndrew."


"Halah, tapi kita malah sering."


"Ja-jangan lagi kalau gitu!"


"Hmm ... sulit. Makanya aku pengen cepet nikah sama kamu, Sayang."


"Maaf, kamu masih harus bersabar."


Yah, setidaknya aku masih bisa bernapas lega karena tubuhku masih baik-baik saja. Namun, jika sudah membahas pernikahan, rasa hatiku mulai tidak menentu. Terlebih, Andrew sudah sering memberikan kode tentang ini. Hanya kata maaf yang terucap ketika ia mengatakannya.


Aku menarik lagi tanganku. Kemudian, aku berbalik badan menjadi posisi merebah dan menatap langit-langit kamar. Kuembuskan napasku perlahan, aku ingin cepat pulang ke tanah air. Rasanya sangat tidak etis jika aku dan Andrew masih terus bermain pacar-pacaran. Namun, hutang papa masih belum lunas. Cahaya lampu kamar yang tidak dimatikan menerobos ke dalam mataku, seolah memberikan secercah harapan lagi. Kali ini tentang Haris. Yah, sudah terhitung setengah tahun ia didalam penjara. Menandakan bahwa tidak lama lagi ia akan keluar dari bui.


Haris, apa ia bisa berubah nantinya? Setidaknya ia bisa memberikan sedikit keringanan untuk hukuman papa. Lagipula, ia yang bersalah kerena telah mengiming-imingi. Dengan kata lain, ia yang menjebak papaku. Meski, papa juga bodoh karena tergiur dan masuk ke dalam perangkapnya. Hutang papa teramat banyak dengan bunga yang hampir separuhnya.


Ah! Apa yang gue harepin dari si Haris itu? Nggak mungkin dia memberi secuil keringanan untuk papa.


Kupejamkan mataku sejenak demi mengusir semua pemikiran gila itu. Tidak mungkin, aku bersikap egois untuk hidupku sendiri. Tampaknya, aku memang masih harus menahan keinginanku untuk bahagia bersama Andrew. Disatu sisi hati, sebenarnya aku khawatir jika Andrew sudah tidak sanggup dalam menunggu kesiapanku dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, ia bisa keluar dari pekerjaan di negara ini dan pulang. Ia bisa membuka usaha sendiri dengan tabungannya dan menikah dengan orang lain.


Cup! Tiba-tiba sebuah kecupan manis mendarat di atas keningku. Aku melirik ke atas dan Andrew disana. Ia sudah membangunkan diri dan duduk di lantai sembari mengusap kepalaku yang berada di hadapannya.


"Kamu mikirin apa lagi, Vya?"


Aku menggeleng seketika. "Enggak ada, cuma masih ngantuk kok."


"Jangan bohong, aku kenal siapa kamu, Sayang. Kalau tiba-tiba diem, pasti lagi mikir sesuatu. Gara-gara aku bahas pernikahan ya? Maaf, aku nggak serius kok ngomongnya."

__ADS_1


"Kamu yang bohong. Kamu udah pengen nikah, kan? Tapi harus nungguin aku."


"Hmm ... aku pengen nikah karna mau deket sama kamu, Navya. Aku terlalu takut kehilangan kamu lagi. Makanya pengen banget nikah sama kamu, supaya kita nggak terpisah lagi. Kamu nggak khawatir cewek semacam Linseyld lagi. Dan aku, aku bisa membuktikan bahwa aku adalah pemilikmu pada Pak Fandy ataupun cowok manapun."


Benar juga apa yang Andrew katakan. Selama ini kami saling mengkhawatirkan satu sama lain dan lagi-lagi takut kehilangan. Jika hanya jalinan sepasang kekasih pasti tidak bisa berpengaruh terhadap orang semacam Linseyld, ia masih memiliki banyak kesempatan untuk merebut kekasihku. Namun, sekali lagi, aku belum bisa bersikap egois.


Kubangunkan diriku. Kemudian aku beralih turun dari ranjang ini, aku duduk disamping Andrew. Kuraih wajahnya yang masih bengap dan kubelai perlahan. Ah ... pesonanya memang luar biasa. Pasti perkataan Rose bukan isapan jempol semata, di kantor akan banyak wanita yang menyukainya.


"Kamu ganteng ...."


"Apa?"


Aku tersentak seketika. "Eh?! Ah ... enggak kok haha."


"Hmm ... emang ganteng kok cowok kamu ini. Orang kamunya juga cantik."


"A-aku nggak ngomong kamu ganteng kok."


"Bohong amat. Jelas banget tadi."


"Ya, ya, baiklah, iya. Emm ... Ndrew?"


"Iya, Sayang."


"Maaf ya, karna masalah pribadi aku. Kamu malah harus nungguin aku terlalu lama."


Dan sekali lagi, kata maaf yang keluar dari bibirku. Membuat Andrew sedikit kasihan terhadap diriku, ia merengkuh diriku seketika dan membelai rambutku. Detak jantungnya terdengar oleh telingaku yang menempel pada badannya yang bidang. Pasti didalam sana ada hati yang selalu mencintaiku. Namun, apa yang selalu aku berikan kepadanya? Aku mengecewakannya, lagi dan lagi.


Samar, kicau burung terdengar. Cahaya mentari pun menerobos masuk ke dalam kamar ini melalui gorden yang menutup jendela kaca. Gelap telah berganti terang. Di tempat ini, aku masih terdiam bersamanya. Entah, apa yang ada didalam pikiran Raya dan Sinta sekarang. Pasti dugaan-dugaan aneh terlintas di benak mereka. Aku terlalu asyik dalam masalahku dan Andrew sampai melupakan alasan yang bisa kuberikan kepada kedua temanku nanti.


Kulepas pelukan Andrew yang sejak tadi menjerat tubuhku. Aku mengusap wajahku dan menghela napas dalam setelahnya. Otakku berpikir keras, mencari sebuah alasan yang tepat. Tapi, apa? Tampaknya aku akan malu jika dinilai macam-macam oleh mereka.


Kutepuk jidatku berkali-kali. Aku menyesal karena sampai tertidur di tempat ini. Bingung, dan alasan apapun pastinya tidak akan mempan untuk mengelabuhi mereka berdua. Walau sebenarnya memang tidak ada yang terjadi antara aku dan Andrew. Namun, penilaian orang pasti berbeda-beda.


"Kenapa sih, Vya?"


"Aku harus ngomong apa sama Raya dan Sinta?!"


"Hmm ... khawatir banget sih."


"Sakit, Sayang! Duh, duh, nyampe merah nih." Andrew mengusap-usap kulitnya yang memerah bekas cubitanku sembari menggerutu. "Ngomong apa adanya aja, Sayang. Toh, kita nggak ngapa-ngapain kok. Kalau kamu panik mereka malah curiga."


"Enak banget kamu ngomongnya! Kenapa sih nggak bangunin aku aja tadi malem? Aaaaaaaa! Gimana dong?!"


"Ya, nggak gimana-gimana. Santai aja, tadi malam aku udah chat Sinta, kalau kamu ketiduran terus aku nggak tega bangunin kamu."


"Eh?" Aku menatap Andrew seketika. "Terus balesannya?"


"Bentar, HP-ku dimana ya?"


Andrew berdiri dari duduknya. Ia mencari-cari. keberadaan ponselnya di atas ranjangnya. Sampai akhirnya ia menemukan kembali dan lekas duduk di sampingku. Aku merebut ponselnya itu, dan segera membuka aplikasi pesan didalamnya.


Andrew : Hei Sin, Navya ketiduran. Gue nggak tega mau bangunin.


Sinta : Oh ya udah. Suruh tidur situ dulu, tapi awas jangan diapa-apain tuh bocahnya!


Andrew : Gue tahu, gue pacarnya. Nggak mungkinlah aneh-aneh. Loe yang jangan mikir macem-macem kasihan anaknya nanti. Besok paling ketakutan haha.


Sinta : Santai, Ndrew. Gue paham kalian berdua kok. Ya udah, jagain yang bener. Inget pesen dari Mak ya, Nak.


Andrew : Siap, Mak!


Begitulah kiranya isi pesan mereka berdua. Setidaknya aku bisa bernapas sedikit lega untuk saat ini. Meskipun, ejekan pasti akan aku terima. Yah, itu sudah menjadi resiko untukku. Andai saja, aku lebih tegas dan tidak kehilangan kendali atas rasa kantukku, pasti aku tidak berada disini saat ini. Mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi.


Aku memberikan kembali ponsel kepada Andrew. Kutilik waktu pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi. Tidak terasa sudah satu jam aku bercengkerama pagi bersama Andrew. Bahkan, aku melupakan bahwa diriku belum berkumur ataupun mandi. Tanpa aku sadari, aku sudah se-percaya diri ini tampil apa adanya didepan Andrew. Padahal dimasa lalu, aku selalu ingin tampil secantik mungkin dihadapannya. Yah, manusia memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan.


"Aku mau balik kalau gitu. Bentar lagi kerja."


"Sayang, aku mau ngomong sesuatu. Jadi, bentar lagi disininya ya."


Aku mengernyitkan dahiku seketika. Lantas, menatap wajahnya. "Ngomong? Ngomong soal apa?"


"Kamu mau kan nikah sama aku?"


"Ni-nikah lagi?"

__ADS_1


"Ya, seenggaknya ijab dulu aja."


"Maksud kamu?"


"Sebentar lagi kita setahun kerja disini, Sayang. Tahun kedua kita bisa ambil cuti dan pulang. Aku, aku mau meresmikan hubungan kita. Aku mau kita disini tanpa rasa was-was dan serba salah. Kalau aku udah jadi suami kamu, kamu juga enggak sungkan lagi menerima bantuan aku."


"Tapi, Ndrew. Aku, aku kan udah ngomong tadi dan sebelum-sebelumnya."


Andrew menggenggam telapak tanganku dengan erat. Sorot matanya yang menatapku, memberikan tanda bahwa apa yang ia bicarakan bukanlah main-main. Ia serius. Namun, bagaimana dengan alasanku? Aku tidak boleh egois. Ada papa yang masih harus kuperjuangkan.


"Navya, percaya sama aku. Setelah menikah, aku nggak akan membatasi kamu untuk bekerja. Aku juga bersedia kalau seandainya kamu ingin berhenti kerja. Ya, aku tahu kalau a-aku bukan orang kaya. Tapi, aku akan berusaha membantumu mengeluarkan papa kamu dari sana dan tentunya membahagiakan kamu."


"Tapi, a-aku bingung. Kenapa tiba-tiba kamu usul hal ini?"


"Sebenarnya aku udah mikirin dari lama. Tepatnya, setelah kita pacaran lagi. Tapi, aku masih takut kalau malah membebani kamu. Sayang, tapi ini pilihan terbaik. Kita bisa tunda resepsi, yang penting sah dulu. Kita ambil cuti bareng dan kesini lagi satu rumah. Dan ... enggak was-was lagi, enggak khawatir lagi. Kamu ngerti kan maksud aku?"


Aku mengerti maksud Andrew. Jalinan sebagai suami istri pasti lebih bisa menjaga hubungan kami. Namun, aku masih ragu. Terlebih papa masih didalam penjara. Sebenarnya, usulnya cukup bagus. Kami bisa menunda resepsi dan ijab qabul terlebih dahulu. Namun, apa tanggapan orang tua kami nantinya? Dan bagaimana papa akan bisa mewakili pernikahanku.


Benakku berputar lagi. Jawaban apa yang bisa aku berikan. Aku takut membuat Andrew kecewa, itu saja. Mau menerima tapi orang tuaku bagaimana? Mau menolak, lalu hatinya bagaimana? Terlebih, aku belum pernah bertemu orang tua Andrew yang bisa saja membenci diriku.


"Vya Sayang?"


"A-aku masih bingung."


"Aku udah bicara sama mamaku dan mama kamu."


"Eh?! Kapan?! Terus nomer mamaku kamu dapet darimana?"


"Udah lama kali aku punya. Pas mau berangkat kesini, malah nih aku sering telponan sama mama kamu hehe."


"Hah?"


Andrew hanya tertawa. Aku merebut kembali ponselnya dan mengecek aplikasi pesan dan catatan panggilan. Benar saja, terpampang nyata nama kontak "calon mertua" dan nomornya pun sama dengan milik mama. Aku menatap Andrew dengan heran. Lalu, kembali mengecek pesan diantara dirinya dan mama. Banyak sekali sampai aku tidak bisa membaca semuanya. Nasehat dan bahkan mama ingin Andrew menjaga diriku.


Aku mengembuskan napasku. Apa yang bisa aku katakan sekarang? Bahkan, Andrew sudah berusaha merebut hati mama. Mungkin jika papa di rumah, pasti ia akan melakukan hal yang sama. Pria ini sungguh tidak terduga. Bagaimana bisa aku tidak mengetahui semuanya? Ya memang, aku adalah tipikal wanita yang enggan memeriksa ponsel pacar.


"Ma-makasih, Ndrew."


"Buat?"


"Semuanya yang kamu lakukan buat aku. Padahal, aku selalu bikin kamu kecewa."


"Aku mencintai kamu, Navya Sayang. Aku akan mengusahakan apapun buat bisa sama kamu. So, apa kamu tetap menolak lamaranku pagi ini?"


"Uh ... kamu ngelamarnya nggak romantis sama sekali! Baru bangun tidur, masih bau jigong ih!"


"Hahaha ... lumayan latihan buat nanti. Jadi, gimana?"


"Emm ... ya, ya, a-aku mau kok. A-aku mau, iya!" Aku mengangguk pelan. Kemudian aku menunduk sembari memejamkan mata lantaran malu.


Sesaat setelah itu, Andrew mengangkat perlahan kepalaku. Wajahnya bersemu merah jambu, tampaknya ia pun sedang malu-malu bercampur senang saat mendengar jawaban dariku. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada wajahku. Dan ...


"Nggak! Belum sikat gigi, bauuuk!!!"


"Hahaha, parah kamu, Navya. Blak-blakan banget. Emm ... berarti kita perlu mempersiapkan diri buat setengah tahun ke depan. Aku bakal hubungin orang tua kita dan meminta bantuan buat urus semuanya."


Deg! Orang tua Andrew? Aku bahkan belum pernah bertemu dengan beliau. Apa aku bisa diterima?


"Ta-tapi orang tua kamu? Apa aku diterima, aku ini kan yang merusak hubungan kamu dan Lusi."


"Udah, tenang aja. Mama aku baik kok."


"Yakin?"


"Iya, Sayang. Aku udah ngomong soal rencana ini malah."


"Hmm ... iya deh, aku manut. Baiklah! Aku bakal menghukum Linseyld dulu. Menghempasnya pergi, supaya tidak menggoda calon suami aku lagi."


"Ma-masih ingat rencana itu?"


"Iya dong. Nggak ada kata batal, tetap harus. So, kamu harus siap-siap! Kita singkirkan si ular!"


"Haaaduuuuh ... Navya, aku pikir kamu udah lupa."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2