Who Is My Love

Who Is My Love
Kate


__ADS_3

Di suatu ketika, sebuah tangan meraih lenganku secara tiba-tiba. Aku yang masih terkejut tak terkira, sontak mencoba melepaskan diriku. Namun, genggaman orang itu cukup kuat dan luar biasa. Aku menoleh ke arahnya. Suatu hal tak terduga bahwasanya Kate adalah pelakunya. Apa maksudnya? Entahlah, aku tidak tahu. Aku rasa sesuatu yang berkenaan dengan Affandy. Atau mungkin Kate memang sedang cemburu kepadaku. Oh ... aku tidak ingin terlibat namun sudah terlanjur dibawa-bawa.


Lalu, Kate memaksaku masuk ke dalam mobilnya. Aku bersedia dengan maksud ingin meluruskan segalanya. Kekasihku tidak tahu tentang ini, aku rasa ia tengah bingung mencariku. Sedangkan deru mobil milik si cantik Kate kian menderu. Kami masih saling diam membisu. Ini bukanlah sesuatu yang wajar, ini sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Terlebih, paras cantik dari wanita ini terlihat begitu masam dipenuhi kecemburuan. Lantas, akan dibawa kemanakah diriku?


Sampai tidak lama kemudian, ia membelokkan mobilnya pada suatu kafe dengan gaya yang elegan. Ia mengisyaratkan diriku untuk turun dari mobilnya. Sesuatu yang cukup menyebalkan sekali. Aku bagaikan semut yang bisa saja diinjak kapanpun. Kate merasa lebih tinggi derajatnya daripada diriku. Rasanya sangat kesal.


Kemudian kami masuk ke dalam. Kate memilih salah satu meja. Kami duduk disana. Seorang pelayan datang dan memberikan buku menu. Aku meminta satu minuman segar saja. Sedangkan Kate, aku tidak tahu. Pelayan berlalu, dan tatapan Kate semakin tajam diarahkan untukku.


Affandy, loe bawa gue ke dalam masalah ini. Hmm ....


"Kamu, Navya?"


"Ya, sebenarnya ada masalah apa, Nona Kate?"


Kate masih saja menatapku dengan sinis. Kemudian ia membuang muka dengan dingin. Helaan napasnya terdengar berat dan kesal. Wanita cantik ini tampaknya tengah menyimpan sejumlah amarah. Astaga! Aku sudah malas menghadapi Linseyld dan sekarang harus dirinya. Sepertinya, kesialanku memang belum berakhir sepenuhnya.


Disaat Kate hendak berbicara, ia dihentikan sejenak oleh sang pelayang. Ya, minuman yang kami pesan sedang diantarkan. Tanpa pikir panjang ataupun malu-malu, aku meneguknya terlebih dahulu. Segar, tidak seperti keadaan saat ini. Namun aku memang harus menghadapi.


Kate menghela napasnya kembali. Ia pun mulai bersuara, "apa hubungan kamu dengan Affandy?"


Aku mengernyitkan dahiku. Benar seperti dugaan awalku. Tentang lelaki itu. Sampai aku terkekeh kecil dibuatnya. Dan hal ini semakin membuatnya terhina.


"Apa yang kamu tertawakan, Navya? Kamu sedang mengejekku?"


Aku menggeleng mantap. "Kamu terlalu lucu dan lugu, Nona. Kami tidak ada hubungan apapun. Mohon digaris bawahi, kami tidak memiliki hubungan apapun!"


Kate tampak terkejut. Sepertinya ia merasa heran dengan pengakuanku yang berbeda dengan ucapan Affandy. Sampai beberapa saat kemudian, ia mulai tenang dan malah menyunggingkan semburat senyum seringai. Apa ia tidak percaya kepadaku?


"Jangan bercanda, Navya! Semakin kamu tidak mengakui. Semakin terlihat sekali bahwa kalian sedang mempermainkan diriku."


"Oh ....," gumamku. "Untuk apa saya bercanda, Nona Kate? Tidak ada untungnya."


"Jangan munafik. Tidak ada yang tidak tahu tentang posisi tinggi dari Affandy. Dan .... bisa saja kamu memanfaatkannya, dengan cara menggodanya."


Wow! Kalimatnya terasa sangat pedas didengar oleh telinga orang lain. Aku heran atas responnya ini. Ia terlalu menduga-duga, bahkan posesif terhadap kehidupan Affandy. Aku rasa, satu sifatnya ini yang membuat Affandy merasa tidak nyaman. Kate telah dibutakan oleh sebuah cinta, walaupun bertepuk sebelah tangan. Miris sekali.


Jika benar diriku adalah orang seperti itu, tidak mungkin aku memilih Andrew daripada Affandy. Aku tidak menyangka saja, Kate bisa merasa tersaingi oleh diriku. Bahkan ia jauh lebih cantik, sexy, pintar dan juga menawan. Sekalipun aku berdandan cantik dan rapi, aku belum bisa menyaingi dirinya ini.


Dan aku membalas seringainya dengan sinis. "Luar biasa sikapmu ini, Nona Kate. Rasanya benar-benar menggelikan sampai ingin membuat saya tertawa."


"Apa maksud kamu, Navya? Kamu menghinaku? Ingatlah kamu bisa jauh lebih hina."

__ADS_1


"Ck! Saya memang jauh lebih hina dan miskin, Nona Kate. Tapi aku tidak sehina itu, Nona. Anda terlalu posesif terhadapa kekasihmu itu."


Atmosfer diantara kami terasa semakin memanas. Ya, ini bukan sesuatu yang aneh. Lagipula dari awal, Kate telah memberikan suatu perasaan tidak suka terhadapku. Aku rasa, ia tengah tidak percaya akan responku yang tanpa rasa takut sedikitpun. Dalam keadaan ini, aku malah teringat akan Affandy. Aku cukup penasaran dengan kisah mereka berdua. Seperti apa caranya menghadapi Kate, sampai wanita ini menjadi seperti ini?


Kisahku sendiri cukup rumit. Bagaimana mungkin aku terlibat ke dalam kisah orang lain? Apa nasibku memang seperti ini?


"Navya. Kamu pasti tahu tentang perasaanku padanya. Kita sama-sama wanita, tidak bisakah kamu mengalah dan melepaskan Affandy?"


"Apa maksud anda, Nona? Bahkan kami tidak memiliki hubungan apapun, seperti yang kujelaskan diawal tadi. Melepaskan? Menjerat saja tidak. Aneh sekali."


"Sampai kapan kamu akan berpura-pura? Aku sudah tahu tentang hubungan kalian."


Aku mengangkat satu alisku. "Memangnya kalau kami berhubungan, apa masalahnya?"


"Jelas bermasalah, aku mencintainya. Aku yang terus ada disisinya selama bertahun-tahun. Sampai dia memiliki posisi seperti sekarang ini. Bahkan dia diberi beberapa persen saham di perusahaan ini. Apa yang kamu tanyakan sungguh bodoh sekali, Navya!"


"Wah! Nona Kate ini sangat emosian ternyata. Aku hanya sekedar bertanya. Mohon tenang sedikit. Lagipula semua ucapanku sudah kujelaskan bahwasanya kami tidak memiliki hubungan apapun. Tidak bisakah Nona menghilangkan sejumlah kata kasar itu?"


Kate menghela napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Ia tampak menguasai dirinya supaya tidak termakan api emosi. Sedangkan diriku, semakin lama semakin kesal dengan beberapa kata kasarnya yang meliputi, hina, bodoh dan juga munafik. Mulutnya seperti tidak mengenyam pendidikan saja. Baiklah, kuakui kadangkala aku mengatakan hal seperti itu. Pada saat emosiku memuncak saat menghadapi Nevan, Haris, Andrew atau Vines. Namun itu disebabkan oleh sejumlah masalah yang benar adanya.


Sedangkan Kate hanya terbawa kecemburuan pada sesuatu yang tidak benar. Aku kesal sekali mendengarnya. Namun sebisa mungkin aku tetap bersabar. Bisa berabe urusannya jika aku ikut ke dalam kekesalan. Lalu, sembari mengawasi gerak-gerik lawan bicaraku, aku menyesap minumanku. Dengan harapan kesegaran minuman ini bisa membuatku lebih nyaman.


"Ceritakan, Navya. Jika semua ucapan kamu benar, ceritakan padaku. Tidak mungkin Affandy berbohong tentang hubungan kalian."


"Penolong?"


"Ya, dulu aku dikejar oleh seorang lelaki kasar. Sampai akhirnya dia datang dengan mobil dan membawa saya ke rumah sakit dikarenakan saya terluka. Kami saling mengenal, sampai akhirnya saya tahu bahwa dia adalah salah satu petinggi di perusahaan itu. Sangat panjang jika diceritakan secara detail. Yang pasti dia memang sangat baik dan seperti malaikat penolong."


Selanjutnya aku terus menceritakan seputar kisah perjodohan itu. Bahwa aku tidak sengaja salah mengirim pesan kepada Affandy yang seharusnya ditujukan kepada Sita. Bahkan aku terus menceritakan secara detail soal hubunganku dengan Haris dan Andrew. Walau awalnya aku enggan, namun karena Kate mendesak, aku tidak punya pilihan. Biarlah, ia tahu yang sebenar-benarnya. Aku tidak peduli jika privasiku ia ketahui. Yang penting ia tidak menimbulkan masalah baru bagiku.


Mungkin sampai memakan waktu lima belas menit untuk mengatakan hal itu. Diriku bagaikan seorang pencari kerja yang sedang diwawancara. Sedangkan Kate, perlahan-lahan ia bisa lebih tenang. Telinganya terpasang dan sangat seksama tatkala mendengarkan segala celotehku. Aku rasa, ia tidak ingin melewatkan satu cuil katapun. Ia terlihat sangat mencintai Affandy. Lantas, apa yang membuat Affandy tidak menerimanya? Ia cantik rupawan dan pintar. Jika saja aku seorang pria, pasti aku akan menerimanya tanpa berpikir panjang.


Yah, hati manusia tidak ada yang tahu.


"Maafkan aku, Navya."


"Tidak perlu. Anda tidak bersalah, Nona Kate. Seharusnya saya yang harus sedikit menjauh dari Affandy. Maafkan saya malah jadi curhat."


"Tidak, sejak awal aku sudah berprasangka buruk terhadap kamu, Navya. Tatapan Affandy padamu sangat berbeda."


Aku terkekeh pelan. "Mungkin dia memang menyukai saya. Maksud saya dalam konteks yang berbeda. Dia memang pernah mengajak saya menjalin hubungan. Tapi, saya menolak lantaran dia mengatakan bahwa kami akan saling menguntungkan dan saya tidak memiliki perasaan terhadapnya. Disitu saya tahu, bahwa ada perasaan untuk anda, Nona."

__ADS_1


"Entahlah, sejak awal Affandy terus menolak diriku. Bukan tidak pernah aku mengaku, bahkan sering sekali mengaku. Tapi, sepertinya hubungan persahabatan kami yang menjadi kendala."


Alasan macam apa itu? Aku memang pernah sedikit mendengar alasan tersebut langsung dari Affandy. Hanya saja, sampai sekarang aku masih tidak habis pikir saja. Memangnya kalau sudah bersahabat tidak boleh menjalin hubungan? Ada-ada saja. Ternyata orang sekelas Affandy bisa berpikiran sebodoh itu. Padahal hidupnya bukan sebuah drama, pasti alasannya adalah kekhawatiran tentang hubungan yang renggang akibat satu kesalahan dalam cinta.


Astaga! Aku benar-benar sangat kesal. Bukan kepada Kate lagi, melainkan Affandy. Pria tersebut adalah pria yang baik. Namun, kurasa Kate adalah wanita yang baik pula. Hidup mereka sangat selaras. Berbanding terbalik denganku dan Andrew yang hanya karyawan biasa dan tidak banyak harta. Aku gemas sendiri dibuatnya. Kekesalanku terhadap Kate sudah terkikis habis. Aku malah merasa bersimpati kepadanya.


"Nona, saya adalah wanita yang sangat aneh. Dulu saya tidak seperti ini. Saya sangat menjaga penampilan dengan baik dan lebih rapi. Sesuai dengan yang saya ceritakan tadi, saya sempat merasa putus asa. Hanya karna satu pria saya menilai semua pria itu sama. Saya selalu mengabaikan satu orang yang terus berjuang."


"Lalu? Apa yang membuat kamu mengubah semuanya? Kamu trauma?"


Aku mengangguk. "Ya, saya hampir kehilangan harga diri. Apalah kecantikan jika harus menghancurkan. Saya memilih berangkat ke sini dan memulai kehidupan baru tanpa cinta terlebih dahulu. Nyatanya, saya malah kembali ke dalam pelukan si pria yang berjuang itu."


"Pria itu? Apa yang bersama kamu saat kita pertama bertemu?"


"Benar, dialah orangnya. Ini dari semua cerita saya adalah tentang perjuangan itu. Saya yakin Nona Kate juga bisa mendapatkan hati Affandy. Mungkin tidak cepat. Tapi, jika anda sudah lelah, lakukan sesuatu yang bisa menggebrak hati Affandy. Jika tidak berhasil, menyerahlah. Anda adalah wanita cantik dan pintar, bukan saya yang bodoh dan labil seperti ini."


Kate terdiam, aku pun diam. Entah benar atau salah yang aku katakan. Hal itu hanya beberapa saran yang aku ambil dari pengalaman. Melihat Kate saat ini, mengingatkanku pada sosok Andrew yang selalu berjuang untukku. Ya, mereka hampir sama. Namun Andrew telah mendapatkan hatiku kembali. Entahlah untuk sekelas Affandy. Pada kenyataannya, manusia memiliki kisah seperti ini.


Aku bersyukur karena aku tidak terlambat menyadari perasaanku. Aku telah banyak melewati semua lika-liku kehidupan. Bahkan, aku sempat menilai semua pria itu sama. Nyatanya aku kembali menjilat ludahku sendiri. Aku kembali kepada Andrew yang sejak dulu ingin kuhindari. Aku tidak boleh lagi merasa paling cantik, nyatanya banyak orang yang jauh lebih cantik. Dan aku juga tidak boleh merasa paling tersiksa karena masih ada beberapa orang yang merasakan hal yang sama. Aku berharap sifat Navya dimasa lalu telah mati dan digantikan dengan sifat baru dan lebih baik lagi.


Lalu, tiba-tiba saja Kate menyentuh jari-jariku yang berada diatas papan meja ini. "Sekali lagi maafkan aku, Navya," katanya.


Aku tersenyum. "Anda tidak bersalah, Nona. Saya yang perlu meminta maaf karna sudah lancang dan banyak bicara," jawabku.


Kate mengelengkan kepalanya. "Tidak, kalau kamu tidak menceritakannya, aku akan salah paham secara terus-menerus. Emm ... bolehkah aku menjadi temanmu? Rasanya kamu adalah orang yang seru."


"Eh? Te-tentu. Tapi, saya tidak seasyik itu, saya masih tahap belajar dalam menjalin pertemanan."


"Kita bisa sama-sama belajar. Sekaligus aku bisa menunjukkan bahwa aku bisa menjalin hubungan baik dengan wanita yang sedang disukai oleh Affandy."


"Nona memanfaatkan saya?"


Kate terkekeh seketika. "Anggap saja seperti itu. Tapi, aku benar-benar ingin mengenal dirimu, Navya. Aku bisa menjadi seorang kakak untukmu. Jadi, jangan menolak dan mulai panggil aku sebagai sebutan kakak."


"Ka-kakak?"


Kate mengangguk. Sedangkan aku hanya bisa menelan ludah saja. Secepat ini, ia membuat keputusan? Bagaimana mungkin? Beberapa saat yang lalu ia masih menyimpan amarah dan rasa cemburu terhadapku. Tapi, sekarang? Ah ... baiklah, aku tidak boleg berprasangka buruk lagi. Lagipula, apa yang akan ia peroleh jika memanfaatkanku. Raut wajahnya yang ayu pun terlihat begitu tulus. Sepertinya Kate memang benar-benar orang yang baik. Dan satu keuntungan bagiku yaitu memiliki teman baru.


Akhirnya aku mengangguk dan menyetujuinya. Aku mulai belajar memanggilnya dengan sebutan "Kakak". Mungkin masih terdengar kaku. Namun Kate memaklumi hal itu. Dan kami menghabiskan sisa minuman. Bahkan Kate yang membayarnya. Selanjutnya kami keluar bersama.


Karena ia yang membawaku kemari, jadi ia juga yang mengantarkanku untuk pulang. Hari ini menjadi hari yang menegangkan sekaligus spesial. Seorang wanita cantik dan pintar seperti Kate, mengajukan diri menjadi temanku. Hal itu membuat seorang Navya yang kurus dan bodoh ini merasa tersanjung sekaligus bangga. Aku berharap kisah Kate dan Affandy bisa berakhir baik. Mereka sangat serasi, aku yang hanya melihatnya saja merasa senang jika mereka bersanding bersama, apalagi Kate sebagai sang pendamba.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2