
****
"Jadi, tadi ibuku udah telepon kamu, Sayang?" Suara Andrew terdengar begitu bersemangat melalui panggilan suara yang kami lakukan.
Meski ia tidak bisa menatapku, aku tetap tersenyum. Keberikan jawaban untuknya, "Iya, tadi ibu kamu telepon. Emm, ... besok ke rumahku. Aku gugup banget!"
"Jangan gugup, Sayang. Ibuku dan ayahku baik kok, malah mendukung kita berdua. Aku yang sekarang gugup, pengen pulang tapi enggak bisa."
Aku menghela napas dalam, lalu kuembuskan secara perlahan. "Iya, enggak apa-apa, Ndrew. Ini kan baru lamaran, kalau nanti udah nikah, kamu harus ada."
"Iyalah, kalau aku nggak ada. Kamu bakalan sama siapa, coba?"
"Hmm, ... kamu lagi ngapain? Udah makan belum?"
Andrew terdengar sedang melenguh. "Aku rindu kamu, Vya. Sangat!"
"Baru geh tiga hari."
"Apa harus setahun dulu, baru ngerasain rindu?"
Aku terkekeh kecil. "Enggak sih. Aku juga kangen sama kamu, tapi yah, dua hari lagi kok. Kita harus sabar dulu."
"I love you, Sayang."
"Love you to, Sayang."
Perbincangan kami terhenti, ketika tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamarku. Aku sedikit kecewa, namun mau bagaimana lagi. Sejak tadi siang, aku bahkan belum berbaikan dengan kedua orang tuaku. Rasanya tidak baik jika terus-terusan seperti itu. Sehingga, tanpa persetujuan dari Andrew, aku memutus panggilan yang sedang berlangsung secara sepihak. Kuhempaskan ponselku ke sisi rebahanku, kemudian aku bangkit.
"Navya, udah mau gelap. Kamu enggak mandi?" Suara mama terdengar semakin keras, daripada sebelumnya. Mungkin beliau juga sudah jengah dengan diriku yang masih marah.
Kuhela napasku dalam-dalam, lalu kembali kuembuskan. Belum menjawab ucapan mama, namun aku memutuskan untuk segera membuka pintu. Wajah mama menampilkan raut yang begitu cemas. Aku merasa bersalah pada akhirnya. "Maaf, Ma. Ini Navya mau mandi kok," ujarku.
"Ya, ya." Mama mengangguk-angguk sebanyak tiga kali. "Ayo, udah mau gelap. Makan malam udah selesai. Kamu mandi dulu."
"Ma?" Aku meraih tangan mama ketika beliau hendak berjalan turun. Mama menatapku lagi, aku kembali menghela napas. "Maafin Navya ya? Tadi sempet kasar dan kekanakan."
Mama tersenyum. "Nggak apa-apa. Justru Mama yang salah karna nggak bisa paham dengan suasana hati kamu."
"Ma, Navya mohon jangan ada lagi pembahasan tentang keluarga Nevan ya? Kami udah berakhir, dan bahkan udah lama banget. Aku maunya sama Andrew aja, aku mau menikah sama dia."
Mama mengangkat tangan kanan, kemudian beliau membelai halus kepalaku. "Sekarang keputusan terbaik ada di kamu, Sayang. Mau sama siapapun, yang penting baik dan sayang sama kamu."
"Iya, Ma. Dan itu orang bernama Andrew. Nanti aku bakal ceritain kejadian dulu, agar enggak ada salah paham lagi."
"Hmm, ... oke. Nanti Mama dan Papa tunggu, ya? Kamu mandi dulu. Jam tujuh, kita makan malam bareng."
Aku mengangguk pelan. "Iya, Ma."
Kemudian mama kembali melanjutkan langkah untuk mencapai lantai bawah. Aku masih menatap punggung beliau yang semakin jauh dari pandangan mata. Kali ini sungguh melegakan. Segala sesuatu yang dibicarakan secara baik-baik, pasti menemui jalan yang terbaik. Semoga saja, papa dan mama bisa menerima Andrew. Bahkan bukan karena diriku saja, melainkan rasa ikhlas untuk menerimanya sebagai calon menantu.
Selepas mama turun, aku kembali masuk ke dalam kamar. Kemudian, kuambil pakaian kasual yang memang aku tinggalkan pada saat sebelum berangkat ke Singapura. Pakaian santai nan cantik, bahkan imut. Teringat akan style-ku dimasa itu. Gemar shopping, ke salon, bahkan semua yang berhubungan dengan wanita dan melakukan itu semua bersama Sita. Tampaknya aku akan membawa beberapa barang itu ke Singapura.
"Hmm, ... baiklah mari mandi. Badan udah gerah sekali, ditambah rambut yang acak adul. Belum lagi, bau asem." Aku berucap sembari terkekeh geli sendiri.
Lantas, setelah semua keperluan aku dapatkan, aku turun ke bawah. Dengan semangat, sampai membuat kakiku menderap cepat dan menimbulkan suara cukup keras. Tidak aku pedulikan siapapun yang melihat, bahkan papa. Aku hanya tersenyum sekilas, kemudian melajukan kaki lebih cepat menuju kamar mandi.
****
Pukul tujuh malam, kami telah berkumpul, tidak terkecuali dengan Bi Emi dan Cika. Kami sudah seperti keluarga sendiri. Mungkin pada saat aku di Singapura, mama lebih sering menghabiskan waktu dengan Bi Emi. Sebenarnya sedikit heran, lantaran papa pun bersikap biasa-biasa saja ketika bersantap bersama asisten rumah tangga dan si kecil Cika. Sepertinya papa memang sudah berubah.
__ADS_1
Kemudian, disela aktivitas bersantap, papa tiba-tiba berdeham. "Jadi, gimana?" tanya beliau sembari menatapku.
"Apanya?" balasku.
"Kapan lamarannya datang, Navya. Kan harus menyiapkan segala sesuatu."
"Besok, Pa."
Papa tampak terkejut. Beliau menaruh sendok di piring sampai menimbulkan bunyi. "Besok? Mendadak banget, kenapa enggak ngomong dari tadi?" Papa terkesiap, sepertinya merasa syok atas ucapanku.
Sedangkan diriku malah tersenyum. "Hari berikutnya aku udah balik ke Singapura, Pa. Ya, adanya besok."
"Ya, tapi, mendadak banget. Kita kan bisa cari sesuatu tadi siangnya, Navya."
"Emangnya apa aja yang perlu disiapin? Toh, kita pihak penerima kok."
"Makanan, dan segala macamnya, Nak!"
Mama menyela, "Itu gampang. Nanti beli beberapa cemilan yang pantas. Tiap pagi sering ada yang jual kok. Kalau urusan makan, kami bertiga bisa masak dari subuh. Apa lagi, Mas?"
Papa melemahkan saraf yang tadi mendadak tegang. "Oh, ya udah kalau begitu. Nanti Papa bantu."
Kalau dipikirkan lagi, memang serba mendadak. Yah, namanya orang perantau bekerja dibawah naungan perusahaan besar, tentu menjadikan diriku jarang memiliki waktu. Pada saat seperti ini pun, liburku hanya singkat. Mungkin jika bekerja di dalam negeri, aku hanya mendapatkan paling tidak dua atau tiga hari saja. Begitulah kenyataan dan aturan yang berlaku. Tidak bisa diganggu gugat, kecuali kalau memiliki koneksi yang besar dengan pemilik perusahaan.
Namun apa pun itu, tetap aku syukuri, karena gaji yang aku dapatkan pun tidak sedikit. Perlahan akan membantu menuntaskan hutang papa kepada ayahanda dari Haris. Baiklah, lupakan itu dulu karena hidangan di hadapanku masih setengah dari porsi awal.
****
Di ruang keluarga, kami berkumpul bak tanpa beban untuk pertama kalinya setelah semua permasalahan di masa lalu. Papa tengah menyesap teh melati berisi irisan lemon yang berbentuk bundar, begitupun dengan mama. Sejauh ini, tidak ada sesuatu yang spesial untuk diperbincangkan. Papa maupun mama hanya menanyakan perihal kehidupanku di Singapura.
Sesekali mama dan papa menampilkan raut wajah yang tidak enak hati, suatu rasa bersalah yang tidak bisa ditutupi. Aku rasa, mereka tidak tega dengan segala usahaku di sana. Hidup hanya bersama teman-teman, makan seadanya, bahkan tuntutan hidup lebih tinggi. Belum lagi, aku harus membayar hutang papa yang tidak kunjung lunas.
Aku berpikir sejenak, mencari kata yang akan membentuk kalimat yang sopan. Bingung sudah pasti. Pertama, papa-lah yang meninggalkanku dan hanya bersama Bi Emi beserta anaknya. Lalu, keadaan berbalik, aku yang meninggalkan kedua orang tuaku, bahkan bukan di luar kota melainkan luar negeri. Aku menghela napas dalam setelah memikirkannya. Kemudian aku berkata, "Hubungan kita selalu kayak gini, Pa. Aku juga enggak mau begini. Tapi Papa yang memulai, kan? Andai saja Papa dan Mama melepaskan ambisi tentang jabatan kala itu, pasti fungsi kalian sebagai orang tua akan berjalan se-bagaimana mestinya."
"Papa tahu, ... itu kesalahan Papa, enggak dengan mama kamu, Navya."
"Hmm, ... kalau dipikir sekarang, Papa juga enggak bisa disalahkan. Setiap orang pasti enggak mau buang kesempatan bagus, meski harus pergi ke negeri nun jauh. Begitupun dengan aku, aku ambil kesempatan ke luar negeri demi mencari uang juga."
"Mungkin itu sudah menjadi hukum alam, bahkan balasan untuk Papa karna enggak bisa menjadi seorang ayah yang baik. Seharusnya, Papa enggak bersikeras membawa Mama kamu dan biar temani kamu di sini."
Aku menghela napas dalam. "Ya udahlah, semua udah terlanjur. Mau gimana lagi, aku juga salah. Semua yang ada di rumah ini salah."
Hening, kemudian menjadi suasan yang menyusup di antara kami. Menurutku, saling menyalahkan satu sama lain sekarang sudah tidak berguna. Semuanya telah terjadi dan tinggal menjadi kenangan, entah berharga, menyakitkan ataupun pembelajaran. Asal semua sudah berakhir, maka tidak menutup kemungkinan untuk menjadi semakin baik.
Diam-diam, aku melirik ke arah papa lagi. Beliau tengah menopang kening, dan pasti tengah memikirkan sesuatu. Mungkin tentang hubungan kami. Meski aku sudah mengatakan; tidak perlu dibahas, tidak ada gunanya, sudah terlanjur, tidak lantas membuat papa melupakan segala masa lalu dan kesalahan beliau terhadap diriku--anak semata wayang.
"Pa?" Aku mencoba memulai pembicaraan lagi. "Besok, Papa akan terima kedatangan tamu, kan?"
Mama yang sejak tadi terdiam, kini ikut menyunggingkan senyuman. Tampaknya, beliau menilai bahwa aku sedang tidak sabar. "Yang mau nikah, enggak sabaran yah?" tanya mama sesuai dengan perkiraanku.
"Iya, Ma. Navya udah dua puluh lima tahun. Menikah udah jadi impian," jawabku sembari tersenyum.
"Ya, diterima kok. Kalau itu terbaik buat kamu, tapi Papa juga ingin ketemu dengan pacar kamu. Siapa tadi namanya?" tanya Papa menimpali tentang pertanyaanku tadi.
"Andrew Birowo emm, ... kalau enggak salah ada satu nama lagi di belakangnya. Tapi aku lupa, kalau enggak salah Hermawan."
"Hermawan?"
"Iya, Pa. Kenapa?"
__ADS_1
"Emm, ... rasa-rasanya enggak asing sama nama itu."
"Iyakah? Kan banyak orang yang punya nama itu."
Papa manggut-manggut. "Iya sih. Banyak, tapi ada Birowo-nya jadi agak enggak asing aja."
"Perasaan Papa aja paling."
Belum lama ini, aku juga baru mengetahui nama paling belakang milik Andrew. Tepatnya pada saat iseng membaca isi KTP-nya. Di id-card-nya saja hanya menggunakan nama Birowo sebagai pelengkap disertai inisial 'H' yang tidak pernah aku pikirkan. Mungkin nama itu tidak terdengar asing oleh papa karena beliau sering berbaur dengan banyak orang.
"Emm, ... tadi Tante Diana ngomong apa aja?" tanyaku.
Mama menatapku seketika. "Katanya enggak mau dibahas lagi?" Lha kok?" timpal beliau.
Aku menyengir. "Rasa penasaran masih tetep ada, Ma. Aku takut dijelek-jelekin aja."
Mama tersenyum. "Bukan dijelekin, tapi malah disanjung. Makanya Mama dan Papa tadi seketika merasa bangga. Mau gimanapun kan keluarga mereka bukan keluarga sembarangan."
"Iya, Ma. Aku merasa bersalah, udah kayak gitu sama Tante Diana. Tapi, ... mau gimana lagi, aku udah enggak bisa sama Nevan."
Papa berdeham. "Kalau boleh tahu, apa yang membuat kamu putus sama Nak Nevan, Navya? Karena Papa, kah?"
Aku menggeleng. "Aku udah putus sama dia, jauh sebelum Papa pulang. Prinsip kami berbeda dan enggak bisa sejalan lagi. Tujuh bulan udah cukup."
Papa manggut-manggut. "Lalu, Andrew?"
"Andrew?"
Papa mengangguk. Sepertinya beliau ingin menggali lebih dalam tentang diri Andrew. Terlebih, Andrew-lah yang membuatku harus kabur dari rumah demi menyelamatkan dirinya dari papa. Aku ragu, pada saat itu Andrew dalam keadaan yang tidak sadar akibat minuman keras. Apakah aku harus membicarakan perihal itu, supaya tidak salah paham kepadanya?
Itu tidak mungkin, bukan? Justru citra Andrew malah akan semakin tercoreng. Meski semua sebab dari ulahku, Andrew sempat melakukan hal buruk. Bahkan di mata orang tua, hal itu sangat tidak pantas dilakukan.
"Aku ketemu dia di kantor, Pa."
Papa mengernyitkan dahi. "Jadi, cinta lokasi?" tanya beliau lagi.
"Iya, mungkin bisa dibilang begitu. Tapi, ... aku baru kenal sama dia pas sempet kecelakaaan kecil."
"Kecelakaan?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, aku menabrak pembatas jalan. Terus secara kebetulan, dia lagi ada di sekitar tempat itu. Terus aku dibawa ke klinik terdekat. Yaaah, tahu sendiri lah anak muda gimana."
"Terus kenapa kamu sampai ada di apartemen dia?"
Aku menelan ludah seketika. Merasa bingung dengan jawaban yang hendak aku katakan. Meski papa juga bersalah pada saat itu, aku tetap tidak bisa sepenuhnya mengatakan dengan jujur. Bagaimana jika papa malah membenci Andrew? Atau bahkan menganggap Andrew sebagai lelaki yang tidak benar?
"Emm, ...."
"Kenapa?" Papa sedikit mempertegas nada bicara. Membuatku semakini di ambang kebingungan.
"Bukan salah dia, Pa. Aku yang salah."
Dahi papa mengernyit. "Kamu yang salah? Kamu yang ajak dia buat kabur?"
Aku menggeragap. "Bu-bukan, emm, ... bi-bisa dibilang gitu juga kali."
"Bilang aja. Papa enggak akan marah, Papa waktu itu juga bersalah."
Hatiku dirundung rasa bingung dalam waktu yang lumayan lama. Kendati papa berkata tidak akan marah, tetap saja aku sangat merasa keberatan untuk mengatakan sebenarnya. Lantas, aku harus bagaimana?
__ADS_1
Bersambung ...