
Dengan rasa berdebar, aku siap menghadap Affandy sebagai atasanku di tempat ini. Entah mengapa, jika mengenai pekerjaan, aku menjadi tegang sendiri. Apalagi aku terlalu banyak meminta bantuan darinya. Aku khawatir jika dianggap hanya memanfaatkan dirinya. Namun ini demi Sita, aku juga tidak ingin mengecewakan sahabatku tersebut.
"Baiklah," gumamku sembari menghela napas cukup dalam dan panjang.
Grek! Aku membuka pintu ruangan Affandy, karena biasanya memang langsung seperti ini. Namun ...
What the hell?!
Glup! Aku menelan ludah seketika. Lebih tepatnya saat mendapati Affandy sedang menghimpit tubuh Kak Kate disisi dinding. Saking terkejutnya, aku sampai terpaku diam dalam beberapa saat. Bukan hanya diriku, melainkan mereka berdua.
"Na-navya?!" Affandy terpekik saat melihat. Dengan cepat ia melepaskan tubuh Kak Kate dan salah tingkah seketika. Begitupun sang wanita.
Aku tersadar dari diamku, aku berdeham kecil untuk memperbaiki pita suaraku. Sungguh rasa hati ini sangat menyesal, mengapa pula aku tidak mengetuk pintu sebelum membukanya. Astaga! Navya kapan pintarnya?!
"Ma-maaf, Pak. Saya mo-mohon undur diri," pamitku. Dengan gerak kaku, aku membalikkan badan untuk melarikan diri.
"Masuk aja, Navya. Pikirkan tujuan kami kemari jangan kami," celetuk Kak Kate. Hal itu membuat gerakanku terhenti.
Aku berbalik badan untuk memastikan perkataan Kak Kate. Sedangkan Affandy mengangguk pelan, meski masih ada rasa malu pada dirinya. Sejujurnya aku merasa bimbang, disisi tidak enak hati, tentu saja aku juga sangat mengganggu. Namun mau bagaimana lagi? Aku harus mendapatkan izin pulang demi Sita.
Maka dari itu, perlahan aku melangkah masuk ke dalam ruangan atasanku ini. Aku memilih untuk menunduk karena rasa tidak enak hati yang kian mendera. Kak Kate memilih berlalu pergi tanpa sepatah kata pun untuk diriku maupun Affandy. Suasana macam ini? Kenapa aku harus terlibat dan malah nekat masuk?
Bodoh loe, Nav!
Dalam beberapa saat, kecanggungan berada diantara aku dan Affandy. Ya, tentu saja demikian lantaran aku membatalkan niatnya untuk berlaku romantis kepada sang pujaan.
"Emm ... Pak?" Aku memulai pembicaraan mengenai tujianku datang kemari.
"Y-ya," jawab Affandy sedikit terkejut. "Ah, Navya. Sumpah aku malu banget! Jangan diinget ya yang kamu lihat tadi."
"Nggaklah, ngapain inget-inget kayak gituan? Eh! Enggak kok, Pak."
"Tapi emang malu, beneran. Sumpah! Aaaaaarg!"
Aku berdeham. Tampaknya Affandy memang benar-benar malu. Maksudku antara malu dan juga lucu. Wajahnya yang memerah tidak kunjung kembali pada warna kulit asli. Sampai aku dibuat cengengesan sendiri. Jika aku diposisi mereka, pasti aku pun merasa seakan ingin mati juga saking malunya. Beruntungnya semua keromantisanku dengan Andrew tidak pernah dipergoki oleh orang lain. Ah! Apaan?! Tidak boleh, aku tidak boleh bangga dengan dosa.
Baiklah, lupakan semua pemikiran jorok ini. Aku harus menyampaikan tujuan dan maksud hati datang ke ruangan ini. Lagipula masih jam kerja, aku takut Elena akan mengomel jika diriku tidak kunjung kembali. Sebelum mengatakan tujuanku, aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Setelah dirasa tenang, aku memberanikan diri untuk menatap Affandy. Ia masih saja berwajah merah jambu.
"Udah deh, Pak. Lupain aja. Aku nggak bakalan inget kok," celetukku kepadanya.
Affandy menatapku sekilas, kemudian menutup wajahnya seketika. "Bentar ya, aku masih belum siap," jawabnya konyol.
Cowok ini?!
"Hmm ... Fandy, aku mau minta sesuatu sama kamu. Sebagai teman dan juga bawahan."
Affandy mengernyitkan dahinya seketika. Semua perasaan malunya berangsur hilang. Ia sudah berani dalam memberikan tatapan kepadaku. "Ada apa, Vya? Ada yang bisa aku bantu? Kamu diganggu sama mereka lagi?"
Kugelengkan kepalaku tanda menyanggah ucapannya. "Bukan itu. Mereka udah diem kok. Tapi ini menyangkut teman juga. Emm ... aku boleh minta izin pulang nggak?"
"Pulang? Ada apa emang? Kok tiba-tiba?"
Aku terdiam bimbang. Khawatir jika ia tidak memberikan izin, apalagi hanya alasan pernikahan sahabat. Setiap perusahaan pasti memiliki kebijakan masing-masing. Dan aku belum terlalu paham tentang kebijakan di perusahaan Singapura ini. Meski atasanku adalah temanku sendiri, ia hanya sebatas kaki tangan kepercayaan.
"Ngomong-ngomong, kamu makin cantik ya, Navya," celetuk Affandy yang keluar dari pembahasan tentang izinku.
"Cantikan Kate kali," jawabku. "Gimana? Kasih izin ya? Please."
__ADS_1
"Ya udah, izin tinggal izin aja kok. Ambil form-nya, catet alesannya terus minta tanda tangan ketua tim, manager sama aku."
"Segampang itu?"
"Manager kamu orang yang susah lho. Tapi, kalau udah ada tanda tangan aku pasti dikasih kok. Tenang aja. BTW, mau kemana sih?"
"Emm ... itu, jadi ... jadi dayang nikahan. Sita temen aku itu lho, dia udah mau nikah. Terus aku kan nggak enak kalau nggak dateng, suruh jadi bridesmaid. Kamu pasti tahu, hubunganku sama dia sedekat apa."
"Oh, gitu. Ya udah tulis aja nanti sister's wedding. Jangan temen, itu nggak boleh."
"Gitu ya?"
"Iya, asal ada tanda tangan aku, semua beres kok. Ya udah kamu balik kerja sana."
"Baik, Pak. Terima kasih banyak. Eh, nanti hati-hati lho. Pintu ruangan mending dikunci dari dalem hehe."
"Navya!"
Kuabaikan kekesalan dari Affandy dan berlalu pergi begitu saja. Menggoda orang yang tengah kasmaran ternyata asyik juga. Sepertinya kali ini, mereka benar-benar bersama. Aku ikut senang karena keduanya bisa mengatasi masalah dengan baik. Kak Kate juga pasti lebih bahagia daripada sebelumnya. Mereka memang pantas untuk mendapatkannya. Lagipula mereka terlihat sangat cocok dan serasi, sama-sama pintar dan baik hati.
Tidak aku sangka, disekitarku banyak sekali orang-orang baik. Raya, Sinta, Affandy, Kak Kate dan Andrew. Mereka tidak pernah keberatan pada saat aku meminta bantuan. Apalagi untuk Affandy yang notabene-nya adalah petinggi perusahaan. Seharusnya aku meminta izin melalui manager. Namun nama yang pertama kali muncul adalah namanya. Belum tentu mendapatkan izin kalau harus melalui manager terlebih dahulu, makanya aku bergegas menemuinya. Demi Sita!
Tak lama kemudian, aku sudah sampai didalam ruang kerjaku. Istirahat nanti aku baru akan mengurus surat izin dengan form yang telah disediakan, untuk saat ini aku harus menyelesaikan pekerjaan.
"Gimana, dapet nggak ...?" tanya Andrew dengan pelan pada saat aku hendak duduk di kursi kerjaku.
Aku menatapnya lalu tersenyum. "Dapet, istirahat nanti baru aku urus. Kamu makan duluan aja ya ...," jawabku.
"Kebetulan, aku ambil lembur. Udah nitip roti tadi sama OB. Buat kamu juga udah aku titipin ...."
"Ah, makasih ...." Aku tersenyum. "Kita kerja lagi, biar sore nggak ada lembur ...."
Aku memfokuskan pandanganku ke depan. Sepertinya Andrew juga melakukan hal yang sama. Kami saling sibuk satu sama lain. Tugas menumpuk seperti biasanya. Tidak apa, kali ini aku merasa lebih semangat. Mungkin karena sebentar lagi akan pulang.
****
"Navya?" Seseorang memanggil namaku selepas aku keluar dari ruang kerja manager. Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatapnya. Ada Kak Kate disana, ia tengah berlarian kecil untuk menghampiriku. Dan akhirnya sampai disini. "Makan siang yuk, udah beres, kan?"
"U-udah sih, Kak. Tapi Andrew?" ujarku kepadanya.
Tanpa persetujuan dariku, Kak Kate menaril lenganku supaya aku mengikuti langkahnya. "Aku udah ngomong sama Andrew kok. Aku pinjem kamu, masih banyak sisa waktu makan siangnya. Aku sengaja nungguin kamu, Navya."
"O-oke."
Setelah aku menyetujui permintaannya, Kak Kate bersedia melepaskan cengekeraman tangannya. Kami melangkah dengan cepat menuju lantai dasar. Sepertinya aku tengah dibawa ke area parkir guna menghampiri mobilnya. Entah mengapa Kak Kate terlihat lebih menggebu daripada biasanya. Sepertinya sesuatu telah terjadi kepadanya, maksudku pada hatinya.
Benar saja, ia membawaku ke area parkir. Dicarinya mobil miliknya yang berwarna hitam legam. Setelah didapatkan, kami melangkah untuk masuk ke dalam mobil. Perlahan namun pasti, Kak Kate melaju mobilnya dan meninggalkan tempat ini dalam waktu yang sementara.
"Kamu jangan ketawain kejadian tadi ya, Nav," celetuk Kak Kate. Aku rasa yang ia maksud adalah kejadian manis yang tidak sengaja aku ketahui.
"Tentu, Kak. Aku juga cewek kok. Jadi ngerti," jawabku dengan nada yang meyakinkan.
"Aku juga bingung sih."
Dahiku mengernyit seketika. "Bingung? Soal apa? Emang kalian ini, ah! Nggak deh hehe.".
"Belum, kami belum menjalin hubungan apapun kecuali sahabat lama. Ah, nanti aku ceritain deh."
__ADS_1
"Iya, iya, oke."
"Emm ... ngomong-ngomong style kamu bagus juga ya? Belajar dari mana?"
"Hmm ... justru aku yang sekarang adalah aku yang sebenarnya, Kak. Cewek yang hobi dandan, stylish dan shopping. Yang kemarin itu palsu."
"Emang dasarnya kamu ini labil kok, Nav."
Aku hanya bisa menyengir ketika mendengar kejujuran Kak Kate mengenai diriku. Bahkan diriku sendiri pun merasa seperti itu. Lantas, kapan Navya akan menjadi seseorang yang dewasa? Terkadang aku tidak bisa menilai diriku sendiri dengan baik. Hari ini suka seperti ini, namun esoknya sudah berbeda lagi. Entahlah, sejak awal aku memang teramat plin-plan. Untuk seseorang yang mendengarkan cerita tentang diriku, pasti akan cepat merasa bosan. Sudahlah! Ini takdir diriku untuk menjadi se-demikian rupa.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Kak Kate membelokkan mobilnya ke suatu restoran. Akhirnya aku bisa makan, mungkin hatiku yang sedikit tidak enak lantaran meninggalkan Andrew sedirian di ruang kerja. Yah, semoga saja ia tidak kembali digoda.
"Ayo turun, Nav."
"Iya, Kak." Aku mengikuti perintah Kak Kate untuk turun dari mobil ini. Perlahan lalu cepat, langkah kami ambil untuk memasuki restoran.
Pelayan segera datang dengan menyodorkan buku menu untuk kami berdua. Kami pun menentukan hidangan yang sesuai selera. Setelah menentukannya, kami menyerahkan kembali pada sang pelayan. Lalu ia pergi demi menyajikan pesanan kami.
Restoran ini cukup mewah, khas untuk orang-orang yang elite. Selalu saja aku dibawa ke tempat ini oleh Kak Kate, bahkan Affandy. Ah, aku menjadi sedikit curiga. Sepertinya tempat ini adalah tempat favorite bagi mereka berdua. Mungkin beberapa kenangan indah tersimpan didalamnya.
"Aku bingung sama sikap Fandy, Nav," ujar Kak Kate. Perkataan yang aku pun bingung dalam memahaminya sebelum mendengarkan penjelasan lebih lancut.
"Kenapa, Kak? Kalau boleh tahu?" balasku.
"Katanya nggak punya perasaan apapun sama aku. Tapi tadi? Dia nyaris mendapatkan bibirku. Maaf, kalau agak nggak sopan. Aku bener-bener bingung, cuma sama kamu, aku bisa mencurahkan isi hati."
"Emm ... dia itu cinta sama Kak Kate. Tapi entah, aku nggak terlalu paham alasan dibalik masalah kalian yang menyangkut persahabatan."
"Dia nggak mau persahabatan kami rusak hanya karna sebuah perasaan."
"Tapi, Kak? Bukankah seperti ini udah bikin persahabatan kalian rusak ya?"
Sebelum menjawab pertanyaan dariku, sang pelayan datang membawa hidangan yang kami pesan. Ia menyajikannya dihadapan kami dengan sangat sopan. Membuatku berdecak kagum atas keramahan senyumnya. Bukan hal aneh, karena pekerjaan menjadi seorang pelayan restoran, senyuman adalah hal yang harus diperhatikan setelah hidangan.
Tak lama setelah itu, sang pelayan berlalun Sedangkan Kak Kate menghela napas yang dalam. Sedangkan diriku malah asyik mencacah daging yang berada didalam makananku. Bersama Kak Kate, aku berusaha se-elegan mungkin dengan menyesuaikan diri. Yah, supaya tidak memalukan. Lagipula hal ini cukup mudah bagiku. Lain halnya ketika di rumah bersama Raya dan Sinta, aku mengikuti gaya santai mereka yang seenaknya. Yah, sebenarnya jauh lebih seru.
Berbeda denganku yang lahap dalam menyantap makanan, Kak Kate malah memainkan garpunya diatas piring. Ia menatap kosong.
"Kak, makan dulu. Jangan terlalu dipikirin, napa?" Aku berceletuk demikian supaya Kak Kate tersadar dari lamunannya.
"Iya, Nav. Enggak kok," jawabnya singkat sembari tersenyum. Perlahan, ia bersedia menyuapkan makanan ke bibirnya. Meski kebimbangan masih terlihat disorot matanya.
"Emm ... ngomong-ngomong Kak Kate jadi pulang ke tanah air? Bareng aku? Aku udah ambil izin ditanggal lima belas sih, dua hari sebelum temenku nikah."
Kak Kate mengangkat kedua pundaknya secara bersamaan. "Nggak tahu, aku bingung. Kalau Fandy menahanku dihari itu dan jelasin soal hubungan kami, aku tetep ada disini dan kerja disini. Tapi kalau enggak, aku bakalan pulang."
Melihat kondisi Kak Kate sembari mendengarkan curahan hatinya, membuat rasa bersalahku tiba-tiba muncul. Bukan rasa bersalah kepadanya, melainkan kepada Andrew. Aku rasa, saat aku masih menolak dirinya, Andrew pun merasakan hal yang sama seperti Kak Kate. Sakit sendiri, bingung, ingin menyerah tapi harapan masih besar. Bedanya Andrew seorang pria, dan Kak Kate seorang wanita yang notabene-nya harus dikejar dan bukan mengejar.
Affandy bodoh. Kurang apa coba dia? Pinter iya, cantik iya, sabar iya. Hanya karna alesan persahabatan, oh! Emangnya masih pada ABG? Heran gue!
Rasanya benar-benar gemas, ingin sekali aku temua Affandy sesegera mungkin dan menyerangnya dengan berbagai kata tidak sopan. Namun itu semua tidak bisa aku lakukan. Disisi ia salah satu temanku, aku juga tidak mau terlibat ke dalam urusan mereka.
"Aku nggak tahu harus bilang apa lagi, Kak. Kalian cocok banget, dan aku yakin saling memendam perasaan ingin. Tapi sayangnya, Affandy begitu."
"Papaku juga nggak setuju kalau aku sama Affandy, Navya. Aku sadar rintangan kami terlalu banyak. Karna dia, aku sampai berani pergi ke sini. Dari dulu, orang tua aku sangat menentang kalai aku mau pergi jauh."
"Oh, jadi soal restu juga ya? Sulitnya. Yang sabar ya, Kak. Aku yakin semua akan indah pada waktunya."
__ADS_1
Kak Kate mengangguk pelan. Tidak ada lagi pembahasan. Kami berdua melanjutkan bersantap ria.
Bersambung ....