Who Is My Love

Who Is My Love
Ulah?!


__ADS_3

Laju mobil Haris, begitu kencang dalam menerobos kerumunan jalan raya. Sedangkan sang pemilik masih menyerocos sesuatu yang tidak terima akan sikapku. Tidak ada air mata lagi untuk kutumpahkan. Aku memasrahkan diriku saja. Secara, respon Haris yang seperti ini memang harus aku hadapi. Aku tidak memberikan kesempatan kepadanya dan malah menghilang selama kurang lebih satu minggu lamanya. Entahlah, aku benar-benar tidak nyaman jika bersama Haris, itu saja.


"Loe tau nggak? Gue nungguin loe tiap hari di depan kantor loe. Nggak pernah gue ketemu loe," ujar Haris. "Gue tiap hari ke rumah bokap loe, nggak pernah sekalipun loe pulang selama ini."


"Seharusnya nggak perlu," jawabku.


"Gue udah bilang, Navya. Gue nggak bakalan lepasin loe sampe dapet!"


"Kenapa loe nggak bisa berhenti aja, Haris? Gue bahkan nggak peduli kalau bokap gue masuk penjara."


"Apa?! Gila loe!"


"Gue emang udah gila semenjak kedatangan loe dihidup gue."


"Bah!!! Siapa cowok yang bikin loe sekeras ini?!"


"Cowok? Gue udah nggak peduli tentang cowok."


Haris menatapku tajam namun sekilas, lantaran ia harus fokus pada setir mobilnya. Sepertinya segala ucapanku berhasil membuatnya marah lagi. Aku tidak mengerti tentang pria ini, mengapa ia begitu tidak tahu diri? Dan itu atas penolakanku bukan artis ternama yang bahkan bisa ia dapatkan. Apa yang ia cari pada diriku? Jika itu tentang Andrew, aku bisa memahami karena dirinya orang biasa bukan anak orang kaya. Tapi, Haris? Ambisi macam apa yang ada didalam hatinya?


Aku benar-benar menyesalkan tentang pertemuan kami. Mungkin, jika Haris tidak pernah hadir dalam hidupku, permasalahan semacam ini pun tidak akan pernah muncul juga. Setidaknya, aku hanya perlu menghadapi satu pria dan tidak kabur dari rumah. Namun, apa dayaku? Tuhan memberikan permasalahan ini untukku. Dan sepertinya sebentar lagi, aku akan mati di tangan Haris.


Tiba-tiba saja, Haris membelokkan arah mobilnya dan memasuki area sebuah Hotel. Hotel? Untuk apa datang kemari? Bahkan bukan hotel ternama, melainkan hotel melati yang biasa saja. Seketika jantungku berdegup kencang. Tempat semacam ini bukan tempat sembarangan. Yang aku tahu, sering dipakai para kupu-kupu malam. Lalu, Haris?


Sial! Gue harus kabur. Tapi gimana caranya.


Lantas, Haris segera memarkir mobilnya ditempat yang telah ditentukan. Ia beranjak turun. Aku segera membuka pintu dan mencoba mengambil langkah untuk kabur. Namun, rencana tinggal rencana. Haris mengejarku dengan mudah dan seketika menarik tanganku. "Jangan coba-coba kabur, Navya!" tegasnya.


Deg! Ini bukan main-main belaka. Ini bukan ancaman semata. Ini adalah tindakan bodoh yang akan Haris lakukan kepadaku. Tak cukup ia hanya menamparku saja. Aku menyesal telah mengikutinya, padahal kulakukan supaya Sita tidak terlibat. Tapi, apa yang akan terjadi kepadaku sekarang? Aku takut sekali. Sedangkan, lakunya kini semakin tidak menentu. Haris tidak melepas cengkeraman tangannya dari lenganku. Ia bahkan membawaku untuk masuk ke dalam hotel.


Aku meringis kesakitan, berharap ada seseorang yang membantuku. Namun, semua tetap cuek dan membiarkan Haris memesan salah satu kamar. Tampaknya pria ini memakai kekuatan uang dan tahta lagi. "Loe mau apain gue, Haris?!" tanyaku tegas.


"Bikin loe bisa jadi milik gue," jawabnya sembari menyeringai.


"Jangan gila!"


"Gila? Menurut loe ini gila? Loe yang bikin gue gila, Navya. Hahaha."


"Loe emang nggak akan pernah berubah! Loe bukan manusia!"


Haris tidak menjawabku, ia hanya terkekeh sembari menyeringaikan senyumannya untukku. Ia terus membawaku menuju salah satu kamar. Orang yang kami temui sama sekali tidak ada yang peduli. Aku mengerti, karena biasanya yang datang ke tempat semacam ini bukanlah orang-orang baik.


Mau menangis aku tidak bisa sama sekali. Hanya rintihan suara dan juga ceracau menghinanya yang mampu keluar dari bibirku. Badanku gemetar dengan degup jantung semakin tidak karuan. Lantas, apa yang akan kuperbuat sekarang? Aku menyesal, aku benar-benar menyesal.


Sesampainya disalah satu kamar, Haris segera membukanya. Ia kembali mendorongku ke kamar itu. Tampak satu ranjang dan sofa dengan suasana dingin karena tersedia AC. Aku benar-benar masuk ke dalam sarang macan yang kemungkinan akan melahapku sampai habis.


Haris menyentuh daguku. Setelah, ia melepas cengkeraman tangannya dari lenganku dan mendudukkan diriku di sofa dengan paksa. "Duduk yang manis ya, Sayang," ujarnya.


"Pulangin gue!" balasku.


"Nggak akan! Gue tau, Navya. Loe pasti kemaren kabur sama cowok lain kan?"


"Nggak!"

__ADS_1


"Jangan bohong! Gue mau cek aja, apakah calon istri gue yang cantik ini masih suci."


"Gue nggak semurah itu, Haris. Kalau loe mau cek, justru loe yang ngerusak!"


"Hmmm... nggak masalah kan, seharusnya? Toh, kita akan segera menikah hahaha."


"Haris!"


"Diam! Jangan berani teriak didepan gue lagi, Navya. Atau gue bakal mulai sekarang! Diem disini ya Cantik, Abang mau mandi dulu. Biar kamu nantinya senang. Dan jangan coba-coba kabur, nggak akan bisa."


Glup! Kutelan ludahku. Keringat dingin mengucur di keningku. Aku lemas seketika, aku tidak berdaya. Apa ini sebuah karma? Karena aku mempermainkan Andrew? Atau karena aku durhaka kepada papa? Aku harus bagaimana? Jika sudah berhadapan dengan Haris seperti ini, semua usaha akan sia-sia untuk menghindari. Aku bingung dalam ke tidak berdayaan ini.


Haris berlalu ke arah kamar mandi. Sepertinya ia benar, akan bebersih diri. Aku menatap punggungnya yang kekar saat ia membuka pakaiannya sebelum masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Rasanya akan semakin sulit untuk menghindarinya. Ia membalikkan badan dan menatapku dengan senyum seringai menyeramkan. "Bagaimana, Sayang? Tubuhku indah bukan?" tanyanya kepadaku.


Aku diam. Kubuang pandanganku ke arah lain. Ia terkekeh dengan keangkuhan. Akhirnya air mata yang tidak keluar, kini keluar lagi. Lebih baik aku mati, daripada mengorbankan harga diriku kepada Haris. Entah mengapa nasibku harus sesial ini. Dosa apa yang aku perbuat? Aku sudah menjalani banyak hukuman berat. Tapi, mengapa harus ada yang lebih berat lagi. Seandainya aku adalah wanita nakal, lebih baik kuberikan mahkotaku kepada Andrew bahkan Nevan. Tapi, aku selalu menjaganya dari siapapun. Aku memang bukan orang suci, tapi setidaknya aku memiliki harga diri.


Kini semua telah terjadi. Sendi-sendi kakiku sudah tidak sanggup dipergunakan untuk berjalan bahkan melarikan diri. Mungkin, jika Haris benar-benar akan berbuat sesuatu kepadaku, aku akan memilih mati. Aku tidak sanggup menanggung segalanya setelah ini. Malu, hancur, tidak berharga, rusak dan juga bekasan orang semacam dirinya. Mau ditaruh dimana mukaku nanti?


Tuhan, mengapa engkau selalu melakukan ini padaku?


Derai air mata yang terdengar tertahan, mungkin akan memilukan seseorang yang mendengar. Aku sudah tidak kuasa. Namun, tiba-tiba muncul satu harapan. Ponselku bergetar dan aku segera meraihnya dari dalam tasku. Sita adalah pelakunya.


"Ha-halo, Sit. Hiks... to-tolong aku...," ujarku pelan-pelan.


"Iya, Beb. Gue tau loe dimana, gue khawatir dan gue ikutin mobil Haris tadi. Sekarang gue bareng Pak Fandy dan Andrew. Karena kebetulan ketemu, kita mau rebut loe dari Haris. Tapi loe nggak apa-apa kan?" tanya Sita yang sedikit membuatku lega.


"Tolong, Sit. Cepet, gue... gue di kamar nomor 23...."


"Iya iya, gue paham. Apapun yang mau dilakukan Haris, pokoknya sebisa mungkin loe tahan, Beb. Pak Fandy dan Andrew masih nego sama resepsionis hotel. Pasti makan waktu. Jangan matiin telponnya ya."


Jegrek! Deg! Pintu kamar mandi terbuka, jantungku pun kembali dibuat kaget seketika. Segera kusembunyikan ponselku tanpa kumatikan panggilannya. Haris keluar dengan helai handuk saja. Nyaliku menciut seketika. "Wah, gadis pintar. Ternyata nggak kabur beneran ya," ujarnya.


Aku diam. Haris tidak segera memakai pakaiannya. Ia malah mengambil sebatang r*kok dari dalam kantong jaket yang sempat ia kenakan. Ia tidak peduli tentang keadaan ruangan ini yang menggunakan AC. Ia menyalakan benda tersebut dan menggunakannya.


"Gue tu sebenarnya, nggak ingin kayak gini, Navya," ujarnya lagi.


"Tapi kenapa loe kayak gini?!" tanyaku.


Haris menghela napas berat. "Ternyata berubah itu nggak mudah. Lama-lama gue bosen juga, apalagi loe tetep nggak mau lihat gue."


"Karna loe nggak sabar!"


"Nggak sabar kata loe? Sejak pertama kita dipertemukan, gue selalu sabar nunggu perasaan loe nyambut gue, Navya! Gue pikir dengan cara kasar loe nggak bakalan kemana-mana. Dan, dengan cara lebih lembut pun, loe tetep begitu. Navya, jangan sok jual mahal. Apa yang kurang dari seorang Haris?"


"Loe emang nggak kurang, Ris. Mungkin banyak cewek cantik yang bisa loe dapetin, bukan gue. Kenapa loe nggak bisa lepasin gue? Apa yang loe lihat dari gue?"


"Entahlah, gue juga bingung. Yang pasti hati ini tetep pengen loe jadi milik gue. Dan ini cara terakhir, supaya loe nggak bisa lari lagi dari gue, Navya."


Mataku membelalak lebar. Haris membuang puntung r*kok sembarangan. Ia menyeringai lagi, dan sangat menyesakkan hati. Ia menatapku tajam penuh rencana licik didalam otaknya sana.


Gue harus tahan. Nyampe mereka dateng. Harus! Jangan sampai, Haris nekat.


Setelah berlaku seperti itu, Haris datang menghampiriku. Semakin dekat dan aku semakin menjauhkan posisiku darinya. Namun, lagi-lagi tenaganya lebih besar. Haris menangkap tubuhku dan ditariknya ke dalam pelukannya. Diriku gemetar luar biasa. Apalagi kini Haris mulai berani menyentuh wajahku. "Jangan macem-macem, Haris!" tegasku.

__ADS_1


"Nggak apa. Kita sebentar lagi menikah, Sayang. Jangan takut hehe," jawabnya santai.


"Nggak! Gue nggak bakalan nikah sama loe! Gue lebih milih mati!"


"Jangan bodoh! Mati itu sakit, Sayang."


"Gue nggak peduli! Lepasin, tangan kotormu tak pantas menyentuhku!"


"Oh ya? Tapi, gue ini pria suci lho, Navya. Entahlah, jika dirimu. Gue nggak bisa prediksi status loe sebelum mencobanya."


Plaakk! Aku melayangkan telapak tanganku di pipi Haris. Ia diam. Namun, kembali tersenyum seram dan menatapku lagi. Ia mulai bergerak aneh. Dengan sekuat tenaga aku menjauhkan diriku darinya. Tentunya dengan derai air mata.


Haris tidak menyerah. Bahkan blazerku sampai terlepas. Ini gila! Aku harus bagaimana? Seketika aku bereaksi dan menendangkan kakiku sampai Haris terjatuh. Lantas, aku menjauh. Gerak tanganku berusaha membuka pintu. Meski tidak akan berhasil.


"Hahaha... nggak akan bisa, Navya. Jangan jadi perempuan naif, loe! Gue kan udah peringatin dari dulu, jangan macem-macem. Cara kasar susah, cara halus susah. Dan sekarang ini adalah cara terakhir gue dapetin loe," ujarnya angkuh.


"Jangan harap, Haris!" tegasku.


Haris tidak peduli. Ia menghampiriku lagi, seketika ia mengangkat diriku dengan mudahnya. Lantaran, aku terlalu kurus. "Haris, turunin gue! Hiks... turuniiiiiiiiiiiiiiiin!!!" rontaku.


"Tenang, Sayang."


Ia membawaku semakin dalam. Lantas, menghempaskan diriku dan terjatuh diatas ranjang. Aku gemetar. Mencoba menjauhkan diri lagi. Namun, Haris tidak main-main lagi. Ia sangat menakutkan. Ia menekanku sampai aku tidak berdaya. "Andrew..., Fandy..., Sit-"


Plak! Sebuah layangan tangan mendarat di pipiku. "Dasar murah sekali loe, Navya! Loe lagi sama gue! Siapa yang loe sebut-sebut itu haah?!" tanya Haris geram.


"Gu-gue mohon, lepasin gue. Bu-bunuh gue aja kalau loe mau. Tapi jangan kayak giniin gue, Haris."


"Ini salah loe sendiri, Navya. Kenapa loe terlalu bodoh, dan menyia-nyiakan perasaan gue? Kenapa loe nggak mau ngasih kesempatan sama gue? Kenapa rasa benci loe nggak pernah hilang buat gue?"


"Haris, gue mohon. Lepasin gue."


"Maaf, Navya. Ini jalan terakhir gue bisa dapetin loe."


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!! Jangan!"


Sesuatu tidak terduga Haris lakukan kepadaku. Belum parah, namun sangat membuatku terluka dan frustasi. Sebisa mungkin aku berusaha menepis niatan jahatnya. Aku masih melawan sebisa mungkin sampai Sita dan kedua pria itu datang.


Dugh! Brakk! Brakk! Seketika Haris mengumpat. Tepatnya, saat pintu kamar ini didobrak kuat-kuat. Aku segera menutupi diriku bagian atas yang sudah tidak karuan menggunakan selimut. Haris beranjak turun dari ranjang. Ia menghampiri daun pintu sembari marah-marah. Aku sedikit merasa lega. Teman-temanku telah tiba. Aku tertatih


Pintu terbuka karena dipaksa. Sebuah hantaman keras diarahkan ke wajah dan perut Haris. Seketika pria menyeramkan itu terjatuh. Andrew dan Affandy adalah pelakunya. Mereka tiada ampun kepada Haris. Aku sendiri sudah tidak kuasa menopang diriku dan lantas terduduk lemas.


"Beb...," panggil Sita kepadaku.


"Si-sita, ma-maaf," ujarku.


"Udah, jangan pikirin yang enggak-enggak ya."


Sita memberikan dua buah blazer untukku. Ia mengenakannya padaku, dari depan dan belakang supaya tubuhku aman. Aku menangis di pelukannya. Bukan lagi menangis, aku merintih yang begitu memilukan. Tiada kata lagi yang terucap. Aku benar-benar takut dan menyesal.


"Udah, Beb. Maaf kalau sedikit terlambat. Pihak hotel susah sekali diterobos," ujar Sita lagi. "Kita balik dulu. Biar Haris diurus sama Pak Fandy dan Andrew."


Aku menggangguk. Sita membantuku berdiri dan memapahku keluar dari kamar neraka ini. Kulirik sekilas kearah Haris yang tidak kuasa menahan serangan tak terduga dari Andrew dan Affandy. Sebenarnya aku masih heran, bagaimana Sita membawa mereka berdua dan membuntutiku. Mungkin akan kutanyakan saat hatiku telah tenang.

__ADS_1


Setelah berjalan keluar. Sita membawaku ke area parkir dan menghampiri mobilnya. Kami masul ke dalam. Sita mulai melajunya meninggalkan hotel murahan ini. Dengan sejumlah duka di hatiku. Aku rasa, kejadian itu akan menorehkan sebuah trauma untukku. Sampai sekarang pun, tubuhku tidak berhenti gemetar.


Bersambung...


__ADS_2