Who Is My Love

Who Is My Love
Ajakan Affandy


__ADS_3

Apa-apaan ini? Setiap jam pekerjaanku selalu bertambah. Gilanya, bahkan aku tidak punya ruang, meski hanya ke toilet sebentar. Penat, letih, mengantuk dan bosan mulai menyerangku satu persatu. Seolah semua sedang menghukum diriku. Belum apa-apa, aku sudah hampir menyerah karena perbedaan dengan kantor lamaku begitu besar. Mungkin, bukan aku saja, melainkan Andrew, Raya dan Sinta. Bahkan Andrew tidak bisa mencuri waktu untuk sekedar menggodaku seperti biasanya


Kalau saja tidak ada bayangan wajah papa, mungkin aku sudah kabur dan melarikan diri. Bagaimana tidak? Jika dulu, aku bisa sedikit bersantai sembari menyesap kopi, kini berdiri sebentar saja nyaris tidak bisa. Hebatnya, Affandy dan juga karyawan mutasi yang telah lama berada disini sangat betah. Ataukah diriku yang belum bisa beradaptasi?


Dugh! Aku menjatuhkan kepalaku diatas meja kerjaku sendiri. Aku menilik jam pada komputer, sekitar setengah jam lagi baru sampai ke jam makan siang. Hari ini terasa lebih panjang daripada biasanya. Ah... alangkah nyamannya Sita dan Rezky saat ini. Mungkin mereka sedang bekerja sembari tertawa dan bercanda. Tidak seketat diriku sekarang.


"Excuse me," sapa seseorang kepadaku.


Sontak saja, aku membangunkan kepalaku dan menatap sang pelaku. Seorang wanita yang mungkin adalah rekan kerjaku. Rambutnya pirang dengan bola mata biru. Ia adalah bule. "Ya? Emm... what's up, Miss?" tanyaku.


"I'am Elena. What's your name?"


"I'am Navya."


"Oh yeah, Navya. Nice to meet you."


"Ehem."


"Can you help me, Navya?"


"Of course. What i should help you, Elena?"


Elena menyerahkan sebuah berkas kepadaku. "Can you do this data, Navya?"


Aku mengangguk pelan. "Of course, Elena."


Ia tersenyum. "Thank you, Navya. And nice to meet you. You're very cool and beautyful."


"Nice to meet yo too."


Kemudian Elena berlalu meninggalkanku. Aku hanya bisa menghela napas dalam-dalam sembari menatap berkas ini dengan putus asa. Padahal jam makan siang sebentar lagi akan tiba, dan aku harus mengerjakan sesuatu terlebih dahulu. Rasanya ingin menangis sejadi-jadinya. Namun, semua hanya kemustahilan untuk aku lakukan.


Dengan gerak lemah, aku mulai mengerjakan apa yang ada didalamnya melalui komputerku. Sejujurnya dalam hati, ucapanku penuh rutuk dan mengeluh.


"Hei...?" panggil Andrew pelan sembari melongokkan kepalanya dari tempat kerjanya ke tempat kerjaku.


"Hmm...," jawabku sekenanya.


"Sini aku yang kerjain..."


"Apanya...?"


"Yang orang kasih tadi..."


"Nggak usahlah, bentar lagi jam makan siang... loe keluar aja."


"Jangan gitu. Aku yang kerjain kamu keluar aja, yakin deh, Navya. Gerak kerjaku lebih cepet nanti aku nyusul..."


"Nggak perlu, Ndrew."


Andrew diam seketika. Aku pikir sudah menyerah. Namun, tiba-tiba saja ia telah berdiri disampingku tanpa rasa takut dilihat oleh orang lain. Aku yang terkejut hanya bisa diam dan membelalakkan mata. Tentu saja, aku tidak ingin berdebat.


Kemudian Andrew mengambil map berkas tadi. Ingin kutolak, namun ia telah membawanya ke meja sendiri dengan cepat. Aku menelan ludah, berharap orang lain tidak tahu. Lantas, kini aku yang melongokkan kepala ke tempat kerja Andrew. "Hei, balikin...!" tegasku namun dengan suara yang pelan.


"Pekerjaanku sudah selesai kok. Jadi bisa kelarin ini. Gunakan waktu kamu buat ngerjain yang lain...," jawab Andrew sama pelannya.


Baiklah! Jika itu mau kamu, Ndrew


Aku kembali menarik kepalaku dan fokus pada pekerjaan lain. Dengan sikap Andrew itu, pasti akan sulit untuk membujuknya mengembalikan pekerjaanku. Aku disibukkan kembali oleh segala pekerjaan yang belum selesai. Sedangkan denting jam semakin merayap.


Satu menit, dua menit, tiga menit dan akhirnya setengah jam berlalu. Memang belum selesai, tapi tinggal sedikit saja. Aku mengangkat tanganku dan membunyikan sendi-sendi badanku supaya rasa pegal menghilang. Aku melongok pada tempat kerja Andrew yang ternyata telah kosong. Kemanakah Andrew? Tidak mungkin, ia keluar tanpa mengajakku. Tapi, ada kemungkinan rekan pria kami yang mengajaknya.


Syukur deh, jadi nggak perlu khawatir dia lembur sendiri.


Aku merapikan meja kerjaku terlebih dahulu. Menatap kondisi ruangan yang sudah hampir kosong. Setiap karyawan satu persatu keluar demi santapan makan siang. Aku merindukan Sita. Tidak biasanya, aku tanpa dirinya. Andai aku masih di Indonesia, pasti aku sudah berada di cafe bersama Sita. Yah, apa boleh buat, ini sudah keputusanku. Lagipula, aku harus berubah dan lebih kuat daripada sebelumnya.


"Navya?" panggil seseorang kepadaku.


Aku menoleh kepadanya, yang ternyata adalah Affandy. Ia datang menghampiriku sembari tersenyum dan menatapku. "Makan siang bareng yuk," ajaknya.

__ADS_1


"Emm...," Aku belum mengiyakannya dan malah menatap meja Andrew. Bimbang kurasakan, haruskah aku bersedia? Apakah Andrew benar-benar bersama rekan lainnya? Mau bagaimanapun ia yang mengerjakan tugasku. Mana mungkin aku biarkan dirinya begitu saja.


"Ayo, Vya. Aku mau ajak kamu ke restoran enak disini."


"O-oke."


Karena merasa tidak enak hati, akhirnya aku bersedia mengikuti ajakan Affandy. Lagipula, aku tidak memiliki teman. Raya dan Sinta pasti sudah keluar lebih dulu. Apalagi kami belum terlalu akrab sekali. Jadi, jika mereka melupakanku itu wajar saja. Yah, aku berharap Andrew benar-benar sedang bersama temannya dan makan diluar sana.


Aku mengikuti langkah Affandy. Meski begitu, kami tetap berjalan bersamaan. Berbeda dengan kantor yang dulu, orang-orang disini bahkan tidak memperdulikan kami. Tidak buruk juga, toh tidak akan ada gosip yang akan menyebalkan. Itu hanya pradugaku saja sih.


Sesampainya ditempat parkir, Affandy membukakan pintu mobil untukku. Lantas, aku berterima kasih dan masuk ke dalamnya. Setelah itu, ia menutupnya kembali. Ia memutar dan masuk ke bagian kemudi. Perlahan tapi pasti, Affandy mulai memacu mobilnya. Kami meninggalkan gedung kantor yang megah ini untuk sementara waktu.


Deru mobil kian terdengar. Bergabung dengan milik orang lain. Aku kagum lagi, lantaran tidak ada kemacetan. Semua jalan bersih nyaris tanpa sampah. Kota yang indah, bisa menjadi panutan bagi negara lain termasuk negaraku tercinta. Yah, semoga aku bisa bertahan ditempat ini dalam jangka waktu yang lama demi mengumpulkan uang untuk membayar hutang-hutang papa.


"Navya, tadi gimana?" tanya Affandy.


"Apanya?" tanyaku kembali.


"Kerjaannya dong."


"Melelahkan sekali."


"To the point banget."


"Daripada bohong."


"Hehe iya sih. Oh iya, Vya. Kenapa kamu bisa berubah kayak gini. Apa kamu trauma? Kamu lebih cantik seperti biasanya."


"...."


Aku hanya melirik sekilas ke arah Affandy. Ia memang baik, namun tidak terlalu peka akan perasaan orang lain. Seharusnya ia tidak menanyakan hal itu, sepenasaran apapun. Lagipula kami hanya teman sekaligus atasan dan bawahan. Menurutku Affandy tidak pantas bertanya akan hal itu. Namun ya sudahlah, lebih baik aku diam daripada mengomel tidak jelas. Lagipula aku sedang kelaparan, tidak ada daya untuk berdebat.


Selepas itu, tampaknya Affandy mulai mengerti. Ia tidak lagi bertanya sesuatu. Sepanjang jalan ia asyik bersenandung. Yah, itu lebih baik daripada membuatku kesal. Sampai akhirnya ia membelokkan mobilnya ke suatu restoran. Mewah sekali, aku sampai menelan ludahku. Bagaimana mungkin aku membayar setiap menunya nanti? Pasti harganya teramat mahal dengan mata uang Singapura.


"Ayo, Navya," ajak Affandy.


"I-iya," jawabku sembari mengikuti langkahnya.


Kemudian kami duduk saling berhadapan. Sampai datang seorang pelayan dengan memberikan buku menu yang tebal. Aku meneliti mana menu yang paling murah, dan akhirnya memutuskan untuk memesan pasta dan air mineral saja. Karena dugaanku memang benar, harganya selangit. Setelah itu menyerahkan buku menu itu kepada sang pelayan. Jika dulu ada Nevan yang membayariku, kini aku harus menyantap hidangan mahal itu dengan uangku sendiri. Tidak mungkin Andrew, karena selama bersamanya kami lebih sering memasak bersama.


"Navya, mungkin hari libur disini tu terbilang susah didapat," ujar Affandy membuka pembicaraan.


"Emm... gue pernah baca sih di artikel tentang kehidupan para pekerja disini," jawabku.


"Yah, semoga kamu siap tenaga aja hehe."


"Amin."


"Emm... jadi hubungan kamu sama Andrew sudah sejauh mana? Apa kalian ada kemungkinan balikan."


Aku menggeleng. "Nggak tahu, dan masih berteman biasa aja. Kenapa emang?"


"Nggak sih, nanya aja. Siapa tahu ada kesempatan hehe."


"Kesempatan?"


"Nggak lupain."


"Loe suka sama gue? Jangan, gue belum mau nikah."


"Karna Papa kamu?"


Aku mengangguk lagi. Entahlah, sekarang rasanya lebih blak-blakan saja. Aku tidak ingin membuat orang lain berharap akan diriku lagi. Cukup di Andrew saja, itupun aku belum memikirkannya lagi. Hanya satu tujuanku selama beberapa tahun ke depan, yaitu papa, papa dan papa. Tidak ada cinta, kesampingkan cinta yang membuat semakin runyam setiap gerak langkahku.


Bukan tidak ingin menikah, hanya belum saja. Aku pun masih tidak tahu, bagaimana Tuhan akan memberikan arah untuk jalanku. Bisa saja, aku menikah dalam waktu dekat ataupun lama. Namun, untuk sekarang rencanaku memang seperti itu.


Kemudian, sang pelayan datang membawa pesanan yang kami pesan. Dengan pelan, aku menyantap pastaku yang sangat berharga ini. Kalau tidak malu, mungkin akan kubungkus dan kubekukan selama lima tahun didalam kulkas. Untuk apa? Untuk mengenang bahwa aku memakan santapan mahal dari Singapura. Akhirnya aku menyadari bahwa nilai uang itu sangat berharga. Sekali lagi, semoga Affandy membayariku. Lagipula ia yang membawaku.


"Kapan-kapan jalan yuk," ajak Affandy.

__ADS_1


"Kemana lagi? Emangnya ada libur?" tanyaku.


"Ke patung singa, Vya. Kalau ada libur."


"Sayang duitnya lah."


"Ya ampun, santai aja sih."


"Nggak bisalah."


"Hmm... jangan terlalu memaksakan diri, Navya."


"Enggak kok, Fandy. Gue nyoba berlaku semampunya aja."


"Iya deh. Ya udah, makan dulu. Nanti balik lagi."


"Emm..."


Kami memutuskan untuk fokus dengan santapan dulu. Namun, benakku malah berkeliaran memikirkan banyak hal. Seperti inikah rasanya menjadi seorang perantauan? Baru beberapa hari saja, aku sudah merasa khawatir akan kondisi mama dan papa. Disini aku makan enak dan mewah, lantas mereka bagaimana? Aku sedikit merasa bersalah. Lalu, bagaimana mungkin aku menerima tawaran Affandy untuk berjalan keliling kota ini? Dalam kondisi yang seperti ini, tampaknya aku belum cukup nyaman untuk bepergian.


Lupakan tentang itu dulu, karena ada seseorang yang ada dihadapanku. Rasanya tidak pantas jika aku terkesan tidak menganggap keberadaannya. Kulirik Affandy sekilas. Parasnya manis dengan setelan kemeja berdasi, blazer lelaki dan juga celana dan sepatu hitam. Wibawanya selaras dengan tubuhnya yang tegap. Aku kagum akan satu hal yang ada pada dirinya. Ia terbilang sukses diusia yang teramat muda. Posisi yang tinggi, rumah sendiri. Mungkin tinggal mencari pendamping hidup saja yang belum.


"Eh, Fandy. Kenapa loe belum nikah?" tanyaku.


Affandy menghentikan aktivitas menyantapnya. "Belum ada calon, Navya. Emang kamu mau aku nikahin?" tanyanya kembali.


"Kok gue? Kan tadi udah gue jelasin. Tapi, bisa ya usia muda gini, udah sukses."


"Semua ada proses dan kerja keras, Navya. Mungkin aku termasuk orang yang tipikalnya memandang ke depan. Jadi sukses dulu baru ketemu jodoh. Nanti kan, istri sekaligus gue nggak bakalan malu sama orangtua."


"Iya sih. Tapi umur loe berapa sih?"


"Dua puluh sembilan. Tua ya?"


"Tua apanya. Beda empat tahun sama gue."


"Masih cocoklah."


"Ha-ha-ha."


Cocok apanya? Kau orang kaya, pintar dan sukses. Dan gue, anak biasa yang tengah berjuang gegara hutang. Memalukan.


Entah bagaimana cara Affandy dalam menggapai semua kesuksesannya diusia yang belum genap 30 tahun ini. Aku rasa, ia telah mengenyam pendidikan di luar negeri sana, mungkin USA. Sungguh pria yang luar biasa dan pekerja keras. Namun, satu hal yang menurutku kurang darinya selama aku mengenalnya. Ia tipikal orang yang tidak terlalu peka akan perasaan orang lain. Seperti saat dulu kepulanganku ke rumah setelah kabur, kalau Andrew tidak ingin memaksaku, lain halnya dengan Affandy yang terus mendesakku tanpa mengerti isi hatiku.


Yah, apapun itu. Yang pasti setiap manusia memiliki kelemahan serta kelebihannya masing-masing. Jujur, jika memasukkan Affandy dalam list calon pacarku, sepertinya aku harus berpikir matang-matang. Bukan sok jual mahal, hanya saja aku kurang nyaman jika bersama orang yang memiliki sifat kurang peka. Sekonyolnya sifat Nevan, jika tentang hati sepertinya ia lebih mengerti.


"Navya?" panggil Affandy lagi.


"Ya, kenapa?" tanyaku.


"Emm... kamu nyaman setelah seperti ini? Biasanya kamu tampil maksimal."


"Aneh ya? Haha... mungkin belum terbiasa liatnya aja."


"Nggak. Mungkin susah untuk terbiasa. Dari cara bicarapun, kamu berubah."


"Oh ya?"


"Emm..."


"Akan lebih aneh, kalau gue masih biasa-biasa aja setelah mengalami banyak hal gila, Affandy. Ada saatnya gue ingin lebih lepas daripada masa lalu. Loe tahu, Kristen Stewart?"


Affandy mengangguk. "Iya, siapa yang tidak tahu artis dunia itu coba."


"Nah. Dia aja yang udah mendunia nggak bisa bersikap tenang. Penampilannya berubah drastis, dari yang rambut panjang jadi pendek. Penampilan lebih maskulin, bahkan seleranya cintanya menjadi aneh."


"Kamu pengen kayak dia?"


Aku menggeleng mantap. "Enggaklah, nggak mungkin gue nandingin seorang Kristen Stewart."

__ADS_1


Affandy terdiam sembari menatapku tajam. Entah, apa yang ia pikirkan. Mungkin, merasa kalau aku semakin aneh atau bahkan gila karena depresi yang berlebihan. Aku tidak peduli, pada dasarnya aku tetaplah aku. Beberapa perubahanku tidak menghilangkan jati diriku sebagai seorang Navya.


Bersambung...


__ADS_2