Who Is My Love

Who Is My Love
Permintaan


__ADS_3

Desas-desus seputar pertunangan kian merebak di lingkup perusahaan, di mulai dari siang tadi. Aku yang enggan mengetahuinya, kini justru merasa sangat penasaran. Siapa sepasang kekasih itu, sampai membuat gaduh para karyawan. Dua nama yang terlintas di benakku adalah Kate dan Affandy. Lantas, benarkah mereka berdua? Seandainya


benar, maka aku turut bersukacita.


Aku menggigit ujung bolpoinku sembari menatap layar laptop yang berada di hadapanku, mencoba menghalau rasa penasaran yang datang. Malam ini, aku terpaksa membawa sisa-sisa pekerjaanku, karena berlimpah. Rasa pening tadi siang pun harus ditambah dengan penat malam ini.


Kutilik waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam waktu setempat. Tampaknya Raya dan sinta juga sudah terlelap dalam tidurnya. Pekerjaanku memang sudah selesai, hanya saja segelas kopi menekan rasa kantukku. Kini aku terjaga sendiri, menikmati sepi malam ini. Mungkin, Andrew pun juga sudah tidur. Tunggu! Aku bisa memastikannya terlebih dahulu.


Aku mengirim sebuah pesan, menanyakan tentang dirinya sudah tidur atau belum.


Namun, setelah beberapa menit, tidak ada balasan sama sekali. Sepertinya ia sudah


masuk ke dalam alam mimpi, dan aku berharap sosok diriku yang akan hadir di


sana.


Tiba-tiba, ponselku berdering dan itu sungguh membuatku sangat terkejut. Aku melihat nama di dalam layar yang menyantumkan nama atasanku. Aku menggigit bibir bawahku


seketika, menimang-nimang harus menerima atau mangabaikannya. Lantas, bagaimana jika tetang pekerjaan. Namun, jika benar tentang pekerjaan, haruskah selarut ini? Affandy selalu paham ketika aku tidak bisa tidur, bahkan dari dulu sekali. Mungkin karena tanda di sosial mediaku yang menunjukkan waktu keaktifanku.


“Ya, halo, selamat malam, Pak?” Akhirnya aku memutuskan untuk menerima panggilan darinya itu.


“Aku di luar, Vy,” jawabnya tanpa basa-basi sama sekali.


Aku yang terkejut, kini jatuh menganga di bagian rahangku. “Lagi?”


“Lagi?”


“Maksudku dulu juga pernah kayak gini. Ada apaan lagi, Pak? Kita, kan, udah sepakat buat jaga jarak.”


“Aku ingin bicara, bisa keluar ke minimarket depan? Kita ngopi di sana.”


“Enggak!”


“Kali ini penting, bawa Andrew juga enggak apa-apa. Please ….”


Aku terdiam dalam beberapa saat, ucapan dari Affandy seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Haruskah aku turun dan mengikuti permintaannya? Lalu, jika Andrew marah bagaimana? Untuk mengajaknya pun, itu tidak mungkin, ia pasti sudah tidur.


Menyebalkan sekali, sudah selama ini dan aku masih saja turut terlibat di dalam hubungan mereka berdua. Dan kali ini soal apa? Kate? Apa yang ia katakana kepada Affandy tentang diriku? Atau jangan-jangan, Affandy ingin melabrak diriku?


“Vya?”


“Ya, saya masih ada.”


“Di luar pekerjaan, enggak perlu formal.”


“Baiklah. Bisa enggak kalau kamu yang bertamu ke tempat Andrew aja? Aku enggak mungkin keluar selarut ini.”


“Emm … oke, aku hubungi Andrew.”


“Jangan! Dia masih sensi sama kamu, kamu langsung dateng aja. Aku turun sekarang buat buka gerbang.”


“O-oke.”


Kumatikan panggilan itu, aku menatap ke arah yang tidak menentu.kuhela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Semoga keputusanku sudah benar. Lalu, kuambil langkah untuk keluar dari kamar ini. Ruang tengah sudah gelap karena lampu yang dimatikan. Aku mengendap-ngendap menuju pintu utama, semoga Raya dan Sinta tidak terganggu dengan ulahku.


Bahkan, untuk menapaki anak tangga saja, aku sangat berhati-hati. Dan memang benar, di luar gerbang rumah ini telah terparkir sebuah mobil yang aku rasa berwarna silver. Aku berhenti sejenak, malas sekali harus terlibat dengan Affandy lagi, bahkan rasanya ingin menangis. Di sisi lain, aku tidak tega membiarkannya begitu saja.


“Masuk, Pak,” ujarku mempersilahkannya setelah membuka pintu gerbang itu.


“Makasih, Vya, dan santai aja bahasanya,” pintanya.


“Iya, diusahakan. Masukin mobil kamu, udah malem takut ada orang enggak jelas.”


“Iya, Vy.”


Ia kembali memutar badan dan menghampiri mobil mewahnya. Sesuai saranku, ia membawa masuk mobil miliknya itu. Setelah mobil itu masuk ke dalam pekarangan rumah ini, aku kembali menutup pintu gerbang. Aku menghampiri Affandy lagi dan memintanya untuk berada di belakangku.


Dengan langkah penuh keraguan, aku menghampiri pintu utama dari kediaman Andrew. Bagaimana responnya nanti, ketika aku datang Bersama Affandy? Aku berharap


supaya ia tidak berpikir macam-macam, aku tidak ingin lagi ada pertengkaran.


Ketukan pertama tidak membuahkan hasil. Tampaknya, Andrew benar-benar lelap dalam tidurnya. Sebenarnya, aku tidak tega jika harus membangunkannya, tetapi jika tidak seperti itu, aku tak ada kesalahpahaman yang lebih parah lagi di antara kami, juga Kate.


“Ya, sebentar!” akhirnya setelah ketukan kelima, respon Andrew terdengar. Sepertinya, ia sedang menghampiri pintu ini.


Tak lama kemudian, handle pintu terdengar sedang dibuka dari dalam. Lalu, muncul sosok yang sudah acak-acakan bau bantal. Matanya bengap karena dibangunkan secara terpaksa.


Andrew mengerjib-ngerjibkan matanya. “Sayang? Ah? Pak Fandy?” Matanya seketika membelalak lebar. “Dari mana kalian?!” tanyanya dengan nada yang diberi ketegasan.


“Tenang dulu, aku enggak dari mana-mmana. Cuma, Pak Fndy perlu bicara,” jawabku.

__ADS_1


“Bicara? Sama aku?”


Aku menggelengkan kepala. “Sama aku. Jadi, aku mau pinjem tempat kamu, biar kamu juga tahu.”


Affandy melangkah lebih maju. “Maaf sebelumnya karna mengganggu malam-malam. Izinin ya, Ndrew?”


Andrew menimang-nimang terlebih dahulu. Aku tahu, ia juga enggan mempersilahkan Affandy untuk masuk ke dalam. Namun, cuaca malam semakin dingin juga mengerikan. Apakah ia akan setega itu dalam mengusir orang?


Kemudian, Andrew mengembuskan napasya. Pun meski sedikit bimbang, ia bersedia


menganggukksn kepala. “Ya udah, masuk aja,” ujarnya.


Aku, lalu Affandy segera bergegas masuk ke dalam ruang tamu rumah ini.helaan napas kami terdengar berat, seakan memecah kesunyian. Kami bukan sekumpulan teman yang bisa saling melepas tawa ketika saling bertemu, hal itu membuat kecanggungan


semakin memberanikan diri masuk di antara kami.


Aku memilih duduk di sofa berukuran Panjang, sedangkan Affandy di ukuran biasa. Tampaknya, Andrew menuju dapur untuk menghidangkan minuman untuk kami. Ia pasti merasa kesal sekali, sudah tidurnya diganggu dan yang datang adalah orang yang tidak bisa membuatnya nyaman.


“Cokelat hangat, tampaknya bagus untuk malam sedingin ini. Silahkan diminum seadanya aja,” ujar Andrew sembari meletakkan tiga gelas tebal berisi cokelat untuk kami, juga dirinya.


“Terima kasih, Andrew,” sahut Affandy.


Lalu, Andrew datang menghampiriku dan duduk tepat di sampingku. Ia menjatuhkan kepalanya di pundakku, mungkin karena rasa kantuk di matanya yang masih tersisa. “Kamu rebahan sini, kalau masih ngantuk,” tawarku kepadanya. Aku berharap agar Affandy bisa memaklumi situasi yang sudah larut malam seperti ini.


“Ada tamu, Sayang.”


“Enggak apa-apa, Pak Fandy bisa paham. Hanya kami yang akan bicara.”


“Ya, aku paham kok,” sela Affandy. Sepertinya, ia mendengar perbincangan di antara aku dan Andrew.


Tanpa pikir panjang lagi, Andrew mengambil posisi rebahan. Pangkuanku dipakainya sebagai bantal. Kasihan, hanya demi kepercayaan, aku mengganggunya seperti ini. Belaian halus aku berikan pada rambutnya yang lurus, tetapi mataku tertuju pada sosok Affandy.


“Jadi apa yang mau dibicarain, Pak?” Aku segera memulai perbincangan yang bahkan tidak aku ketahui hendak membahas hal apa.


“Maaf, Vya, aku harus mengganggu kalian malam-malam begini. Aku banyak kesibukan, entah pekerjaan atau urusan lain. Aku enggak punya pilihan lain selain sekarang.” Ia menjelaskan ketidakenakan hatinya terebih dahulu. Dan aku sangat memahami hal itu, ia merupakan orang sibuk yang pasti akan kesulitan dalam menemukan waktu luang, pun meski ketika libur datang.


Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya lagi. Kutatap wajah Affandy yang sempat aku abaikan demi menilik paras Andrew. “Enggak apa-apa, Pak. Aku juga belum tidur. Jadi, soal apa yang perlu dibicarakan.”


“Soal Kate.”


Mendengar nama itu, spontan kutelan ludahku. Pun meski sudah menduga tentang ini, tetapi pada keyataannya hatiku masih sangat sensitif jika perihal Kate. Apa yang wanita kesayangan Affandy itu katakan? Sampai-sampai berhasil membuat pria yang merupakan atasanku ini datang ke rumah ini.


Dei menghilangkan rasa yang tidak nyaman, aku menenggak cokelat hangat yang buatan kekasihku. Setelah dirasa cukup, aku kembali beralih menatap Affandy, meski tangan ini tidak berhenti membelai rambut Andrew.


Affandy menghela napas dalam dan setelah itu ia hembuskan. “Kenapa kamu enggak kasih maaf ke dia?”


“Enggak? Kata siapa? Kate juga?” Aku tersenyum sinis. “Padahal aku udah maafin dia.”


“Tapi?”


“Tapi, aku nggak mau menjalin hubungan dekat seperti dulu.”


“Kenapa, Vya?”


“Aku masih kecewa.”


“Waktu itu dia hanya cemburu.”


“Lalu, … kamu pikir aku yang udah keterlaluan?”


Affandy terdiam. Cinta memang mampu membutakan segalanya, bahkan ketika salah maka akan menjadi benar. Tingkat kebucinan Affandy terhadap Kate, tampaknya melebihi kebuncinanku dengan Andrew. Lantas, apakah aku harus berpkura-pura baik agar


kekasihnya itu merasa lega? Sebenarnya, yang salah itu siapa? Aku telah memaafkan Kate, tetapi bukan berarti hubungan kami bisa kembali seperti dahulu kala, terlebih mengandung kepalsuan di dalamnya.


Affandy menyesap cokelat hangatnya. Parasnya yang manis, tampak tertekan. Jika diteliti lebih dalam lagi, ia terlihat begitu iba. Sepertinya upaya yang ia lakukan demi mendapatkan hati Kate bukan perkara mudah, terlebih ia biang dari kekecewaan wanita cantik itu.


“Apa dia yang minta kamu datang ke sini?” Aku mencoba mengulik lebih dalam lagi perihal kedatangannya.


Affandy menggelengkan kepala. “Ini mauku. Kate tampak frustasi, aku merasa kasihan.”


“Frustasi? Hanya karna aku?”


“Ya, Vya. Kamu merupakan teman pertamanya di sini.”


“Oh ya? Dan aku merupakan oraang pertama yang dimanfaatkan olehnya?”


“Navya? Tolong jangan bahas lagi soal itu. Aku hanya minta sama kamu buat memberi kesempatan dalam persahabatan kalian.”


“Tidak ada persahabatan, Pak Fandy. Kami dua orang yang secara tidak langsung, saling bermusuhan satu sama lain.”


“Dan itu akibat dari salahku, Navya. Kate bener-bener nyesel.”

__ADS_1


Wajahnya kian sayu, menunjukkan bahwa harapannya bukan main-main belaka. Sikapnya membuatku sekejap merasa berdosa. Aku egois karena memikirkan hatiku sendiri, tidak memikirkan posisi Kate sama sekali. Aku bingung dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Haruskah aku mencoba membangun kembali hubungan pertemananku dengan Kate? Apa ia sanggup menatap wajah dari orang yang pernah membuatnya cemburu buta?


Jika menilik pada kehidupan Kate, sebenarnya ia cukup merasa kesepian. Tinggal di sini sendirian, tidak dekat dengan siapapun kecuali Affandy. Hmm … sepertinya kali ini aku sudah sangat keterlaluan. Manusia memang wajar berbuat ketika berbuat kesalahan, bukan? Justru aku yang merasa paling suci seakan menjadi korban yang paling teraniaya.


“Baiklah, aku bakalan pikirin lagi,” ujarku, meski belum ada keputusan yang jelas.


Affandy spontan menatapku. Kali ini, ada semburat senyuman di bibirnya. “Terima kasih, Navya.”


“Jangan ngomong itu dulu, aku belum berbuat apa pun. Dan ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu, Pak.”


Dahinya mengernyit. “Soal?”


“Akhir-akhir ini santer terdengar kabar pertunangan sepasang kekasih. Lalu, apa itu adalah Pak Fandy dan Kate?”


“Ya, kami. Untuk itu juga, aku ingin kalian kembali berbaikan, kalau bisa kamu menjadi pendampingnya. Aku enggak mauKate merasa sedih di hari pertunangan kami.”


“Oke, emangnya mau di sini?’


Ia mengangguk lagi. “Iya, Vya, orang tua kami akan datang.”


“Ya, semoga dilancarkan urusan.”


“Juga  kamu dan Andrew yang sebentar lagi mau menikah.”


“Amin.”


Aku turut bahagia ketika mendengar kabar ini. Akhirnya mereka menemukan jalan untuk bersama, meski baru sebatas pertunangan saja. Pasti ada rencana indah di balik itu semua. Entah keputusan apa yang nantinya akan aku ambil, untuk sekarang aku hanya bisa mendukung mereka diam-diam. Juga Affandy yang selalu aku kagumi, dalam konteks prestasi. Ia luar biasa di usia yang cukup muda atas pencapaiannya.


Lalu, beberapa saat kemudian, ia memutuskan untuk undur diri karena waktu yang hampir jam dua belas malam. Aku meletakkan Andrew sebentar dan mengantarnya sampai luar, juga untuk menutup pintu gerbang.


“Aku tunggu semua yang terbaik. Aku yakin kamu adalah orang yang baik, Navya,” ujar Affandy sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Aku mengangguk pelan. “Ya, aku usahain. Kamu hati-hati di jalan,” jawabku,.


“Ya, salam dan makasih juga buat Andrew.”


“Oke, Pak.”


Mobilnya perlahan keluar dari pekarangan rumah ini. Setelah itu, ia benar-benar pergi. Aku bergegas mengunci pintu gerbang. Kutengok kanan dan kiri yang teramat sunyi, membuat bergidik. Karena merasa takut, aku segera berlari secepat mungkin untuk masuk ke dalam ruamh Andrew yang pintunya masih terbuka lebar.


“Ndrew?” panggilku sembari menggoyangkan badannya. “Pindah kamar lagi gih. Aku mau naik, Pak Fandy udah pulang.”


“Emm … kamu tidur sini aja,” pintanya tanpa membuka mata.


“Enggak boleh.”


“Boleh aja, udah malem takut ganggu mereka.”


“Kan, deket doang.”


“Ayok ah.” Ia bangkit dari tidurnya dan segera menarik diriku.


Ia membawaku ke dalam kamar dan memintaku untuk tidur.


“Aku harus pulang.”


“Besok aja, Sayang. Aku ngantuk enggak bakalan ngapa-ngapain.”


“Aku belum sikat gigi dan buang air. Pintu rumah kamu juga masih kebuka.”


“Ya udah, aku yang urus. Kamu ke belakang sana.”


Tampaknya aku sulit untuk melarikan diri. Baiklah, kali ini saja. Toh, tidak akan terjadi apa pun, demi membayar rasa bersalahku kepadanya.


Rutunitas sebelum tidur sudah aku lakukan, semacam bebersih wajah dengan air karena sabun cuci mukaku ada di atas sana. Aku melihat Andrew yang sudah kembali terlelap. Senyumku mengembang karena parasnya yang selalu tampan.


“Kali ini giliran gue yang tidur di bawah deh. Selamat tidur, Sayang.”


Pada saat aku ingin mengambil salah satu selimutnya untuk alas tidurku, tiba-tiba tangannya menarik lenganku. Tarikan yang begitu kuat membuatku jatuh tengkurap. Andrew mendekapku erat-erat seolah tidak ingin berpisah denganku.


“Tidur di sini aja,” ujarnya pelan sembari membuka mata perlahan.


“Jangan sembarangan deh.”


“Enggak, aku serius.”


“Aku di bawah.”


“Percaya sama aku ….”


Glup!

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2