Who Is My Love

Who Is My Love
Jebakan


__ADS_3

Andrew tampak menderap langkahnya lebih cepat dalam menuruni tangga dari lantai kedua. Sepertinya ia benar-benar cemas, sampao kebingungan mencariku dan bertanya kepada Raya dan Sinta. Aku sampai menepuk keningku, pasti akan ada perang dingin diantara dirinya dan Affandy. Lantas, apa yang harus aku perbuat sekarang? Bahkan Affandy malah sengaja sekali turun dari mobilnya dan mengikuti langkahku untuk masuk ke dalam pekarangan rumah huniku.


Ingin sekali aku mengusirnya, maksudku menyuruhnya agar cepat kembali. Namun aku tidak enak hati. Bagaimana mungkin aku berlaku demikian kepada seseorang yang baru saja membantuku. Kini aku hanya menerima apa yang ada terjadi berikutnya. Aku akan melerai keduanya.


Sampai dihadapan Andrew, aku menatapnya bersama degup jantung yang tidak beraturan. Beberapa kali aku menelan ludahku dengan semacam rasa kelu. Ia menarik tanganku seketika. Diamankannya diriku dibelakangnya. Tidak ada kata yang terucap dari bibirku untuk merayunya, aku teramat takut. Kutilik sekilas ke arah Sinta dan Raya yang masih memandangi kami dari atas sana. Mereka berdua tampak bergeleng-geleng kepala, mungkin tidak menyangka. Aku melambaikan tanganku supaya keduanya turun dan membantuku. Beruntung mereka bersedia.


Disatu sisi, Andrew sejak tadi belum mengatakan apapun. Aku yang sudah ia amankan, dipeluknya dengan tangannya sedangkan badannya masih menghadap ke Affandy. Tatkala Raya dan Sinta turun pun, ia belum berucap apapun.


"Selamat malam, Pak Fandy," sapa Sinta sedikit malu-malu. Kemudian dilanjutkan oleh Raya dengan sapaan yang sama.


Affandy mengabaikan Andrew. Ia menatap Raya dan Sinta sembari memberikan semburat senyum di wajahnya. "Malam juga. Maaf saya datang pada situasi kurang tepat sepertinya. Tadi Navya ha--"


"Terima kasih atas jasa Bapak dalam mengantarkan Navya. Alangkah baiknya, Bapak segera pulang karna hari sudah malam," potong Andrew atas perkataan Affandy.


Affandy tertegun sebentar. Menatapku diam-diam, namun Andrew mengetahuinya. Ia menggeser tubuhnya untuk menutupi pandangan mata Affandy terhadapku. Seperti inikah saat ia cemburu? Lucu, manis dan juga sedikit menakutkan. Hal itu membuat Raya dan Sinta benar-benar terpana.


Tak lama setelahnya, Affandy kembali menyunggingkan senyumannya. "Baiklah. Emm ... lain kali jaga pacarnya dengan baik ya? Takut semakin liar. Oke, saya permisi ya."


Apa? Liar? Gue? Parah loe, Fandy!


Affandy berbalik badan, sebelum itu ia tersenyum skeilas kepada kami. Dengan perasaan tidak enak, aku memandang punggungnya yang semakin terlihat jauh. Sedangkan kedua teman kamarku masih bingung tentang suasana sekarang. Andrew masih beberapa kali menggertakkan gigi. Tubuhku masih direngkuhnya dengan tangan yang melingkar ke belakang, sehingga aku tertempel bagai cicak di punggungnya.


Sampai tak lama kemudian, Raya dan Sinta memilih kembali ke atas diam-diam. Aku rasa mereka tidak ingin terlibat ke dalam masalah hubunganku. Apalagi mood Andrew saat ini mungkin terlihat kacau. Ah, salahku tidak jujur kepadanya sedari tadi.


Tiba-tiba, ia melepaskan rengkuhan tangannya dariku. Ia berbalik badan dan menghadapku kemudian. Tatapannya begitu tajam dan nanar. Ah, raut kemarahan terlukis di wajahnya yang memang tampan. Aku hanya terdiam, tidak berani sedikitpun memberikan pandangan mata kepadanya. Takut, sedangkan disatu sisi aku perlu menjelaskan semuanya.


"Maaf ...," ujarku sangat pelan. Bahkan tanpa menatap wajah kekasihku tersebut.


"Apa-apaan kamu?" tanyanya kembali, dengan nada yang datar. Sehingga aku tidak bisa memastikan, ia marah atau tidak. Meski respon awalnya sudah membuktikan segala kekecewaannya.


"A-aku nggak sengaja ketemu dia, Ndrew."


"Ck!" Kesal, mungkin itulah perasaan yang dirasakan oleh Andrew. Dengan segera, ia menggenggam tanganku dan membawaku ke rumah kediamannya dengan langkah yang tergesa-gesa. Bahkan, aku sampai kewalahan mengikutinya.


Sesampainya didepan pintu, maka ia membukanya. Tangannya tidak sedikitpun terlepas dariku. Tubuhku bergetar atas rasa bersalah yang mendera hatiku. Sekali lagi, aku membuatnya kecewa. Lantas, aku harus bagaimana? Toh, semua sudah terjadi. Tanpa Affandy pun, aku pasti akan menghadapi situasi yang menakutkan. Bahkan, aku bisa saja kehilangan pekerjaan.


"Masuk," pinta Andrew kepadaku pada saat pintu rumah kediamannya telah terbuka. Lalu, aku hanya menurutinya. Langkahku teramat pelan, antara ragu dan tidak tenang. "Duduk disana, aku ambilin minum," lanjutnya.


Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Tidak ada sedikitpun keberanian untuk menyangkal ucapannya. Andrew meninggalkan diriku disini, sedangkan dirinya tengah berjalan ke arah dapur. Kemudian, aku mulai mengambil posisi untuk duduk disebuah sofa rumah ini. AC yang menyala membuat tubuhku kedinginan. Aku rasa suhunya terlalu rendah, sehingga hampir membuatku menggigil. Aku merangkul diriku sendiri untuk menghalau rasa dingin tersebut.


Tidak lama kemudian, tapak kaki Andrew kembali terdengar. Aku menilik kepadanya yang memang sedang berjalan menghampiriku. Ia membawa nampan berisi cangkir yang entah isinya air apa. Disini, aku merasa sedikit heran. Ia marah namun masih memberikan perhatian kepadaku. Ah, apalah aku yang selalu membuatnya marah dan kecewa.


"Minum ini, biar enakan," ujarnya sembari meletakkan cangkir tersebut di atas meja yang berada dihadapanku. Cangkir berisi air berwarna coklat dengan kepulan asap tipis. Sepertinya adalah teh hangat.


"Te-terima kasih," jawabku sedikit terbata. Kuambil cangkir tersebut, lalu menyesap isinya perlahan. Namun, ternyata masih terasa panas sampai membuatku tersentak kaget karena lidahku seperti terbakar.


"Pelan-pelan, jangan langsung ditenggak dong." Andrew merebut cangkir yang aku bawa. Ia menatapku dengan ekspresi yang datar atau terkesan biasa saja. Kemudian, ia meniup isi cangkir itu untukku. Disaat sudah merasa cukup, ia kembali memberikannya kepadaku.


Hangat, tidak lagi panas seperti tadi. Tenggorokanku pun ikut menghangat karena teh yang sudah aku tenggak. Rasa dingin yang menerpa bisa sedikit terobat. Namun tidak dengan rasa canggung yang berada diantara kami. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap, entah dariku atau Andrew dalam beberapa saat. Mungkin ia merasa sangat kesal kepadaku, namun juga merasa sangat mencintaiku. Ingin marah pun sepertinya sangat sulit ia lakukan.


Sampai akhirnya, aku berdeham dan berencana ingin membuka pembicaraan. "Maaf ya, Ndrew. Aku serius nggak sengaja ketemu Pak Fandy," ujarku.


Andrew menatap diriku. "Ya nggak apa-apa, Vy," jawabnya.

__ADS_1


"Kamu pasti kesel banget ya?"


"Enggak, mungkin agak cemburu. Tapi itu juga kesalahanku, aku yang ninggalin kamu sama temen-temenku."


"Enggak kok, kamu juga harus punya waktu sama temen-temen kamu. Nggak setiap hari sama aku, Ndrew."


"Hmm ... tapi apa yang sempet terjadi sama kamu?"


"Eh? Oh, nggak ada kok."


"Jangan bohong, Sayang."


"Apa?"


Sepertinya Andrew telah mengetahui sesuatu, sampai ia bisa berkata seperti itu. Namun, apa benar? Toh kita berpisah selepas pulang tadi karena janjinya dengan teman-temannya, lalu aku diseret begitu saja oleh Linseyld. Ah, sepertinya aku banyak menduga. Untuk mengatakan yang sebenarnya pun, aku merasa ragu. Khawatir jika ia malah memarahiku atau mungkin tidak terima atas perlakuan Linseyld.


Rumit!


Andrew mendekatkan dirinya kepadaku. Kemudian ia merangkul tubuhku dari belakang, membawa kepalaku ke dalam pelukannya. Aku bingung ingin mengutarakan perilakunya ini sebagai apa atau mau bagaimana.


"Emm ... lepas gih," ujarku seketika saat aku mengingat bahwa diriku baru pulang kerja. Apalagi belum tersentuh air sama sekali. Bagaimana jika tubuhku beraroma tidak enak? Ah, pasti aku sangat malu.


"Kenapa?" Bukannya melepaskanku, ia malah merekatkan pelukannya terhadapku.


"Aku belum mandi tauk! Takut bauk."


"Nggak usah mandi, kamu tetep cantik."


"Hmm ... Navya?"


"Ya."


"Apa yang terjadi sama kamu? Sampai seberantakan ini? Apa ada orang yang mau mencelakaimu? Tolong jawab jujur sama aku. Hari ini semua terasa kebetulan, sepertinya kita dijebak."


"A-apa?!" Sontak kuangkat kepalaku dari Andrew sampai terlepas. Dijebak katanya? Tunggu, sepertinya masuk akal juga. Tidak biasanya Andrew diajak keluar oleh rekan-rekan prianya yang merupakan warga asing, termasuk si tengil Stev. Lalu, insiden Linseyl juga terjadi hari ini. Tidak mungkin Andrew meneleponku sampai puluhan, bahkan nyaris ratusan jika ia tidak mengetahui beberapa hal yang terbilang mengkhawatirkan.


Aku mengenggam tangannya seketika. Berharap ia bisa menjelaskan apapun yang ia ketehui. "Kenapa kamu bisa ngomong gitu, Ndrew?" tanyaku lagi.


"Stev, Bela, Nita dan dua rekan pria lainnya. Aku pikir mereka ngajak aku buat bahas pekerjaan, ternyata hanya minum-minum di bar," jelas Andrew, sampai membuatku membelakakkan mata.


"Ka-kamu minum juga?"


"Nggak, Sayang. Nggak ada baunya nih. Sumpah! Nggak lagi, cukup dulu pas depresi karna dijauhin sama kamu."


"Hmm ... awas aja, kalau nyampe begitu lagi!"


"Yang penting kamu nggak ninggalin aku lagi."


"En-enggak akan kok."


Andrew tersenyum. Dikecupnya keningku sekilas, dan aku pun membalas. Lega hatiku karena ia tidak marah terlalu lama. Cemburu pasti mungkin terjadi pada saat ia melihatku dengan pria lain, disitu pula aku bisa tahu atas rasa cintanya kepadaku. Yang paling penting, tidak terlaku berlebihan dalam menunjukkannya.


Namun soal jebakan, pasti ulah mereka semua. Mereka semua payah, cara licik diterapkan untuk merusak hubunganku dan Andrew. Sungguh sangat memuakkan! Beruntung aku bisa membuat Linseyld gemetaran dibeberapa saat yang lalu. Aku tidak akan membiarkan mereka semua menang.

__ADS_1


"Hei! Apaan tuh mukanya, kayak gitu?" Andrew membuyarkan imajinasiku untuk mengalahkan ketiga wanita ular itu.


"Nggak apa-apa kok. Geram aja," jawabku sembari mengerucutkan bibirku.


"Manyun, dih. Jadi, tadi kenapa?"


"Boleh nggak aku mandi dulu?"


"Nanti aja, toh kamu juga kedinginan kok. Sini rebahan di pangkuanku, Vya sayang."


"Emm ...."


"Udah sini." Andrew menarik lenganku seketika, sampai aku terjatuh di pangkuannya. Sampai akhirnya aku merubah posisiku dengab merebahkan kepalaku di pangkuan lelakiku.


Wajah Andrew yang terlihat dari bawah pun masih terlihat begitu tampan. Aku tidak percaya memiliki kekasih seperti dirinya. Bahkan ketampanan Nevan bisa terkalahkan oleh dirinya. Atau mungkin tipikal yang aku sukai sudah berbeda? Entahlah, yang pasti aku mencintai pria ini saat ini dan semoga sampai nanti. Keinginan mulia kami untuk menikah pun, aku berharap bisa segera terlaksana dengan baik. Aku lelah bermain hubungan tanpa status resmi seperti ini.


"Ndrew, tadi sebenarnya ada insiden mengejutkan."


Andrew menatapku dengan dahinya yang mengernyit heran. "Apa? Kamu diapain? Siapa? Linseyld? Ada yang sakit? Nggak ada suruhan buat ngeroyok kamu, kan? Keterlaluan mereka."


"Apaan sih? Satu-satu nanyanya, Sayang."


"Aku khawatir sama kamu, Sayang."


"Iya, si sok cantik fans kamu itu. Masa' tiba-tiba tanganku ditarik gitu aja dibawa ke gudang belakang yang jarang dipake itu lho. Dia bawa-bawa nama mama-ku, ya wajar kan kalau aku marah? Sebel banget, keseeeel pokoknya."


"Terus? Kurang ajar banget sih? Besok aku bikin perhitungan sama dia. Kamu tenang aja."


"Jangan! Justru aku berulah tadi, kalau kamu bikin perhitungan sama dia, nanti aku yang kena, Sayang."


"Tapi, Vy. Dia udah keterlaluan lho, aku rasa gila deh dia. Mana ada orang segitu sukanya sama orang lain, bahkan mau mencelakai kamu. Apaan itu? Baru kali ini aku nemuin orang kayak gitu."


"Aku pernah sekali. Terus orang itu juga kayak orang gila, bajunya berantakan padahal yang salah dia. Ditinggalin nggak mau, katanya mau move on bareng. Tapi malah dateng ke rumah aku dalam keadaan teler, mau nggak mau aku jadi nginep di apartemen dia. Terus jadi buronan papa aku. Gila kan itu orang?"


Mendengar semua ucapanku membuat Andrew terdiam agak lama. Menatapku dengan sedikit malu-malu. Sedangkan diriku hanya bisa tersenyum untuk menggodanya. Apa yang aku ucapkan adalah berkenaan tentang dirinya dimasa lalu, tentu saja ia merasa tersindir akan hal itu. Rasa cinta dan penyesalannya yang sama besarnya untuk diriku. Andrew, ia adalah pria naif yang lucu.


Setelah terdiam, ia mencubit hidungku sampai aku mengaduh kesakitan. Menunduk tiba-tiba, dan dikecupnya wajahku dengan gemas. Sampai akhirnya, kami menjadi tertawa lepas bersama-sama. Konyol, itulah yang aku gumamkan ketika teringat akan kejadian masa lalu tentang kami berdua. Bodoh, adalah kami yang pada akhirnya kembali setelah bersikeras untuk saling melepaskan. Namun, semua menjadi lucu ketika kembali dibahas. Untuk kesalahan Andrew, tentu saja akan terus kuingat, bahkan sampai habis usia. Namun, bukan berarti aku tidak memaafkannya. Wanita memang seperti ini, hal kecil yang menyakitkan pasti akan terus membekas di dasar hati sana.


Aku kembali berfokus untuk menjelaskan. Yang tadinya ingin aku sembunyikan, kini malah sangat ingin aku lontarkan. Entah, mungkin aku membutuhkan topik pembicaraan hangat bersama Andrew. Aku berdeham kecil, kemudian berkata, "aku hampir bunuh Linseyld, Ndrew."


Andrew yang tengah menyesap air teh untukku tadi, sontak tersedak dan terbatuk karena ucapanku. "Apa maksud kamu, Sayang?" tanyanya setelah tenggorokannya lebih enak-an.


"Aku emosi karna dia bawa-bawa nama mama-ku terus, orang tua-lah pokoknya. Terus aku tabok dianya."


"Hah? Kok bisa bunuh?"


"Itu awal, habis itu aku pikir kapok. Tapi malah mau bales, terus aku tepis tangan dia. Aku tarik kerah bajunya, pas dia tercekik terus kuhempaskan tubuhnya. Nah, dia kan tersungkur tuh. Aku pikir udah kapok tuh, eh bawa-bawa nama mama-ku lagi. Hilang deh kesabaran aku, aku deketin dia, terus aku tabok bolak-balik nyampe empat atau lima kali. Gila nggak sih? Kayaknya semua orang emang udah gila deh."


"Luar biasa. Jadi ini maksud liar dari Pak Fandy? Ck, ck, ck." Andrew menggelengkan kepalanya dengan menunduk menatapku yang masih merebah di pangkuannya. "Kamu hebat, tapi jangan diulangi lagi. Kita nggak tahu apa rencananya ke depan, takutnya ada apa-apa sama kamu. Dalam segi yang berbeda, Sayang. Aku pasti yang akan turun tangan, jangan kamu lagi. Maaf, tadi aku lengah. Lain kali, aku bakalan hati-hati. Maaf ya, Sayang."


Aku mengangguk pelan. Semua yang terjadi hari ini memang sangat tidak terduga. Aku tidak tahu akan se-emosi itu pula. Sudahlah, benar kata Andrew, aku tidak boleh termakan emosi lagi. Kemudian, aku membangunkan tubuhku darinya. Berdiri lalu pamit pulang ka lantai dua lantaran sudah tidak nyaman dengan aroma badan ini.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2