
Burung camar ikut serta dalam menghangatkan suasana pagi. Sinar mentari perlahan memancar semakin benderang. Pagi nan elok untuk diriku yang baru. Karena mendung sudah pergi, namun bukan berarti tidak akan hadir lagi. Semburat senyum manis bisa kulukiskan di wajahku. Bukan karena lega atas segala yang terjadi. Melainkan diriku lepas dari cengkeraman iblis. Disatu sisi, aku harus berjuang keras demi kebebasan papa. Yah, namanya juga manusia, seringkali masuk ke dalam jurang masalah hanya karena satu ambisi bodoh. Aku berharap ini yang terakhir dari semua yang sudah berakhir.
Baju sudah rapi didalam koper, beberapa pasang sepatu, keperluan mandi, skincare plus lotion, berkas-berkas penting dan diriku sendiri. Semua sudah tertata rapi dan aku tinggal menunggu Sita yang katanya ingin mengantarkanku. Ia bahkan rela mengambil cuti hanya untuk ini. Sekalian istirahat katanya. Sungguh sahabatku yang paling setia.
Ya! Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Singapura. Hari dimana aku harus meninggalkan negara tercinta sekaligus mama dan rumah seisinya. Jujur saja, aku merasa sangat gugup. Aku khawatir diriku merepotkan orang lain ketika hidup disana. Semoga saja tidak, itulah harapanku. Karena aku ingin Navya yang sekarang lebih tegas lagi, lebih ceria dan tentunya lebih baik. Aku ingin menjalin pertemanan dalam lingkup yang besar.
Penampilanku pun terbilang berubah. Tak ada gaun, tak ada rok, tak ada blouse, bahkan tidak ada make up. Tampilanku terkesan tomboy dengan model rambut yang pendek bergaya pixie cut, hoodie milik pria yang lumayan kebesaran dan celana jeans. Jujur, rasanya lebih nyaman daripada biasanya.
Tiba-tiba ponselku berdering, lantas aku bergerak untuk mengambilnya. Setelah berada di tanganku, aku melihat siapa sang pelaku. Nama Sita tercantum disana, aku menengok keluar dari jendela. Ya! Mobilnya sudah terparkir didepan rumahku.
"Ya, halo, Sit," sapaku.
"Hei Beb. Gue udah mau masuk nih, ada orang nggak?" tanyanya.
"Ada kok, Bi Emi sama Mama. Gue masih di kamar."
"Oke deh. Gue mau masuk ya?"
"Iya, silahkan."
Sita menutup teleponnya. Ia tampak turun dari mobilnya. Kemudian menghampiri pintu utama. Sedangkan aku, mulai bersiap diri. Mengeluarkan beberapa barangku yang hendak kubawa. Tak lama kemudian, mama datang menghampiriku. Beliau memberitahu bahwa Sita sudah menunggu.
Aku menilik waktu pada jam tanganku. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum jadwal penerbangan. Masih ada waktu untuk menyantap sarapan pagi ini bersama mama, Bi Emi, Cika dan juga Sita untuk yang terakhir sebelum aku pergi merantau ke luar negeri. "Baiklah, semangat Navya!" ujarku memberikan kata penyemangat untuk diriku sendiri.
"Kamu semangat, Mama yang sedih," jawab mama.
"Jangan gitulah, Ma. Navya akan berangkat kerja bukan mau main."
"Makanya, kerja kan lama. Main cuma sebentar. Padahal belum lama, Mama bisa deket sama kamu, Nak, Nak."
"Ya, Ma. Navya tahu kok. Tapi demi Papa, aku nanti akan pulang lagi dan kumpul sama Mama dan Papa."
"Iya, tapi kalau kamu belum menikah. Lain lagi ceritanya kalau kamu udah menikah. Nggak ada waktu kumpul lagi."
"Tenang aja, Ma. Masih lama itu mah, akunya juga masih jomblo hehehe."
"Jomblo, bukannya nyari pacar. Malah minta potong rambut seminim ini. Gayanya ganti semua lagi."
"Biarin. Biar ada cowok yang nggak mandang Navya karna cantiknya doang."
"Emang kamu cantik?"
"Haha... dulu sempet. Sekarang enggak."
"Hmmm... dasar! Yaudah turun, sarapan dulu."
Aku tertawa lepas setelah mendengar segala kelakar sekaligus keluh kesah dari mama. Beliau hanya mencubit bahuku karena sebal akan sikapku. Namun, semburat senyum sudah kembali hadir di wajah beliau. Setidaknya, ada satu kemungkinan supaya beliau tidak larut ke dalam kesedihan.
Sedangkan langkah kami masih berjalan secara bersamaan. Menuju ruang makan yang disana sudah ada Bi Emi, Cika dan juga Sita. Walau tanpa papa, tidak mengapa. Harus lebih bersabar lagi untuk satu hal yang ini. Sesampainya ditempat yang dituju, mereka bertiga sudah siap bersama hidangan lezat yang sudah tersaji. Aromanya pun menyeruak ke dalam hidungku yang mancung, serta menggugah selera lidahku. Mungkin, esok nanti, aku sudah tidak bisa menyantap hidangan karya Bi Emi dan mama, karena sudah jauh dengan mereka.
"Hai Sit," sapaku kepada sahabat terbaikku itu.
Sita menoleh ke arahku. Namun, bola matanya terbelalak lebar. Mungkin tengah heran dengan penampilan baruku. Kemudian ia berdiri dan melangkah mendekatiku yang belum sampai. Saat sudah dekat denganku, Sita menatapku dari atas sampai bawah, bahkan berulang kali. Yah, siapa yang tidak heran, rambutku yang panjang sudah hilang. Tiada sedikitpun polesan make up di wajahku. Bahkan aku memakai topi, seperti seorang kuli. "What the hell?! Beb, sehat?" tanyanya kemudian.
Aku tersenyum. Kuakui aku masih belum terbiasa, namun sebisa mungkin kutepis rasa maluku didalam hati sana. "Gue sehat, kenapa?" tanyaku kembali sembari melewati Sita menuju ruang makan yang berada di depan kami.
"Tunggu, tunggu, loe kayak bukan Navya tauuuuk."
"Gue Navya, siapa lagi? Ya kali setan merasuk dalam tubuh gue?"
"Navya gue selalu feminim, cantik, rapih, langsing."
"Gue feminim, rapih dan kurus."
"Nggak! Ini mah beda banget, iiiih... gini banget sih depresinya?"
"Gue nggak bisa suka laki lagi kayaknya...." Aku berbisik tepat di telinga Sita. Bahkan sampai membuatnya tercengang. Beruntungnya, tidak mengeluarkan teriakan maut yang luar biasa kencang. Mungkin karena ada mama, jadi Sita menjaga sikapnya.
__ADS_1
Namun, bukan berarti yang aku katakan itu benar. Tentu saja, aku masih menyukai seorang pria. Hanya kelakar untuk membuat Sita semakin bertanya-tanya. Lagipula, mau bagaimanapun penampilanku, aku tetaplah seorang Navya. Navya yang sedang mencari langkah baru untuk ke depannya. Dan untuk sekarang aku tidak berpikiran tentang cinta. Tak peduli jika cinta itu Andrew, aku belum siap untuk merajut tali kasih kembali.
"Makan dulu, Neng," ujar mama mempersilahkan Sita.
Sita tersadar dari posisi dirinya yang terpaku. Ia menoleh ke arah kami yang sudah bersiap melahap hidangan itu. "I-iya Tante," jawabnya sembari melangkah menghampiri kami.
"Kenapa Sita nggak ikut Navya aja?" tanya mama lagi.
"Enggak Tante, soalnya sama Papa dan Mama nggak boleh. Padahal pengen sekali-kali berkarir diluar negeri. Tapi, ya sudahlah," jawab Sita.
"Dia mah anak manja, Ma," selaku.
"Yeeee! Emang iya sih tapi jangan diomongin juga kali, Beb."
"Hahaha."
Mama mencubit lenganku seketika. "Anak cewek kalau ketawa dijaga."
"Iya, Ma. Maaf, Ma."
"Dasar."
Setelah itu, kami mulai menyantap hidangan lezat pagi ini. Bersama Bi Emi dan Cika juga tentunya. Hanya saja, mereka terlihat enggan karena merupakan seorang pembantu dan anak pembantu. Padahal, demi Tuhan, aku dan mama tidak pernah memikirkan tentang itu.
Karena merasa tidak nyaman, akhirnya aku memutuskan menggoda Cika. Aku meraih tubuh mungilnya dan kududukkan di kursi bersebelahan dariku. "Cika nggak boleh nakal ya kalau di rumah," ujarku.
"Enggak Tante. Emangnya Tante Vya mau kemana?" tanyanya.
"Main pergi jauh. Jadi Cika temenin Ibu dan Mamanya, Tante ya?"
"Siap dong, Tante. Asal kalau pulang bawain oleh-oleh ya? Hehe."
"Hahaha... beres, beres."
Rasanya sudah lama sekali, aku tidak memperhatikan Cika. Tentunya karena masalah yang terus datang merundung. Gadis manis ini perlahan sudah tumbuh lebih besar. Beberapa aksen bicaranya pun sudah semakin jelas dan pintar. Sepertinya ia sudah banyak belajar. Yah, seorang anak kecil memang sering cepat mengerti. Mungkin Cika bisa menjadi pengganti diriku untuk mama. Pelipur lara hati beliau, ataupun pengobat rindu jika merindukan diriku.
Kemudian, aku menatap wajah semua orang satu persatu. Mereka yang selalu ada disampingku apapun kondisiku. Selalu mendukung, membantu, serta melipur lara hati. Perasaanku terasa sesak sekali, rasanya tidak ingin jauh. Namun, mau tidak mau harus aku tempuh. Ingin aku menangis, namun langsung kutepis, aku harus menjadi lebih kuat seperti apa yang aku idam-idamkan.
"Apanya?" tanyaku kembali.
"Emang nggak sayang apa? Rambut loe udah panjang banget lho."
"Enggak sih, biasa aja. Malah enteng di kepala. Lagian kata orang kan, kalau potong rambut bisa buang sial hehe."
"Kayak nenek-nenek aja loe, Beb. Percaya gituan."
"Justru nenek-nenek itu, malah kemungkinan besar benar."
"Iya deh iya. Tapi, bajunya nggak harus segede ini juga kali."
"Biarin. Biar kelihatan gendutan."
"Dih... nggak ngaruh. Tepos mah tepos aja, Beb."
"Dih, tepos katanya. Gue sexy, Sit."
"Masih kalah jauh sama gue."
"Percayaaaa... loe bohay sekali."
"Iya dong. Lady Gaga aja kalah."
"Hahaha."
Sesampainya di kamarku. Aku dan Sita mengeluarkan koperku yang belum sempat dibawa keluar. Hanya dua koper saja dan satu tas ransel layaknya orang yang akan pindahan.
Setelah itu, kami duduk sejenak ditepian ranjang tidurku. Aku memandangi wajah Sita yang menunduk sibuk dengan ponselnya. Gadis imut nan manis yang baik hati dan aku akan berpisah dengannya selama beberapa tahun. Entah, sejak kapan kami bisa sedekat ini. Rasanya masih tidak percaya, aku memiliki sahabat sepertinya. Ia benar-benar tulus meskipun cerewet alias bawel dengan suara khasnya yang melengking memekikkan telinga.
__ADS_1
"A-apa? Kenapa liatin gitu" tanyanya sembari menjauhi diriku.
"Nggak apa-apa, Beiiib," jawabku.
"Iiiiih."
"Apa?"
"Ngeri gue."
"Kok ngeri? Emang gue setan?"
"Bukan sih. Cuma, loe kan tadi bilang nggak suka sama cowok lagi."
"Terus gue harus suka gitu sama loe?"
"Ya siapa tahu."
"Sini, kecup duluuuu hahaha."
"Apaan sih, Beb. Jangan stress deh."
"Haha... nggak lho, gue becanda. Otak gue masih waras kali."
Aku merengkuh tubuh Sita seketika. Aku memberikan pelukan kepadanya sebagai rasa terima kasihku yang teramat banyak tertanam di hati ini. "Thanks buat semuanya, Sit...," bisikku.
"I-iya tapi lepasin dulu."
Kuabaikan permintaan Sita dan semakin kurekatkan pelukanku terhadapnya. Sampai akhirnya ia bersedia untuk membalas. Kami saling berpelukan seperti serial teletubies. Lumayan lama dengan rasa haru dimasing-masing hati. Kami adalah bukti bahwa sahabat sejati itu memang benar adanya. Kami dua insan yang terlahir dari orangtua yang berbeda, tidak ada hubungan kerabat apapun. Namun, kami adalah dua insan yang saling mengisi sebagai sepasang sahabat.
Mungkin, diriku tidak banyak memberikan dampak baik untuk Sita. Aku hanya seorang teman yang terus menyusahkannya. Tapi, tulus dalam hatiku, aku menyayangi Sita seperti saudaraku sendiri. "Jaga diri baik-baik, Beb. Jangan mudah putus asa, gue tahu kenapa loe bikin penampilan loe kayak gini. Karna loe nggak mau dimainin sama cowok lagi kan?" tanya Sita.
Aku menarik diriku dan melepas pelukan itu. "Entahlah, apa alasan gue. Gue cuma pengen lebih simpel aja hehe," jawabku.
"Apapun itu, semoga loe lebih baik lagi ke depannya. Dan tentunya dapet cowok yang lebih baik dan menerima loe apa adanya. Emm... mungkin Andrew or Pak Fandy."
"Haha... nggak tahu. Nggak pengen tahu dulu. Loe tahu kan gue masih belum tenang soal Papa? Gue pengen bebasin Papa dulu."
"Iya deh. Gue paham. Ya udah, gegas gih. Tinggal satu jam lagi."
Kami bergegas. Kemudian memasukkan barang-barang bawaanku ke dalam mobil milik Sita. Setelah selesai, aku menatap rumah ini terlebih dahulu. Aku melukiskan senyuman di wajahku. Mungkin satu tahun lagi aku bisa pulang, itupun bukan waktu yang lama. Demi papa, aku harus bertahan di negeri orang. Demi papa, aku harus bertahan untuk tidak pulang meski ada libur. Karena tiket pesawat bukan barang yang murah.
Tak lupa kupeluk tubuh Bi Emi dan juga Cika. Mereka menangis melepas kepergianku. Seperti sebelumnya, Bi Emi banyak mberikan nasehat kepadaku, "semoga sukses ya, Non. Jangan lupa makan, jaga kesehatan."
"Iya, Bi. Vya nitip Mama ya?" jawabku.
"Beres, Non. Bibi akan menemani Ibuk dengan setia."
"Makasih, Bi. Vya berangkat dulu."
"Hati-hati ya, Non."
Aku mengangguk serta tersenyum. Aku memberikan kecupan manis di kening Cika yang sejak tadi memilih diam. Kemudian aku berbalik badan dan menghampiri mobil Sita bersama mama. Aku dan mama masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, Sita melajunya perlahan meninggalkan rumah ini.
Disisi lain, kedua pria itu sudah bawel melalui pesan. Siapa lagi kalau bukan Andrew dan Affandy. Mereka tiada hentinya mengingatkan tentang jadwal penerbangan kami yang sebentar lagi. Namun, aku memilih diam tanpa membalasnya. Sedangkan mobil milik Sita terus menderukan suaranya. Mama terus menggenggam tanganku, seolah tidak rela jika aku meninggalkan beliau. "Tenang ya, Ma," ujarku kemudian.
"Mama khawatir kalau kamu disana sendiri, Sayang," jawab mama.
"Ada temen kok, Ma. Ada dua cewek dan Andrew, sama atasan aku, Affandy."
"Tetep aja, hati Mama kurang rela. Mama takut peristiwa kemarin terjadi lagi."
Aku menggelengkan kepalaku. "Nggak, Ma. Aku bisa jaga diri lagi setelah ini. Mama jangan susah, ada Bi Emi dan Cika. Sita juga ada kok. Demi Papa, Ma. Biar kita bisa berkumpul bersama lagi. Kita bisa hapus kesalahan hari kemarin disuatu hari nanti."
"Ternyata anak Mama sudah dewasa. Mama menyesal meninggalkan kamu sendiri selama ini. Ternyata rasanya sedih sekali. Apalagi kamu waktu itu, Sayang. Maafkan Mama. Mungkin ini karma buat Mama dan Papa."
"Jangan ngomong gitu, Ma."
__ADS_1
Aku memeluk tubuh mama seerat mungkin. Beliau menumpahkan air mata lagi. Sampai-sampai Sita pun ikut terisak. Berbeda dengan mereka, aku tidak menangis. Mungkin air mataku sudah habis. Meski begitu rasa hati tetap sedih ketika akan berpisah seperti ini. Yah, aku berharap niatku terbayar dengan hal baik dan mampu membebaskan papa dari jeruji besi itu.
Bersambung...