
Hari minggunya aku dan Sita berencana untuk berjalan-jalan berdua. Untuk melampiaskan segala kekesalan semalam. Aku juga ingin menghabiskan sisa gajianku bulan ini. Persetan dengan tabungan, yang penting aku ingin bahagia hari ini.
Karena Sita mampir kerumahku semalam. Ia tidak membawa satu helai baju pun. Beruntung aku mempunyai stok dalaman yang masih baru. Dan tentunya Sita meminjam bajuku.
Entah mengapa ia tidak mau pulang terlebih dahulu. Alasannya banyak barang pemberian dari kekasihnya di kamar. Atau mungkin ia hanya malas saja.
"Gue apa lo yang nyetir?" Tanyaku pada Sita.
"Gue ajah." Jawabnya.
Kami bergegas keluar kamar. Dan mendatangi meja makan yang sudah berisi makanan lezat masakan Bi Emi. Tanpa pikir panjang aku dan Sita menuju kesana. Aku juga sangat lapar. Karena, kemarin tidak makan sesuap nasi pun.
"Non nih bibi masakin ayam kecapnya." Ujar Bi Emi.
"Makasih bi, Cika mana?" Kataku.
"Udah jam setengah delapan non pasti udah berangkat dong."
"Hmmm... yaudah bi sekalian bareng yuk."
Aku mengajak Bi Emi untuk sarapan bersama. Kami menuang nasi beserta lauk pauknya ke dalam piring masing-masing.
Berbeda denganku yang sangat lahap. Sita tampak tak berselera. Ia hanya memainkan sendok dan piringnya. Aku menatap Bi Emi. Kami bingung sekaligus iba.
"Makan non Sita, gak enak ya?." Ujar Bi Emi.
"Eh.. iya bi maaf hehe." Jawab Sita.
"Gak usah mikirin terlalu dalam non, bibi aja janda gak sedih kok."
"Emang bibi tau masalahnya?"
"Tau lah kenceng gitu nangisnya."
"Aduhh aku pasti nyerocos gak jelas ya bi?"
"Hihi sama aja kayak Non Vya tuh."
Aku berdehem kencang mendengar percakapan mereka yang membawa-bawa namaku. Dengan raut yang pura-pura kesal dan berhasil membuatnya terdiam. Akhirnya Sita mau melahap sedikit demi sedikit hidangan sarapannya.
Selang beberapa waktu kemudian, aku dan Sita menghampiri mobilku. Kami melenggang masuk. Dengan cepat Sita segera memacu mobilku. Sialnya, ia ngebut.
"Sit lo kira-kira dong bawa mobil orang!!!" Sergahku.
"Santai beb gue jago kok." Jawabnya.
"Jangan main-main lo Sit ini masih pagi turunin gak!!!"
"Ihh seru tauu beb."
"Sitaaaaaa!!!"
__ADS_1
"Ah iya iyaa."
Untung saja Sita menuruti ucapanku. Jika tidak, bisa-bisa kami mati bersama. Bodohnya aku tidaklah sebodoh Sita. Aku masih menyayangi nyawaku sendiri. Akan sangat menyedihkan pastinya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan hanya karena seorang pria.
Beberapa menit kemudian sampailah kami disebuah mall. Aku dan Sita melenggang masuk. Dengan semangat kami menghampiri tempat-tempat belanja. Kami benar-benar lupa segalanya.
Kami berdua menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Seperti membeli sepatu, baju, tas, ke salon atau berencana untuk menonton film.
Sejenak melupakan Andrew. Seandainya aku punya banyak uang maksudku aku bisa mendapat uang lebih mudah. Aku akan berbelanja setiap hari sampai bisa move on. Namun nyatanya uang didapat dengan perjuangan bukan? Jika hari ini sudah bahagia, harapan kedepannya aku juga harus tambah bahagia.
"Beb mau nonton apa?" Tanya Sita, setelah puas berbelanja kami menuju tempat dimana bioskop berada.
"Horor yuk." Jawabku.
"Serius?"
"Lo takut?"
"Ehmm..."
"Cemen deh."
"Gak kok, oke horor yah."
"Sipp... lo aja yang beli tiket ya pilih film yang bagus yang penting serem."
"Oke, tungguin."
"Vya?" Panggil seseorang padaku dan spontan aku menoleh untuk mengetahui ia siapa.
"Nevan?" Aku tersentak.
Dunia sempit sekali bukan? aku bertemu Nevan di tempat seramai ini. Aku rasa ia tidak akan segila dulu saat mengejarkan. Maka dari itu aku bersikap biasa saja. Daripada kelihatan Ge-eR.
"Ohh hay." Jawabku.
"Sendirian kamu?"
"Enggak kok sama Sita."
"Yang kemaren?"
Aku terdiam. Aku hanya bingung akan menjawab apa. Jika aku mengatakan jujur. Bagaimana kalau Nevan menertawakanku. Aku takut dipermalukan. Kepercayaan belum sepenuhnya aku berikan pada Nevan. Terlebih kami pernah memiliki masalah.
Oh Tuhan! Mengapa juga aku bisa bertemu dengannya disini. Disaat suasana hatiku sedang kalut. Jika ia bertanya lebih banyak lagi bagaimana? Jika aku pergi, aku juga merasa tidak enak.
"Vya kamu gak papa kan?" Ujar Nevan.
"Gak papa kok hehe." Jawabku.
"Ada masalah ya? Jujur Vya."
__ADS_1
"Enggak Van."
"Kamu disakitin sama dia?"
"Van bisa gak, gak nanya yang bukan urusan lo."
"Vya? Maaf aku kelepasan tapi aku masih khawatir sama kamu, aku belom bisa lupain kamu."
Aku tertegun sekaligus iba menatap Nevan yang seperti ini. Ia masih saja menggantungkan harapannya padaku. Seandainya ia tidak pernah menyakitiku. Mungkinkah sampai sekarang kami bersama? Jika ditanya saat ini aku sama sekali tak ada perasaan padanya lagi. Aku berharap Sita cepat kembali agar kecanggungan ini cepat berakhir.
Meski sebenarnya aku heran. Mengapa Nevan disini sendirian. Tapi aku tidak berani bertanya lebih banyak. Mungkin saja ia bersama seseorang atau kekasihnya. Jadi sebisa mungkin aku menjaga jarak dengannya. Aku takut terjadi salah paham nantinya.
Aku dan Nevan saling berdiam diri. Sama-sama menyenderkan punggung di pembatas kaca. Hingga selang beberapa menit kemudian Sita tampak berjalan menghampiriku. Tentu saja aku sangat bersyukur. Saking ramainya ia mengantri sampai lima menit.
"Hoee ada Nevan toh." Ujar Sita.
"Hay Sit apa kabar?" Jawab Nevan.
"Lo kesini ama siapa?"
"Tuh."
Nevan menunjuk seseorang yang sedang mengantri tiket. Seorang wanita mungkin saja kekasihnya. Untungnya aku tidak meladeninya tadi. Jika aku meneruskan obrolan yang mengarah ke masa lalu. Bisa-bisa aku digampar wanita itu.
"Wihhh pacar baru yak, btw mau nonton apa lo?" Tanya Sita lagi.
"Coba liat tiketnya." Pinta Nevan.
"Nih."
"Sama Sit kebetulan dia ngajak gue nonton ini juga."
"Owalah biar sosweet gitu yah sambil pelukan kalo atut haha beda loh sama yang ono kalo atut masa' mau meluk gue hehehe."
Sialan! Sita melirikku dan berkata begitu pada Nevan. Padahal sedari tadi aku mencoba untuk diam tidak ingin masuk obrolan. Dan sekarang apa yang dipikiran Nevan. Mungkinkah ia mengejekku yang sedang menyedihkan seperti ini. Ah sudahlah! Aku tidak peduli. Toh, kami sudah bukan siapa-siapa.
Aku meraih tangan Sita. Hendak masuk studio tempat diputarnya film yang tertera pada tiket.
Namun, sebelum itu Nevan menghentikan langkah kami. Entah apa maksudnya. Ketika aku ingin menolak ia menggenggam tanganku begitu kuat. Apa lagi ini?
Bagaimana jika kekasihnya salah paham? Aku tidak ingin bertengkar ditempat ramai. Kenapa sih Nevan masih seperti ini? Jika memang masih cinta seharusnya ia melepaskanku agar aku tidak malu. Dan melanjutkan kisahnya bersama kekasihnya sembari melupakanku.
Bersambung...
Like+komen yaaaa..
Sekalian mampir di novelku yang baru judulnya
Aku Gendut!!!
Meskipun sama-sama sepi 😅
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia..