Who Is My Love

Who Is My Love
Bicara Terpisah


__ADS_3

Esok harinya, aku terdiam dengan raut yang mungkin datar. Aku menatap suasana luar dari jendela kamar. Sepanjang malam aku tidak keluar, kecuali untuk membuang hajat. Selanjutnya begini saja, tidak ada hal yang lain. Bahkan, aku mengabaikan siapapun yang ingin bicara denganku. Aku tidak tahu pasti mengenai hati ini. Terus berusaha menghindari papa, sampai semua orang terkena dampaknya. Aku bingung!


Aku menghela napas dalam, lalu mengembuskannya kembali. Mataku terpejam, benakku penuh dengan berbagai macam bayangan. Mengapa baru muncul sekarang? Pertanyaan itu yang masih ada didalam hatiku. Bahkan aku tidak bisa melihat wajah papa, aku lebih memilih menunduk dan diam lalu pergi. Mungkin beliau akan merasa sakit hati. Sedangkan aku? Aku tidak tahu.


"Navya, sarapan udah matang lho, Nak." Suara mama terdengar sedang memberitahu perihal sarapan kepadaku. Beliau ada dibalik pintu kamar ini.


"Iya, Ma. Nanti Navya turun," jawabku seadanya. Bagaimana tidak, aku benar-benar bingung. Pagi ini pasti aku akan bersarapan dengan keluargaku, terutama papa. Kemarin aku masih menggunakan alasan lelah agar Bi Emi yang membawakannya ke kamar ini. Namun sekarang, aku tidak boleh seperti itu, bukan?


Mama terdengar sedang berdeham. Kemudian beliau kembali berkata, "boleh Mama masuk, Navya?"


"Emm ... yah, bentar aku bukain pintunya dulu," jawabku. Gerak kakiku sedang berjalan menuju keberadaan pintu tersebut. Jika hanya mama, aku masih bisa mengatasi semua kerisauan hati. Karena beliau pun masih mendukungku pada saat itu, tidak dengan papa!


Sesampainya di sana, aku mulai membuka handle pintu sampai menimbulkan bunyi grek. Perlahan, aku bisa menatap wajah mama yang sebenarnya meneduhkan, hanya saja aku tidak bisa merasakannya. Mama tersenyum, kemudian aku membalas dengan senyuman pula. Kupersilahkan beliau untuk masuk. Setelahnya, aku menutup pintu lagi dan menyusul mama yang hendak duduk di tepian ranjangku.


Ya, pada akhirnya kami telah duduk berdampingan. Namun, kini aku tidak lagi tersenyum, melainkan diam sembari tertunduk. Mama menggerakkan tangan untuk menaruh rambut yang terurai di belakang telingaku. Sesekali beliau menghela napas yang terdengar menyesakkan. Aku tidak tahu, mengenai apa yang dipikirkan oleh beliau.


"Kamu kenapa? Kok murung pas di rumah?" tanya mama kepadaku. Tangan beliau beralih untuk menggenggam telapak tanganku.


Aku menoleh sekilas ke arah mama. "Nggak apa-apa, Ma. Navya baik-baik aja kok," jawabku sembari tersenyum meski akan terlihat sangat kecut.


"Orang kalau pulang kampung itu seneng lho, Nak. Kamu enggak enak badan? Atau gimana? Biar Mama cariin obat."


"...."


Apa aku harus mengatakan perihal perasaanku terhadap papa? Namun aku tidak ingin ada masalah lagi didalam keluarga ini. Meski rasa hatiku masih seperti ini. Justru aku yang seharusnya berjuang untuk membuang segala trauma ataupun amarah yang masih tersisa. Namun, pada kenyataannya itu semua sangat tidak mudah. Aku pikir aku sudah melupakan semua yang terjadi dikala itu, aku pikir aku sudah sembuh dari rasa takutku. Namun apa yang kini terjadi pada hatiku?


Air mataku mengalir sedikit membasahi pipi sebelah kiri, dimana mama tidak akan melihatnya. Mengapa pula aku harus menangis? Aku hanya kesal kepada diriku sendiri yang terus seperti ini. Bahkan, bibirku terkatup rapat ketika hendak menceritakan semuanya kepada mama. Aku tidak bisa, justru aku yang bersalah jika ada masalah lagi diantara aku, mama dan terutama papa.


"Navya?" Mama memastikan keadaanku yang tiba-tiba diam.


Aku tersenyum, kuusap air mataku lalu menatap beliau. "I-iya, Ma," jawabku kemudian.


"Kamu enggak mau cerita sama mama? Emm ... bahkan papa kamu sempet bingung."


"Bi-bingung?"


Mama menganggukkan kepala. "Kaka Papa, kamu hindarin Papa. Apa itu benar, Navya?"


".... iya, Ma."


Mama menghela napas dalam, kemudian menghembuskannya kembali dengan perlahan. Iya, tidak mungkin mama tidak tahu perihal sikapku kepada papa. Papa pasti akan menceritakannya, bukan? Niat hati ingin menyembunyikan masalah itu, pada kenyataannya tetap tidak bisa. Sepertinya aku ini biangnya masalah.


Kemudian mama sedikit mencengkeram telapak tanganku yang sejak tadi beliau pegang. Beliau seolah ingin mengatakan sesuatu namun selalu dibatalkan. Mungkin merasa bingung juga akan sikapku ini. Disisi lain, beliau pasti tidak enak hati ketika ingin mengomeliku. Mama menyadari peran sebagai seorang ibu, tidak beliau lakukan dengan baik.


"Ma, kenapa papa bisa keluar dari jeruji besi?" tanyaku kemudian, tanpa menoleh sedikit pun ke arah beliau.

__ADS_1


Dalam beberapa saat, mama masih terdiam. Namun, tak lama setelah itu, beliau memberikan jawaban atas pertanyaanku, "tentu keluarga Haris yang membebaskan, Navya."


"Kenapa bisa? Hutang papa belum lunas, dan masih tersisa banyak."


"Mama ... Mama yang memutuskan semuanya."


Dahiku mengernyit seketika. "Maksud Mama gimana? Memutuskan apa? Apa hubungannya sama Mama?"


Mama kembali diam. Ketika aku menoleh, beliau tengah menelan saliva beberapa kali sembari menatap tembok yang kosong. Sedangkan aku masih menunggu jawaban atas pertanyaanku. Maksudnya bagaimana? Aku masih tidak tahu. Namun sepertinya bukan sesuatu yang sepele dan pasti akan menghancurkan hatiku. Mungkin, karena mama terlihat sangat bersalah.


Dalam waktu yang terhitung lima menit, mama masih seperti itu. Diam, bahkan tanpa mengubah posisi duduk ataupun dalam menatap tembok. Hal itu membuatku jengah. Aku melenguh sedikit kencang, mencoba menyadarkan mama dari lamunan ataupun keraguan. Aku harus tahu tentang sesuatu!


Kucengkeram bahu mama, tidak erat namun mampu membuat beliau menatapku kembali. Beliau menatap wajahku, lalu membuang pandangan ke arah lain. Disini, aku dibuat kesal. "Sebenarnya ada apa, Ma? Apa yang terjad?!" tanyaku tegas.


"Mama yang membebaskan Papa, sekaligus ... Haris."


Deg! Aku terperanjat hebat, bola mataku terbelalak, rahangku menganga jatuh. Bahkan tubuhku kembali bergetar, aku mundur seketika dari posisi mama sampai tersungkur di samping bawah ranjang. Haris sudah bebas seperti perkiraanku sebelumnya. Orang itu, benar-benar bebas. Lalu, aku harus bagaimana? Akankah kami bertemu? Seandainya ia sudah berubah tentunya menjadi hal yang baik. Namun bagaimana diriku yang masih diselimuti rasa trauma?


"Kenapa Mama kayak gitu? Kenapa enggak memilih sabar dulu? Navya pasti bisa bebasin papa, Ma. Tanpa harus mengemis kepada mereka?" tanyaku lagi kepada mama dengan nada yang masih halus.


Namun, mama terdiam. Aku rasa sedang menangis. Keputusan itu bukan keputusan sepele. Aku yang menjadi korban, dan aku tidak dilibatkan. Apa serendah itu aku di mata orang tuaku? Bahkan mereka tidak memikirkan hati dan posisiku. Cinta yang membutakan hati mama. Baiklah untuk suaminya sendir sekaligus ayahku. Namun aku tetap seorang anak, bukan?


"Kenapa? Kenapa?!" Nada bicaraku yang tadi halus, kini berubah lebih tegas. Sembari menatap mama, aku menangis tanpa suara. Hanya ada tetesan air mata yang mungkin membuat mataku memerah. "Jawab dong! Kalian ini anggep aku apa?! Aku ... aku hampir kehilangan semuanya, Ma. Aku hampir enggak berharga lagi. Dan sekarang, ... orang itu harus bebas. Nggak adil, Ma! Sungguh!"


"Hanya apa, Ma? Ah, hahaha. Konyol sekali keluarga ini. Ck!" Aku tertawa disela air mata yang menetes deras. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju jendela kamar yang sudah terbuka. Kuhela napas sedalam mungkin, kemudian kuusahakan agar tubuhku stabil. Aku berkata lagi, "baiklah, nggak apa-apa. Papa udah bebas kok, silahkan bermesraan. Aku tahu kok, aku bukan anak yang bisa bahagiain kalian. Jatuhnya malah nyusahin. Aku paham, tak apa."


"Navya, bukan gitu. Mama punya alasan sendiri. Bukan hanya demi Papa, tapi juga demi kamu."


"Ma, udah ya. Tolong keluar. Aku mau istirahat. Soal makan, biar Bi Emi yang antar aja. Aku capek, aku enggak mau terlihat jelek besok di pernikahan sahabatku sendiri."


"Navya, dengerin Mama dulu."


"Keluar, Ma!"


Mama terdengar sedang menghela napas. Aku sudah tidak sanggup menatap mama lagi untuk saat ini. Perlahan, tapak kaki beliau terdengar sedang keluar dari kamar ini. Tak lama setelah itu, pintu kamarku ditutup. Beliau benar-benar keluar dari kamar ini. Sedangkan diriku sedang meratapi nasib disini. Mencoba menguasai hatiku dan berpikir lebih jernih.


Mungkin mama memang tidak sepenuhnya bersalah. Aku tahu ada alasan dibalik keputusan yang beliau ambil. Tampaknya sempat terjadi negosiasi diantara mama dan ayahnya Haris yang bahkan namanya saja sudah tidak aku ingat. Ya, Haris. Orang itu memiliki kekuasaan yang besar dengan banyaknya uang. Namun aku tidak menyangka, ia bisa mengalahkan aparat kepolisian. Tidak hanya itu, bahkan ibuku sendiri mampu dipengaruhi.


Boleh saja, papa bebas dari penjara. Namun mengapa tidak melibatkan diriku yang notabene-nya adalah korban, dalam membuat keputusan itu? Aku tahu, diri ini belum bisa membahagiakan mereka. Bahkan melunasi hutang saja, aku masih membutuhkan waktu bertahun-tahun. Yang sudah aku cicil pun, masih jauh dari target lunas. Bolehkah aku seperti ini? Aku hanya merasa tidak dihargai, sekaligus tidak berguna karena tidak bisa membayar hutang secepat mungkin.


Apakah aku yang bersalah atau mereka semua?


Kuhela napasku dalam dan mengembuskannya secara kasar. Kurebahkan diriku di atas ranjang kesayanganku itu. Bola mataku tengah menatap langit-langit kamar yang terhias lampu jari berwarna putih. Aku sudah di sini, tempat yang selalu aku rindukan. Namun mengapa dikejutkan oleh hal seperti ini? Bahkan aku tidak bisa menerimanya dengan baik. Aku marah, namun bingung siapa yang seharusnya dianggap salah.


Kupejamkan mataku kemudian. Hari masih teramat pagi untuk bersenandung sendu. Namun aku masih enggan untuk bangkit dan bergabung di meja makan bersama mereka.

__ADS_1


"Navya." Itu suara papa. Jantungku berdegup kencang seketika. "Papa bawa sarapan buat kamu. Bisa buka pintu?"


Aku masih diam. Takut!


"Navya?"


Tetap diam. Karena bayangan masa lalu kembali hadir. Aku masih takut!


"Baiklah, Papa tahu dan Papa paham. Kamu kesulitan dalam menemui Papa karna saat itu, kan ...? Papa menyesal, Nak. Seenggaknya mendekatlah. Papa ingin bicara sama kamu, walaupun enggak bisa lihat wajah kamu. Papa menyesal."


Aku menelan ludah. Mendengar ucapan papa yang terdengar menyedihkan itu, jantungku berangsur teratur. Meski masih ada rasa takut, namun kini menjadi lebih tenang. Perlahan, aku membangunkan diriku dan turun dari ranjang ini. Langkahku sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara, meski itu mustahil.


Sesampainya setengah meter dari posisi pintu, aku berhenti. Aku tidak ingin membuka pintu itu, aku masih takut. Sangat takut!


"Kamu udah disitu?" tanya papa dari balik pintu kamarku. "Hmm ... mama kamu enggak bersalah. Mama hanya ingin kamu bahagia, seandainya di Singapura, kamu merasa lebih baik, tak apa."


"...."


"Ayahnya Haris datang meminta bantuan dan kesepakatan dengan Mama, Navya. Papa udah bilang enggak apa-apa kalau masih di bui dalam waktu yang lama. Tapi, ... Mama memikirkan kamu juga."


Sejak tadi, memikirkan aku? Entah dari papa ataupun mama. Memikirkan bagaimana? Bahkan keputusan itu diambil tanpa meminta persetujuanku. Aku tidak mengerti. Sedangkan papa masih terus berusaha menjelaskan dengan suara yang parau.


"Kalau Papa masih di penjara, beban kamu pasti akan banyak sekali. Seenggaknya, ketika Papa bebas, Papa bisa cari uang dan melunasi sendiri tanpa membebani kamu lagi. Papa tahu, kamu merasa nggak adil, karna Haris keluar secepat ini. Tapi Navya, kamu akan aman di Singapura. Haris nggak tahu, kamu disana. Kami pikir ini adalah keputusan yang tepat."


"...."


"Papa tahu, papa bukan seorang ayah yang baik. Papa paham, mengapa kamu sangat benci. Bahkan Papa lebih dari seorang kep*rat. Tapi, Papa sayang sama kamu, Navya. Apa kamu enggak mau memberikan Papa kesempatan untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu? Papa akan berusaha melindungi kamu dari siapapun, Anakku. Anak Papa satu-satunya, maafkan Papa."


Air mataku kembali mengalir deras. Penyesalan Papa kembali aku dengar. Kata maaf yang kembali terucap. Bayangan tentang masa lalu itu berangsur menghilang dan berubah menjadi sejumlah kenangan dimasa kecil. Dimana papa selalu membawaku kemana pun pergi, semua mainan kesukaanku dibelikan. Masa dimana, keluarga kami masih bahagia dan normal seperti umumnya. Papa masih menjabat sebagai karyawan biasa, bukan kaki tangan petinggi. Masih banyak waktu yang beliau berikan untukku, tanpa meninggalkanku keluar kota.


Semakin lama, tangisanku yang tertahan menjadi isak tangis dengan suara. Aku bahkan tidak peduli lagi tentang umur yang seharusnya tidak patut untuk meraung-raung. Aku menyesal karena bersikap dingin terhadap papa. Aku menyesal karena tidak mendengarkan alasan dari mama, bahkan aku usir untuk keluar dari kamar. Aku rasa, kedua orang tuaku merasa sakit hati atas sikap burukku ini.


Grek! Terdengar pintu kamarku yang tidak terkunci tengah dibuka oleh seseorang, dan tentu saja seseorang itu adalah papa. Aku intip sedikit, tampak sepasang kaki yang mulai melangkah masuk ke kamar ini. Aku masih menangis, tidak menengok ke atas sedikitkan, meski untuk menatap wajah papa. Aku terlalu malu menjadi anak yang tidak berguna seperti ini.


Sampai tidak lama kemudian, sepasang tangan sedang mendekapku yang masih menangis. Ya, papa memelukku dengan erat. Aku menjadi menangis di pelukan beliau, seolah sedang membuang segala beban yang masih tertinggal di hatiku. Aku menangis sejadi-jadinya, tanpa memperdulikan baju papa yang sudah basah.


"Maafin Navya, Pa," ujarku disela isakanku.


"Papa yang minta maaf, Navya. Papa bersalah." Suara papa semakin terdengar parau. Sepertinya sedang menangis juga, namun tanpa isak suara.


Aku membalas pelukan beliau dengan seerat mungkin. Semua rasa sakit dan rindu, ya kali ini adalah sebuah rindu. Rindu yang selalu aku tepis menggunakan kebencian. Pada kenyataannya, aku tetap merasa rindu terhadap beliau--ayah kandungku sendiri.


Di depan pintu sana, terpampang nampan berisi makanan yang tergeletak diam, seolah sedang menyaksikan kami dalam keharuan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2