
Hari Selasa telah tiba, hari di mana calon suamiku akan pulang ke tanah air. Dan kini, aku telah berada di bandara demi menjemputnya. Aku duduk sendirian di sebuah ruang yang disediakan, sembari menatap orang-orang yang berlalu lalang. Lumayan ramai juga, meski bukan hari libur nasional.
Kutilik waktu pada jam tangan yang aku pakai. Sudah setengah jam aku di sini, jika tepat waktu Andrew akan sampai sebentar lagi. Ada rindu yang menggelitik, dua hari sudah tidak bertemu. Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya nanti, tetapi kesibukan masih tetap ada.
"Navya!" Pasti suara itu milik Andrew. Benar saja, saat aku menilik ke sumber suara. Dirinyalah yang memanggil namaku.
Aku segera berdiri dari dudukku. Kuambil langkah untuk menghampirinya, bersama senyuman yang aku torehkan semanis mungkin. Ia menarik pinggangku, dan mengecup keningku sekilas. "Aku rindu sama kamu," ujarnya.
"Iya, sama. Ya udah yuk, pulang."
"Nanti aja, mampir dulu ya?"
Dahiku mengernyit. "Mampir ke mana? Emang enggak capek?"
"Agak pusing sih. Cari kafe dulu, mau ngopi biar agak reda. Aku juga mau deket kamu dulu."
Aku tersenyum tipis. "Beberapa hari lagi, aku juga udah jadi milik kamu sepenuhnya kok."
"Kalau soal kamu, aku enggak bisa nunggu lagi."
"Hmm ... gombal. Ya udah yuk, ada kafe terdekat kok. Biar kamu juga bisa sedikit santai. Mau dibantu bawa koper?"
Andrew menarik lenganku, setelah itu ia merangkul pundakku dari belakang. "Jangan nyampe ya, calon istriku capek. Aku masih kuat bawa sendiri."
"Baiklah, Pak!"
Langkah kaki kami mengayun bersama, bahkan sangat kompak. Meninggalkan bandara ini, dan bergegas menuju mobilku yang telah terparkir.
Andrew menjatuhkan kepalanya pada tempat duduknya di sampingku. Wajahnya terlihat sangat letih, meski hanya beberapa jam waktu perjalanan udara itu. Aku bisa mengerti, karena kenyataannya memang begitu. Mulai kulaju mobil ini untuk mencari kafe terdekat.
Cup! Pipiku telah dicuri olehnya, dengan kecupan manis dari bibirnya. Mataku melirik sekilas, menangkap sebuah senyum yang diulas oleh bibir manisnya itu. Ia rindu kepadaku. Pria bucin yang pernah dan akan menjadi milikku di dunia ini. Meski masih ada beberapa hal yang ia sembunyikan dan membuatku sebal saking penasarannya.
"Nanti kamu mau tidur di mana?" tanyaku kepadanya perihal tempat inapnya.
"Tidur sama kamulah," jawabnya sekenanya saja.
"Ih! Sebelum itu lho, kan, masih empat hari lagi. Baru bisa, tidur sama aku."
"Apartemen, Sayang."
"Emangnya udah dibersihin?"
"Kan ada orangnya, adikku cowok baru masuk kuliah. Jadi, aku minta dia biar tinggal di sana?"
Aku berpikir. "Terus uang sewanya sama kamu apa kamu kasih gratis?"
"Ya, kalau sama adik sendiri mah eng ... Sayang kamu?" Andrew menatapku.
"Aku tahu, Ndrew. Apartemen itu milik kamu bukan saudara kamu."
"Ya, itu punyaku. Aku berbohong soal itu milik saudaraku."
Entah apa alasannya membohongiku soal asetnya itu. Mobil ini telah sampai di sebuah kafe, sehingga aku harus menunda pertanyaanku. Aku memarkir kendaraan ini di area yang telah ditentukan. Membuka pintu, lalu turun. Aku mengajak kekasihku masuk ke dalamnya demi membeli kopi hangat untuk meredakan sakit kepalanya.
Di sudut kanan depan, kami memilih tempat itu karena merasa lebih nyaman. Sajian pemandangan jalan raya pun terlihat jelas melalui dinding kaca. Lalu, seorang pelayan datang membawa buku menu. Kami memesan sesuai selera masing-masing. Karena hari yang panas, aku memilih es jeruk sebagai pelepas dahaga.
"Jadi, kamu udah tahu?" tanya Andrew tiba-tiba.
Aku menggeleng. "Aku cuma nebak doang kok," jawabku.
"Maaf, Sayang."
"Kenapa minta maaf? Itu hak kamu kok, dan aku juga enggak pernah tanya soal itu."
"Kamu kecewa, ya?"
"Enggaklah, ngapain."
"Tapi muka kamu kelihatan banget kalau lagi ngambek."
__ADS_1
"Enggak. Aku, kan, enggak berhak tahu hidup kamu."
Andrew menarik pelan tanganku. "Maaf, dong. Jangan ngambek."
Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. "Jadi, apa alasan kamu di balik kebohongan kamu itu? Kamu, kan, udah janji enggak bakalan ada bohong-bohong lagi."
"Maaf, aku enggak ada maksud gitu, Sayang. Buat kejutan juga sih."
Pelayan datang membawa pesanan, membuatku tidak bisa memberikan penegasan terhadap Andrew. Dengan buru-buru, aku menyesap minuman yang telah disajikan di hadapanku, bahkan nyaris habis dalam sekejap waktu. Tadinya aku ingin lebih tenang, sayangnya aku malah merasa kesal.
Sementara itu, Andrew hanya senyum-senyum saja, seolah sedang mempermainkan perasaanku. Ia menyesap kopi hangatnya dengan nikmat, tidak peduli atas rasa kecewaku sama sekali. Memang benar bahwa kebohongannya bagaikan sebuah kejutan, tetapi tetap saja membuatku sedikit kesal. Mengapa ia tidak terbuka saja? Dan gilanya, sampai sejauh ini, aku baru mengetahuinya.
"Kamu kalau marah cantik," ujarnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Aku enggak butuh gombalanmu, aku butus kejujuranmu!" tegasku dengan tatapan mata yang hampir membelalak lebar.
"Iya, iya, aku minta maaf, Sayang. Kamu bisa nebak kayak gitu, pasti udah denger sesuatu, ya? Apa ibu aku yang bilang?"
Aku menggeleng. "Bukan, bibi kamu. Tante Desi yang bilang."
"Hmm ... cantiknya."
"Andrew!"
Ia justru tertawa. Pandai sekali membuat hati ini semakin kesal. Kalau bukan di tempat ini, sudah pasti aku memberikan tamparan. Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya dan karena memang masih berada di tempat ini. Menyebalkan, bukan? Mengapa akhir-akhir ini aku dibuat sebal oleh banyak orang?
Aku merebut kopi miliknya dan kuhirup dengan cepat. Entah mengapa, melihatnya begitu nikmat menyesap kopi itu, membuatku tergiur. Melihat kopi miliknya yang aku habiskan, ia melongo seakan tidak menyangka. Namun setelah itu, ia kembali memanggil pelayan dan memesan kembali, kali ini dua gelas beserta cake kesukaanku.
"Jadi gini ...." Andrew memangku dagunya dengan kedua telapak tangannya di atas meja. Menatap diriku, lalu mengerlingkan mata.
Aku mendengkus kesal karena sikapnya itu. "Aku mau pulang!" ancamku.
Saat aku mendorong kursi yang aku duduki ke belakang, ia mendadak menekan pundakku sembari berdiri. "Jangan ngambek dong. Bentar lho, santai, nanti aku jelasin. Ini nunggu kopi dulu, aku juga masih rada' pusing, Sayang."
Mendengar kata pusing membuatku ingat bahwa ia baru saja turun dari pesawat. Akhirnya, aku memberikan ruang nyaman terlebih dahulu untuk dirinya. Pelayan yang datang menyajikan pesanan kedua. Cake kesukaanku diberikannya untukku. Tampaknya, Andrew ingin agar mood-ku membaik terlebih dahulu.
Dengan gerak malu-malu, aku mulai menyantap kue strawberry mix cokelat. Berharap ia segera menjelaskan tentang semuanya kepadaku. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama. Sedangkan, ia masih saja asyik menatap wajahku dengan senyuman yang tidak mereda.
"Iya, aku sama, tapi kamu harus jujur sama aku," jawabku.
Ia kembali memundurkan posisinya. Menghela napas dalam dan mengembuskannya. "Dulu, waktu masih kuliah, aku kerja part time. Enggak tahu sih, kenapa suka kayak gitu, padahal masih dibantu biaya sama orang tuaku."
Aku menghentikan santapanku dan memperhatikannya dengan seksama. "Terus?"
"Mungkin karna aku anak pertama, ya? Jadi, pola pikirnya berbeda. Aku kerja sambilan, buat ongkos sendiri, makan sedikit tabungan. Dari kerja sambilan itu, aku punya pengalaman dan pelajaran, Sayang. Ada kepala restoran yang suka kasih ilmu. Kan, aku cuma mahasiswa mungkin dia pikir masih banyak belajar."
"Emm."
"Belajar, terus belajar, banyak nanya. Juga soal properti dan beberapa bisnis lainnya. Pas udah kerja, aku mikir. Gimana biar tetep nabung meskipun gaji segini gitu."
"Iya."
"Aku kembangin restoran kecil milik ayah aku. Cuma pake modal gaji doang. Ya, syukurnya, lumayan. Udah mulai lancar, kan? Aku coba buka cabang di tahun pertama, habis itu makin nambah di beberapa kota."
Aku terkesiap mendengarnya. Mendengar pengakuan Andrew yang terdengar seperti kebohongan semata. Namun, ia sangat asyik dalam menuturkan, dan tulus dari dalam hati, sepertinya. Rasa kesalku yang sempat datang, kini berubah menjadi rasa kagum. Bagaimana bisa?
Ia agak terbatuk, menghentikan ucapannya terlebih dahulu. Memilih menyesap kopinya. Ia juga tidak segan lagi meminta sedikit potongan kecil di cake yang sudah aku santap sedikit.
"Jadi, kamu adalah orang yang ada di balik kesuksesan keluarga kamu?" tanyaku kemudian.
"Emm ... enggak tahu sih gimana nyebutnya hehe. Awalnya, kan, aku cuma kasih modal ke ayah aku. Aku rundingin bareng. Gimana caranya biar restoran ayah bisa berkembang, enggak cuma jadi pedagang ruko kecil di Jakarta. Aku cari banyak info tuh, perlahan-lahan, cari pasokan bahan baku dan kerja sama sama mereka. Tapi, waktu itu, kan, ibaratnya baru merintis, jadi aku enggak keluar dari kerjaan dulu, Sayang."
Aku manggut-manggut menjelaskan penjelasan dari Andrew. Ini sudah seperti kejutan besar yang bahkan melibihi sebongkah berlian. Benar-benar tidak terduga. Berarti ucapan Ibu Siti atau Pak Birowo waktu itu perihal tidak mau mengurusi restoran karena ia merupakan kunci kesuksesan.
Namun, dari kapan restoran itu meningkat? Mengapa Andrew tidak kunjung keluar dari pekerjaan? Bahkan hingga sekarang.
"Nah dari situ, banyak tuh, aku kepikiran buat bikin sistem franchise. Melejit deh, udah gitu, aku mulai belajar investasi properti nih, Sayang. Perihal laporan keuangan emang selalu aku terima, jadi aku bisa bikin agenda sendiri. Buat beli rumah ini, tanah ini, atau beberapa apartemen. Nah, rumah Tante Desi itu juga milik aku, jadi Tante Desi bayar sewa tahunan."
Aku menelan saliva seketika. Andrew seperti bukan Andrew. Padahal selama ini ia selalu sok-sokan minder karena banyak kalangan atas yang katanya menyukai diriku. Kemampuan actingnya sungguh luar biasa, sampai aku mengira bahwa ia tidak memiliki apa-apa. Tidak disangka-sangka, ia merupakan pengusaha yang asetnya di mana-mana. Entah berapa rumah yang ia miliki atau apartemen yang merupakan investasi pribadi.
__ADS_1
Dahiku di sentil olehnya seketika, sampai aku tersentak kaget. Rasa terpanaku menjadi buyar karena ulahnya itu.
"Tapi kok kamu enggak keluar kerja dari dulu? Bukannya kamu sibuk banget?" tanyaku.
"Masih asyik sama temen-temen. Terus ayah ibuku juga yang atur sih, akunya tinggal terima laporan sama ngejalanin investasi aja sih. Cari-cari sumber, orang yang bisa diajak kerja sama dan orang-orang yang bersedia ambil franchise."
"Sama aja dong kamu memperkerjakan orang tua, Ndrew."
"Memperkerjakan gimana maksud kamu? Ya enggaklah, awalnya, kan, emang mereka dagang nih. Aku kerja, ngasih modal, cari info dan ilmu kalau lagi ada waktu senggang. Perlahan nyampe punya pegawai sendiri, ada keuntungan buka cabang lagi, gitu terus nyampe cabang nyebar. Nah, ayah aku itu sekarang ada di restoran pusat yang ada kantor kecilnya. Sama aja kayak aku kerjanya main komputer hehe."
"Dasar anak tengil! Tapi masa' iya kamu enggak keluar dari kerja dan bantu urus itu?"
"Belum mau, Sayang. Kayak ninggalin temen-temennya itu agak susah dulu, masih muda mikirnya seru-seruan dulu. Kan, bisnis udah berkembang. Aku ambil lagi kontrak satu tahun, nanti di tahun berikutnya mau udahan gitu. Tapi aku malah kenal sama kamu, aku masih mau deket sama kamu."
Ternyata seperti itu. Bisa dibilang bahwa aku adalah penyebab Andrew tetap bertahan di kantor itu, meski usahanya sudah mengembang pesat. Tersanjung hatiku dibuatnya, aku bahagia. Lebih bahagia lagi setelah mengetahui hal ini. Hasil dari jerih payahnya, hasil dari hidup hemat dan sederhananya dirinya. Mungkin bukan restoran yang elite dan mewah, tetapi justru karena restoran sederhana itu cukup diminati orang-orang biasa, membawanya dalam kesuksesan yang besar.
Sebenarnya, aku masih merasa penasaran berapa jumlah rumah dan gedung yang ia investasi sendiri. Namun, aku tidak berani menanyakannya. Setelah mendengar semuanya, hatiku sudah cukup lega. Aku ... aku tidak salah dalam memilih pasangan. Mungkin, Andrew tidak sukses dalam kantornya seperti Affandy yang bahkan memiliki jabatan tinggi di luar negeri. Namun, ia bisa menjadi bos dari usahanya sendiri.
"Kenapa kamu ngeliatin aku? Kagum ya sama calon suami kamu?" tanyanya.
Aku memberikan cibiran. "Mana ada aku begitu, yang ada kamu tuh, jangan-jangan ini juga bohong lagi."
"Enggaklah ini serius, sumpah!"
"Tapi, ada kebohongan lagi enggak?"
"Emm ... ada, ini mungkin agak fatal."
"A-apa? A-aku enggak mungkin istri kedua, kan?"
Ia tergelak. "Kamu satu-satunya, serius!"
"Terus apa dong."
"Emm ... aku ini lebih tua dari kamu."
"Ya emang, kan, kalau itu mah."
"Masalahnya jumlahnya nambah."
"Eh? Jadi kamu ini udah om-om?"
"Bukan juga, tapi aku seumuran Pak Fandy. Dengan kata lain, lima tahun selisih usia kita."
"Haaah?! Jadi?! Andrew!"
"Sssttt ... jangan kenceng-kenceng didenger orang lain."
Apa-apaan pengakuan terakhirnya itu? Jadi, ia adalah pria yang sudah berusia tiga puluh tahun. Seingatku, ia mengaku satu atau dua tahun selisih umurnya denganku. Sebenarnya, aku tidak mempermasalahkan tentang hal ini, tetapi sungguh mengejutkan sekali. Bagaimana bisa aku sebodoh ini? Ck, dan pria tua itu bersikap bucin sekali kepadaku. Yang benar saja!
"Ada lagi nggak?" tanyaku untuk memastikan semuanya.
"Udah enggak ada, sayang. Serius, sumpah, enggak bohong!" jawabnya sembari membentuk cis di jarinya.
"Jangan-jangan cinta kamu sama aku juga bohong."
"Enggak! Aku serius sayang sama kamu, aku cuma cinta sama kamu, Navya. Yang ini percaya sama aku ya, Sayang."
"Jangan panggil aku sayang-sayang, dasar bapak-bapak! Yang kaya yang bayar, yang tua yang bayar."
Aku mendorong kursiku ke belakang. Setelah itu, pergi keluar. Kejutan macam apa yang aku dapatkan. Memang, jika dipikirkan lagi, jika Andrew baru berusia dua puluhan tahun, rasanya sukar dipercaya bahwa ia bisa mencapai kesuksesan itu. Ternyata, sama saja dengan Affandy, sukses di usia tiga puluh tahun.
Aku masuk ke dalam mobilku dengan sejumlah perasaan tidak menentu. Bahagia iya, tetapi kesal pun ada. Lalu, Andrew masuk ke dalam tanpa peduli tentang izin dariku sama sekali.
Ia memegang telapak tanganku yang masih terdiam. "Maaf, ya. Aku udah bohong sama kamu selama ini. Kamu cantik banget sih, takutnya enggak mau sama aku yang udah tua."
"Seandainya waktu bisa diputar, aku pasti udah ...."
"Udah apa?"
__ADS_1
"Membinasakan kamu!" Kubuang tangan Andrew dan menancap gas mobilku dengan cepat.
Bersambung ....