
Sidang yang digelar benar-benar membuatku lega. Sebelum aku berangkat, aku sudah berhasil memenjarakan Haris. Pengacaraku, para saksi, hasil visum atas luka di tubuhku dan juga teman-temanku membantuku memenangkan sidang hari ini. Dua tahun delapan bulan adalah hukuman penjara yang diterima oleh Haris dengan denda sejumlah uang. Karena aparat yang menanganinya cukup bertanggung jawab, ia tidak bisa berkutik meski dengan kekuasannya.
Didalam hati kecilku, sebenarnya aku merasa tidak tega. Mau bagaimanapun, Haris semoat mencintai diriku meski dengan cara yang salah. Bahkan ia memiliki keinginan untuk berubah. Benakku melayang pada kilasa kencan kami waktu itu, hatiku sempat melemah dan memberikan tawaku kepadanya. Namun, akibat ulah tidak sabarnya ini, ia menghancurkan dirinya sendiri dan hampir diriku.
Untuk mencabut tuntutanku juga sudah tidak bisa. Lantaran tergolong ke dalam tindak kriminal, lagipula para saksi tidak menyetujui jika aku melakukan itu. Sampai akhirnya, aku harus tega membiarkannya mendekam di penjara selama jangka waktu itu.
Namun, dibalik kelegaanku, aku harus menelan pil pahit lagi. Papa sudah dijemput oleh para aparat dan menjadi tahanan karena hutang. Tepatnya tadi malam. Mama tiada hentinya menangisi hal itu dan memohon-mohon untuk kebebasan papa. Semua gedung milik papa pun sudah disita dengan bukti yang akurat. Dan yeah, papa bangkrut dalam sekejap mata. Apa mau dikata lagi? Semua sudah resiko yang harus ditanggung, hukum tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin, jika aku sudah melunasi hutang beliau, beliau baru akan terbebas kembali.
"Gimana ini? Mama sendirian, gimana Sayang? Papa kamu sudah cukup tua untuk hidup di penjara. Siapa yang akan merawatnya nanti?" tanya mama dengan derai air mata dan isakan tangis yang memilukan.
Aku memeluk erat beliau. Sedangkan posisi kami masih berada di kantor polisi usai sidang tadi. "Jangan nangis, Ma. Vya janji, Vya akan segera melunasi hutang Papa," ujarku mencoba menenangkan hati mamaku.
"Mama harus gimana? Kalau kalian berdua nggak ada, Navya? Apa ini karma karna sudah meninggalkan kamu sendirian selama ini?"
"Mama jangan ngomong gitu, dong. Keluarga kita lagi banyak cobaan aja, Ma. Pasti semua akan segera berlalu.
Tangisan mama semakin menjadi-jadi. Membuat Sita, Andrew dan bahkan Affandy yang memang berada disini, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya memberikan nasehat agar kami lebih bersabar. Perpisahan di dunia saja sangat menyakitkan, apalagi nanti jika sudah berbeda alam? Rasanya pasti sangat menyesakkan. Tapi, aku ingin membahagiakan kedua orangtuaku dulu sebelum mereka atau bahkan diriku yang tiada.
Hari ini akhir dari neraka perjodohan sialan itu. Belakangan ini, aku mulai mendapatkan penjelasan dari papa, sebelum beliau dijemput oleh para aparat. Papa sangat didesak untuk menggunakan uang panas itu oleh ayah Haris dengan iming-iming bisnis dan penanaman saham jika usaha berhasil. Namun, pada akhirnya rencana gagal dan salah kaprah. Papa terlalu berambisi tanpa tahu ilmu dalam membangun usaha dari nol.
Selepas itu, Haris datang dan menawarkan diri untuk meminang diriku. Ia mengancam akan mengambil seluruh aset milik papa jika tidak kunjung melunasi hutang. Sang ayah ikut membantu. Haris bilang telah menyukaiku sejak lama, yang entah kapan waktunya. Ia mengancam ingin mendapatkanku dengan segala cara, bahkan jika harus bermain banyak uang dan harta.
Diam-diam, papa melakukan persiapan dibelakang Haris dengan membalik namakan sertifikat rumah untukku. Sebenarnya papa ingin semua aset menjadi milikku, namun akan sangat sulit jika tidak ada diriku yang turut hadir. Akhirnya beliau mendapatkan satu nama di sertifikat sebagai milikku. Beliau tidak ingin bicara kepadaku ataupun mama, lantaran khawatir jika ketahuan oleh Haris dan membahayakan diriku. Beliau tidak masalah jika harus masuk bui karena hutang. Namun, beliau menunda sebisa mungkin demi pengalihan aset itu dan juga menjatuhkan Haris. Bahkan ulah kaburku kemarin menjadi tumbuhnya fitnah kepada beliau, Haris menuduh papa karena telah menyembunyikan diriku.
Semua terasa lebih gila dari drama. Sebenarnya siapa Haris? Dan kapan kami pernah bertemu? Waktu SMA? Atau kuliah? Rasa-rasanya aku tidak pernah menjumpai wajahnya. Tapi, jika lebih diingat lagi, aku sempat mendapatkan surat cinta dari seseorang di kala duduk dibangku SMA. Karena merasa tidak penting dan mengira orang iseng, aku membuangnya begitu saja. Kalau tidak salah, dari anak laki-laki berkacamata dan terbilang kurang pergaulan. Masa'? Mana mungkin Haris bisa sangat berbeda. Macam komik saja.
"Hei, Vya?" celetuk Affandy yang mengejutkanku.
"Eh? I-iya," jawabku.
"Jangan ngalamun. Bawa pulang Mama kamu dulu, kasian."
"Emm... aku titip sama Sita aja, ya Sit? Aku masih ada urusan sebentar."
Sita langsung menatapku. "Oke, Beb. Serahkan sama saya," jawabnya.
Aku membantu mama untuk berdiri. Kemudian aku menyerahkan beliau kepada Sita untuk diantarkan pulang. Dengan rasa tidak tega, aku masih menatap langkah mama yang begitu gontai. Beliau sangat amat terpukul atas kejadian yang menimpa keluarga kami.
Selepas, mereka hilang dari pandangan mata, aku hanya bisa menghela dan menghembuskan napas dengan berat. Disisi lain, aku masih bersyukur karena ruang penjara Haris dan papa itu berbeda. Karena papa pun masih berstatus tersangka belum terdakwa. Yah, aku selalu berharap mereka terpisah. Aku khawatir, Haris masih saja bengis.
"Navya?" panggil Affandy lagi kepadaku. "Aku mau balik dulu, nggak apa-apa kan? Masih banyak pekerjaan."
"Tentu," jawabku sembari menganggukkan kepalaku. "Makasih, udah mau bantu Fandy."
"Iya sama-sama. Apapun yang mau kamu lakukan, semoga berjalan dengan baik."
"Amin."
Affandy tersenyum begitu manis. Padahal ia hanya teman dan juga atasan, namun semua yang ia lakukan memang sangat memberikan bantuan secara penuh kepadaku. Sebelum, ia mengambil langkah pergi, ia menatap Andrew yang sedari tadi memilih diam.
__ADS_1
"Apa?" tanya Andrew tanpa rasa hormat sebagai atasan. Sehingga membuatku sedikit terkejut.
"Tidak, saya hanya mau menyampaikan jangan macam-macam dan ambil kesempatan pada Navya," jawab Affandy.
"Maaf, Pak. Tidak termasuk ke dalam segi pekerjaan bukan?"
"Intinya saya hanya memberitahukan kepada anda. Ingat! Anda ini hanya sebatas masa lalu, dan jangan mengganggu. Jika saja, tidak ada pekerjaan, saya pasti tidak akan membiarkan anda hanya berdua saja."
Setelah mengatakan sesuatu yang tidak aku mengerti, Affandy segera mengambil langkah pergi meninggalkan kami. Sedangkan Andrew hanya geleng-geleng kepala saja. Aku ingin bertanya, namun masih enggan. Aku belum ingin menghadapi masalah baru. Sehingga membiarkan mereka berdua berdebat setiap kali bertemu, asal tidak merugikan diriku.
Lagipula, jika itu merupakan masalah hati, aku semakin tidak ingin terlibat terlalu dalam. Meski aku adalah sang sasaran, biarlah. Sekali lagi, selama tidak merugikan diriku, aku masih bisa mengabaikan mereka begitu saja.
"Jadi, kamu mau apa Sayang?" tanya Andrew tiba-tiba.
"Mau ketemu Haris," jawabku sekenanya.
"Haah? Serius?"
"Iya, Ndrew."
"Kenapa? Bukannya semua udah selesai dan cowok itu dapat hukuman?"
"Masih banyak pertanyaan didalam otak. Udah gih, aku mau ketemu dulu."
"Vya? Jangan ya?"
"Enggak. Ini harus, dua hari lagi kita mau berangkat kan? Aku harus menyelesaikan ganjalan pertanyaan ini."
"Tapi...?"
"Aku temenin ya?"
"Nggak perlu. Masalahku pribadi. Tolong ya, Ndrew."
"Yaudah kalau gitu. Aku tungguin."
"Makasih."
Selanjutnya, aku meminta izin kepada petugas agar mempertemukanku dengan Haris. Banyak pertanyaan yang diajukan kepadaku namun aku bisa menyelesaikannya. Mungkin terasa aneh, jika korban masih bersedia menemui sang pelaku. Jika saja, tidak ada ganjalan hati ini aku pun tetap enggan untuk bertemu. Melihat wajahnya saja, aku sudah muak.
Tak lama kemudian, aku disarankan untuk masuk ke dalam ruang yang disediakan untuk berbincang dengan narapidana. Sesampainya disana aku duduk disalah satu bangku. Haris dibawa oleh salah satu petugas untuk menemuiku. Ia masih menatapku begitu nanar dan tajam. Sejujurnya badan ini merasa panas dingin dan gemetar. Aku takut menatap mata itu. Namun, sebusa mungkin kutepis perasaan itu untuk kali ini.
"Kenapa, Nav?" tanya Haris. "Kenapa loe tega sama gue? Gue sangat suka sama loe. Sangat."
"Itu bukan suka! Tapi, obsesi yang berlebihan, Haris," jawabku.
"Gue mencintai loe, Nav. Sangat. Tapi, semua yang gue lakuin selalu nggak ternilai di mata loe. Gue gila, Nav. Sampe memutuskan cara terakhir itu demi menikah sama loe. Walaupun semua gagal karena para cecunguk itu."
"Loe sebenarnya siapa, Ris?"
__ADS_1
"Maksud loe apa?"
"Kapan kita pertama kali ketemu? Loe siapa? Dan kenapa ngancem Papa-ku?"
Haris terdiam. Aku bingung. Aku harus mendapatkan jawabannya sebelum waktu kunjung telah habis. Namun, ia tampak ragu untuk mengungkapkan. Sampai aku memberanikan diri untuk menepuk telapak tangannya. Tentu saja, hal itu membuat Haris terkejut. "Gue temen loe waktu SMA," ujarnya.
Bola mataku terbelalak seketika. Sepertinya dugaanku benar. Haris adalah sosok stalker berkacamata yang gemar mengirimkan surat pada kala itu. "A-apa maksud loe, Ris?"
"Iya, gue si cupu. Yang tiap kali kirim hadiah, selalu aja loe buang nggak jelas."
"Tapi...?"
"Kenapa? Loe kaget? Loe nggak kenal gue? Oh nggak! Loe emang nggak pernah kenal gue."
"Lalu?"
"Gue demen sama loe, Nav. Selama itu, dan jujur gue sakit hati loe perlakuin hadiah gue se-demikian rupa. Sampai akhirnya gue harus pindah ke luar negeri, rubah penampilan. Tapi, asal loe tau, Nav. Gue selalu terbayang-bayang wajah loe yang jijik atas hadiah gue."
"Gue nggak jijik!"
"Tapi loe ngebuang semuanya, Navya."
Deg! Memang benar. Aku mencoba mengingat semuanya perlahan-lahan. Pada masa itu, ponsel memang tidak secanggih sekarang. Bahkan SMS masih kerap digunakan meski sudah ada sosial media seperti facebook. Namun, berbeda dengan yang lain, Haris mencoba mendekatiku dengan macam-macam hadiah dan surat. Tak jarang aku menjadi bahan olokan. Karena merasa malu, aku membuang benda-benda itu begitu saja tanpa kuketahui siapa nama pengirimnya.
Inikah karma? Bukankah Haris juga bersalah? Ia bisa termasuk dalam seseorang yang melakukan penguntitan alias stalker. Gadis mana yang tidak jengah? Bukan hanya sekali, namun hampir setiap hari. Mungkin, karena Haris adalah orang kaya. Makanya, ia tidak pernah kekurangan uang untuk membeli barang-barang itu untukku. Tapi sekarang, mengapa ia berubah sedrastis ini? Karena aku? Mustahil!
"Selama itu, gue masih sering ngikutin semua kegiatan loe di media sosial. Dan akhirnya, tanpa gue sengaja, gue liat foto loe di meja bokap loe. Gue punya rencana ini buat deket sama loe dan nge-buktiin kalau gue bisa mencairkan kerasnya hati loe," jelas Haris.
"Terus, kalau udah cair loe bakal balas dendam dengan cara ngebuang gue gitu?" tanyaku.
"Nggak, itu salah. Semua yang loe tuduhkan ke gue selama ini, salah kaprah. Semakin lama gue deket sama loe, gue makin tergila-gila buat bikin loe terus deket sama gue. Sebagai sepasang kekasih dan suami istri."
"Tapi, cara loe salah Haris."
"Salah? Halah! Langkah perubahan gue terhenti karna loe main kabur aja, Navya! Percuma. Loe tau, Nav? Selama ini gue nggak bisa deket sama siapapun karna nungguin hari dimana gue bisa ketemu sama loe. Bahkan gue nggak peduli tentang Vines yang selama ini ngejar-ngejar gue. Karna gue jatuh cinta sama loe, Navyaaa!"
"Bohong! Loe nggak jatuh cinta sama gue. Loe gila karna obsesi berlebihan itu. Loe itu cuma seorang stalker yang penuh dendam, Haris! Bahkan loe udah nggak pantas dicintai oleh siapapun lagi. Termasuk Vines! Gua harap loe bisa berubah didalam jeruji besi ini. Dan jangan sampai loe berani sentuh bokap-nyokap gue lagi!"
"Navyaaaaa???"
Aku pergi meninggalkan Haris begitu saja. Seorang petugas masuk dan mungkin hendak membawanya masuk ke dalam jeruji besi lagi. Entah mengapa, linangan air mataku kembali muncul. Ini semua bukan sepenuhnya salah Haris, melainkan diriku. Seandainya kala SMA dulu, aku bersedia menyimpan barang-barang itu, mungkin Haris tidak segila sekarang. Selama bertahun-tahun, aku tidak menyadari pengaruh buruk sikapku kepada orang lain. Selama itu pula, aku menjadi sasaran dan juga target dari Haris.
Namun, semua telah terjadi. Aku tidak sanggup meminta maaf kepada Haris karena telah tertutup dengan rasa kecewa, benci dan juga takut. Lelaki yang dulu terlihat kalem kini seperti setan yang sangat bengis. Dan itu aku penyebabnya. Aku menyesal. Seandainya aku tidak memiliki wajah cantik ini, apa nasibku akan lebih baik? Rasanya banyak pria yang sakit hati karena berawal dari wajahku. Bahkan karena aku, Andrew sampai tergila-gila dan memilih memutuskan jalinan hubungannya yang sudah terikat sejak lama. Lantas, aku harus bagaimana? Haruskah kulukai wajahku agar tidak cantik lagi? Aku takut, karena akan terasa sakit pastinya.
"Navya?" panggil Andrew, sampai aku tersadar dan langsung kuusap air mata.
Namun, ia cukup mengerti. Ia tidak bertanya lagi. Ia merangkulkan tangan ke pundakku dan memapah jalanku. Sepertinya akan menuju mobilnya yang masih terparkir. Yah, kalau tidak ada Andrew, mungkin aku harus memesan taksi, lantaran keberangkatanku kesinipun dijemput oleh mereka.
"Jangan sedih lagi, semua sudah berakhir," ujar Andrew lagi. "Aku akan bantu sebisaku untuk menebus papa kamu, Navya."
__ADS_1
Aku diam, karena masih enggan untuk berbicara. Kalaupun aku bisa berbicara pasti akan dibarengi dengan isak tangis. Terlebih, saat membahas papa yang malam ini mulai tidur kedinginan didalam jeruji besi. Aku tidak sanggup. Aku ingin papa segera keluar. Namun, sepertinya akan memerlukan waktu yang sangat lama sampai uang untuk membayar itu terkumpul.
Bersambung...