Who Is My Love

Who Is My Love
Definisi


__ADS_3

"Cinta itu didasari dengan kepercayaan, Navya. Tolong percaya padaku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku waktu itu."


****


Terlepas dari semua yang telah terjadi, kini aku sudah mendapatkan suatu kelegaan hati. Sepanjang jalan, aku terus menyimpan dendam kesumat kepada Andrew karena kesalahannya. Namun pada akhirnya, aku terjatuh kembali ke pelukannya. Entah sesuatu yang ironis atau bagaimana. Namun hanya semburat senyum lega yang kini bisa terpasang di wajahku.


Pada akhirnya aku kembali merajut kasih bersama orang itu. Aku melupakan tentang keinginan untuk sendiri dulu. Nyatanya jerat cinta memang luar biasa tak tertandingi oleh kebencian. Apakah hanya diriku yang berlaku seperti ini? Ataukah masih banyak perempuan lain yang menjadi budak cinta seperti ini? Aku pikir bukan hanya diriku saja.


"Mau kencan nggak, Sayang?" tanya Andrew yang kini berada disampingku. Kami di rumah lantai bawah yang notabenr adalah kediamannya di negara ini.


Aku menggeleng. "Enggak, aku capek. Kerjaan udah kayak kereta. Datang dan pergi seenaknya aja," jawabku menolak.


"Jangan gitu. Katanya demi Papa? Nggak boleh ngeluh, Sayang."


"Emm... ya sih. Kamu nggak ikut kencan bareng gebetan itu?"


"Nggaklah, ngapain? Pacarnya disini kok."


"Mungkin kalau tadi malem aku nggak jawab. Kamu pasti udah on the way kan?"


Andrew tersenyum. Senyum yang manis sekali, serasa ingin menggigitnya lantaran terlalu gemas. "Enggak akan. Aku udah tolak dari kemarin."


"Lho bukannya kemarin kamu setuju?"


"Hehe... buat bikin kamu cemburu."


"Jahatnya. Kasian Linseyld, kena harapan palsu."


"Hmm... iya sih. Tapi, mereka kayak ngeyel gitu, Navya. Mungkin besok-besok bakalan dateng lagi."


Benar juga. Bisa dilihat dari cara bicara dan perilaku mereka yang bersedia datang menemui Andrew yang notabenenya adalah seorang pria. Membuatku sedikit khawatir akan keberadaan mereka. Aku takut merasa cemburu secara tiba-tiba dan marah kepada Andrew. Bisa-bisa kami akan bertengkar lagi.


Aku menjauhkan diriku dari Andrew. Kuhela napas begitu sesak. Entah rasanya tidak enak saja, jika dipikirkan. Mengapa hubungan kami selalu ada gangguan? Meski ia telah menjadi milikku, aku masih merasa gelisah. Lantaran diriki tidak lagi cantik seperti dulu. Bagaimana kalau Andrew tertarik dengan wanita lain? Apa aku harus kembali pada diriku yang dulu? Tapi, aku sudah nyaman seperti ini. Banyak hal positif yang aku peroleh dari perubahan ini, yang pertama tidak ada rasa iri hati dari orang lain dan juga kelakuan pria hidung belang.


"Kenapa sih?" tanya Andrew dengan raut keheranan.


"Enggak, nggak apa-apa kok," jawabku.


"Ngomong, Navya. Jangan ada yang diumpetin lagi diantara kita. Biar masalah yang lalu nggak terulang lagi, Sayang."


Aku menghela napasku. Setelahnya aku menatap wajah Andrew dengan kegusaran. Menunduk kembali dan terdiam. Ia pun mendekatkan diri kepadaku. "Kenapa?"


"Emm... menurut kamu Linseyld cantik nggak? Menarik enggak? Terus aku gimana? Apa aku dandan lagi aja?"


Andrew seketika terkekeh dengan keras. Bahkan sampai tergelak-gelak. Aku sebal akan tingkahnya. Seolah ia sedang menertawakan diriku yang sedang didera rasa cemburu. Bagaimana tidak? Aku merasa khawatir sedangkan dirinya malah menganggap ini adalah hal yang lucu. Apa benar Andrew telah berubah?


Hari ini adalah hari jadi pertama bagi kami. Aku tidak rela jika ditorehkan dengan semacam masalah sepele saja. Lalu kutepis semua pikiran tidak jelas dalam benakku. Dengan gerak kaku, aku mendekati Andrew kembali. Sejak tadi ia hanya mengamatiku dengan semburat senyuman yang tidak menghilang. Dan akhirnya kujatuhkan kepalaku didalam pelukannya. Aku terpejam, merasa nyaman. Inilah pelukan ternyaman yang pernah ada, dan aku baru menyadarinya sekarang.


"Kamu cemburu ya, Vya? Takut kalau aku kepincut sama Linseyld?" tanyanya kemudian.


"Iyalah. Kamu kan masih pacaran sama Lusi aja kepincut sama aku. Ada kemungkinan bisa terjadi lagi," jawabku.


"Hmm... masih aja nggak percaya. Beda kasus, Sayang. Kamu kayaknya harus dengerin alasan dari Lusi juga. Kita tuh sama-sama udah nggak saling suka. Beda sama Linseyld yang naksir aku doang."


"Oh ya? PD banget. Terus katamu dulu, Lusi dateng lagi buat ngajak balikan?"


Andrew menghembuskan napasnya. "Iya, namanya juga pernah pacaran. Pasti ada rasa kangen tersendiri. Makanya dia dateng lagi pada saat itu. Tapi kan kami udah bahas masalah ini. Lusi mengerti, dia juga nggak mau maksain aku."

__ADS_1


"Aku pengen ketemu sama Lusi."


"Buat?"


"Aku mau minta maaf sama dia."


"Sayangnya aku udah nggak nyimpen nomor dia, Sayang. Lagian kita di Singapura, mana bisa?"


Kini giliranku yang menghela dan menghembuskan napasku. Terlepas dari semua pengakuan dari Andrew, aku tetap merasa ingin bertemu dengan Lusi. Sekiranya aku bisa meminta maaf dengan baik kepadanya. Karena akulah hubungan mereka seperti ini, meskipun alasannya sudah sangat jelas. Aku tidak akan merasa nyaman menjalani hubungan ini tanpa berbicara dan mendengar alasan dari Lusi. Tapi, kapan kami akan bertemu?


Andrew pun telah memberikan ponselnya kepadaku. Ia ingin agar aku mengeceknya. Nyatanya memang tidak ada. Hanya diriku satu-satunya wanita yang nomor ponselnya tercantum didalam ponselnya, mungkin selain diriku ada kerabat dan orangtuanya saja serta beberapa teman pria. Bagaimana aku bisa tahu? Karena Andrew menuliskan nama kontak dengan sebutan adik, kakak, ibu dan selebihnya nama pria.


Dasar bucinku.


"Kamu masih nggak percaya sama aku, Sayang?" tanya Andrew.


Aku menggeleng saja. "Bukan gitulah, ngapain coba kekanakan," jawabku.


"Cinta itu didasari dengan kepercayaan, Navya. Tolong percaya padaku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku waktu itu."


Aku terdiam. Sepertinya aku membuat hati Andrew menjadi tidak nyaman. Yah, aku tidak boleh terlalu curiga kepadanya. Semua telah ia perjuangkan untuk mendapatkanku kembali. Apalagi kami baru saja menjalin hubungan ini. Biarlah waktu yang mempertemukanku dengan Lusi suatu saat nanti. Aku pasti akan meminta maaf sebaik mungkin kepada wanita yang tidak pernah aku temui itu.


Dan waktu terus berjalan. Dari pagi kemudian merambat menjadi siang. Tidak ada yang kami lakukan. Hanya bercanda dan melihat tayangan televisi. Sedangkan Raya dan Sinta, aku rasa mereka pun melakukan hal yang sama atau sedang merebah asyik diatas kasur yang empuk. Hari libur yang menjadi kerinduan dari beberapa karyawan seperti kami.


Untuk Raya dan Sinta, mereka masih belum mengetahui akan hubunganku dan Andrew. Rasanya tidak etis jika aku bercerita tanpa ditanya. Kecuali dalam kondisi tertentu yang menekankan diriku harus meminta saran dari orang lain. Lagipula aku masih terlalu malu karena sempat menentang perasaanku ini.


"Vya?" Andrew menyebut namaku.


"Ya? Kenapa?" tanyaku kembali.


Aku langsung menatap Andrew seketika. Ia tampak serius dengan niatan hatinya itu. Namun, aku merasa gusar. Aku takut jika hubungan kami diketahui banyak orang malah membuat kami dicurigai karena tidak profesional dalam pekerjaan. Terlebih ketika aku atau Andrew melakukan suatu kesalahan, bisa-bisa hubungan kami menjadi kambing hitam. Lantas aku menggelengkan kepala dan menjawabnya, " jangan."


"Kenapa? Nanti kamu mikir aneh-aneh lagi, cemburu lagi. Jatuhnya kita berantem lagi, aku nggak mau."


"Emm... aku tambah nggak mau, meja kerja kita dipindahin aja."


"Cie... nggak mau jauh-jauh dari aku ya?"


"Ndrew, aku serius. Kalau suatu saat kita bikin kesalahan dalam bekerja, terus banyak orang yang tahu akan hubungan kita. Nanti kita malah disalahin karna pacaram mulu. Nggak profesional. Dan..."


"Dan?"


"Aku nggak cukup percaya diri sekarang. Mungkin kamu bisa dicibir kalau punya pacar kayak aku."


Andrew tersenyum tipis, kemudian mencubit gemas pipiku. Ia mengecup keningku dan kembali merengkuh diriku ke dalam pelukannya. Sedangkan aku masih memikirkan segala kemungkinan itu. Aku tidak ingin kembali pada diriku yang seperti dulu hanya karena hubungan ini. Bagiku, diri ini adalah hal ternyaman yang pernah aku lakukan, lebih merasa bebas dan lega saja. Namun, bukan berarti aku tidak memikirkan omongan orang teruntuk Andrew yang memiliki kekasih seperti diriku.


"Gimanapun kamu, kamu tetaplah kamu, Navya. Orang cantik diapain aja juga tetep cantik," kata Andrew.


"Mungkin karna belum terbiasa. Jadi, kurang percaya diri aja," jawabku.


"Hmm... yaudah, Sayang. Entar aku cari cara yang lain, kalau kamu nggak mau oranh lain tahu sama hubungan kita."


"Caranya?"


"Aku kan masih bisa ngaku punya pacar tanpa harus sebut nama kamu, Sayang. Terus Raya dan Sinta?"


"Mereka belum tahu kok. Tadi aku kesini mau bahas kerjaan aja."

__ADS_1


"Yah, mungkin kita seperti ini dulu. Biar lebih seru pacarannya ngumpet-ngumpet hehe."


"Maaf ya?"


"Kamu nggak salah kok, Navya. Senyamannya kamu, aku pasti akan usahain itu. Sayang, aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Jangan pernah pergi lagi ya? Aku akan berusaha bahagiain kamu. Jangan naksir orang lain lagi."


Kuangkat kepalaku dari pelukan Andrew, kemudian tersenyum. "Ya."


Seperti inilah definisi bahagiaku yang sebenarnya. Bersama dirinya yang selalu bersedia menuruti dan mengalah kepadaku. Dari awal kita bertemu, menjalin hubungan tidak jelas itu lalu saling mencintai. Mungkin sisa kesalahan Andrew masih ada dan selamanya akan ada. Tapi, kembali lagi pada diriku yang tidak kalah parah dalam membuat kesalahan. Aku mempermainkan dirinya dan segala usahanya dalam jangka waktu yang lumayan lama. Ia harus melihatku bersama Haris dengan perasaan perih. Rasanya saat ini kami telah sama-sama impas dalam memberikan rasa kepiluan.


Hingga pada akhirnya kami kembali bersama dengan ikatan cinta. Setiap perjalanan sedih itu aku ingin menganggapnya sebagai proses perjalanan kisah kami. Akan selalu diingat sebagai pembelajaran. Supaya aku dan dirinya selalu mengatakan sejujurnya, agar hubungan ini berjalan baik dan tidak seperti saat itu.


"Aku ada sedikit tabungan, Sayang," ujar Andrew tiba-tiba.


"Tabungan? Buat apa?" tanyaku heran.


"Buat nebus Papa kamu, Navya. Seenggaknya dalam setahun ini beliau harus keluar."


Aku melepaskan diri dari Andrew seketika. "Enggak, Ndrew. Kita emang udah pacaran. Tapi aku masih bukan siapa-siapa. Dan... kamu bukan orang kaya. Kita ini sama-sama berjuang buat makan esok hari."


"Aku tahu, Navya. Aku juga sadar diri untuk itu, bahwa aku bukanlah orang kaya yang bisa bahagiain kamu dan keluarga kamu secara materi."


"Kita masih belum tahu akan rencana Tuhan kedepannya nanti. Andrew... jangan terlalu membebani diri kamu dengan masalahku. Cukup disisiku aja sekarang. Cukup bersamaku, jangan meninggalkanku lagi dan jangan berbohong lagi. Hanya itu... ya, hanya itu yang aku mau sekarang. Bukan uang."


"Iya, Navya Sayang. Aku bisa memenuhi kemauanmu. Tapi, izinkan aku merasakan dan membantu semua masalah kamu. Mungkin nggak akan seberapa."


Aku menghela napas dan menghembuskan napasku kembali. Menoleh dan menatap Andrew lagi. Tatapan mata kami bertemu. Ia tersenyum begitu manis, sedangkan aku membalasnya dengan rasa gusar.


Semua niat Andrew sudah tidak bisa ditolak menggunakan kata-kata lagi. Kini aku hanya bisa terdiam sembari menunggu apa bantuan yang akan ia berikan. Dan pada saat itu juga, aku akan berusaha menolaknya. Entahlah, aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam kesulitanku mengenai papa bahkan kekasihku juga. Belum lagi, aku takut akan respon keluarganya nanti pada saat tahu ia mengorbankan segalanya demi seorang Navya saja.


"Tolong percayalah padaku, Navya," katanya lagi.


Aku mengangguk pelan. "Ya, aku bisa percaya. Tapi bukan berarti aku melupakan kesalahan kamu, Ndrew. Dan segala perjuangan kamu juga. Aku tidak ingin keluargamu kecewa karena terlalu membuang banyak waktu dan uang hanya karena aku," jawabku.


"Orangtuaku ingin yang terbaik untukku. Dan untukku yang terbaik adalah kamu. Membantumu hanya dengan hal kecil saja, mungkin belum bisa dianggap sebagai bukti bahwa aku mencintaimu setulusnya. Jadi, aku hanya ingin kamu memberikan kebebasan dalam mencintai kamu dengan caraku."


Bahkan tangan Andrew sedang menggenggam kedua telapak tanganku dengan tatapan mata yang tegas. Terlepas dari semua kesalahannya, ia sangatlah berbeda. Mungkin hal itu yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Ia tidak berjanji untuk membahagiakanku secara materi, tapi ia yakin dengan mengusahakan semuanya ia bisa membuatku bahagia dalam konteks yang luas.


Akhirnya aku kembali menyiratkan sebuah senyuman lagi untuknya. Kulepas genggaman tangannya. Lalu aku merengkuh dirinya seketika. Ya, aku memeluknya erat. Segala rinduku juga belum sepenuhnya menghilang. "Baiklah, lakukan semua yang bisa kamu lakukan untukku, Ndrew...," bisikku.


"Pasti, Sayang. Kamu pacarku sekaligus orang yang nantinya akan aku nikahi. Aku akan berjuang keras demi kamu dan masa depan kita. Bahkan keluarga kita," jawabnya.


Aku melepas pelukanku. Dan kubelai wajah tampannya itu. Ia tersenyum manis lagi. Aku masih tidak percaya bahwa kami benar-benar bersama lagi. Sosok ini yang tidak pernah kulupakan selama ini. Meski aku bertemu Nevan kembali, Haris lalu Affandy. Nyatanya hanya lukisan wajahnya yang terus muncul dibenakku, namanya yang masih tertulis didasar hatiku. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Dengan harapan hubungan kali ini bisa berjalan dengan baik tanpa kesalahan lagi, entah darinya ataupun diriku.


Lalu ia mulai membalas rengkuhan tanganku di wajahnya dengan membelai wajahku dengan kedua telapak tangannya. Perlahan ia menutup kedua mataku dan menarik wajahku perlahan. Aku rasa wajah kami sudah mulai mendekat satu sama lain. Hembusan napasnya sudah terasa. Dan...


Tok! Tok! Tok!


Pintu terdengar diketuk berkali-kali. Seketika saja kami terkejut dan saling menjauhkan diriku. Rasanya luar biasa malu, bukan diriku saja, Andrew pun begitu. Aku rasa wajah kami sama-sama memerah. Aku menggigit bibirku dan mengusap rambutku bagian belakang sembari salah tingkah.


"Emm... a-aku buka pintu dulu ya?" izin Andrew kepadaku.


Aku mengangguk pelan. "Ya...," jawabku lirih.


Lantas, siapa yang datang di hari libur seperti ini? Merusak momen saja!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2