
Dug! Lagi-lagi, aku dipakai sebagai barang yang bisa ditabrak seenaknya saja. Aku menatap sang pelaku yang ternyata adalah sang wanita berbisa. Ia mengangkat satu alisnya, bahkan kedua temannya. Aku memutar bola mataku dan melengos begitu saja. Acuh, lebih tepatnya sikap itu yang aku gunakan sekarang. Namun, tidak pergi dari tempatku yang berada di teras loby untuk menunggu Raya dan Sinta.
"Gue udah bilang, 'kan? Loe nggak bakalan awet sama do'i," celetuk Linseyld tiba-tiba. Aku masih memilih untuk diam.
"Harusnya kalau udah nggak pantes, mundur dari dulu," sambung Bela.
Kemudian, Nita berdeham dengan sengaja. "Sejak awal 'kan mereka nggak mau ngakuin hubungan. Gue rasa emang dasarnya si cowoknya risih."
"Maybe, yang nembak duluan si cewek, Guys." Linseyld menduga-duga dengan asal-asalan. Padahal, sejatinya Andrew-lah yang menjadi budak cintaku.
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahuku. Aku pikir salah satu dari ketiga wanita berbisa itu, ternyata bukan. Melainkan Kak Kate, saat aku memastikannya dia-lah orangnya. Ia tersenyum sembari mencari ruang dengan cara mendorong Bela supaya lebih menjauh. Tentunya mendorong menggunakan bahunya bukan langsung menggunakan tangan.
"Hai, Nav. Adikku tersayang, mau pulang? Do'i mana?" tanya Kak Kate.
Aku tersenyum. "Hai juga, Kak. Mungkin sedang diumpetin wanita berbisa. Aku nggak tahu," jawabku sembari melirik mereka.
Kak Kate hanya manggut-manggut saja. Jika bukan Kak Kate, pasti aksi mereka akan tetap berlanjut. Mereka menatapku sinis dan berlalu pergi. Dan entah, Andrew dimana, ia tidak ada. Meski meja kerja kami bersebelahan, sehabis istirahat tadi, ia sudah ditugaskan untuk melakukan suatu pekerjaan di luar ruangan. Untuk Nevan, aku rasa ia sudah pergi sejak tadi.
Bahkan, Raya dan Sinta juga belum kunjung keluar. Apakah mereka lembur? Entahlah, sejak tadi pesanku belum juga dibalas. Ah, malas sekali jika harus pulang sendiri. Namun, sudah terhitung sepuluh menit sejak aku menunggu mereka. Sedikit jenuh, apalagi dalam keadaan lelah seperti ini. Aku ingin cepat pulang dan merebahkan diri.
"Aku antar ayo, Navya," tawar Kak Kate tiba-tiba. Tampaknya, ia menangkap raut kesalku saat menunggu teman-temannya. Aku merasa tidak enak karenanya.
Aku tersenyum tipis. "Enggak, Kak. Nanti ngerepotin. Aku nungguin mereka dulu," tolakku halus.
"Mereka? Teman-teman kamu? Atau Andrew?"
"Semuanya, Kak."
"Mungkin sedang dapet lembur. Udah hampir setengah lima sore lho."
"Emm ... ya udah, aku naik taksi aja, Kak."
"Udah, ayo ikut aja."
"Ta-tapi, Kak?"
"Aku juga mau sekalian bertanya tentang sesuatu."
Aku mengernyitkan dahiku karena merasa heran. "Sesuatu? Soal apa, Kak? Pak Fandy, kalau iya, aku udah jarang bincang sama dia."
Kak Kate menggelengkan kepala. Lantas, ia menarik tanganku supaya aku mengikuti permintaannya. Pertanyaanku belum dijawab dengan sepenuhnya. Tampaknya, sesuatu yang sangat penting meski aku tidak tahu mengenai masalah apa. Rasanya cukup penasaran juga. Aku mengabaikan rasa tidak enak hatiku terlebih dahulu dan mengikuti tawaran Kak Kate untuk mengantarkanku pulang. Yah, lumayan tidak membayar ongkos taksi.
Sesampainya di area parkir, Kak Kate mempersilahkan diriku untuk masuk ke dalam mobilnya yang berwarna merah. Tanpa pikir panjang lagi, aku menurutinya. Kami melangkah masuk bersamaan. Lalu, Kak Kate mulai melaju mobilnya untuk meninggalkan gedung kantor yang besar ini. Entahlah, dimana Raya, Sinta dan juga Andrew. Aku berharap mereka tidak marah kepadaku lantaran tidak menunggu.
Hiruk pikuk di kota ini hampir sama dengan Kota Jakarta. Terlebih saat-saat jam pulang, meski tidak terlalu macet, yang pasti padat daripada siang hari. Kota yang indah dengan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi. Kota bisnis yang selalu aku kagumi.
Aku menoleh ke arah Kak Kate yang sedang menyetir pada saat teringat akan ucapannya tadi. "Tadi, Kakak mau tanya soal apa?" tanyaku kemudian.
Kak Kate menatapku sekilas. Kemudian ia kembali berfokus ke depan sembari memberikan jawaban, "bukan soal apa-apa sih. Hanya rada penasaran sedikit."
Kukernyitkan dahiku. "Penasaran tentang masalah apa, Kak? Tiga perempuan tadi?"
__ADS_1
"Itu juga salah satunya. Tapi, ada yang lebih membuat aku penasaran soal kamu, Navya. Jam makan siang tadi, aku melihat kamu sedang berbincang dengan seseoran. Setelah itu, kamu pergi bersamanya. Investor baru di perusahaan, Tuan Nevan. Kamu mengenal beliau?"
"Eh?!" Aku terkejut seketika. Meski aku tahu, hal seperti ini akan terjadi. Maksudku hal yang sedang terjadi kepada Kak Kate. Pasti banyak orang yang bertanya-tanya tentang hubunganku dengan Nevan. Lantas, aku harus menjawab apa? Harus jujur, begitu?"
Kecepatan yang Kak Kate terapkan dilaju mobilnya terkesan lambat dan santai. Hal itu tidak bisa membuatku melarikan diri secepatnya. Tampaknya, aku memang harus berbicara. Lagipula hanya Kak Kate dan Nevan. Aku juga sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan pria kaya itu.
Aku menghela napas dalam-dalam, lalu kuhembuskan kembali. Aku menatap Kak Kate dan mulai berkata, "kami pernah pacaran, Kak."
"Apa?!" Kak Kate tampak tidak menyangka. Bahkan, ia sampai menghentikan laju mobilnya seketika. Hal itu membuat kendaraan di belakang kami membunyikan klakson berkali-kali. Mungkin kesal lantaran Kak Kate menghentikan mobilnya mendadak, yang bisa saja menyebabkan kecelakaan. Tak lama setelahnya, Kak Kate melaju kembali mobilnya dengan pelan. "Navya? Serius? Nggak halu?"
Aku mengusap tengkukku sembari cengengesan kecil. Sepertinya rupaku saat ini, terbilang tidak pantas untuk memacari seseorang semacam Nevan. Andai Kak Kate tahu diriku dimasa lalu, bukan! Nevan saja, Nevan yang pemalas dan manja. Nevan yang belum sesempurna dan sepintar saat ini.
"Navya? Maaf, aku terkejut. Bu-bukan maksudku untuk mengejek kamu."
"Enggak, Kak. Aku ngerti kok yang dipikiran Kak Kate gimana."
"Bu-bukan gitu kok. Kamu cantik, emm ... agak kurang sih di fashion. Kamu juga tahu, kalau Tuan Nevan itu sehebat apa, 'kan?"
"Bahkan, aku lebih tahu Nevan itu siapa. Kami sempat berpacaran selama tujuh bulan. Ibunya Nevan juga tahu dan kenal sama aku, Kak. Karna ada suatu masalah dan perbedaan pendapat, kami putus."
Kak Kate manggut-manggut disela gerak tangan dalam mengemudi. "Padahal dia kaya raya lho, CEO perusahaan juga. Jauh kalau dibandingin sama Affandy. Tapi, kayaknya dia belum bisa move on dari kamu. Buktinya tangan kamu dicengkeram kuat banget, Nav. Aku pikir, kamu buat masalah sama dia. Ternyata, reuni mantan pacar."
Hanya senyuman tipis yang aku berikan untuk merespon perkataan dari Kak Kate. Entah, apa yang ia pikirkan sekarang. Aku rasa, tentang ketidakpercayaan atas diriku yang semparlt menjalin kasih dengan Nevan. Meski begitu, aku malas untuk menjelaskan lebih dalam lagi. Tidak ada gunanya, lagipula itu hanya masa lalu. Bagiku sudah tidak penting lagi. Apalagi, sebentar lagi aku akan menikah dengan Andrew--kekasihku saat ini.
Perjalanan semakin mendekati dimana aku tinggal. Rumah berlantai dua dengan tangga besi di sisi kanannya. Dimana didiami aku, Raya dan Sinta, beserta Andrew. Bukan apartemen yang nyaman untuk kami. Tidak masalah, rumah itu juga sudah cukup nyaman. Sampai akhirnya, kami sampai. Aku melepas sabuk pengaman yang tadi aku pakai.
"Makasih, Kak. Udah mau antar aku."
"Ma-maksudnya?"
Kak Kate menggeleng. "Nggak kok. Lupain hehe."
"Emm ... oke. Nggak mau mampir dulu?"
"Enggak, udah sore. Aku udah ada urusan."
"Thansk, Kak."
Aku turun dari mobil merah milik Kak Kate ini. Ia melambaikan tangannya dan melaju mobilnya kembali. Tentunya untuk pulang dan beristirahat. Selepas itu, aku berbalik badan dan mengambil kunci gerbang yang sudah aku dan teman-temanku miliki. Suasana masih sangat sepi pada saat aku masuk ke dalam. Kuhela napasku, kini aku sendirian. Sedang apa mereka? Salahkah diriku karena telah meninggalkan mereka?
Rasa tidak enak hati muncul dari dalam hatiku. Kubatalkan rencana awalku untuk naik ke lantai dua dimana aku tinggal. Aku malah menghampiri sebuah kursi panjang yang berada di teras kediaman Andrew. Sesampainya, aku mengambil posisi untuk duduk disana.
"Mereka kemana sih?" Sembari bergumam, aku mencari ponselku dari dalam kantong blazerku. Setelah aku dapatkan, aku mencari nomor ponsel milik Andrew. Setelah itu memanggilnya.
"Halo, Sayang. Kamu dimana?" tanya Andrew sesaat setelah mengangkat panggilan dariku.
"Aku udah di rumah, Sayaaang," jawabku dengan nada yang panjang.
"Di rumah? Sejak kapan? Aku nungguin kamu lho daritadi di depan kantor."
"Barusan sampe, Ndrew. Sam--"
__ADS_1
"Parah! Harusnya bilang dong. Segitunya nggak mau bareng aku? Kenapa? Gara-gara rencana nggak jelas itu? Atau masalah lain?"
"Apa sih?! Kok marah-marah gitu? Aku kan nggak tahu kamu dima ... Ndrew, halo, oeee?! ****!"
Andrew telah mematikan panggilan kami. Apa-apaan itu tadi? Ia marah karena hanya karena aku meninggalkannya. Tunggu! Sepertinya bukan karena itu. Rencana gilaku, 'kah? Namun, biasanya Andrew tidak seperti ini. Entah, ada apa dengan dirinya kali ini. Biasanya ia selalu mengalah. Rasa hatiku, ada sesuatu yang mengganjal. Namun, aku tidak tahu itu apa.
Sedikit ada rasa kesal juga yang turut muncul disela kebingunganku. Lantas, aku berdiri dari dudukku dan mengambil langkah untuk ke lantai dua. Kugigit ibu jariku sembari memikirkan segala kemungkinan yang membuat Andrew marah. Satu persatu anak tangga pun habis kutapaki. Sesampainya di tempat tujuan, aku mengeluarkan kunci dari dalam tas ranselku dan membuka pintunya.
Aku mengambil air minum dari dalam kulkas setelah masuk ke dalam rumah. Sedangkan tatapan mataku terus menatap ke bawah. Sepertinya, aku melupakan sesuatu yang penting dan mungkin bisa dibilang buruk. Usai minum, aku mencuci tangan dan wajah di kamar mandi dan setelahnya menuju kamarku. Aku akan merebah disana.
"Astaga!" Tersentak kaget diriku ini, bahkan sampai bangun dari posisiku yang sedang tiduran. "Jangan-jangan? Aaaaaa! Nggak mungkin. Tapi, mungkin juga. Nggak mungkin Andrew tiba-tiba marah kayak gitu. Duuuh! Gimana dong?! Navya bodoh! Harusnya hindari Nevan daripada keluar bersama! Bodoh ih gue!"
Aku terus merutuk diriku sendiri karena merasa sangat kesal. Bodohnya diri ini bersikap naif tadi siang. Aku tidak berpikir panjang lantaran terlalu panik jika sampai ketahuan oleh Andrew pada saat Nevan menemuiku. Terlebih, aku malah mengikuti permintaannya untuk makan siang bersama. Aku yakin, pasti Andrew mengetahuinya. Lantas, alasan apa yang akan aku berikan kepadanya? Aku rasa, kali ini ia benar-benar sudah kecewa.
"Uh, Navya. Kenapa loe terus-terusan mainin Andrew? Padahal dia udah banyak berjuang buat loe."
Tampaknya, aku harus mengatakan yang sebenarnya. Meski, aku tahu hal itu tidak akan cukup untuk membuang rasa kecewa di hati Andrew. Meski, diriku juga tidak berbuat hal tidak benar dengan Nevan. Namun, siapa juga yang tahan melihat pacarnya bersama mantan kekasih milik pacarnya itu? Jika dipikirkan memang sangat mengesalkan. Bahkan aku sampai mengacak rambutku yang teramat pendek ini sampai berantakan dan berdiri di atas kepalaku.
"Mandi dulu deh, biar seger." Akhirnya aku memutuskan untuk bebersih diri terlebih dahulu. Apalagi sore ini, adalah jadwal memasakku dan masih ada bahan-bahan yang tersisa dari dua hari yang lalu. "Baiklah, mandi terus masak. Habis itu, kelar hidup loe, Navya!"
****
"Kamu tadi kemana, Navya?!" Pertanyaan Andrew terdengar sangat tegas. Ia benar-benar marah dan tentunya kecewa kepadaku. Pertanyaan itu dilontarkan pada saat aku baru memasuki kediamannya. Bahkan, aku belum duduk sama sekali.
Aku masih memilih diam sampai Andrew bisa mencairkan emosinya. Hal itu aku lakukan lantaran takut jika kemarahannya bertambah, apalagi ketika aku mengakui bahwa aku sedang makan bersama Nevan siang tadi. Aku tertunduk dengan wajah takut dan juga tubuh yang bergetar. Kedua telapak tanganku saling mengepal karenanya.
Andrew terdengar menghela napasnya. "Kenapa kamu diam? Nggak mau jawab jujur? Kenapa kamu malah kabur? Apa ini yang kamu inginkan, Navya?"
"...."
"Dengan menyuruhku mendekati Linseyld, kamu ambil kesempatan untuk dekat lagi dengan orang lain? Begitu?"
Glup! Aku menelan ludahku seketika pada saat mendengar dugaan Andrew terhadapku. Bibirku masih tidak bisa berkata-kata. Ini pertama kalinya aku melihat ia marah dan kecewa. Ini adalah salahku, jadi aku tidak bisa melakukan pembelaan diri.
"Ck!" Andrew mengecap kesal melalui bibirnya. Aku tidak tahu, apa yang ia lakukan sekarang lantaran masih menunduk. Kemudian, ia tampak mengambil langkah ke arah sofa. Ia duduk disana tanpa memperdulikan diriku lagi. Hal itu membuat air mataku menetes dan berjatuhan di lantai. Aku menyesal karena kebodohanku dan malah berusaha menyembunyikannya dari Andrew.
Wanita macam apa diriku ini? Sudah diberika. segala pembuktian cinta oleh Andrew. Namun, aku malah kembali memberinya rasa kecewa. Aku tak termaafkan lagi, sungguh!
"Lagi ngapain kamu? Nggak pegel kakinya berdiri terus?" celetuk Andrew lagi. "Sini, duduk."
Tubuhku bagai kaku, masih diam bak terpaku disini. Bahkan untuk sekedar mengangkat wajah saja, aku tidak sanggup. Air mataku terus menetes tanpa aku usap satu kalipun, sampai akhirnya aku terisak sendirian.
"Navya?"
"Ma-maafin a-aku."
"Haduh ... malah nangis."
Tapak kaki Andrew terdengar sedang berjalan mendekatiku lagi. Aku tidak tahu apa rencananya. Entah, untuk mencaci maki diriku atau bahkan memuk wajahku karena kekecewaannya itu.
"Sayang, udah. Maafin aku karna terlalu keras sama kamu." Sungguh tidak terduga, Andrew malah berkata demikian. Bahkan, ia memeluk tubuhku sembari membelai halus rambutku. Hal itu membuatku sedikit tenang, namun rasa bersalahku malah bertambah.
__ADS_1
Bersambung ...