Who Is My Love

Who Is My Love
Niat


__ADS_3

Sialnya, aku tidak bisa tidur sama sekali malam ini. Ucapan Haris yang terakhir sebelum aku pulang tadi, terasa begitu menekan jiwaku. Paras melas, marah, frustasi, kejamnya dirinya begitu membekas dalam benakku. Aku sendiri benar-benar penasaran atas semua yang telah terjadi.


Hatinya yang kokoh bagai batu sulit diruntuhkan. Seolah, semua yang ia inginkan harus didapatkan. Namun, menilik lagi pada ucapan asisten rumah tangganya yang menampik sifat play boy dari Haris. Sepertinya, ia bukan pecinta wanita yang sangat gila. Lalu, kenapa waktu itu ia bersedia dikecup oleh Vines? Sebenarnya, bagaimana Haris menjalani kehidupannya selama ini?


Semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul bisa menumpuk tinggi menjadi satu. Aku sama sekali tidak bisa menidurkan diriku sendiri. Kalau Haris tetap bersikukuh seperti itu, lantas bagaimana aku bisa pergi darinya? Nasib papa akan bagaimana nantinya, kalau aku kabur?


Ah... sial!!!


Akhirnya, aku memutuskan untuk turun dari ranjangku. Lalu kulangkahkan kaki untuk keluar dari kamarku. Aku menuju ke balkon rumah ini. Guna mencari udara malam yang segar. Tak lupa aku membawa ponsel kesayangan. Yah, siapa tau aku akan mendapat sebuah wangsit atau ide untuk menghindari Haris. Aku melangkahkan kaki sepelan mungkin, supaya tidak ada yang terganggu oleh diriku.


Sesampainya disana, aku duduk disebuah kursi santai. Sunyi sepi dimalam ini. Namun, aku tidak merasa takut sama sekali. Dengan banyaknya amarah yang terpendam dihati, sepertinya tikus pun akan takut padaku. Bahkan setan sekalipun.


Bulan begitu cerah diatas langit, meski tidak membulat secara sempurna. Namun, sinarnya begitu menawan dari pandangan mataku. Mengingatkanku kepada sosok Andrew, yang menurutku serupa. Banyaknya kenangan yang kualami dengannya, kadangkala ada rasa rindu tersendiri. Tapi, apa boleh buat. Andrew bukan milikku.


Karena mengingat hal itu, aku iseng sedikit. Mencari nomor kontak Andrew disebuah aplikasi pesan. Dengan harapan, fotonya terpampang nyata disana. Supaya aku bisa melihat wajahnya, walau lewat gambar saja.


Namun, harapanku pupus. Andrew hanya menggunakan foto profil yang bergambar kucing. Dan saat aku membuka status yang ia pasang agak membuatku terkejut. Sebuah tulisan yang berisi tentang rasa kerinduan diiringi inisial seseorang.


NE? Navya Elesya? Gue???


Mana mungkin, Andrew merindukanku. Aku tidak boleh gede rasa. Harus berpikir jernih sebelum merasa percaya diri. Tapi, saat kutengok waktu pembuatan status tersebut ternyata sekitar delapan menit yang lalu. Lalu, apakah Andrew juga masih terjaga?


Astaga! Apa yang gue pikirin sih? Sadar Navya, dia bukan milik loe!


Begitulah bunyi batinku. Sejujurnya rasa rinduku padanya terus saja menggerayangi hati dan otakku. Sampai aku menggigit jariku sendiri beberapa kali. Supaya aku bertahan dan tidak melakukan hal bodoh. Tapi, aku rindu. Bagaimana ini?


Sungguh mengherankan, aku harus menaruh cinta kepada Andrew yang sudah memiliki pacar. Lalu mengabaikan Haris yang selalu ingin membuatku tinggal. Entahlah, jika saja Haris tidak datang karena papa. Mungkinkah, aku bisa mulai mencintainya?


Kalau dipikir-pikir, aku memang sudah keterlaluan kepadanya. Selalu berprasangka buruk karena kebencianku. Bahkan pada papaku sendiri, aku tak lagi memiliki rasa hormat sedikit pun. Sebenarnya, apa yang terjadi kepadaku? Mungkinkah seekor iblis sudah bersemayam dengan tenang didalam jiwaku?


Disaat aku melamun seperti ini, tiba-tiba ponselku berdering. Kontak milik Affandy sedang meneleponku diwaktu yang malam ini. Tentu saja, aku mengangkatnya karena penasaran.


"Hai Fandy, selamat malam," sapaku padanya.


"Hai juga, Non. Kok belum tidur?" tanyanya.


"Kamu sendiri belum tidur kan?"


"Aku baru beresin pekerjaan, Vya. Terus maen hp bentaran liat kontak whatsapp kamu masih online. Jadi, iseng eh ternyata diangkat."


"Oh gitu, sorry ya? Aku belum bisa memutuskan apapun."


"Iya Vya. Aku kan cuma niat membantu aja, kalaupun nggak bisa juga nggak apa-apa. Tapi, kalau bisa secepatnya ya, soalnya mau cari pengganti gitu kalau kamu nggak nerima."


"Oh oke, Fandy. Aku usahain."


"By the way, kamu lagi ngapain? Udah tengah malem gini, kok belum tidur?"


"Lagi nyari angin malem nih, biar otaknya fresh."


"Emang nggak dingin apa, Vya? Nanti masuk angin lho."

__ADS_1


"Enggak kok, mana ada kota dingin. Kalau pegunungan mungkin iya, Fandy."


"Hehe... tetep aja. Namanya angin malam kan bisa bikin penyakit."


"Ya jangan sampai dong, Ndy."


Begitulah beberapa perbincangan kami. Selebihnya, aku dan Affandy terus melemparkan kelakar yang lucu. Ia bisa mengisi malam sepiku. Kesunyian pun perlahan menghilang. Sedangkan untuk hati, karenanya aku bisa sedikit melupakan rasa rinduku kepada Andrew yang sempat datang. Yah, lebih baik aku berbincang dengan Affandy daripada Andrew yang nantinya malah membangun lagi harapan palsu.


Lagipula, aku dan Affandy berteman saja. Tidak ada sedikit pun perbincangan yang menyimpang kearah cinta. Ia penuh humor dan terkadang curcol atas kehidupannya sendiri. Lelaki yang baik dan juga mudah bergaul. Kami melangsungkan pembicaraan sekitar satu jam lamanya.


"Udah ya Fandy, udah ngantuk nih," pamitku.


"Yaudah, Vya. Matiin ya, terus kamu tidur sana besok masih kerja," jawabnya.


"Thanks ya udah nemenin aku melamun hehe."


"Sama-sama, Navya. Selamat tidur ya."


"Selamat tidur juga. Bye."


Kami saling mematikan panggilan ini. Aku kembali melamun. Sebenarnya, sampai sekarang aku masih belum merasakan kantuk. Karena, merasa tidak enak jika terlalu lama bertelepon dengannya, jadi aku beralasan seperti itu. Lagipula aku cepat bosan ketika terlalu banyak berbicara. Kadangkala kehabisan kata-kata.


Rasanya tidak ingin masuk kedalam rumah. Suasana disini sangat sejuk. Meskipun, kamarku sudah terpasang AC, tetap saja angin dari alam lebih menyejukkan. Lebih bebas dan tidak terkurung. Perlahan kegelisahanku juga menghilang.


"Sayang?" Suara mama yang tertangkap oleh pendengaranku.


Sontak saja aku menoleh ke belakang. "Mama? Kok bangun? Navya ganggu ya?" tanyaku.


Mama mendekatiku. Beliau masih memakai piyama dan membawa sebuah selimut. Lalu kembali berkata, "Kamu sendiri ngapain disini? Mama tadi cuman mau ambil minum, terus denger suara kamu. Mama kira hantu lho."


"Hehe... bener juga sih. Anak Mama memang yang paling cantik."


Mama mendekatiku dengan balutan selimut yang beliau pakai untuk menutupi badan agar tidak kedinginan. Lalu duduk disalah satu kursi santai tepat disampingku.


Aku masih terdiam. Ada rasa tak enak juga, saat mama terbangun karena ulahku. Belum lagi, kalau papa yang bangun entah bagaimana jadinya. Aku rasa beliau akan memarahiku lagi. Atau mungkin menduga-duga, bahwa aku akan kabur.


"Sayang kamu kenapa? Ada yang dipikirin?" tanya mama padaku.


Aku menunduk ragu. Tapi harus kukatakan, siapa tau aku mendapatkan saran yang tepat. "Ma, aku mau nanya soal Haris ya?" tanyaku.


"Emang nak Haris kenapa, sayang? Dia nggak berbuat macam-macam kan sama kamu?"


"Enggak Ma, sebenarnya Haris itu orang seperti apa sih?"


Mama terdengar menghela napas berat. Kemudian, beliau menghempuskannya lagi. Aku menjadi sangsi setelah menanyakan itu. Aku rasa Haris memang bukan orang yang baik.


Namun sekali lagi, aku tetap penasaran tentang dirinya. Terlebih, sikapnya hari ini sangat berubah total. Bagaikan seorang manusia yang memiliki dua kepribadian. Sampai aku merasa bersalah dan juga takut dibeberapa momen tertentu.


Mama menatapku sembari meraih telapak tanganku. "Haris anak yang keras, Vya," jawab beliau.


"Itu sudah pasti, Ma. Tapi, kehidupan dia selama ini bagaimana?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Dia terlalu dimanja dan dibiarkan oleh orang tuanya."


"Dimanja? Yang aku tau Haris tinggal sendiri, Ma. Aku pikir orang tuanya tinggal di luar kota."


"Dimanja dalam artian materi dan barang. Suatu kesalahan bagi orang tuanya, karena tidak mengajarinya tentang tata krama. Bahkan papa kamu pernah dibentak sama Haris. Tapi setelah melihat foto kamu, dia berubah lembut."


"Oh... tapi kenapa Haris suka sama aku, Ma? Maksud Vya, dia kan orang kaya. Seharusnya banyak yang menyukai dan dia bisa cari semacam artis atau penyanyi dan anak perempuan kalangan atas."


"Mama tidak paham tentang itu, sayang."


"Oh oke. Baiklah, makasih Ma. Udah ngasih tau ke Vya."


Aku kembali terdiam. Kucerna beberapa penjelasan dari mama. Sangat pantas, jika Haris dimanja karena materi. Ia sangat gigih dalam mendapatkan segalanya yang ia mau. Sedangkan sikapnya benar-benar tidak sopan. Mungkinkah, papa juga sempat diancam olehnya?


Tapi untuk apa? Untuk aku yang dulu tidak pernah ia temui? Mana mungkin ada orang yang menyukai orang lain sebelum bertemu dan hanya dari selembar foto. Menilik lagi pada kekayaan yang ia miliki, seharusnya Haris bisa mencari wanita lain yang lebih tinggi derajat dan levelnya. Lalu, kenapa aku? Aku yang hanya karyawan biasa dan anak dari karyawan ayahnya.


Uhh... gimana sih, ini bisa terjadi???


Semua terasa begitu rumit, sampai tak bisa kuatasi sama sekali. Terlebih, ucapan Haris tadi sore masih saja terngiang-ngiang di telingaku. Aku khawatir dengan beberapa hal yang akan ia rencanakan nantinya. Apalagi sampai membuat orang-orang terdekatku celaka.


Tapi, Haris nggak mungkin setega itu kan???


"Sayang?" ujar mama.


"I-iya, Ma," jawabku tergagap.


"Sebenarnya ada masalah apa? Sampai kamu begadang kayak gini?"


"Itu, Ma. Haris."


"Haris kenapa?"


"Seharian tadi kan aku kencan sama dia. Tapi, dia berubah banget total, kayaknya dia habis dapat nasehat dari orang deh. Terus Navya kerjain."


"Kerjain? Maksud kamu? Jangan neko-neko sama dia, Nak."


"Ya awalnya aku nggak tau, Ma. Aku pikir Haris nggak bakalan kenapa-napa. Aku ajak makan diwarung pinggir jalan, terus dia sakit perut. Terus dia mau dapetin aku dari awal, dari cara alami bukan perjodohan ini. Tapi, aku menolak soalnya udah terlanjur benci sama dia."


Mama menghela napas dan dihembuskan lagi. Menatapku dengan sayu dan penuh rasa iba. Aku paham ekspresi seperti itu. Hati mama pasti juga terluka dan beliau merasa bersalah.


Namun, apa mau dikata. Semua sudah terlanjur, aku sudah terjerat. Mama tidak bisa mencegah lagi takdir ini. Papa pun sama, beliau tidak akan tinggal diam jika aku berniat pergi. Semua memang telah digariskan untuk kujalani.


Sikap Haris yang kasar dan keras harus kuhadapi setiap harinya. Jika hal itu belum berubah. Sejujurnya, aku merasa sedikit lega saat Haris sangat penurut tadi siang. Membuktikan bahwa ia masih manusia yang memiliki kebaikan. Lantas, apa aku harus memberinya kesempatan? Atau tetap gigih ingin terlepas? Bagaimana jika ini salah satu rencana busuknya? Sulit sekali menentukan hati yang terlanjur kecewa.


"Masuk yuk, Mama udah ngantuk lagi. Kamu besok masih kerja lho, sayang," ujar mama.


"Iya Ma," jawabku.


Kemudian aku menuruti permintaan beliau untuk kembali. Rasanya tidak tega jika sampai beliau banyak berpikir karenaku. Lagipula waktu sudah hampir pukul dua dini hari. Aku mengambil langkah untuk masuk ke dalam dan meninggalkan balkon, bersama mama. Lalu kami berpisah untuk menuju kamar masing-masing.


Kurebahkan tubuhku diatas ranjang. Sedang mataku masih saja segar, aku belum bisa terlelap. Beberapa kali aku mencoba, tetap tidak bisa. Masih ada beberapa pikiran yang mengganjal. Entah tentang Haris, rinduku kepada Andrew, atau kepergianku ke Singapura. Semua hal itu belum bisa kupecahkan satu persatu.

__ADS_1


Sebenarnya, aku ingin melupakan mereka berdua. Sehingga bisa terbang ke Singapura, fokus bekerja dan memasrahkan urusan jodoh kepada Yang Maha Kuasa. Namun, semua rencana itu tidak mungkin bisa berjalan lancar. Akan banyak hambatan yang aku lalui. Herannya, kehidupan mengerikan ini harus aku alami.


Bersambung...


__ADS_2