
****
"Kamu hati-hati, Nak. Dimanapun berada tetap ingat, selalu waspada. Maafkan Papa, selama ini Papa begitu egois dalam bersikap dan tidak bisa terbuka terhadap kamu dan Mama kamu," ujar Papa.
"Papa sabar dulu ya? Aku akan secepatnya bebasin Papa dari tempat ini," jawabku.
"Jangan memaksakan diri, Nak. Santai saja, lagipula Papa masih hidup di tempat ini. Mungkin Mama kamu yang kesepian. Tapi, jangan pernah membuat diri sendiri menjadi lelah."
"Iya, Pa. Navya usahain."
"Ya sudah, pulanglah. Waktunya sudah mau habis. Selalu berhati-hati di negeri orang, jadikan Haris dan ulah Papamu ini sebagai pembelajaran."
"Iya, Pa. Navya pamit, esok hari Navya akan berangkat ke Singapura."
"Oh Singapura. Tidak terlalu jauh kok. Yang penting jaga batasan dalam menjalin pertemanan. Kamu cantik seperti Mama kamu, akan sulit menjaga diri disana."
"Baik, Pa. Maafin Navya juga, selama ini udah berprasangka buruk. Papa disini jaga kesehatan ya? Navya sayang sama Papa."
"Iya, Sayang."
Begitulah perbincanganku dengan papa. Selepas itu, aku memeluk tubuh papa dengan rasa hati yang tidak menentu. Aku ingin menangis namun merasa malu. Sampai pada akhirnya, aku tidak bisa membendung air mataku tatkala papa digiring oleh salah satu petugas untuk kembali ke sel, tempat beliau bernaung sekarang. Semua masih sulit dipercaya, keluargaku harus mengalami nasib seperti ini.
Aku kembali ke area parkir dengan perasaan perih yang tidak terkira. Membawa luka hati dan esok akan mengikursertakannya pergi ke luar negeri. Mangadu nasibku, meningkatkan karirku dan menjemput papa kembali. Harapanku hanya satu, aku tidak ingin terlambat untuk membahagiakan orangtuaku. Aku pun ingin mengubah diriku sendiri. Bukan hanya prinsip hidup, melainkan penampilan. Semakin lama, aku semakin jengah dengan paras yang melekat di wajahku. Tak jarang godaab dari pria nakal masih sering datang. Entah, dari pinggir jalan ataupun para pria paruh baya yang mengendarai mobil mewah.
Yah, biarlah. Aku harus segera kembali, karena banyak barang yang belum selesai kukemas. Aku masuk ke dalam mobilku dan mulai melajunya untuk meninggalkan tempat ini.
****
"Kamu udah pulang, Sayang?" tanya mama setelah mendapati diriku di depan pintu. Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu diungkapkan lagi. Yah, mungkin hanya sebagai basa-basi saja.
Dan mata beliau sembab. Menandakan bahwa beliau belum menerima takdir yang saat ini sedang berjalan. Sedangkan diriku tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Aku memutuskan untuk diam tanpa menghibur beliau. Karena, jika kuhibur pun, mama malah bertambah sedih. Aku sebisa mungkin bersikap biasa saja. "Papa sehat kok, Ma. Tadi juga mau makan bekal yang Mama bawain," ujarku.
"Iya, Sayang. Mama udah nggak terlalu kepikiran kok," jawab mama.
"Yaudah, Mama istirahat dulu ya. Mama keliatan lesu banget."
"Iya. Kamu juga ya, besok hari keberangkatan kamu dan teman-teman kamu."
"Tenang aja, Ma. Navya akan istirahat senyaman mungkin."
"Yaudah, balik gik ke kamar."
"Iya, Ma."
Aku meninggalkan mama demi mengambil langkah dan mencapai kamarku. Yah, aku memang sangat letih. Beruntungnya dua pria itu, maksudku Andrew dan juga Affandy tidak datang mengganggu. Bahkan ponselku sengaja kumatikan. Karena beberapa hari ini, mereka terus berebut telepon untuk menghubungiku. Dan karena itu, aku merasa sedikit kurang nyaman.
Sesampainya di kamar, lantas aku masuk ke dalam. Merebah diatas ranjang sembari melayangkan pandang pada langit-langit kamar. Aku berpikir tentang esok hari, hari dimana aku meninggalakan tempat ini bahkan negara ini. Mungkin masih terbilang negara tetangga. Namun, tetap saja aku tidak pernah melancong kesana. Apa aku bisa? Aku tidak ingin merepotkan siapapun lagi, bahkan Andrew ataupun Affandy.
Seharusnya bisa, karena aku selalu hidup mandiri seperti ini setelah kepergian papa dan mama ke luar kota. Hanya saja, disana tidak ada Bi Emi yang selalu menjaga dan menemaniku. Apalagi diriku terbilang malas, aku tidak terlalu menyukai aktivitas memasak yang menurutku sangat ribet dan lama. Mungkin, jika tidak bertemu Andrew, sampai sekarang aku tidak bisa memasak. Karena dirinya, aku sampai bersedia mempelajari beberapa resep makanan. Namun, disisi lain, aku bisa memanfaatkan beberapa keahlianku itu di negeri orang nanti.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarku. "Siapa?" tanyaku kemudian.
__ADS_1
"Bibi, Non," jawab Bi Emi yang ternyata adalah pelakunya.
"Masuk, Bi. Nggak dikunci kok."
"Maaf ya, Non."
"Iya, nggak apa-apa, Bi."
Bi Emi membuka daun pintu perlahan-lahan. Kemudian, melangkah masuk menghampiriku. Lantas, aku membangunkan diriku dan duduk bersila diatas ranjang. Tak lama kemudian, Bi Emi duduk di tepian sembari menatapku. Aku tahu, Bi Emi pasti juga merasa tidak rela untuk melepasku pergi. Namun, tidak berani mengatakan apapun agar aku membatalkannya. Yah, jika aku tidak pergi, pasti tidak ada yang membayar hutang papa, menafkahi mama dan juga membayar gaji dari Bi Emi.
Sebenarnya, aku bisa saja memberhentikan pekerjaan Bi Emi, namun aku enggan lantaran mama akan sendirian. Lagipula, selama ini Bi Emi selalu setia mendampingi diriku yang sangat kesepian. Harus mengurus si kecil Cika yang notabene adalah anak yatim. Aku tidak akan sanggup membuat Bi Emi kebingungan dalam mencari pekerjaan. Biarlah, toh jerih payahku adalah untuk kebaikan dan kebajikan. Semua akan memberikan berkah tersendiri didalam hidupku.
"Sebenarnya, Bibi nggak rela kalau Non Vya jadi berangkat," ujar Bi Emi sesuai dengan perkiraanku.
Aku tersenyum. "Nggak apa-apa, Bi. Lagian aku nggak sendiri kok. Ada yang lain, aku bisa jaga diri," jawabku.
"Iya, Non. Bibi tahu, Bibi cuma takut kalau Non Vya masuk ke dalam masalah kayak belakangan ini. Yah, namanya cewek cantik hehe."
"Pengalaman kemarin bisa aku jadiin sebagai pembelajaran dan juga kewaspadaan, Bi. Pasti kehidupan sana juga berbeda dengan disini."
"Hmm... Bibi do'ain, Non Vya bisa sukses dan menebus Bapak ya, Non. Selalu waspada dan tentunya sehat."
"Amin, aku nitip Mama ya, Bi?"
"Tenang aja, Non. Bibi akan menemani Ibuk dengan setia dan baik-baik."
"Makasih, Bi."
Aku memeluk tubuh Bi Emi selayaknya seorang ibu untukku. Meski terbilang orang lain, aku memang telah menyayangi Bi Emi seperti keluargaku sendiri. Tak ayal jika aku berlaku seperti itu, karena peran Bi Emi terbilang lebih besar daripada mama. Setelah itu, kami saling melepas. Bi Emi mengusap lembut rambutku. Kemudian beranjak berdiri sembari tersenyum menatapku. Bi Emi meninggalkan diriku dikamar ini sendiri.
Aku termenung sebentar. Bosan, sudah jam sebelas siang aku belum melakukan apapun untuk persiapanku besok. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk mulai beberes barang-barangku. Kubuka almari bajuku dan memilah-milah pakaian-pakaianku yang hendak aku bawa. Semua bentuk dress, blouse, dan juga baju-baju feminim kubiarkan saja. Aku hanya mengambil pakaian bermodel kasual, dan juga celana jeans panjang. Kemudian aku menumpuknya menjadi satu. Karena sudah terlipat rapi, aku tinggal menarik koper dan memasukkan semuanya ke dalamnya.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mempersiapkan barang-barangku. Hanya pakaian, skincare wajah, lotion, dan juga parfum. Untuk peralatan mandi, aku telah mempersiapkannya tadi malam. Make up? Entah mengapa, aku merasa tidak memerlukannya. Cukup sekian dan selesai.
Setelah itu, aku duduk di kursi kecil, tepatnya kursi untuk berias diri. Aku melihat wajahku yang terpantul cantik di cermin. Wajah yang kerap membuat para lelaki terkesima. Ada keuntungannya, namun ada pula kerugiannya. Wajah ini, haruskah aku bersyukur karena telah dianugerahkan parah secantik ini? Karenanya, aku kerap kali tersiksa. Ah... padahal banyak orang yang merasa iri. Mengapa aku harus tidak bersyukur. Yah, bukan salahku jika aku mendapatkan wajah ini. Lagipula, mamaku juga sangat cantik dan bersuami yang berparas tampan. Aku rasa, wajar bila aku mendapatkannya. Hidung mancung, mata bernetra hitam yang indah, rambut panjang lurus terurai, bibir tipis dan kulit putih seperti susu.
Sebuah gunting terdiam tenang didalam sebuah toples di meja ini. Aku meraihnya. Kemudian kutatap dalam benda tajam tersebut. Mungkin, akan terasa sakit jika melukai kulitku. Mungkin akan menyisakan bekas merah di kulitku. Tapi, tidak dengan rambutku, bukan? Aku menitikkan air mataku. Entah mengapa, rasanya begitu sesak. Aku hanya ingin mengubah sesuatu yang ada pada diriku. Ya! Aku memotong rambut panjangku sedikit demi sedikit.
Meski, aku tidak tahu cara yang benar. Aku hanya ingin melampiaskan semua kekesalan yang terpendam pada diriku sendiri. Telapak tanganku tiada berdiam diri. Ia terus melakukan aktivitas ini dan bekerja sama dengan sang benda tajam alias gunting. Kumpulan helai rambut yang hitam mulai berjatuhan bersama aliran air mata yang tiada berhenti. Jika aku tidak bisa mengubah wajahku karena takut, setidaknya ada yang bisa diubah pada diriku. Bahkan, jika berhasil membuat semua lelaki menghentikan godaannya. Sampai nanti, aku temui dia yang bisa menerimaku apa adanya.
Jegrek! Pintu kamarku terbuka, maksudku dibuka oleh seseorang.
"Navya?! Apa yang kamu lakukan, Nak???" Mama terpekik akan tanda tanya mengenai ulahku pada diriku sendiri. Beliau membelalakkan mata selebar mungkin, namun terus melangkah menghampiriku. "Kamu ini ngapain???"
Lantas, aku menghentikan aktivitas tanganku dan menjatuhkan gunting begitu saja. "Aku hanya ingin berubah, Ma," jawabku.
"Nggak seperti ini. Rambut kamu bisa rusak."
Gaya rambut yang tidak beraturan menghiasi kepalaku sekarang. Aku mengusap air mataku dengan kasar. Namun, bukan menyesal. Aku memandang diriku di pantulan cermin itu, buruk sekali penampilanku. Aku merasa, ini adalah cara yang benar. Biarlah, jika harus botak sekalian.
Namun, berbeda denganku, mama malah menyesalkan akan kelakuanku. Beliau menghela napas begitu panjang kemudian menghembuskannya kembali, sembari menutup wajah. Aku rasa, beliau tengah menyembunyikan air mata.
__ADS_1
"Bukan begini cara untuk memotong rambut," ujar mama. Beliau menghampiriku dan meraih gunting yang telah terjatuh itu. Setelah itu, beliau mulai menyentuh rambutku yang sudah tidak menentu. "Kamu mau dipotong gimana?"
"Emangnya Mama bisa?" tanyaku.
"Setidaknya, nggak seburuk kamu."
"I-iya sih, aku mau sependek mungkin. Kayak potongan rambutnya Papa."
"Ngawur kamu! Nggak boleh, kamu tu cewek."
"Please, Ma...."
"Hmm... ya nggak separah Papa jugalah, Vya."
"Yang penting pendek banget, bangeeeeeet."
"Ya ya."
Bunyik gunting yang sedang beradu dengan helai rambutku mulai terdengar beraturan. Aku tidak mengerti, mengapa mama tidak marah. Sepertinya beliau paham akan isi hatiku. Hening, tiada perbincang. Mungkin hati kami sama-sama sedang bergejolak. Yah, itu wajar saja. Kami dalam keadaan yang masih bersedih lantaran papa di penjara. Terlebih untuk mama yang notabene adalah istri papa sekaligus ibu kandungku.
****
Detik waktu berjalan, sekitar setengah jam berlalu, akhirnya selesai sudah. Aku menatap diriku lagi yang berada di cermin. Kini rambutku pendek sekali bermodel pixie cut. "Ini kan yang kamu mau?" tanya mama.
"Lumayan, Ma. Pengennya sih kayak papa," jawabku.
"Aneh-aneh aja kamu. Ini udah yang paling pendek buat cewek."
"Iya iya, Ma. Ma..."
"Kenapa?"
"Aku nggak mau pake segala macam dress dan juga bawahan selain celana."
"Kenapa, Sayang?"
"Aku pengen berubah aja. Setidaknya tidak terlalu menarik."
"Lakukan selagi itu membuat kamu nyaman. Yang penting, jangan menghilangkan jatu diri seorang Navya, anak gadisnya Mama."
"Ma-makasih, Ma."
"Sama-sama, Sayang. Mama harus turun bantu Bi Emi masak."
Aku mengangguk. Sedangkan mama berlalu meninggalkanku. Aku kembali terpana akan sosok diriku yang baru. Ya! Aku harus membuka lembaran baru untuk hidupku. Buang semua benda-benda cantik yang bisa memperindah parasku. Bahkan, sikap manja dan jelekku.
Terlebih tidak ada Sita disana nanti. Setidaknya aku harus mendapatkan teman kerja baru selain Andrew ataupun Affandy. Supaya, aku bisa membuka diri dengan pertemanan. Jangan menjadi Navya yang terkesan angkuh lagi.
Setelah itu, aku mulai membersihkan sisa rambutku yang terpotong. Menyapunya sebersih mungkin. Kemudian kubaringkan diriku diatas ranjang. Aku ingin tidur sebentar, karena nanti malam berencana berbelanja baju-baju baru, sesuai gaya baruku.
Bersambung...
__ADS_1