Who Is My Love

Who Is My Love
Dia Aneh


__ADS_3

Siapa yang akan percaya jika para wanita berkata; hanya jalan-jalan dan tidak akan berbelanja. Tahukah bahwa semua itu adalah sebuah hoax semata. Pada kenyataannya, tetap ada barang yang kami beli, meski sudah saling berjanji. Entah aku, Sinta maupun Raya. Hobiku tentang shopping kembali muncul pada saat aku mengubah penampilanku seperti sedia kala, apa lagi jika sudah membahas skincare wajah, jangan ditanya lagi, aku  hampir hapal dengan semua jenisnya.


Namun, setelah menyadari akan kekhilafan tu, hati kami mendadak ngilu. Rasa menyesal pun turut hadir, mengapa


aku berbelanja sampai sebanyak ini? Astaga! Misal keluhannya. Dan semua sudah terlanjur, tinggal bagaimana membuat isi dompet selalu aman di dalam sana, tanpa perlu dikeluarkan lagi.


“Kenapa kamu? Pagi-pagi udah murung begitu?” tanya Andrew kepadaku, saat kami duduk Bersama di luar ruangan sebelum jam kerja dimulai.


“Aku nyesel,” jawabku dengan wajah yang pasti sudah sangat kecut.


“Nyesel?” dahinya berkerut, mungkin meras bingung atas apa yang membuatku sampai menyesal. “Nyesel soal apa, Vya?”


“Aku belanja terlalu banyak, Ndrew. Ah! Kesel banget sama diri sendiri.”


“Hmm … kirain apaan, Vy.”


“Mana kita mau menikah dan aku malah boros banget. Maafin aku, Ndrew. Belum lagi, aku masih harus mencicil hutang papa aku.”


“Hei?!” Suara Andrew terdengar begitu tegas sekali. “Kenapa kamu selalu merasa seakan sendirian?”


Dahiku mengernyit atas ucapannya itu. “Apa maksud kamu, Ndrew? Aku ngerasa biasa aja kok.”


Andrew menghela napas dalam dan ia hemuskan lagi di detik berikutnya. Sedangkan aku masih tidak paham atas


ucapannya. Tampaknya, ia juga enggan untuk melanjutkan. Lantas, apa keluhan mengenai ulahku sendiri cukup mengganggu dirinya? Jika memang benar, aku akan tutup mulut saja dan tidak banyak mengeluh lagi setelah ini.


Hiruk pikuk mulai terdengar bising, bersumber dari karyawan-karyawan yang sudah datang. Tidak sedikit dari mereka yang memilih segera masuk ke dalam ruang kerja, mungkin ada pekerjaan sisa di hari kemarin. Lalu, tiba-tiba geng ular berjumlah tiga itu, melewatiku. Mereka tampak berbisik satu sama lain, juga Linseyld, matanya masih saja mengarah tajam ke arahku. Sungguh, memuakkan!


“Kamu masih diganggu sama mereka, Vya?” tanya Andrew tiba-tiba.


Aku menatapnya. “Enggak, Cuma mata mereka pengen gue colok rasanya,” jawabku dengan rasa kesal yang muncul dari dalam hatiku.


“Yang sopan ih ngomongnya, cewek juga.”


“Maaf, Sayang.terus kenapa kamu tiba-tiba tanya itu? Kamu masih ada urusan sama mereka?”


Andrew menggeleng. “Enggak ada.”


“Jangan bohong.”


“Iya enggak kok, Sayang. Tapi, ….”


“Tapi? Tapi apa?”


“Enggak apa-apa. Udah yuk masuk, udah jamnya nih.”


Aku menarik lengan Andrew agar ia bersedia duduk sebentar lagi. Ia menatapku seolah ada sebuah penolakan yang terpancar dari matanya. Mungkin karena menatap manik mataku yang tajam, ia bersedia kemabali untuk duduk. Lagi pula, waktu masih teramat lama untuk memulai pekerjaan.


Ia tampak murung dengan bibirnya yang manyun, seakan malas dengan diriku atau mungkin sikapku. Hal itu membuat hatiku meraa ketir-ketir juga, apakah ia merasa bosan kepadaku? Lalu, apa ini termasuk sebuah ujian sebelum pernikahan.


“Kamu harus jujur untuk sesuatu yang masih kamu sembunyikan,” ujarku pelan.


Andrew menatapku seketika. “Sesuatu apa lagi, sih?” balasnya.


“Ya, ya udah enggak jadi. Kita masuk aja, yuk!” Respon Andrew membuatku terkesiap. Ya, pada akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya masuk ke dalam ruang kerja. Dan entah mengapa, ia tidak mencegah diriku.


Aku menggigit bibir bawahku atau sesekali mengusap tengkukku, ketika sudah duduk di kursi kerjaku serta menghadap monitor komputer yang sudah menyala. Aku masih memikirkan beberapa ucapan Andrew beberapa saat yang lalu. Ucapan yang menimbulkan tanda tanya, tetapi tidak ada jawaban, maksudku belum. Aku khawatir jika ia merasa bosan kepada diriku. Apalagi, sejauh ini aku seakan mendominasi hubungan kami.


“Ah!” pekikku tanpa sengaja dan meluncur dari bibirku begitu saja. Aku menjatuhkan kepalaku di atas meja kerja karena merasa jengah.


Elena masuk setelah jam kerja sudah dimulai. Sama seperti biasanya, ia memimpin briefing juga do’a. namun kali ini, kami tidak berkumpul di satu tempat dan membentuk lingkaran. Kami hanya berdiri di tempat kerja masing-masing dan menghadap sang ketua tim, sampai penyampaian informasi, aturan, juga do’a selesai dilaksanakan.


Lalu, pekerjaan hari ini pun dimulai. Bertemu dengan berkas dan monitor komputer lagi, sampai akhir jam kerja nanti. Terkadang rasanya menyenangkan, tetapi juga menyebalkan. Apalagi, jika tugas menumpuk melebihi bebatuan di gunung.


****

__ADS_1


Aku membunyikan jari-jariku dengan memberikan penekanan pada sandi-sandinya, juga pinggang dan leher agar rasa penat dan pegal sedikit menghilang. Setengah hari aktivitasku hanya duduk sembari bekerja, penat dan mengantuk akan menjadi musuh paling menyebalkan. Namun ketika tanda makan siang sudah datang, napasku yang tadinya empat memburu, kini menjadi lebih teratur lagi. Makanan lezat entah di kanti, atau restoran, aku sangat ingin mencicipinya.


“Sssttt ….” Sebuah desisan terdengar dari meja sampingku dan aku rasa itu milik kekasihku.


Aku menelan ludah seketika, perihal tadi pagi masih saja menggema, maksudku ucapan Andrew yang belum ada jawabnya. Namun, demi menghargai upayana, aku bersedia menatapnya. “Apa?” tanyaku singkat.


“Makan di luar aja, bareng aku.”


“Raya dan Sinta?”


“Aku lagi pengen sama kamu, Vya. Tolong ….”


“Oke.”


Tolong? Memangnya kapan aku menolak ajakannya? Bahkan, seringkali aku datang menemuinya. Kedengarannya benar-benar menyebalkan, seakan aku tidak pernah mau Bersama dirinya. Sebenarnya ada apa dengan dirinya hari ini? Aneh sekali.


Lalu, segera kuambil tas dan ponselku. Kudorong kursi kerjaku ke belakang untuk mencari ruang gerak kakiku yang hendak pergi dari sini. Aku menghampiri Andrew yang masih sibuk merapikan kertas-kertas putih yang penuh dengan tulisan.


“Yuk,” ujarnya. Ia berjalan lebih awal dan aku masih terdiam.


Seelah beberapa detik berselang, aku baru menyusulnya yang sudah hampir sampai di pintu keluar. Andrew memperlambat langkah kakinya, mungkin hendak menyamakannya denganku. Lalu, memang benar seperti yang aku duga.


Tidak ada perbincangan yang keluar dari bibir kami pada saat fokus berjalan, tidak seperti biasanya. Entahlah, aku sudah pasrah jika ia benar-benar sudah merasa bosan. Aku sudah malas untuk berjuang. Rasa lelah setela masalah hilang juga belum sembuh secara sempurna, tentu saja aku sedikit traumatis di dalam diriku ini.


Sesampainya di area parkir, mataku tertuju pada dua sosok yang tidak asing. Affandy tampak membukakan pintu mobil untuk Kate. Tatapan mereka berdua juga tertuju kepadaku. Aku segera membuang muka dan bergegas masuk ke dalam mobil putih milik Andrew. Aku tidak ingin merusak momen mereka berdua.


Perlahan, mobil ini dijalankan oleh sang pemilik. Kami berdua keluar dari area perusahaan untuk mencari tempat makan yang nyaman, meski aku tidak tahu arah tujuannya ke mana. Aspal yang begitu Panjang tampak di depan mataku, membuat seakan hanyut dalam pandangan mataku. Aku merasakan kantuk yang luar biasa tidak terkira, bahkan sampai hampir terantuk dashbor mobil ini.


“Tidur aja, nanti aku bangunin.” Suara Andrew terdengar samar di telingaku. Aku mengerjib-ngerjibkan mataku dengan kasar supaya tidak masuk ke dalam alam bawah sadar.


“Sayang, tidur aja.” Suara milik Andrew terdengar lagi. Aku mencoba menatapnya, dan ia masih fokus dalam kemudi mobilnya.


“Ya,” jawabku singkat dan rasanya cukup pelan, nyaris tidak terdengar oleh gendang telinga. “Uh!” pekikku sembari mengusap-usapmataku dengan kasar pula.


“Enggak mau.”


“Kamu tuh ngantuk gara-gara pulang kemaleman. Makanya kalau mau jalan-jalan mending malem minggunya aja, enggak ada tanggungan kerja esok harinya.”


“Ih, kok kamu marah sih? Dari tadi juga enggak enak banget mukanya. Kamu kenapa sih?” Mendengar omelan dari Andrew, rasa kantukku berangsur menghilang. Kini aku memberanikan diri untuk mengetahui tentang suasana hati Andrew saat ini.


Namun, ia tidak memberikan jawaban dan akhirnya kami saling diam. Perjalanan yang sudah menghabiskan waktu sekitar tujuh menit, kini telah sampai di tujuan. Restoran bernuansan klasik Eropa terpampang nyata di hadapanku. Memangnya ia punya uang banyak untuk membayar makananku? Rasanya, semakin hari gaya hidupnya semakin tinggi saja.


Karena tidak mau berdebat lebih Panjang lagi, aku memilih diam tidak bertanya atau mengatakan perihal kegusaran hatiku. Aku turun dari mobil milik Andrew, lalu mengikuti langkah kakinya menuju ke dalam ruang restoran.


Salah satu tempat, sudah dipilih oleh Andrew sebagai tempat makan siang kami. Ia yang masih sibuk mencari pelayan, aku biarkan begitu saja. Dan aku memilih duduk mengikuti permintaannya.


“Di sini katanya makanannya enak,” ujar Andrew sembari mendudukkan diri di kursi bersebarangan denganku.


“Iyalah, mahal,” jawabku sekenanya saja.


“Dari dulu pengen bawa kamu ke sini, tapi nggak ada kendaraan pribadi.”


“Taksi banyak.”


“Beda cerita, Navya.”


“Sama aja, naik mobil, kan?”


Andrew memberikan tatapan tajam kepadaku. Ia menghela napas dalam di detik berikutnya.


Selang beberapa menit kemudiang, sang pelayan datang membawa makanan yang telah dipesan. Ia menyajikannya di hadapan kami berdua. Setelah selesai, ia kembali meninggalkan kami.


Tanpa sungkan lagi, aku segera melibas makanan itu dengan mulutku. Tidak peduli lagi dengan sikap Andrew hari ini, juga jika ia benar-benar bosan. Aku lelah dan lapar, juga mengantuk. Setelah makan, aku ingin meluangkan waktu untuk tidur.


“Enak enggak?”

__ADS_1


Aku mengangguk pelan ketika mendengar pertanyaan dari Andrew. “Lumayan dan … mahal.”


“Aku yang bayar.”


Aku menghentikan gerak santapanku. Kutatap manik hitam milik Andrew dengan dalam. “Aku suka kamu yang sederhana, Ndrew. Rasanya beberapa hari ini, kamu tapi bukan kayak kamu.”


Andrew spontan menghentikan gerak tangannya yang masih sibuk menyendok hidangan itu. Ia membalas tatapanku. “Kamu masih enggak terima soal mobil?”


“Ya, bukan hanya itu. Makin hari, gaya hidup kamu rasanya makin tinggi.”


“Kenapa? Kamu masih enggak percaya aku bisa mengatasi semuanya?”


“Bukan enggak percaya, tapi, aku berharap kamu bisa lebih hemat lagi. Pernikahan itu enggak murah dan itu mau ibu kamu.”


“Navya, … aku ingin sekali-kali kamu mempercayai aku tentang hal ini. Aku ini cowok, aku tahu kebutuhan dan kewajiban. Dan asal kamu tahu, aku mengupayakan semuanya demi kamu.”


“Enggak!” tukasku. Aku menelanludah dengan susah payah. “Kamu melakukan semua ini demi diri kamu sendiri, Ndrew. Kamu enggak mau dianggap  cowok miskin, meski aku enggak pernah permasalahin itu. Kamu Cuma cari citra diri kamu sendiri. Pertama buat mobil itu, sebenarnya aku udah terima. Tapi, lama-lama kamu bukan kayak kamu dan apa ini? Kenapa kita enggak cari tempat makan yang murah aja?”


Andrew mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tampak bingung harus berbuat apa. Lantas, apa yang aku katakana ini salah? Aku hanya ingin ia lebih berhemat, kali ini saja, demi tujuan mulia kami. Namun, sepertinya ia tidak mau menerima ucapanku. Semua demi diriku, rasanya hanya alas an saja. Ia hanya malu dengan keadaannya yang serba seadanya dan aku rasa, ada orang yang mencibirnya.


Makanan mahal yang kami pesan, menjadi terbengkalai. Bagaimana mungkin selera makan hadir setelah insiden pertengkaran kami. Bahkan, perutku yang sejak tadi merasa lapar, kini mendadak kenyang.


“Lalu, kamu minta aku harus gimana, Navya? Jual lagi mobil itu?” tanyanya kepadaku dengan wajah yang sudah lesu, bahkan rambutnya menjadi teracak tidak rapi.


Aku menggelengkan kepala. “Udah terlanjur ya jangan dijual. Aku Cuma mau kamu bersikap seperti diri kamu sendiri.”


Andrew terdiam lagi. Mungkin sulit setelah ia merencanakan semuanya. Namun, tak lama kemudian, ia kembali berkata, “Kamu cantik.”


Dahiku menyernyit heran. “Cantik? Apa hubungannya?”


“Banyak orang yang suka padamu. Aku hanya ingin menjadi sosok sempurna bagimu. Kalau mikirin siapa aja yang suka sama kamu, rasanya kayak hampir gila.”


“Emang siapa aja?”


“Para bule, juga petinggi.”


“Dari mana kamu tahu?”


“Aku udah sering denger kabar itu.”


“Jadi, itu alasan kamu memperkaya diri dan mempertinggi gaya hidup?”


“Ya.”


Aku menghela napas lebih dalam lagi. Bagaimana bisa ia bersikap bodoh seperti itu? Bagiku tidak ada orang lain lagi selain dirinya. Saking cintanya aku kepadanya, membuatku tidak pernah menyadari tentang perasaan orang lain terhadap diriku.


Aku tetap tidak bisa menerima alasan konyol seperti itu.


“Ada beberapa orang yang bahkan terang-terangan mendatangiku, mereka memberikan beberapa ejekan. Mereka ingin aku melepaskanmu, agar kamu bisa mendapatkan orang yang lebih pantas,” jelas Andrew.


“Seharusnya, kamu cukup percaya sama aku, Ndrew. Kalau aku enggak suka sama kamu, aku enggak bakalan mau diajak nikah,” jawabku.


“Aku tahu dan aku terus mengupayakan soal itu, Navya. Tapi aku juga manusia, yang kadang mempunyai rasa iri. Aku ingin dianggap pantas bersanding denganmu seperti orang lain.”


“Entah, pokoknya apa pun alesannya. Aku tetep mau kamu bersikap biasa aja, enggak usah banyak gaya. Kamu inget enggak, pas kita mirip orang ilang waktu awal-awal datang?”


Ia menganggukkan kepala. “Ya, aku inget. Kita masih berteman dan kamu masih benci sama aku.”


“Aku enggak pernah benci sama kamu, tapi kecewa. Hal bodoh itu yang selalu aku inget, cuma sama kamu, aku ngalamin hal bodoh, seru dan baru. Malahan, aku pengin ngulang kekonyolan itu lagi.” Aku meraih tangan Andrew dan menggenggamnya. “Aku mau kamu ya kamu, bukan orang lain. Mobil itu, biarin aja, udah terlanjur. Tapi buat ke depannya, kamu enggak usah maksain diri lagi.”


“Navya, aku akan usahakan. Tapi, aku juga mau kamu enggak merasa sendiri, aku ada di sini.”


Aku dan Andrew tersenyum. Kesalahpahaman, juga unek-unek yang sempat bersarang, kini sudah hilang.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2