
Semalam suntuk, akhirnya aku tidak tidur sama sekali. Aku tidak merasa mengantuk. Meski begitu, perbedaan orang yang sempat beristirahat dengan yang tidak, sudah pasti terlihat dengan jelas. Dan kini mata panda tergambar menghiasi kelopak bawah dari mataku. Hanya olesan consealer yang bisa menutupinya.
Seperti biasa, Haris datang ke rumahku guna mengantarkanku berangkat kerja. Meski kebencianku masih ada, aku merasa harus lebih ramah kepadanya. Bahkan kepada papa, aku juga berniat lebih baik. Entahlah, aku hanya merasa tidak pantas jika terus menerus seperti ini.
"Berangkat ya, Ma, Pa," ujarku kepada kedua orangtuaku.
"Kamu hati-hati ya, sayang," jawab mama.
"Hati-hati dijalan," jawab papaku juga.
Kukecup telapak tangan kedua orangtuaku. Dengan begini, aku tidak perlu membuang waktu untuk bertengkar dengan papa. Yah, setidaknya aku bisa lebih tenang daripada hari kemarin. Seperti aku, Haris pun melakukan ritual kehormatan tersebut.
"Hati-hati ya kalian," ujar papa.
"Baik, Om. Kami berangkat dulu, Om," jawab Haris.
Kemudian Haris membawa untuk menghampiri mobilnya. Kami berjalan bersamaan layaknya sepasang kekasih. Niat hati ingin memberikan sedikir semburat senyum kepadanya, namun terasa berat kulakukan. Apalagi keadaanku masih kacau. Mataku terasa pening dan panas. Apa boleh buat, aku hanya bisa berlaku biasa saja.
Haris membukakan pintu mobilnya untukku. Ia pun masih diam saja sejak tadi. Aku tidak tau, apa yang ada dipikirannya sekarang. Ia belum juga menunjukkan sikap ngelunjak ataupun mengancam kepadaku, seperti biasanya. Aku rasa, Haris tidak main-main dengan niat yang sempat ia katakan hari kemarin. Sikapnya cukup tenang.
Setelah kami masuk ke dalam mobil, Haris segera melaju mobilnya meninggalkan rumahku. Deru mobil mulai terdengar bising bagiku. Mungkin karena merasa pusing, sehingga aku menjadi sensitif. Sialnya, disaat seperti ini rasa kantuk mulai datang menghampiri. Aku rasa kepalaku beberapa kali terantuk-antuk ke depan.
"Hei, Nav?" ujar Haris.
"Hmm...," jawabku sekenanya.
"Loe kenapa sih?"
"Nggak kok."
"Serius?"
"Hmm...,"
Antara sadar dan tidak sadar, begitulah jawabanku untuk Haris. Hanya belaian lembut yang samar-samat kurasakan didahi dan wajahku. Untuk selanjutnya aku tidak tau secara jelas.
****
"Nav? Navya? Nav? Loe nggak apa-apa kan? Bangun cantik, udah nyampe," ujar Haris.
Dengan raut kebingungan aku membuka mataku perlahan. "Emang kita kemana sih?" tanyaku bingung.
"Loe sakit ya? Nggak usah masuk aja ya? Gue anter balik lagi."
"Ehh??? U-udah sampe kantor ya? S-sorry, gue ketiduran."
"Hei! Dengerin gue napa!"
"Apa sih, Ris? Gue nggak mau berantem, udah siang nih."
"Loe sakit, Navya! Balik aja, kagak usah takut. Gue nggak bakalan bawa loe kemana-mana."
Aku menghela napas sebal lalu menghembuskannya kembali dengan kasar. Mencoba membuat diriku lebih tenang. Kemudian kulirik jam tangan yang aku pakai. Masih ada waktu untuk meladeni Haris sebentar.
Sedangkan Haris masih saja menatapku dengan serius. Terkadang ia juga menyentuh dahi dan wajahku. Aku rasa, diriku sedang demam. Tapi, aku tidak ingin kembali pulang. Pekerjaanlah yang bisa membuatku lupa segalanya. Meski masih ada Andrew disana, namun lebih baik bertemu Andrew daripada terus merasa bimbang sendiri karena Haris.
"Gimana? Balik ya?" tanya Haris lagi.
Aku mencoba tersenyum lagi kepada Haris. "Nggak Ris, gue nggak apa-apa kok. Loe tenang ya, gue udah terlalu banyak minta izin," jelasku.
Haris mengernyitkan dahinya. Aku rasa ia cukup heran dengan responku yang seramah ini kepadanya.
"Ya Ris, gue masuk."
"T-tunggu, Nav."
"Kenapa?"
"Nggak jadi deh, mungkin karna loe sakit jadi bisa seramah ini haha. Dah sono kalau mau masuk, hati-hati ya."
"Pft...,"
"Apa?"
"Nggak nyangka gue, seorang Haris yang ganas bisa malu-malu kucing."
"Apaan sih, kagaklah! Gue emang suka sama loe, tapi gue nggak selemah itu kale."
"Iya dah iya. Bye Haris!"
Oh tidak! Aku sampai kelepasan tidak bisa menjaga sikap dihadapan Haris. Seharusnya, aku bersikap dingin saja seperti biasanya. Namun, apa daya wajah merona yang Haris tampakkan dibalik kumisnya tetaplah terlihat lucu. Dan momen seperti ini sangatlah jarang terjadi, bahkan ini pertama kalinya.
__ADS_1
Tak apalah, agar ada sedikit bumbu manis dalam hubungan tidak baik ini. Terlebih, aku memang sudah lelah dan jengah. Terlalu lama kami bersikap seperti seekor anjing dan kucing. Ia yang selalu mengancam dan aku yang selalu membalasnya sengit. Bahkan tidak ada kesempatan yang bagus untuk saling mengenal lebih dekat. Yah, kuakui sampai sekarang tidak ada niat sedikitpun untuk dekat dengan Haris.
Aku kembali melanjutkan langkahku untuk masuk ke dalam gedung kantor. Sedangkan Haris sudah melaju mobilnya untuk pergi dari tempat ini. Rasa pening dan pusing masih saja mendera kepalaku. Apa dayaku, karena ini memang kesalahanku sendiri. Terlalu banyak memikirkan sesuatu yang belum juga pasti.
Uhh... pusing.
"Vya? Kamu nggak apa-apa?" tanya seseorang sembari memegangi pundakku.
Seketika aku menoleh kepadanya. Affandy adalah pelakunya.
"Ehh... n-nggak kok, Fandy," jawabku. "M-maksudnya Pak Affandy hehe."
Aku segera melepaskan diri dari Affandy karena tidak enak jika dilihat banyak orang.
"Hmm... nahkan benar kataku, kamu sakit gara-gara begadang semalam."
Tiba-tiba Andrew datang dari belakang dan kini ia berada tepat disamping kami. "Begadang? Semalam?" tanyanya.
"E-eehh... A-Andrew?" ujarku terkejut.
"Ohh... iya semalam ka-" Affandy tidak menuntaskan perkataannya karena aku memberikan cubitan kecil pada lengan tangannya
"Emm... s-semalam kebetulan kami membicarakan soal ke Singapura kok. Dan yah, emm... ka-kamu nggak perlu tau juga kan?"
Andrew menunduk seketika. Lalu ia pergi begitu saja. Sedangkan aku sendiri merasa sangat konyol. Seharusnya kubiarkan Affandy untuk menjelaskan. Namun, mengapa aku belum rela? Aku masih khawatir Andrew merasa cemburu. Untuk apa semua perasaan ini masih ada?
Andrew! Andrew! Andrew! Andrew!!! Gue muak denger nama dia. Tapi, kenapa gue nggak bisa lupa?
Padahal ada Haris yang jelas-jelas ada didepan mata. Haris lebih dari segalanya daripada Andrew. Dan aku? Sudahlah! Aku harus segera mengambil langkah untuk mencapai tempat kerjaku. Tidak ada gunanya memikirkan semua ini.
"Vya kamu nggak apa-apa kan?" tanya Affandy lagi.
"Duh... sorry nih Fandy, bukannya apa-apa. Tapi, lebih baik kamu bersikap seperti atasan dan bawahan aja sama aku. Nggak enak akunya...," bisikku padanya sembari berjalan.
"Hmm... iya deh Nona Cantik... Ehemm oke Navya silahkan melanjutkan perjalanan untuk bekerja. Semangat bekerja, selamat pagi."
"Oh... b-baik Pak. Terima kasih, selamat pagi, Pak."
Segera kulanjutkan langkahku lagi untuk naik ke atas. Setelah sampai, aku langsung masuk ke dalam ruang dan meja kerjaku. Menundukkan kepala sebentar diatas meja, guna menghilangkan sakit kepala. Yah, walaupun aku tau tidak akan berhasil. Sebisa mungkin, aku berusaha agar tidak ketiduran. Karena takut melewatkan briefing pagi.
Tampaknya jam kerja juga masih lama sekali, karena ruang kerja ini masih sepi. Sepertinya, Haris menjemputku terlalu pagi.
Tiba-tiba sebuah sentuhan kembali kurasakan diatas kepalaku. Sontak saja, aku menoleh kepada pelakunya. Betapa terkejutnya aku, saat Andrew yang melakukan hal itu. Segera kutepis tangannya dengan kasar. Sialnya, ia malah duduk berjongkok disampingku. Aku hanya bisa menelan ludah dengan kelu.
Andrew masih menatapku diam untuk beberapa saat. Kemudian mengatakan, "Nggak kok, nggak apa-apa."
"Ya sudah, jangan duduk disini dong."
"Nggak boleh ya? Terus Pak Affandy boleh deket kamu ya?"
"Kamu ngomong apaan sih, Ndrew? Nggak jelas banget jadi orang."
"Baiklah lupakan tentang itu. Aku paham, aku nggak berhak tentang itu kok. Tapi, kamu sakit lho. Kamu demam kan?"
"Sedikit kok."
"Ke klinik kantor aja atau nanti minta izin pulang."
"Nggak perlu, Ndrew. Aku nggak apa-apa."
Aku sedikit bernapas lega pada saat Andrew bersedia berdiri dari jongkoknya. Mungkin inilah rasanya jika masih dalam satu lingkup kerja dengan mantan orang tersayang, sekalipun kami tidak pernah menjalin hubungan apapun. Akan sangat berat dan sulit untuk melupakan.
Sebenarnya aku bisa saja melupakan Andrew dengan cara pergi ke Singapura bersama Affandy dan Rezky, jika Rezky bersedia. Bekerja disana dengan tenang dan tentunya tanpa tekanan. Namun, aku masih khawatir tentang keberadaan Haris.
"Maaf aku kelepasan lagi, Vya," ujar Andrew lagi.
"Haha... ya ya, nggak apa-apa kok," jawabku.
"Hmm... oke. Kalau ada apa-apa bilang aja ya."
"Iya Ndrew, thanks."
Akhirnya Andrew berlalu pergi. Aku kesal, karena waktu lenggangku yang seharusnya untuk beristirahat sebentar malah termakan untuk meladeninya. Disisi lain, aku merasa senang. Aku tidak menampik soal itu, mau bagaimanapun rasa sayangku memang masih ada untuknya.
Tak lama kemudian, ruangan ini mulai terdengar bising. Beberapa karyawan sudah berdatangan. Saat ketengok waktu pada jam yang terpasang didinding, memang sudah waktunya untuk memulai briefing. Rezky juga sudah mengarahkan kami semua untuk berkumpul.
Kemudian ia mulai membahas tentang pekerjaan hari ini. Sebenarnya tidak ada perbedaannya dengan hari-hari kemarin, hanya saja penekanan perlu dilakukan agar kami selalu ingat akan kewajiban. Selain tentang itu, kadangkala Rezky menyampaikan beberapa hal yang berkenaan dengan pengumuman yang diberikan oleh perusahaan. Diakhiri dengan do'a pagi bersama.
Kurang lebih sekitar 15 menit lamanya. Setelah itu, para karyawan kembali lagi ke meja kerjanya masing-masing. Namun sepanjang pagi ini, Sita tidak nampak sama sekali. Aku keheranan sendiri, sudah waktu kerja tapi sahabatku tersebut belum kunjung datang.
Niat hati ingin menghubungi Sita, tapi aturan di perusahaan ini melarang para karyawan agar tidak menggunakan ponsel pada saat bekerja. Rasa khawatir mulai bergelayut. Ada apa dengan Sita?
__ADS_1
Aku harus bekerja dulu. Menunggu istirahat lalu baru bisa menghubunginya. Suara ketikan mulai terdengar menyeruak kesunyian ruang kerjaku. Ada diantara karyawan lain yang saling berdiskusi. Suasana seperti ini sudah menjadi hal biasa untuk kami, para pekerja. Mengerahkan ide dan kemampuan semaksimal mungkin. Diselingi rasa kantuk, jenuh, kesal, lelah dan akhirnya letih. Hasil lelah kami akan terbayar diakhir bulan sebagai upah alias gaji.
****
Waktu pun berlalu, jam istirahat telah tiba. Tiadanya Sita, membuatku malas untuk pergi ke kantin. Apalagi aku tidak terlalu akrab dengan karyawan lain. Salahku sendiri yang kurang bisa bergaul dengan mereka. Mungkin beberapa orang akan menilaiku sebagai manusia yang sombong. Beruntungnya, aku tak terlalu memperdulikan tentang itu.
Lebih enak tiduran sebentar diatas mejaku sendiri. Demi mengurangi rasa pening yang masih saja mendera kepalaku. Setelah memikirkan tentang itu, aku segera mengambil posisi untuk sekedar merebahkan kepalaku diatas meja. Mataku terpejam rapat, berharap bisa terlelap walau tidak lama dan kurang nyaman.
"Vya?" ujar Andrew, saat kudapati dirinya telah berada disampingku.
Ohh... sial! Dia lagi.
"Kenapa?" tanyaku sengit.
"Nggak ada Sita, kamu nggak makan?"
"Nggak Ndrew, aku ngantuk. Mau tidur."
"Makan siang bareng aku yuk?"
"Maaf, Ndrew. Bisa beri aku waktu buat istirahat?"
"Kamu sakit lho! Kalau nggak makan nanti tambah parah."
"Aduh, Ndrew. Bisa nggak sih nggak ikut campur hidup gue lagi? Ya Tuhan, gue bener-bener ngantuk."
"Yaudah gue yang tungguin loe disini."
"Haah??? Maksudnya apa?"
"Kamu tidur, aku yang jagain."
"Ah... jangan konyol! Pergi sana!"
"Bisa nggak sih, nggak keras kepala??? Gue cuman nggak mau loe kenapa-napa Vya."
"Kita udah nggak ada hubungan apa-apa dan emang nggak pernah ada hubungan apa-apa!"
Andrew mengusap kasar pada rambutnya sendiri. Ia mengatakan bahwa aku keras kepala, bahkan ia sendiri pun sama. Aku memang masih mencintainya. Namun, aku tidak akan segila itu menerima perhatiannya secara sukarela. Bahkan, ia sudah jelas memiliki seorang pacar. Dan aku?
Aku berharap Andrew segera pergi dari sini. Bahkan dari hidupku, tapi nyatanya ia selalu datang tanpa izin. Sekarang aku merasa lebih baik bersama Haris bukan dirinya yang hanya menimbulkan sejumlah luka padaku. Harus berapa kali lagi, aku menjelaskan dengan tegas hubungan kami?
Andrew melangkah maju, ia memaksa diriku untuk menghadap dirinya dengan cara memutar kursi kerjaku. Sontak saja aku terkejut sampai membelalakkan mata. Ya Tuhan! Haris sudah mulai sembuh, lalu mengapa pria ini yang kambuh?
"A-apa sih loe??? Gue kurang tegas gimana lagi sih?" tanyaku tegas kepadanya.
"Gue minta, m-minta supaya loe batalin perjodohan itu. Gue sanggup bantu," jawab Andrew. Sebuah jawaban yang benar-benar tidak aku duga keluar dari bibirnya tanpa merasa ragu sedikitpun.
"Loe salah minum obat, Ndrew?"
"Nggak, gue serius. Gue bukan Andrew yang dulu lagi."
"M-maksud loe apa sih?"
"Gue udah putus dengan Lusi. Bahkan keluarga kami sudah tau bahwa gue, bahwa aku hanya mencintai seorang Navya Elesya saat ini dan selamanya. A-aku ingin kita ulangi lagi dari awal."
Aku sampai tak bisa mengatakan apapun. Andrew mengatakan semua itu dengan lantang dan serius. Di ruangan ini hanya aku, dia dan satu orang wanita yang merupakan rekan kerjaku. Gilanya, ia sangat berani mengucapkan itu. Bagaimana jika menjadi gosip?
"Bagaimana bisa?" tanyaku lagi.
"Aku terlalu sulit lupain kamu, Navya. Akhirnya aku harus memberanikan diri memutuskan ini, dan Minggu kemarin aku sudah bertemu dengan orangtua Lusi."
"J-jadi?"
"Aku ungkapin semuanya. A-aku bisa kasih bukti sama kamu kok."
"Bukti?"
"Ya, aku merekam semuanya lewat video secara terang-terangan demi kamu."
Lalu Andrew memainkan jarinya diatas layar ponselnya. Kemudian memberikannya kepadaku. Memang benar yang ia katakan, Andrew telah mengatakan itu kepada Lusi dan orangtuanya. Bahkan, ia meminta izin membuat video itu kepada mereka.
Sedangkan aku masih saja bingung. Semua datang secara mendadak, sampai aku tidak bisa mengatakan apapun. Bukannya senang, aku malah merasa hambar. Gara-gara diriku, kedua orangtua Lusi dan juga Lusi sebagai pacar Andrew, pasti merasakan sakit yang luar biasa. Terlebih, jika mereka sudah merencanakan sebuah pernikahan.
"Navya, kita kembali ulangi dari awal ya?" pinta Andrew padaku.
"Nggak. A-aku nggak tau, Ndrew," jawabku sembari menggerakkan kedua bola mataku ke kanan maupun kiri.
"Kenapa? Kamu masih sayang kan sama aku?"
"Aku nggak tau."
__ADS_1
Bersambung...