
Aku memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan. Hidup dalam hunian yang sepi, karena orang tua lebih memilih pergi. Uang adalah segalanya bagi mereka pada saat itu. Menganggapku bagai barang yang tidak berguna. Dan tidak sedikit orang yang membenciku. Lalu, sebaliknya, banyak pula orang yang tidak aku suka. Temanku tidak banyak, mungkin hanya sosok Sita yang paling setia. Memberikanku sedikit semangat dalam menghadapi hari-hari yang melelahkan. Latar belakang itu yang membuatku menjadi orang yang kekurangan prinsip. Aku tidak bisa belajar hidup bersosialisasi dengan baik.
Baiklah, setelah pulang dari kantor, aku segera mandi, menyantap hidangan sisa tadi pagi setelah sudah dihangatkan. Ada sesuatu yang akan aku lakukan nanti malam.bahkan, aku sudah meminjam mobil milik Andrew. Meski rasa letih yang sudah bersarang pada tubuhku, meski kantuk yang sudah menyerang mataku. Namun, demi hal bagus itu, aku rela mengabaikan semua rasa yang mendera.
Kuambil sebuah sisir dari meja riasku. Menghadap cermin agar wajahku terlihat oleh mataku. Aku memutuskan untuk mengikat rambutku yang mulai memanjang ke belakang seperti buntut kuda. Parasku yang kata orang lumayan menawan, sudah dibaluri bedak dan beberapa jenis kosmetik lainnya. Tidak! Aku bukannya mau kencan, melainkan memberikan kejutan kepada seseorang.
Kate? Ya, benar dirinya. Siang tadi memang belum ada kesempatan untuk berbicara dan rasa canggung itu masih tetap ada. Hati ini juga belum siap untuk menghadapinya, tetapi aku sudah tidak ingin menunggu terlalu lama. Kami harus saling berbaikan, hingga tidak ada rasa tidak nyaman di lingkup perkantoran. Aku selalu terbayang dengan ucapan Sinta pagi tadi. Tidak boleh selalu melimpahkan kesalahan kepada satu pihak saja ketika pertengkaran terjadi, maksudku setelahnya. Aku harus bisa bersikap lebih dewasa lagi.
Kuambil tas ranselku dari gantungan dari paku, lalu ponsel dan dompet aku masukkan ke dalam benda itu. Setelah dirasa siap dan cukup, akumengambil langkah keluar dari kamar ini. Raya dan Sinta tidak Nampak, sepertinya sedang di dalam kamarnya.
“Ray, Sin, gue berangkat,ya!” seruku pamit.
“Mau dianter nggak?!” Seruan dari Raya terdengar lantang.
“Enggak! Gue bukan bocah.”
“Oke, Cantik! Hati-hati, ya!” seru Sinta tidak mau ketinggalan.
Aku hanya tersenyum. Setelah itu, aku bergegas untuk turun.
Di bawah, aku melndapati Andrew yang sedang duduk menatap ke depan. Ia tampak melamu, seolah sedang memikirkan sesuatu. Lalu, tanpa pikir Panjang, aku menghampiri dirinya. Parasnya yang sempat menampilkan raut datar, kini beralih menatapku dengan senyuman.
Aku juga tersenyum, kemudian duduk sebentar di sampingnya. Kuhela napas dalam untuk membuang segala kepenatan yang masih ada. Malam ini aku akan menghadapi semuanya dan kali ini tidak ada Andrew di sisiku. Sebenarnya, si bucin-ku sudah menawarkan diri untuk ikut, tetapi aku menolak mentah-mentah permintaannya.
Ia merangkul pundakku dan memberikan kecupan manis di pipiku. “Aku ante raja, ya? Aku khawatir kamu nyetir sendiri,” tawarnya, juga rasa takutnya.
Aku spontan menggelengkan kepala. “Aku mau cari pengalaman nyetir di sini,” jawabku.
“Ini udah malem, Sayang. Aku anter pokoknya, sekalian aku mau ke tempat temen. Nanti, kalau udah mau pulang, aku jemput lagi.”
“Tapi, aku takut bikin repot kamu.”
Andrew menyentil hidungku. “Emangnya aku ini siapanya kamu? Terus nanti kalau udah nikah, masih mau begitu? Selalu nolak tawaran aku?”
Aku menggeleng. “Kalau udah nikah, ya beda ceritanya, Sayang.”
“Yang bnener?”
“He’eh.”
“Mau dong?”
“Apa?”
Andrew menunjuk pipinya, mungkin ingin meminta sebuah kecupan manis dariku. Ya, aku memberikannya, meski hanya sekilas. Namun, tampaknya ia kurang puas. Sehingga, aku memberikannya lagi sampai lima kali. Ia tertawa lebar, kucubit lengannya pelan. Setelah itu, aku bersandar sebentar pada pundaknya, aku butuh asupan ketenangan. Benakku masih sukar berpikir, takut jika Kate justru berbalik menolak diriku. Namun, Affandy memintaku untuk berbaikan dengan
wanitanya itu.
Kuhela napas dalam, lalu membangunkan diriku dari sandaran. Segala kemungkinan memang harus siap untuk dihadapi, segala resiko juga harus siap ditanggung. Lalu, jika berhasil dengan baik itu merupakan sesuatu yang membanggakan. Jika gagal, maka menerima saja, untuk usaha, mungkin bisa mencoba kembali.
“Ayo, anterin aku,” pintaku kepada kekasihku.
Ia menatapku. “Sekarang?”
“Nanti, tahun baru.”
“Hmm ….”
Aku mencubit lengannya, sampai ia mengaduh kesakitan. “Ya sekarang dong, Beb!”
“Ye?”
“Ih! Ayok!”
“Iya, iya, si cantik bawel.”
“Biarin.” Aku mencibir.
Setelah itu, ia baru bangkit dari duduknya. Masuk ke dalam rumahnya yang sepertinya hendak mengambil kunci mobil. Kunikmati udara dingin yang masih terasa nyaman, entah nanti di kediaman Kate. Pasti ada kecanggungan yang akan kurang ajar. Herannya, mengapa harus diriku yang mengalami kejadian semacam ini? Menyebalkan!
Tak lama kemudian, Andrew kembali keluar. Tubuhnya sudah terbalut dengan jaket berwarna abu-abu, cukup rapi jika hanya untuk mengantarkanku. Namun, aku teringat lagi tentang rencana yang akan ke tempat temannya. Entah siapa, aku belum menanyakan. Berharap tidak aneh-aneh di sana, lebih baik juga jika temannya merupakan warga Indonesia.
Kami berdua masuk ke dalam mobil tersebut. Setelah itu, Andre mulai menyalakan mobil dan selanjutnya melaju untuk meninggalkan rumah ini. Perjalanan akan memakan waktu lima belas menit sampai tujuan. Meski waktu sudah menjelang malam hari, suasana kota sama sekali tidak sepi. Sebenarnya, tidak
apa-apa jika aku berangkat sendiri saja, aku yakin tidak aka nada orang jahat yang datang. Namun sayang, kekasihku benar-benar tidak mau membiarkanku. Dan ke tempat teman itu, sepertinya hanya sebuah alasan saja.
__ADS_1
“Emm … tadi kata kamu, kamu mau ke tempat temen. Terus, siapa yang kamu maksud itu?” tanyaku untuk memastikan lagi siapa yang hendak ia kunjungi.
“Siapa?” tanyanya kembali.
“Kok siapa?”
“Eh, oh, si Steve.”
“Steve? Si cowok jelalatan itu?”
“Jelalatan?”
“Ya, dari dulu. Dia, kan, minta nomor aku.”
“Oh iya, aku inget. Tapi, pas tahu kalau kamu pacar aku, dia lebih sungkan.”
“Iya sih, justru sekarang enggak pernah ganggu aku.”
“Mungkin juga, kamu yang cantik bukan tipikal ceweknya lagi.”
“Kok bisa berubah gitu?”
“Emm … kami sering ngobrol sih, kata dia, dia suka sama cewek-cewek berambut pendek, tomboy, udah pasti enggak cengeng katanya.”
“Pantes. Tapi, kamu jangan ikutan minum-minum, ya?”
Andrew menggelengkan kepala. “Enggak bakalan, Sayang.”
“Aku pegang janji kamu.”
“Iya, Sayang, iya.”
Setelah itu, aku terdiam lagi, memilih lebih menikmati suasana kota ini. Aku juga akan percaya dengan ucapan yang Andrew janjikan. Ya, semoga saja, ia tidak pernah menghianati kepercayaanku.
****
Lima belas menit kemudian, sampailah mobil kami di sebuah gedung besar—gedung apartemen elit di mana Kate tinggal. Sebelum turun, aku menghela napas terlebih dahulu, rasanya sangat gugup dan seolah tidak ingin
masuk. Aku takut ditolak, meski aku orang yang pertama kali memberikan penolakan.
Tiba-tiba, Andrew menggenggam sekepal jari-jemariku. Spontan, aku menatapnya. “Aku gugup,”ujarku.
“Apa mau ditemani?” tanyany kepadaku.
Aku menggeleng. “Apa aku pulang aja, ya?”
“Jangan dong. Kamu harus jadi orang yang konsisten, Sayang.”
“Tapi, … gimana kalau Kate menolak kedatanganku.”
“Itu hanya sebatas kecemasan kamu aja. Sekali pun itu terjadi, enggak apa-apa, yang penting udah ada niat baik. Tapi, kalau belum dicoba, ya jangan menyerah.”
“Tapi, ….”
“Navya ….” Andrew mendekatiku. Ia menatap manik mataku lekat-lekat. “Niat yang udah bagus, jangan nyampe goyah lagi.”
“Emm ….” Selanjutnya, aku hanya terdiam. Kepalu menunduk, menghindari tatapan mata Andrew.
Mengapa ketika hendak berbuat sesuatu yang baik, rasanya justru sulit sekali untuk dilakukan? Namun, ketika sesuatu yang tidak baik, justru menjadi hal yang sangat mudah dilakukan. Aku menghela napas dalam, berupaya untuk tetap tenang dan siap menghadapi Kate mala mini juga. Lagi pula,
maksudku baik, aku hanya ingin memperbaiki keadaan kami berdua. Dan ini murni atas hatiku sendiri, meski memang awalnya terdorong dari permintaan dari Affandy.
Aku kembali mengangkat kepala, menatap wajah Andrew yang begitu setia dengan segala sikap manjaku ini. “Nanti jemput aku, ya?” pintaku kepadanya.
Ia mengangguk. “Siap, Sayang,” jawabnya sembari tersenyum tampan yang tidak pernah terlihat membosankan.
“Aku mau masuk.”
“Hati-hati, jangan nyampe kepeleset.”
“Jangan dong.” Aku melepaskan genggaman tangan Andrew. Kemudian, kulepas sabuk pengaman dari tubuhku.
“Tunggu dulu!” pekik Andrew swmbari menarik lenganku, sampai.membuat gerakanku dalam membuka pintu menjadi terhenti.
“Apa?”
__ADS_1
Cup! Ia memberikan kecupan manis di pipiku. “Semangat!”
“Hmm … terima kasih, Sayang.”
Ia tersenyum.
Gerakanku yang sempa terhenti, kini aku lanjutkan lagi. Setelah.itu, aku menunggu Andrew berlalu dengan mobilnya itu. Setelah, ia hilang dari pandanganku, maka misi segera aku jalankan.
Apartemen elit ini memang luar biasa megahnya. Taman bunga,.kolam, lampu-lampunya dan juga beberapa ornament indah terpampang nyata, meski.baru bagian depan. Apalagi, di dalamnya nanti akan lebih luar biasa lagi. Seseorang seperti diriku, bagaikan diajak berlibur entah di penjuru dunia bagian mana dan ya, memang masih di Singapura.
Meski baru sekali dan sudah lama sekali, aku tetap bisa menghapal setiap arah untuk menuju kediaman Kate. Akan ada beberapa lantai yang perlu kulalui menggunakan kotak elevator. Meski semegah ini, keadaan cukup sepi..Karena memang bukan perkampungan yang bisa membaur dengan para tetangga. Penghuni apartemen sama-sama cuek, bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.
Sesampainya di kediaman Kate, aku berhenti sejenak di depan pintu sebelum mengetuk benda penghubung itu. Rasa gugupku kembali datang, tetapi tidak bisa melarikan diri begitu saja. Aku harus tetap dengan tujuan awal. Ah, tunggu, mengapa aku harus mengetuk pintu? Norak sekali diri ini,.padahal jelas-jelas ada bel yang disediakan untuk tamu.
Thingthong! Begitulah bunyinya. Aku sampai memencetnya selama tiga kali, tetapi Kate tidak kunjung membukanya. Jangan-jangan, ia sedang tidak ada? Haruskah aku pulang?
Tidak, pintu itu tampaknya sedang dibuka dari dalam. Dan … benar saja, muncul sosok cantik terbalut kaos santai beserta celana pendek. Menatap wajah itu, membuatku harus menelan ludah secara paksa. Bagaimana ini? Aku canggung sekali.
“Navya?” Ia menyebut namaku, setelah beberapa saat tertegun menatap diriku.
“Ya!” jawabku begitu lantang karena rasa gugup yang kian menghadang.
Kate tersenyum, terdengar ia memberikan bunyi tawa kecil dari bibirnya yang cukup sensual. “Ayo masuk.”
“Ah, ya baik!” Duh, suaraku sama sekali tidak bisa dikontrol.
Bagaikan sebuah robot, aku melangkahkan kaki dengan gerak kaku. Lalu, duduk di ruang tamu, meski belum dipersilahkan sama sekali. Beginikah rasanya ketika habis bertengkar dengan seorang teman? Atau karena aku tidak memiliki teman yang banyak, akhirnya tidak cukup baik dalam mengatasi situasi seperti ini? Entahlah.
Dengan membawa nampan berisi minuman, Kate kembali menghampiriku di tempat ini. Ia menghidangkan sajian itu pada meja ruang tamu. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Jangan sampai, ia menertawakan diriku dengan sangat kejam.
“Minumlah,” ujarnya mempersilahkan.
“Iya, Kak!” jawabku. Kuambil gelas itu dan menyesapnya dengan cepat. Gilanya, habis dalam sekejap. Asem! Aku malu sekali dengan diriku sendiri.
“Kamu haus banget, ya?”
Aku menunduk malu-malu. “Maaf, kurang sopan, ya?”
“Emm … ya, sedikit.”
“Kak …!”
“Becanda, Navya.”
“Hehe.”
Setelah perbincangan singkat itu, kami kembli terdiam. Tidak ada kata yang muncul untuk didengar. Dan benar, kecanggunan itu begitu kurang ajar masuk di antara aku dan juga wanita cantik di hadapanku ini. Aku memutar bola mataku, merasa tidak ada yang berubah di tempat ini sejak dulu. Ya sih, aku hanya datang sekali, tetapi ingatanku cukup kuat.
Hembusan napas terdengar samar di telinga, tetapi mampu memberikan sedikit suara di sela keheningan yang melanda. Kami berdua adalah sosok yang sama menurut Affandy, dua orang yang kesulitan dalam menjalin pertemanan. Faktor itu juga yang menjadi sebab sulitnya membuka perbincangan. Seharusnya, ada satu orang yang bisa mencairkannya.
Kate berdeham tiba-tiba. “I am sorry for doing that, Navya.”
Aku menatapnya. “No, not you, but me. Aku yang udah keterlaluan, Kak. Aku selalu merasa paling benar. And, I am very stupid, sorry ….”
“Enggak, Navya.” Ia berdiri dari duduknya. Berjalan menghampiriku, lalu duduk di sampingku. “Aku sama sekali enggak pantes menjadi teman kamu, Navya. Aku egois.”
“Kak Kate, kita ini adalah dua orang sama. Sama-sama sulit berteman dan tampaknya kita ini bener-bener kayak anak kecil.”
“Ya, kamu benar sekali.”
Kate, ah, aku rubah lagi, Kak Kate maksudku, ia memeluk diriku. Hanya dengan kata-kata seperti itu, kami bisa saling menerima lagi. Kata maaf memang sulit untuk diucapkan, tetapi percayalah, setelah diucapkan mampu memberikan suatu kelegaan. Kami berdua larut ke dalam tangisan, meski hanya tetesan.
Beberpa detik kemudian, aku dan Kak Kate saling melepaskan. Ada ukiran senyum di bibir kami berdua. Dan setelah itu, kami berbincang macam-macam hal. Tiga bulan yang menjadi momen perpisahan, kini kami ceritakan. Tidak terkecuali perihal pasangan masing-masing, Andrew dariku, Affandy darinya.
“Ternyata baikan segampang ini, ya?” ujarku.
“Kita terlalu gengsi dan egonya besar sekali. Tapi, jangan dibahas lagi,” sahut Kak Kate.
“Ya, dan jangan ada lagi. Kak?” Aku menggenggam tangannya. “Tolong percaya padaku.”
“Ya, Nav. Aku akan tetap mempercayaimu. Terima kasih telah datang dan bisa menerimaku kembali menjadi sahabatmu.”
“Yas!”
Kami berdua tersenyum.
__ADS_1
Bersambung ...